Quantcast

Salah satu obsesi terbesar gue waktu masih kecil dulu adalah mengganti Channel TV begitu melihat iklan di layar TV gue. Seperti kebanyakan anak kecil yang terobsesi dengan film kartun favoritnya, gue merasa bahwa iklan adalah sesuatu yang mengganggu, obstrusif, dan bahkan menjijikkan (Dag… Dig… Dug… Der… Daia! Dan tiba-tiba seorang pria berkacamata yang memiliki sebuah rambut berbentuk sabu lidi berwarna warni tiba-tiba muncul… Ugh) Jadi setiap kali gue melihat iklan (terutama iklan Daia), gue akan mengganti Channel TV gue dan mencari acara yang menarik lainnya. Walaupun taktik ini membantu gue untuk menghindari iklan-iklan yang konyol dan menggelikan, taktik ini juga menciptakan sebuah masalah lain, yaitu: Gue jadi melewatkan adegan terpenting di dalam film-film kartun yang gue tonton saat itu… Gue masih ingat waktu gue sedang menonton kartun Captain Tsubasa dulu. Saat itu Captain Tsubasa sedang berlari ke arah Goal lawan dan bersiap untuk melakukan tendangan Rajawali andalannya. Di depannya, dua…

Tidak terasa, tahun 2018 ini akan berakhir tiga bulan lagi dan seiring bertambah dewasanya gue, gue mulai merasa seperti Tuhan tiba-tiba menekan tombol fast forward di dalam kehidupan gue. Sebelum gue mengetahuinya, gue sudah lulus kuliah. Sebelum gue mengetahuinya gue sudah bertunangan. Dan sebelum gue mengetahuinya gue (mungkin) sudah akan menikah…  (brrr…) Seperti biasa, tiga bulan sebelum berakhirnya sebuah tahun, gue sudah mulai mempersiapkan rencana dan membuat tujuan untuk tahun berikutnya. Gue akan melihat apakah gue sudah mencapai tujuan-tujuan yang gue tetapkan tahun sebelumnya dan mengevaluasi tujuan-tujuan itu, melihat apa yang bisa gue lakukan tahun ini untuk mencapai tujuan-tujuan baru gue lebih cepat. Dan dalam proses ini, gue menemukan sebuah kenyataan yang menarik. Yaitu: Tidak semua tujuan di dunia ini diciptakan sama… Tujuan-Tujuan Kosong Sebagai manusia kita semua terbebas untuk menentukan tujuan kehidupan kita. Entah itu menjadi seorang astronot, menyelesaikan 120 km marathon, atau bahkan menjadi seorang bintang film porno,…

Saat Pablo Picasso sudah tua, ia sering pergi ke sebuah kafe di ujung jalan, dan menggambar-gambar di atas tissue. Suatu hari, saat Picasso sedang menggambar-gambar di atas sebuah tissue, seorang wanita sedang memperhatikan apa yang sedang ia lakukan dengan penuh kekaguman. Beberapa menit kemudian, Picasso menghabiskan kopinya, menggumalkan kertas tissuenya, dan bermaksud untuk membuangnya. Namun, wanita yang duduk di belakangnya menghentikannya dan berkata “Bolehkah aku meminta kertas tissue itu? Aku akan membayarnya.” “Tentu,” jawab Picasso. “Itu akan menjadi dua puluh ribu dolar.” Wanita itu menjadi kaget dan berkata, “Apa? Kamu hanya memerlukan waktu dua menit untuk menggambarnya.” “Tidak,” jawab Picasso. “Aku membutuhkan waktu sekitar 60 tahun untuk menggambarnya.” Menguasai Sesuatu membutuhkan Waktu Picasso hidup sampai ia berumur 91 tahun. Ia lalu meninggal di tahun 1973, dalam masa hidupnya ia telah menghasilkan sekitar 500 juta dolar, dan karya seninya telah diakui oleh dunia. Karya seni yang ia ciptakan diperkirakan mencapai angka…

