Quantcast

Gue memang bisa dibilang tidak pernah selalu cocok dengan Bokap gue. Kami dulu sering bertengkar meributkan ini itu dan bila dijadikan sebuah film, gue yakin hubungan gue dengan bokap gue jauh lebih menarik dari 70% sinetron Indonesia. (Bukan karena hubungan kami separah itu, tetapi karena kebanyakan sinetron Indonesia memang sangatlah… parah…). Tapi gue harus mengakui, Bokap gue adalah orang yang luar biasa. Seperti kebanyakan pengusaha, Bokap gue pandai berhitung dan mengatur risiko. Tetapi satu hal yang membedakan Bokap gue dari ratusan pengusaha yang gue kenal adalah jiwa kemanusiaan Bokap gue. Gue masih ingat dulu waktu Bokap gue baru pulih dari penyakitnya (waktu itu Bokap gue baru sembuh dari sebuah penyakit sejenis Stroke yang hampir mengakhiri hidupnya), ia sering berjalan ke belakang rumah gue untuk melatih pernafasan dan staminanya. Suatu pagi, saat ia sedang berjalan melewati sebuah sawah-sawah kosong dan melatih nafasnya, ia bertemu dengan seorang janda tua yang hidup sendirian.…

Neil Strauss, salah satu penulis favorit gue yang tujuh bukunya masuk ke New York’s Time Bestseller List memiliki sebuah metode yang menarik untuk menyunting tulisannya. Seperti kebanyakan penulis lain, setelah Neil menyelesaikan draft pertamanya, ia akan segera menyunting tulisan itu; melihat apakah struktur buku itu sudah kuat, karakter-karakternya masuk akal, dan kata-kata yang ia gunakan sudah tepat. Setelah proses penyuntingan pertama ini selesai, ia akan berhenti menyentuh buku itu selama satu atau dua bulan. Hal ini ia lakukan untuk mendapatkan jarak sehingga ia bisa melihat bukunya secara objektif. Setelah melakukan hal itu, ia kemudian akan memasuki tahap penyuntingan kedua, yaitu menyunting dengan persepsi pembaca di kepalanya. Ia akan memposisikan dirinya sendiri sebagai seorang pembaca setianya dan mulai memikirkan apakah buku itu sudah cukup menarik atau menyenangkan untuk dibaca. Setelah proses penyuntingan kedua itu selesai dan Neil merasa ia telah berhasil membuat sebuah buku yang menarik dan menyenangkan untuk dibaca, ia…

Kita hidup di sebuah era baru yang petinggi-petinggi dunia ini sebut sebagai “Connection Economy,” sebuah zaman di mana kita tersambung dengan satu sama lain 24 jam 7. Jika efisiensi dan teknologi adalah sesuatu yang akan menentukan kesuksesan seseorang di era “Industrial Revolution,” hubungan adalah sesuatu yang akan menentukan kesuksesan seseorang di era “Connection Economy” ini. Dengan teknologi-teknologi komunikasi yang kita punyai sekarang, seseorang bisa menjangkau ratusan atau bahkan ribuan orang dengan mudah. Dan menurut para ekonomis, sosiologis, dan pakar teknologi, hubungan-hubungan inilah yang akan dijual belikan di kemudian hari. Gue tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana hubungan-hubungan itu akan dijual belikan karena hal tersebut sudah banyak dibahas di blog-blog teknologi beberapa tahun terakhir. Yang gue ingin bahas adalah sebuah strategi yang bisa kita gunakan untuk menjadi lebih sukses di era “Connection Economy” ini, yaitu strategi memberi tanpa pamrih. Strategi Memberi Tanpa Pamrih Kisah hidup Ryan Holiday mungkin adalah contoh…

