Quantcast

Waktu aku baru lulus kuliah dulu, satu hal yang paling sulit untuk aku lakukan adalah bangun pagi. Aku tidak menemukan alasan yang kuat untuk bangun lebih pagi selain melihat sinar matahari pagi dan toh, aku juga sering berpergian sampai malam, jadi bangun pagi adalah sesuatu yang menurutku hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Namun, itu semua berubah saat aku memutuskan untuk menjadi seorang blogger. Tiba-tiba aku menemukan bangun lebih pagi adalah satu-satunya cara aku bisa menemukan waktu untuk menulis dan bahkan menurutku, satu-satunya waktu untuk menulis. Begitu aku masuk kantor sekitar jam delapan pagi, aku hampir tidak memiliki waktu untuk melakukan hal lain sampai jam empat atau lima sore. Bahkan, di jam makan siang pun aku masih tidak bisa menemukan waktu untuk menulis: teleponku akan terus berbunyi, tamu tiba-tiba datang, dan tugas-tugas urgent lain tiba-tiba muncul. Begitu aku pulang dari kantor, otakku biasanya sudah tidak dalam kondisi prima untuk menulis dan…

Aku pernah menulis bahwa kebanyakan hal yang terjadi di kehidupan ini berada di luar kendali kita. Di mana kita akan lahir, siapa orang tua kita, bagaimana bentuk wajah kita; hal-hal ini sudah ditentukan sebelum kita lahir dan berada di luar kendali kita. Meratapi nasibmu karena kamu dilahirkan dengan wajah seperti Tukul Arwana tidak akan mengubah apa-apa. Tentu, hal ini juga berlaku untuk kebanyakan masalah dan malapetaka yang terjadi di kehidupan kita: bencana alam, krisis ekonomi, pemecatan massal, dan perubahan teknologi. Hampir segala sesuatu di dunia ini tidak akan bisa kita kendalikan, dan hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap kita terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan ini. Karena cara kita menyikapi keterbatasan dan bencana-bencana yang terjadi di kehidupan kita akan menentukan kesuksesan, atau bahkan kebahagian kita. Setelah membaca berbagai buku pengembangan diri dan membaca biografi pengusaha, pemimpin, dan penemu paling terkenal di dunia, gue menemukan bahwa cara…

Setelah membaca beberapa post tentang menemukan passion, membangun beberapa keahlian, dan memenuhi sebuah kebutuhan dunia, mungkin kamu berpikir bahwa sekarang kamu mempunyai sebuah resep baku untuk menjadi orang yang sukses. Namun, seperti segala hal di dunia ini, kesuksesan tidaklah sesederhana itu. Beberapa bulan yang lalu, aku menuliskan bahwa menemukan passion, membangun keahlian, dan memenuhi sebuah kebutuhan di dunia ini akan membantumu mencari nafkah dengan melakukan apa yang kamu cintai. Tetapi, hal itu tidak akan menjamin kekayaan, popularitas, status, dan ya, kesuksesan; karena suka tidak suka, keberuntungan cukup berperan besar dalam kesuksesan seseorang. Peran Keberuntungan Saat kita membaca sebuah buku atau post-post pengembangan diri seperti ini, kita biasanya akan menemukan berbagai perkataan seperti “nasib kita ada di tangan kita sendiri” atau “kehidupan kita adalah 100% tanggung jawab kita” atau yang paling keren “tindakan kita bisa mengubah nasib kita.” Walaupun kata-kata ini terdengar indah dan menggugah jiwa; aku yakin cepat atau lambat,…

Waktu aku masih duduk di bangku SMP dulu, aku suka membaca buku-buku tentang membangun hubungan dan teknik komunikasi. Salah satu alasan kenapa aku menyukai buku-buku bergenre ini adalah karena dari dulu, aku percaya bahwa hubungan yang kita bangun di dunia ini akan menentukan kesuksesan kita. Ya, tentu itu juga mungkin disebabkan karena waktu itu aku adalah seorang jomblo menyedihkan yang ingin berinteraksi lebih baik dengan teman-teman lawan jenis. Tetapi pada intinya, alasan-alasan itu mendorongku untuk membaca buku-buku seperti “How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie, “How to Make People Like You in 90 seconds or Less” yang ditulis oleh Nicholas Boothman atau bahkan serial “Making Friends for Dummy” (ya aku se- desperate itu untuk membangun hubungan-hubungan yang lebih baik.) Buku-buku itu memang mengajariku berbagai teknik untuk menjadi pribadi yang lebih menarik dan makhluk-makhluk sosial yang tidak kenal rasa malu, tapi menurutku, buku-buku itu gagal untuk…