Di post sebelumnya, kita sudah membahas tentang sebuah fenomena yang menyebabkan otak kita untuk menyabotase inisiatif-inisiatif dan perubahan-perubahan baru yang ingin kita lakukan pada diri kita sendiri. Setiap kali kita ingin melakukan sebuah perubahan, otak kita memiliki kecenderungan untuk menciptakan berbagai alasan yang menyatakan mengapa perubahan itu bukanlah sebuah ide yang bagus. Kita kemudian membahas bagaimana alasan-alasan ini berakar dari ketakutan-ketakutan kita. Gue mengakhiri post itu dengan mengatakan bahwa mencoba menggali asal-usul ketakutan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah untuk menjadi lebih besar dari ketakutan-ketakutan terhadap perubahan itu dan mencoba untuk mengalahkannya, Nah, langkah pertama untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan lo adalah untuk menemukan alasan-alasan seperti apa yang sering lo gunakan pada diri lo sendiri. Saat kita merasa takut atau resah, kita biasanya mempunyai sebuah pola atau strategi yang biasanya kita gunakan untuk menyiasati perasaan tidak nyaman itu. Menyalahkan orang lain- Saat seseorang dengan pola ini…

Waktu gue kuliah di Singapura dulu, gue pernah mendaftar ke sebuah gym yang bernama True Fitness. Suatu sore, di musim panas tahun 2013, saat gue sedang melatih perut gue, berharap gue bisa mendapatkan perut seorang Spartan, seorang wanita dengan rambut coklat yang diikat ke belakang mengambil matras berwarna ungu yang ada di sebelah gue dan menggelarnya beberapa meter dari mesin yang gue gunakan. Wanita itu memiliki wajah yang manis dan sepertinya kami seumuran. Ia memakai pakaian olahraga Nge Ann Polytechnic, sebuah sekolah yang berada tepat di sebelah sekolah gue dan celana olahraga pendek yang berwarna hitam. Niat gue untuk melatih perut gue pelan-pelan sirna, fokus gue mulai pecah, dan gue mulai memikirkan bagaimana cara berkenalan dengan wanita yang sedang melakukan gerakan leg raise di sebelah gue itu. Namun, saat gue hampir memalingkan wajah gue dan mengatakan “Halo,” otak gue tiba-tiba berkata sesuatu seperti, “Lo yakin mau berkenalan sama cewek seperti…

Gue memang bisa dibilang tidak pernah selalu cocok dengan Bokap gue. Kami dulu sering bertengkar meributkan ini itu dan bila dijadikan sebuah film, gue yakin hubungan gue dengan bokap gue jauh lebih menarik dari 70% sinetron Indonesia. (Bukan karena hubungan kami separah itu, tetapi karena kebanyakan sinetron Indonesia memang sangatlah… parah…). Tapi gue harus mengakui, Bokap gue adalah orang yang luar biasa. Seperti kebanyakan pengusaha, Bokap gue pandai berhitung dan mengatur risiko. Tetapi satu hal yang membedakan Bokap gue dari ratusan pengusaha yang gue kenal adalah jiwa kemanusiaan Bokap gue. Gue masih ingat dulu waktu Bokap gue baru pulih dari penyakitnya (waktu itu Bokap gue baru sembuh dari sebuah penyakit sejenis Stroke yang hampir mengakhiri hidupnya), ia sering berjalan ke belakang rumah gue untuk melatih pernafasan dan staminanya. Suatu pagi, saat ia sedang berjalan melewati sebuah sawah-sawah kosong dan melatih nafasnya, ia bertemu dengan seorang janda tua yang hidup sendirian.…

Neil Strauss, salah satu penulis favorit gue yang tujuh bukunya masuk ke New York’s Time Bestseller List memiliki sebuah metode yang menarik untuk menyunting tulisannya. Seperti kebanyakan penulis lain, setelah Neil menyelesaikan draft pertamanya, ia akan segera menyunting tulisan itu; melihat apakah struktur buku itu sudah kuat, karakter-karakternya masuk akal, dan kata-kata yang ia gunakan sudah tepat. Setelah proses penyuntingan pertama ini selesai, ia akan berhenti menyentuh buku itu selama satu atau dua bulan. Hal ini ia lakukan untuk mendapatkan jarak sehingga ia bisa melihat bukunya secara objektif. Setelah melakukan hal itu, ia kemudian akan memasuki tahap penyuntingan kedua, yaitu menyunting dengan persepsi pembaca di kepalanya. Ia akan memposisikan dirinya sendiri sebagai seorang pembaca setianya dan mulai memikirkan apakah buku itu sudah cukup menarik atau menyenangkan untuk dibaca. Setelah proses penyuntingan kedua itu selesai dan Neil merasa ia telah berhasil membuat sebuah buku yang menarik dan menyenangkan untuk dibaca, ia…