Fredrick Buechner pernah berkata bahwa “panggilan kehidupanmu adalah dimana pekerjaan yang membuatmu bahagia bertemu dengan kebutuhan terpenting dunia.” Kata-kata Buechner telah menjadi pegangan hidup gue selama ini, terutama dalam aspek pekerjaan dan tujuan hidup. Kata-katanya mengingatkan gue bahwa melakukan sesuatu yang gue cintai dan memiliki keahlian saja tidaklah cukup. Ketertarikan dan keahlian gue harus melayani sebuah kebutuhan nyata di dunia ini. Ketertarikan dan keahlian gue harus membuat kehidupan-kehidupan orang lain lebih baik. Apa yang gue kerjakan harus menambah nilai ke dalam kehidupan orang lain. Menambah Nilai Pada dasarnya menambah nilai berarti membantu orang lain. Jika lo mengikatkan ketertarikan dan keahlian lo dengan kebutuhan dunia, lo sudah berjalan ke arah yang benar. Bagi gue itu artinya mengarahkan passion dan keahlian menulis gue ke dalam sebuah blog yang bertujuan untuk membantu membuat kehidupan orang lain lebih baik. Sayangnya, banyak sekali orang-orang di dunia ini yang melupakan hal ini. Mereka memulai atau menciptakan…

Di akhir tahun kemarin, gue sempat menghadiri sebuah seminar di mana pendiri Orang Tua group, Bapak Hamid Djojonegoro menjadi pembicara utamanya. Di awal acara itu, dengan suara yang lantang, Bapak Hamid berkata, “Semakin besar bisnis lo, semakin besar masalah lo. Saat lo menyelesaikan sebuah masalah, lo akan menciptakan masalah lain…” Ia kemudian melanjutkan bahwa di kehidupan ini, masalah lo tidak akan pernah berakhir. Solusi dari sebuah masalah adalah sebuah masalah baru yang harus lo selesaikan di kemudian hari. Masalah tidak akan pernah hilang dari hidup lo katanya, mereka hanya akan berubah dan menjadi lebih baik… Waktu pertama kali mendengar kata-kata itu, gue ingin tertawa. Gue berpikir, “lo pasti bercanda, sepertinya, kehidupan tidak se-menyedihkan itu deh.” Tetapi setelah melihat kembali kehidupan gue dan memikirkan kata-kata itu lagi, gue menyadari ada kenyataan dibalik kata-kata itu. Kata-katanya membuat gue teringat akan peluncuran blog pertama gue… Masalah, Masalah, dan Masalah… Memulai blog ini adalah…

Suatu hari di bulan September 2017 kemarin, terjadi sebuah perdebatan hebat di gym gue. Tidak, ini bukanlah karena seseorang telah memakai alat gym tanpa menggunakan handuk atau karena beberapa orang tidak mengembalikan alat-alat gym ke tempatnya. Perdebatan ini terjadi karena sebuah video yang kami tonton kemarin malam. Sebuah video peluncuran produk-produk baru Apple tahun 2017 kemarin… Cerita ini diawali saat seorang teman gym gue membagikan video peluncuran produk-produk baru Apple beserta sebuah comment: “What do you guys think?” di Facebook dan mengetag gue dan teman-teman gym gue yang lain. Keesokan harinya, seperti biasa, kami bertemu di gym sekitar pukul 5 sore. Begitu teman gue yang membagikan video itu melihat gue dan teman-teman gym gue yang lain di loker, ia langsung bertanya, “Gimana guys, Iphone X keren nggak?” Pertanyaan itu kemudian memicu sebuah diskusi hangat di ruang loker kami. Salah satu dari teman gym gue berkata bahwa Iphone X adalah inovasi…

Dua minggu terakhir, gue telah menuliskan tentang pentingnya memiliki prioritas hidup dan bagaimana cara membedakan prioritas yang baik dan buruk. Nah, di esai ini gue ingin membagikan satu tips untuk menjaga prioritas-prioritas itu dan memastikan lo menggunakan waktu lo untuk hal-hal terpenting kehidupan. Tips itu adalah mengadopsi gaya hidup minimalisme… Menjaga Prioritas Hidup dan Minimalisme Pernahkah lo mengalami pengalaman ini: Lo berkata pada diri lo sendiri bahwa lo akan mengerjakan tugas lo selama tiga jam ke depan. Lo menyeruput kopi hitam yang ada di sebelah lo seperti seorang tauke besar lalu membuka laptop lo untuk bekerja. Tetapi sebelom lo sempat melakukan apa-apa atau mengetik satu huruf-pun, lo tiba-tiba menerima sebuah video lagu anak-anak lucu tentang bayi ikan hiu dari pacar lo. Penasaran, lo akhirnya menonton video itu sampai habis. Setelah selesai menonton video itu, lo berkata bahwa lo akan mulai bekerja dengan serius sekarang, tetapi beberapa detik kemudian, lo malah…