Beberapa bulan yang lalu, kita telah membahas beberapa poin tentang berlatih dengan tujuan; sebuah konsep latihan yang biasanya digunakan oleh para ahli seperti atlet Kobe Bryant, musisi kelas dunia seperti the Beatles, dan bahkan pengusaha-pengusaha tersukses di dunia seperti Bill Gates.  Pada dasarnya, konsep berlatih dengan tujuan ini bisa dipecah menjadi beberapa poin berikut: Pecahkan keahlian yang ingin kamu pelajari menjadi beberapa komponen kecil Dorong dirimu untuk keluar dari zona nyamanmu Temukan apa yang menghambat perkembanganmu Carilah seorang ahli/mentor yang berpengalaman Kita sudah membahas poin-poin ini secara detail di post sebelumnya, dan jika kamu belum membacanya, aku sangat menyarankanmu untuk membacanya sekarang. Nah, lewat artikel ini, aku ingin membahas bagaimana kamu bisa mempertahankan metode latihan ini dan menjadi seorang ahli. Karena seperti cerita Kobe Bryant di artikelku sebelumnya, berlatih dengan tujuan tidaklah mudah. Latihan seperti ini sangatlah menyakitkan, sulit, dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Jika kamu tidak merasa tertekan dalam latihan-latihanmu,…

Waktu aku masih kuliah dulu, aku tidak pernah merasakan apa itu namanya kesendirian. Pasalnya, karena aku adalah orang yang…. ehem… (sok) sibuk… aku akan menghabiskan hampir seluruh waktuku melakukan sesuatu bersama seseorang dari Senin sampai Minggu. Entah itu kuliah, mengikuti ekstra kurikuler, pergi ngegym, nongkrong, berpesta, dan kemudian pergi gereja, hari-hariku selalu penuh dengan aktivitas. Kamar kosku hanya berfungsi sebagai kamar ganti dan kamar tidur; dan terkadang jika aku beruntung, kamar bermain. Tentunya maksudku adalah bermain kartu… Hari-hariku terasa penuh dan sibuk dan sepertinya, aku tidak pernah kehabisan aktivitas. Jika aku tidak kuliah atau mengerjakan tugas, aku akan pergi bersama teman-temanku. Jika aku tidak pergi bersama teman-temanku, aku akan menghabiskan waktuku di gym, mengangkat besi. Jika aku tidak pergi ke gym, maka aku akan mencoba sebuah ekstra kurikuler baru di sekolah bersama beberapa temanku yang lain… Tentu ini semua adalah sesuatu yang luar biasa. Dimanapun aku berada, aku selalu mempunyai…

Salah satu aktivitas favoritku saat aku sedang menyetir sendirian adalah memperhatikan tulisan-tulisan dan gambar-gambar konyol yang ada di belakang sebuah truk. Biasanya, aku akan menemukan tulisan-tulisan tidak senonoh seperti “Jangan ngaku cantik kalo belom macarin pria beristri” dengan gambar cewek berpakaian minim atau “Cintamu tidak seberat muatanku” dengan gambar penyanyi dangdut bertubuh molek. Tetapi terkadang, aku akan menemukan tulisan-tulisan bijaksana yang menghangatkan hati seperti “Bahagia itu tak harus mewah. Istigfar untuk masa lalu, bersyukur untuk hari ini & berdoa untuk hari esok.” Atau kata-kata favoritku, “Aku Rakpopo…” Aku Rakpopo Tidak ada dua kata di dunia ini yang lebih kuat dari dua kata itu. Dipopulerkan oleh almarhum Julia Perez, dua kata itu menjadi sebuah kosakata penting bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Oke paling tidak untuk kebanyakan sopir truk Indonesia. Ya “Aku Rakpopo” atau dalam bahasa Indonesianya “Aku Tidak Apa-Apa” adalah sebuah frase sederhana yang sekilas mungkin tidak berarti apa-apa. Namun, jika kamu…