Kita hidup di sebuah era baru yang petinggi-petinggi dunia ini sebut sebagai “Connection Economy,” sebuah zaman di mana kita tersambung dengan satu sama lain 24 jam 7. Jika efisiensi dan teknologi adalah sesuatu yang akan menentukan kesuksesan seseorang di era “Industrial Revolution,” hubungan adalah sesuatu yang akan menentukan kesuksesan seseorang di era “Connection Economy” ini. Dengan teknologi-teknologi komunikasi yang kita punyai sekarang, seseorang bisa menjangkau ratusan atau bahkan ribuan orang dengan mudah. Dan menurut para ekonomis, sosiologis, dan pakar teknologi, hubungan-hubungan inilah yang akan dijual belikan di kemudian hari. Gue tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana hubungan-hubungan itu akan dijual belikan karena hal tersebut sudah banyak dibahas di blog-blog teknologi beberapa tahun terakhir. Yang gue ingin bahas adalah sebuah strategi yang bisa kita gunakan untuk menjadi lebih sukses di era “Connection Economy” ini, yaitu strategi memberi tanpa pamrih. Strategi Memberi Tanpa Pamrih Kisah hidup Ryan Holiday mungkin adalah contoh…

Fredrick Buechner pernah berkata bahwa “panggilan kehidupanmu adalah dimana pekerjaan yang membuatmu bahagia bertemu dengan kebutuhan terpenting dunia.” Kata-kata Buechner telah menjadi pegangan hidup gue selama ini, terutama dalam aspek pekerjaan dan tujuan hidup. Kata-katanya mengingatkan gue bahwa melakukan sesuatu yang gue cintai dan memiliki keahlian saja tidaklah cukup. Ketertarikan dan keahlian gue harus melayani sebuah kebutuhan nyata di dunia ini. Ketertarikan dan keahlian gue harus membuat kehidupan-kehidupan orang lain lebih baik. Apa yang gue kerjakan harus menambah nilai ke dalam kehidupan orang lain. Menambah Nilai Pada dasarnya menambah nilai berarti membantu orang lain. Jika lo mengikatkan ketertarikan dan keahlian lo dengan kebutuhan dunia, lo sudah berjalan ke arah yang benar. Bagi gue itu artinya mengarahkan passion dan keahlian menulis gue ke dalam sebuah blog yang bertujuan untuk membantu membuat kehidupan orang lain lebih baik. Sayangnya, banyak sekali orang-orang di dunia ini yang melupakan hal ini. Mereka memulai atau menciptakan…

Di akhir tahun kemarin, gue sempat menghadiri sebuah seminar di mana pendiri Orang Tua group, Bapak Hamid Djojonegoro menjadi pembicara utamanya. Di awal acara itu, dengan suara yang lantang, Bapak Hamid berkata, “Semakin besar bisnis lo, semakin besar masalah lo. Saat lo menyelesaikan sebuah masalah, lo akan menciptakan masalah lain…” Ia kemudian melanjutkan bahwa di kehidupan ini, masalah lo tidak akan pernah berakhir. Solusi dari sebuah masalah adalah sebuah masalah baru yang harus lo selesaikan di kemudian hari. Masalah tidak akan pernah hilang dari hidup lo katanya, mereka hanya akan berubah dan menjadi lebih baik… Waktu pertama kali mendengar kata-kata itu, gue ingin tertawa. Gue berpikir, “lo pasti bercanda, sepertinya, kehidupan tidak se-menyedihkan itu deh.” Tetapi setelah melihat kembali kehidupan gue dan memikirkan kata-kata itu lagi, gue menyadari ada kenyataan dibalik kata-kata itu. Kata-katanya membuat gue teringat akan peluncuran blog pertama gue… Masalah, Masalah, dan Masalah… Memulai blog ini adalah…