Di post gue yang sebelumnya, gue telah menuliskan betapa pentingnya itu untuk mengetahui dan menghidupi nilai-nilai terpenting kehidupan lo, apalagi di abad 21 ini. Di sebuah zaman yang dipenuhi gangguan, opsi-opsi baru, dan kesibukan-kesibukan palsu; sangatlah mudah untuk menjadi seorang manusia galau yang menghabiskan hari-harinya tidak tahu harus melakukan apa dan mempertanyakan setiap pilihan-pilihan yang sudah mereka buat. Namun seperti segala pilihan di dunia ini, tidak semua nilai-nilai kehidupan yang ada di dunia ini adalah nilai-nilai kehidupan yang baik. Beberapa nilai-nilai kehidupan di dunia ini memang akan membuat masalah-masalah kita menjadi lebih baik dan mendewasakan kita. Namun, beberapa nilai kehidupan di dunia ini malah akan memperparah masalah-masalah kita dan hanya akan membuat kita stress dan menyanyikan lagu Manusia Bodoh karangan Ada Band sambil nangis Bombay. Kuncinya adalah untuk membedakan dan mengetahui nilai-nilai apa yang baik untuk kita, dan nilai-nilai apa yang kurang baik untuk kita. Dari situ, kebahagiaan dan kesuksesan…

Beberapa minggu yang lalu gue memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen kecil. Gue ingin mengetahui bagaimana gue menghabiskan waktu gue dalam satu bulan. Jadi setiap harinya, setelah gue selesai melakukan sesuatu, gue akan mencatat aktivitas itu di dalam sebuah buku. Disampingnya, gue akan menuliskan berapa banyak waktu yang gue habiskan untuk melakukan aktivitas itu dan seberapa memuaskan aktivitas itu dari skala 1 sampai 10. Setelah satu bulan, eksperimen kecil ini menunjukkan dimana dan kapan gue biasanya menyia-nyiakan waktu gue. Eksperimen ini juga menunjukkan hal apa yang paling penting di dalam kehidupan gue. Atau lebih tepatnya, hal apa yang sebenarnya paling penting untuk gue. Selama ini gue selalu merasa bahwa passion, hubungan, dan kebahagiaan adalah nilai-nilai paling penting di dalam kehidupan gue. Jadi gue pikir gue akan menghabiskan waktu gue untuk mengembangkan passion gue, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang gue cintai, dan mencari kedamaian. Namun setelah melakukan eksperimen kecil ini, gue baru…

Gue pernah mempunyai seorang teman yang bisa dibilang memiliki tampang yang cukup oke, hati yang baik, dan karier yang sangat mapan. Umurnya sudah mendekati 30 dan entah kenapa, setiap kali ia mendekati seseorang, usaha PDKT itu tidak pernah berhasil. Ia bukannya ditolak, tetapi ia selalu merasa tidak yakin bahwa wanita yang ia dekati adalah jodohnya. Selang beberapa bulan kemudian, biasanya wanita-wanita yang ia dekati akan mulai berpacaran dengan orang lain, sementara ia meratapi kejombloannya lagi. Ia selalu berkata bahwa ia memang menginginkan sebuah hubungan yang serius, sebuah hubungan yang akan berakhir ke sebuah pernikahan. Jadi ia tidak mau salah memilih. Ia berkata bahwa ia tidak mau menyesal di kemudian hari. Ia melihat proses pencarian jodoh seperti sebuah pernikahan, sebuah hubungan yang hanya bisa dipatahkan oleh maut… Gue yakin beberapa dari kita pasti pernah memiliki pengalaman yang sama. Kita menginginkan hubungan yang serius, jadi kita menjadi lebih berhati-hati untuk memilih jodoh…