Quantcast
Author

Magnus

Browsing
Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Waktu aku berumur 16 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk mempunyai perut kotak-kotak ala Aderai, bermain gitar di depan ratusan orang seperti John Mayer, dan mendapatkan rangking 10 besar di SMP ku di Singapura. Waktu aku berumur 20 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk lulus dengan gelar Magna Cum Laude, menjadi Mr. UOB (pada dasarnya pria paling keren di kampus), dan menjadi MC populer di Singapura. Waktu aku berumur 22 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk membuat sebuah majalah pria dengan nilai-nilai positif, keluar dari bisnis keluarga, dan memulai sebuah startup kecil-kecilan. Tahun ini aku resmi berumur 25 tahun dan aku harus mengakui bahwa aku tidak pernah mendapatkan perut kotak-kotak sepeti Ade Rai, bermain gitar di depan ratusan orang, mendapatkan rangking 10 besar di SMP, lulus dengan gelar Magna Cum Laude, menjadi Mr. UOB, dikenal sebagai MC populer, mempunyai sebuah majalah…

Sekitar satu tahun yang lalu, aku dan pacarku sempat pergi ke Jakarta untuk menghadiri sebuah konser musik. Di perjalanan kami ke Semarang, kami tidak sengaja bertemu dengan salah satu nasabah pacarku. Pria itu adalah seorang pengusaha travo yang ternyata cukup terkenal di Semarang. Singkat cerita, aku pun berkenalan dengan pria itu dan mulai berbasa basi tentang cuaca yang tidak menentu, kondisi ekonomi tahun 2018, dan berbagai hal lain. Saat aku berencana untuk mengakhiri pembicaraan itu dan pergi tidur, pria itu mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Ia berkata kurang lebih seperti ini: “Kamu cuma akan hidup di dunia ini sekali. Jadi pastikan kamu melakukan apa yang kamu cintai, mengejar passion kamu, dan mengerjakan sesuatu yang menarik. Karena jika kamu tidak tertarik dengan pekerjaanmu, kamu tidak akan kalah bersaing dengan orang-orang yang mencintai pekerjaan mereka.” Hatiku ingin melompat dan meneriakkan “amin” saat aku mendengar kata-kata itu. Namun, logikaku…

Satu tahun yang lalu aku sempat menonton sebuah film menarik yang berjudul Into The Wild.   Film itu menceritakan tentang kehidupan seorang anak broken home yang memutuskan untuk bertualang ke alam liar untuk lari dari tuntutan dunia dan orang tuanya. Setelah ia lulus kuliah, ia memutuskan untuk merobek surat penawaran kerja dari sebuah perusahaan terkenal, membuang mobilnya di tengah jalan, kabur dari rumahnya, meninggalkan orangtua dan adik perempuannya. Di film itu diceritakan bagaimana pada awalnya ia merasa bahagia dengan keputusannya untuk kabur dari rumah dan pergi ke alam liar. Ia akan menghabiskan hari-harinya berkemah, berenang di sungai, bergaul dengan orang-orang hipi, menyanyi, dan menari. Namun suatu hari, saat ia memutuskan untuk hidup di sebuah bus rongsokan di tengah hutan belantara yang sudah ditinggalkan, ia tidak sengaja memakan sebuah tanaman beracun. Tanaman itu membuat tubuhnya lemah dan menghambat sistem metabolismenya. Ia tidak bisa lagi makan dan minum. Hidup sendirian di tengah hutan…

Dua minggu terakhir kita telah membahas pentingnya untuk menjaga keseimbangan dua aset paling berharga kita, yaitu tubuh dan pikiran kita. Namun, menjaga keseimbangan dua aset itu masih belum cukup untuk membangun kehidupan yang bahagia. Sebagai manusia, kita masih memiliki satu aset penting lagi yang harus kita jaga, yaitu kehidupan spiritual kita. Jiwa manusia adalah sesuatu yang sangat sulit dideskripsikan oleh kata-kata. Tidak seperti tubuh dan pikiran kita, peran jiwa manusia di dalam kehidupan sehari-hari sangatlah ambigu dan bahkan bisa dibilang tidak jelas. Kita hanya tahu bahwa kita telah dianugerahi oleh kesadaran dan jiwa kitalah yang membedakan kita dengan seekor monyet. Aku hampir tidak mau menulis post ini karena aku merasa kehidupan spiritual manusia adalah sebuah topik yang sangat mistis dan sampai sekarang, aku masih belum bisa menemukan riset yang tepat untuk menjelaskannya. Namun, aku sadar bahwa aku tidak mungkin melewatkan topik kehidupan spiritual dalam tema keseimbangan kita. Jadi, apa yang…

Di post minggu lalu, aku sudah menekankan seberapa pentingnya menjaga keseimbangan empat aset manusia yakni tubuh, mental, perasaan, dan jiwa kita dalam kehidupanmu. Di post yang sama, aku juga sudah memberikan beberapa tips untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Nah, di post ini, aku akan melanjutkan diskusi kita dan membahas bagaimana menjaga kesehatan mental kita. Kebanyakan dari kita berhenti belajar begitu kita menyelesaikan sekolah dan masuk ke dunia kerja. Kita berargumen bahwa kita tidak mempunyai waktu untuk belajar sesuatu yang baru dan bahkan jika kita mempunyai waktu pun, kita biasanya beralasan bahwa pikiran kita sudah tidak kuat untuk memproses informasi-informasi baru. Akibatnya, kita biasanya menghabiskan waktu luang kita melakukan hal-hal tidak penting seperti mengecek gosip-gosip artis terbaru, main game, dan menonton sinetron. Pikiran kita menjadi sempit dan perkembangan mental kita menjadi terhambat. Kita mulai menjadi tidak peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar kita dan akibatnya, kita mulai membuat kesalahan-kesalahan kecil…

