Quantcast
Laugh

2 Kata yang Akan Mengobati Kesedihan Lo- Aku Rakpopo

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Salah satu aktivitas favorit gue saat gue sedang menyetir sendirian adalah memperhatikan tulisan-tulisan dan gambar-gambar konyol yang ada di belakang sebuah truk. Biasanya, gue akan menemukan tulisan-tulisan tidak senonoh seperti “Jangan ngaku cantik kalo belom macarin pria beristri” dengan gambar cewek berpakaian minim atau “Cintamu tidak seberat muatanku” dengan gambar penyanyi dangdut bertubuh molek.

Tetapi terkadang, gue akan menemukan tulisan-tulisan bijaksana yang menghangatkan hati seperti “Bahagia itu tak harus mewah. Istigfar untuk masa lalu, bersyukur untuk hari ini & berdoa untuk hari esok.” Atau kata-kata favorit gue, “Aku Rakpopo…”

Aku Rakpopo

Tidak ada dua kata di dunia ini yang lebih kuat dari dua kata itu. Dipopulerkan oleh almarhum Julia Perez, dua kata itu menjadi sebuah kosakata penting bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Oke paling tidak untuk kebanyakan sopir truk Indonesia.

Ya “Aku Rakpopo” atau dalam bahasa Indonesianya “Aku Tidak Apa-Apa” adalah sebuah frase sederhana yang sekilas mungkin tidak berarti apa-apa. Namun, jika lo pikir baik-baik, sebenarnya itu adalah kata-kata paling menguatkan yang bisa lo katakan pada diri lo sendiri saat lo sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat besar.

Saat kita menghadapi sebuah masalah yang berada di luar kendali kita, sangat mudah untuk mengasihani diri kita dan bertanya kenapa hidup itu lebih kejam dari ibu mertua kita atau kenapa hidup ini tidak adil. Tetapi dua atau tiga tahun ke depan (tergantung skala masalah lo), saat lo melihat kembali masalah-masalah dan nasib buruk yang menimpa kehidupan lo waktu itu, lo akan menemukan bahwa masa-masa itu tidaklah seburuk itu. Lo bahkan mungkin mulai mensyukuri datangnya masalah-masalah itu dan menemukan beberapa pelajaran penting yang telah membuat lo menjadi pribadi yang lebih baik.

Saat kita menghadapi sebuah masalah yang berada di luar kendali kita, sangatlah mudah untuk menjadi terobsesi dengan masalah itu sehingga lo melupakan bahwa jika dilihat gambar besarnya, masalah itu sebenarnya bukanlah sebuah masalah yang besar.

Diputuskan cinta pertama mungkin adalah sebuah masalah yang besar bagi seorang anak berumur 14 tahun. Tetapi seiring berjalannya waktu, anak itu akan belajar bahwa gagalnya sebuah hubungan bukanlah akhir dunia. Ada hal-hal lebih penting yang seharusnya ia khawatirkan daripada masalah itu di dunia ini seperti: mencari jurusan yang tepat, lulus kuliah, dan tentunya, mencari pekerjaan yang lo sukai.

Di PHK dari pekerjaan lo saat lo berumur 25 tahun mungkin adalah sebuah tragedi yang mengenaskan. Namun lagi-lagi, itu bukanlah akhir dunia. Lo masih bisa mencari pekerjaan lain atau bahkan memulai sebuah usaha baru.

Bertengkar dengan keluarga lo mungkin adalah sebuah pengalaman yang traumatik. Lo merasa bahwa orang tua lo tidak akan pernah bisa memahami lo dan malah membuat kehidupan lo makin sulit. Namun jika dipikir-pikir, bukanlah itu cerita semua anak muda? Gue tidak pernah bertemu dengan seseorang yang 100% bisa selalu setuju dengan orangtua mereka dan itu tidak apa-apa. Itu adalah sesuatu yang wajar karena lo dan orang tua lo adalah dua orang yang berbeda. Hubungan darah tidak akan menutupi perbedaan ini.

Itulah kenapa kata-kata “Aku Rakpopo” ini adalah kata-kata yang luar biasa. Saat lo mengatakan hal itu pada diri lo sendiri, lo secara tidak langsung berkata bahwa ya masalah/ kesialan/ penderitaan ini memang menimpa gue; namun gue sadar hal itu adalah sesuatu yang wajar karena semua orang pasti pernah menderita/ mengalami masalah tersebut, dan gue percaya pada akhirnya, gue akan tidak apa-apa. Aku rakpopo…

Homeostasis Psikologis Kita

Psikolog terkenal yang bernama Dan Gilbert mengilustrasikan fenomena ini dengan baik. Ia berargumen bahwa manusia tidak hanya mempunyai sistem pertahanan tubuh, tetapi juga sebuah sistem pertahanan psikologis. Setiap kali pikiran kita menderita sebuah trauma atau mengalami kebahagiaan yang luar biasa, cepat atau lambat, pikiran kita akan beradaptasi terhadap pengalaman itu. Pikiran kita akan kembali menjadi normal (tidak sedih, tidak bahagia) dan kehidupan berlangsung seperti biasanya.

Inilah kenapa korban gempa bisa tersenyum riang beberapa hari setelah mereka mengalami malapetaka yang menghancurkan dan memporak-porandakan kehidupan mereka. Inilah kenapa orang-orang yang putus cinta dan berkata bahwa ia lebih baik berpacaran dengan banci ujung-ujungnya menggandeng tangan wanita lain beberapa bulan kemudian. Inilah kenapa orang yang aset-asetnya disita bank dan berkata ia ingin bunuh diri bisa tersenyum dengan bahagia di Bali beberapa bulan kemudian.

Segala sesuatu di dunia ini memiliki musim dan masanya masing-masing. Banyak dari kita tahu bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak akan bertahan lama. Namun, banyak dari kita seringkali lupa bahwa kesedihan kita pun juga tidak akan bertahan lama.

Dimanapun lo berada dan apapun yang lo alami saat ini, ingatlah bahwa pada akhirnya semua itu pun akan berlalu. Apa yang lo lihat sebagai malapetaka terbesar dalam hidup lo saat ini mungkin akan menjadi bahan bercandaan lo dua atau tiga tahun ke depan.

Jadi jangan putus asa dulu. Pada waktunya, lo akan menemukan bahwa semua akan menjadi baik-baik saja. Lo akan baik-baik saja.

Jadi lain kali lo mengalami apa yang lo pikir sebagai sebuah malapateka besar, ingatlah untuk berkata pada diri lo sendiri, “Aku rakpopo. Masalah gue tidaklah separah itu…” Dan suatu hari nanti, lo akan menemukan bahwa semua akan baik-baik saja.

 

Jika lo mendapati post ini bermanfaat, silahkan subscribe ke blog gue dengan mencantumkan email lo dibawah ini. Dengan melakukan hal itu, lo akan mendapatkan artikel terbaru gue langsung dan mendapatkan beberapa bonus lainnya seperti rekomendasi buku yang akan merubah kehidupan lo setiap bulannya dan berbagai artikel tambahan. Jadi, tunggu apa lagi?

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment