Quantcast

Seorang biksu sedang berjalan menuju sebuah desa bersama seorang muridnya. Tiba-tiba, seorang pria tua berbaju rapi menghampirinya dan menanyakan: “Orang suci, bagaimana aku bisa menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Belajarlah untuk menysukuri apa yang kau punyai dan biarkan perasaan itu membahagiakan hatimu setiap hari…” Merasa puas, pria tua itu menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan biksu itu. Si biksu baru saja mau berjalan lagi saat tiba-tiba seorang anak muda datang menghampirinya. Ia bertanya: “Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Jangan merasa puas dengan apa yang kau punyai dan biarkan ambisimu membawamu menuju kebahagiaan…” Saat anak muda itu merasa puas dan meninggalkan si biksu dan muridnya, si murid bertanya: “Guru kamu sepertinya tidak yakin apakah kita harus menyusukuri apa yang kita punyai atau meningkatkan ambisi kita untuk merasa bahagia… apa maksudmu?” “Mencari kebahagiaan adalah seperti melewati sebuah jembatan tanpa pegangan yang…

Waktu aku menyelesaikan diplomaku, aku harus menunggu 3 bulan sebelum akhirnya bisa masuk ke Universitas pilihanku. Hal ini disebabkan karena waktu penerimaan murid baru di Universitasku hanya ada pada bulan Januari dan September, sementara Diplomaku selesai di bulan Juni. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan memanfaatkan liburanku untuk belajar keahlian-keahlian baru dan salah satu dari keahlian itu adalah menyanyi. Dalam tiga bulan itu, guru menyanyikan mengajari berbagai tips untuk mengolah suaraku, dan hasilnya, caraku berbicara dan berinteraksi dengan orang lain juga ikut berubah. Suaraku yang tadinya pelan, tidak yakin, dan penuh dengan gumaman menjadi lebih kencang, mulus, dan enak didengar. Menurut guru menyanyiku, hal ini disebabkan karena berbicara dan menyanyi dengan baik tidak jauh berbeda. Latihan-latihan yang ia berikan adalah latihan-latihan yang digunakan kebanyakan radio Emcee di Indonesia. Di sebuah blog yang pernah aku baca, aku pernah menemukan sebuah argumen yang menyatakan bahwa suara kita menentukan sekitar 40%…

Waktu aku masih duduk di bangku SMP kelas 2 dulu, aku adalah seorang pemalu yang lebih suka mendengarkan lagu dari Discman Sony-ku daripada pertanyaan “apa kabar” orang lain. Suaraku pelan dan aku lebih sering bergumam daripada berbicara, jadi orang-orang seringkali tidak memahami kata-kataku. Dan seperti yang kalian duga, aku tidak mempunyai banyak teman dan tentunya, masih jomblo. Sementara anak-anak SMP lain menghabiskan malam minggu mereka bergonta-ganti pacar dan bereksperimen dengan seksualitas mereka, aku akan menghabiskan malam mingguku menggambar Manga. (Ya aku dulu suka menggambar). Orangtuaku yang tidak tahan dengan sifat pendiam-ku akhirnya mendorongku untuk lebih sering berkumpul dengan teman-teman sekelas dan mencari teman-teman baru, sehingga aku lebih bisa bergaul dengan orang lain. Tetapi, karena waktu itu aku tidak melihat teknik berkomunikasi dengan orang lain sebagai sesuatu yang penting, aku memutuskan untuk mendiamkan nasihat-nasihat itu. Terlebih lagi, berkenalan dengan orang baru dan memulai sebuah pembicaraan seringkali membuatku merasa tidak nyaman. Selang…

Kita bisa melakukan yang terbaik, mengintegrasikan ketertarikan dan pekerjaan kita, membangun keahlian di dalam bidang tersebut, dan berusaha untuk memenuhi sebuah kebutuhan nyata di dunia ini. Namun, kita tidak akan pernah bisa mengendalikan bagaimana dunia ini akan menilai hasil kerja kita. Kita bisa mengendalikan pikiran kita dengan benar, menanggapi sebuah masalah dengan positif, menyambut kesempatan dengan baik, dan masih saja gagal. Lantas apa yang harus kita lakukan dalam situasi ini? Well, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah untuk terus mencoba, karena tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menghentikan kita untuk terus mencoba dan memberikan yang terbaik. Beberapa masalah dan halangan memang terkadang tidak bisa diselesaikan. Kegagalan terkadang tidak bisa dihindari dan beberapa jalan terkadang memang tidak bisa dilewati. Namun, ini belum tentu adalah sesuatu yang buruk, karena kita bisa menggunakan situasi atau kegagalan itu sebagai kesempatan untuk menempa karakter kita- walaupun itu terkadang berarti belajar…

Aku menyadari bahwa salah satu masalah terbesar manusia (itu termasuk aku sendiri) berakar dari keinginan kita untuk mengendalikan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Bagi kebanyakan orang sepert aku, melepaskan kendali, untuk apapun itu, adalah sesuatu yang memalukan, lemah, dan bahkan sedikit menakutkan. Kita lebih suka melakukan sesuatu, membuat rencana, dan bahkan merasa cemas, alih-alih berdiam diri dan berserah pada keadaan. Paling tidak dengan melakukan ‘sesuatu’ kamu merasa seperti kamu telah melakukan sesuatu untuk merubah situasimu. Kamu merasa seperti kamu sudah mengirim sebuah pukulan telak terhadap nasib. Padahal jika dipikir lagi, seberapa besar pengaruh tindakan-tindakan tersebut dalam merubah situasimu? Ya, tidak bisa dipungkiri, melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada berdiam diri dan berserah pada nasib. Namun dalam beberapa situasi, melakukan sesuatu tidak akan merubah apa-apa. Malah-malah, melakukan sesuatu hanya akan membuatmu tertekan, stres, dan akhirnya memutuskan untuk menelan 40 Panadol dalam waktu yang sama. Dalam beberapa situasi, melawan nasib membuat…

Waktu aku baru lulus kuliah dulu, satu hal yang paling sulit untuk aku lakukan adalah bangun pagi. Aku tidak menemukan alasan yang kuat untuk bangun lebih pagi selain melihat sinar matahari pagi dan toh, aku juga sering berpergian sampai malam, jadi bangun pagi adalah sesuatu yang menurutku hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Namun, itu semua berubah saat aku memutuskan untuk menjadi seorang blogger. Tiba-tiba aku menemukan bangun lebih pagi adalah satu-satunya cara aku bisa menemukan waktu untuk menulis dan bahkan menurutku, satu-satunya waktu untuk menulis. Begitu aku masuk kantor sekitar jam delapan pagi, aku hampir tidak memiliki waktu untuk melakukan hal lain sampai jam empat atau lima sore. Bahkan, di jam makan siang pun aku masih tidak bisa menemukan waktu untuk menulis: teleponku akan terus berbunyi, tamu tiba-tiba datang, dan tugas-tugas urgent lain tiba-tiba muncul. Begitu aku pulang dari kantor, otakku biasanya sudah tidak dalam kondisi prima untuk menulis dan…

Aku pernah menulis bahwa kebanyakan hal yang terjadi di kehidupan ini berada di luar kendali kita. Di mana kita akan lahir, siapa orang tua kita, bagaimana bentuk wajah kita; hal-hal ini sudah ditentukan sebelum kita lahir dan berada di luar kendali kita. Meratapi nasibmu karena kamu dilahirkan dengan wajah seperti Tukul Arwana tidak akan mengubah apa-apa. Tentu, hal ini juga berlaku untuk kebanyakan masalah dan malapetaka yang terjadi di kehidupan kita: bencana alam, krisis ekonomi, pemecatan massal, dan perubahan teknologi. Hampir segala sesuatu di dunia ini tidak akan bisa kita kendalikan, dan hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap kita terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan ini. Karena cara kita menyikapi keterbatasan dan bencana-bencana yang terjadi di kehidupan kita akan menentukan kesuksesan, atau bahkan kebahagian kita. Setelah membaca berbagai buku pengembangan diri dan membaca biografi pengusaha, pemimpin, dan penemu paling terkenal di dunia, gue menemukan bahwa cara…

Setelah membaca beberapa post tentang menemukan passion, membangun beberapa keahlian, dan memenuhi sebuah kebutuhan dunia, mungkin kamu berpikir bahwa sekarang kamu mempunyai sebuah resep baku untuk menjadi orang yang sukses. Namun, seperti segala hal di dunia ini, kesuksesan tidaklah sesederhana itu. Beberapa bulan yang lalu, aku menuliskan bahwa menemukan passion, membangun keahlian, dan memenuhi sebuah kebutuhan di dunia ini akan membantumu mencari nafkah dengan melakukan apa yang kamu cintai. Tetapi, hal itu tidak akan menjamin kekayaan, popularitas, status, dan ya, kesuksesan; karena suka tidak suka, keberuntungan cukup berperan besar dalam kesuksesan seseorang. Peran Keberuntungan Saat kita membaca sebuah buku atau post-post pengembangan diri seperti ini, kita biasanya akan menemukan berbagai perkataan seperti “nasib kita ada di tangan kita sendiri” atau “kehidupan kita adalah 100% tanggung jawab kita” atau yang paling keren “tindakan kita bisa mengubah nasib kita.” Walaupun kata-kata ini terdengar indah dan menggugah jiwa; aku yakin cepat atau lambat,…

Waktu aku masih duduk di bangku SMP dulu, aku suka membaca buku-buku tentang membangun hubungan dan teknik komunikasi. Salah satu alasan kenapa aku menyukai buku-buku bergenre ini adalah karena dari dulu, aku percaya bahwa hubungan yang kita bangun di dunia ini akan menentukan kesuksesan kita. Ya, tentu itu juga mungkin disebabkan karena waktu itu aku adalah seorang jomblo menyedihkan yang ingin berinteraksi lebih baik dengan teman-teman lawan jenis. Tetapi pada intinya, alasan-alasan itu mendorongku untuk membaca buku-buku seperti “How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie, “How to Make People Like You in 90 seconds or Less” yang ditulis oleh Nicholas Boothman atau bahkan serial “Making Friends for Dummy” (ya aku se- desperate itu untuk membangun hubungan-hubungan yang lebih baik.) Buku-buku itu memang mengajariku berbagai teknik untuk menjadi pribadi yang lebih menarik dan makhluk-makhluk sosial yang tidak kenal rasa malu, tapi menurutku, buku-buku itu gagal untuk…

Beberapa bulan yang lalu, kita telah membahas beberapa poin tentang berlatih dengan tujuan; sebuah konsep latihan yang biasanya digunakan oleh para ahli seperti atlet Kobe Bryant, musisi kelas dunia seperti the Beatles, dan bahkan pengusaha-pengusaha tersukses di dunia seperti Bill Gates.  Pada dasarnya, konsep berlatih dengan tujuan ini bisa dipecah menjadi beberapa poin berikut: Pecahkan keahlian yang ingin kamu pelajari menjadi beberapa komponen kecil Dorong dirimu untuk keluar dari zona nyamanmu Temukan apa yang menghambat perkembanganmu Carilah seorang ahli/mentor yang berpengalaman Kita sudah membahas poin-poin ini secara detail di post sebelumnya, dan jika kamu belum membacanya, aku sangat menyarankanmu untuk membacanya sekarang. Nah, lewat artikel ini, aku ingin membahas bagaimana kamu bisa mempertahankan metode latihan ini dan menjadi seorang ahli. Karena seperti cerita Kobe Bryant di artikelku sebelumnya, berlatih dengan tujuan tidaklah mudah. Latihan seperti ini sangatlah menyakitkan, sulit, dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Jika kamu tidak merasa tertekan dalam latihan-latihanmu,…