Di postku sebelumnya, aku telah menuliskan bahwa cara terbaik untuk mengalahkan ketakutanmu adalah dengan melakukan hal-hal yang paling kamu takutkan disamping semua ketakutan yang kamu rasakan saat itu. Walaupun begitu, aku sadar ada beberapa ketakutan yang memang terlalu besar untuk dihadapi langsung. Menghadapi ketakutan-ketakutan ini secara langsung biasanya hanya akan menyebabkan kegagalan dan trauma untuk mencoba lagi. Kegagalan memang tidak bisa dihindari, dan bahkan sesuatu yang normal di dunia ini, tetapi kegagalan untuk mencoba lagi adalah sesuatu yang fatal. Saat kamu berhenti mencoba, kegagalan adalah sesuatu yang pasti. Terlebih lagi, melakukan hal-hal yang kamu takutkan juga membutuhkan kesiapan mental dan energi tinggi. Di tengah tekanan seperti itu, otak kita biasanya lebih memilih untuk menunda melakukan hal-hal menakutkan itu dan mengalihkan perhatian kita dengan hiburan-hiburan kosong seperti berita perselingkuhan terbaru, bokep, atau sixpack atlet yang masih dibawah umur (brondong). Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan? Mengalahkan Ketakutan Kita Sedikit Demi Sedikit…

Salah satu obsesi terbesarku waktu masih kecil dulu adalah mengganti Channel TV begitu melihat iklan di layar TVku. Seperti kebanyakan anak kecil yang terobsesi dengan film kartun favoritnya, aku merasa bahwa iklan adalah sesuatu yang mengganggu, obstrusif, dan bahkan menjijikkan (Dag… Dig… Dug… Der… Daia! Dan tiba-tiba seorang pria berkacamata yang memiliki sebuah rambut berbentuk sabu lidi berwarna warni tiba-tiba muncul… Ugh) Jadi setiap kali aku melihat iklan (terutama iklan Daia), aku akan mengganti Channel TVku dan mencari acara yang menarik lainnya. Walaupun taktik ini membantuku untuk menghindari iklan-iklan yang konyol dan menggelikan, taktik ini juga menciptakan sebuah masalah lain, yaitu: Aku jadi melewatkan adegan terpenting di dalam film-film kartun yang aku tonton saat itu… Aku masih ingat waktu aku sedang menonton kartun Captain Tsubasa dulu. Saat itu Captain Tsubasa sedang berlari ke arah Goal lawan dan bersiap untuk melakukan tendangan Rajawali andalannya. Di depannya, dua pemain lawan yang berwajah…

Tidak terasa, tahun 2018 ini akan berakhir tiga bulan lagi dan seiring bertambah dewasanya aku, aku mulai merasa seperti Tuhan tiba-tiba menekan tombol fast forward di dalam kehidupanku. Sebelum aku mengetahuinya, aku sudah lulus kuliah. Sebelum aku mengetahuinya gue sudah bertunangan. Dan sebelum aku mengetahuinya aku (mungkin) sudah akan menikah…  (brrr…) Seperti biasa, tiga bulan sebelum berakhirnya sebuah tahun, aku sudah mulai mempersiapkan rencana dan membuat tujuan untuk tahun berikutnya. Aku akan melihat apakah aku sudah mencapai tujuan-tujuan yang aku tetapkan tahun sebelumnya dan mengevaluasi tujuan-tujuan itu, melihat apa yang bisa aku lakukan tahun ini untuk mencapai tujuan-tujuan baruku lebih cepat. Dan dalam proses ini, aku menemukan sebuah kenyataan yang menarik. Yaitu: Tidak semua tujuan di dunia ini diciptakan sama… Tujuan-Tujuan Kosong Sebagai manusia kita semua terbebas untuk menentukan tujuan kehidupan kita. Entah itu menjadi seorang astronot, menyelesaikan 120 km marathon, atau bahkan menjadi seorang bintang film porno, kita semua…