Seorang biksu sedang berjalan menuju sebuah desa bersama seorang muridnya. Tiba-tiba, seorang pria tua berbaju rapi menghampirinya dan menanyakan: “Orang suci, bagaimana aku bisa menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Belajarlah untuk menysukuri apa yang kau punyai dan biarkan perasaan itu membahagiakan hatimu setiap hari…” Merasa puas, pria tua itu menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan biksu itu. Si biksu baru saja mau berjalan lagi saat tiba-tiba seorang anak muda datang menghampirinya. Ia bertanya: “Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Jangan merasa puas dengan apa yang kau punyai dan biarkan ambisimu membawamu menuju kebahagiaan…” Saat anak muda itu merasa puas dan meninggalkan si biksu dan muridnya, si murid bertanya: “Guru kamu sepertinya tidak yakin apakah kita harus menyusukuri apa yang kita punyai atau meningkatkan ambisi kita untuk merasa bahagia… apa maksudmu?” “Mencari kebahagiaan adalah seperti melewati sebuah jembatan tanpa pegangan yang…

Waktu aku masih duduk di bangku SMP kelas 2 dulu, aku adalah seorang pemalu yang lebih suka mendengarkan lagu dari Discman Sony-ku daripada pertanyaan “apa kabar” orang lain. Suaraku pelan dan aku lebih sering bergumam daripada berbicara, jadi orang-orang seringkali tidak memahami kata-kataku. Dan seperti yang kalian duga, aku tidak mempunyai banyak teman dan tentunya, masih jomblo. Sementara anak-anak SMP lain menghabiskan malam minggu mereka bergonta-ganti pacar dan bereksperimen dengan seksualitas mereka, aku akan menghabiskan malam mingguku menggambar Manga. (Ya aku dulu suka menggambar). Orangtuaku yang tidak tahan dengan sifat pendiam-ku akhirnya mendorongku untuk lebih sering berkumpul dengan teman-teman sekelas dan mencari teman-teman baru, sehingga aku lebih bisa bergaul dengan orang lain. Tetapi, karena waktu itu aku tidak melihat teknik berkomunikasi dengan orang lain sebagai sesuatu yang penting, aku memutuskan untuk mendiamkan nasihat-nasihat itu. Terlebih lagi, berkenalan dengan orang baru dan memulai sebuah pembicaraan seringkali membuatku merasa tidak nyaman. Selang…

Kita bisa melakukan yang terbaik, mengintegrasikan ketertarikan dan pekerjaan kita, membangun keahlian di dalam bidang tersebut, dan berusaha untuk memenuhi sebuah kebutuhan nyata di dunia ini. Namun, kita tidak akan pernah bisa mengendalikan bagaimana dunia ini akan menilai hasil kerja kita. Kita bisa mengendalikan pikiran kita dengan benar, menanggapi sebuah masalah dengan positif, menyambut kesempatan dengan baik, dan masih saja gagal. Lantas apa yang harus kita lakukan dalam situasi ini? Well, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah untuk terus mencoba, karena tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menghentikan kita untuk terus mencoba dan memberikan yang terbaik. Beberapa masalah dan halangan memang terkadang tidak bisa diselesaikan. Kegagalan terkadang tidak bisa dihindari dan beberapa jalan terkadang memang tidak bisa dilewati. Namun, ini belum tentu adalah sesuatu yang buruk, karena kita bisa menggunakan situasi atau kegagalan itu sebagai kesempatan untuk menempa karakter kita- walaupun itu terkadang berarti belajar…

Aku menyadari bahwa salah satu masalah terbesar manusia (itu termasuk aku sendiri) berakar dari keinginan kita untuk mengendalikan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Bagi kebanyakan orang sepert aku, melepaskan kendali, untuk apapun itu, adalah sesuatu yang memalukan, lemah, dan bahkan sedikit menakutkan. Kita lebih suka melakukan sesuatu, membuat rencana, dan bahkan merasa cemas, alih-alih berdiam diri dan berserah pada keadaan. Paling tidak dengan melakukan ‘sesuatu’ kamu merasa seperti kamu telah melakukan sesuatu untuk merubah situasimu. Kamu merasa seperti kamu sudah mengirim sebuah pukulan telak terhadap nasib. Padahal jika dipikir lagi, seberapa besar pengaruh tindakan-tindakan tersebut dalam merubah situasimu? Ya, tidak bisa dipungkiri, melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada berdiam diri dan berserah pada nasib. Namun dalam beberapa situasi, melakukan sesuatu tidak akan merubah apa-apa. Malah-malah, melakukan sesuatu hanya akan membuatmu tertekan, stres, dan akhirnya memutuskan untuk menelan 40 Panadol dalam waktu yang sama. Dalam beberapa situasi, melawan nasib membuat…

Waktu aku baru lulus kuliah dulu, satu hal yang paling sulit untuk aku lakukan adalah bangun pagi. Aku tidak menemukan alasan yang kuat untuk bangun lebih pagi selain melihat sinar matahari pagi dan toh, aku juga sering berpergian sampai malam, jadi bangun pagi adalah sesuatu yang menurutku hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Namun, itu semua berubah saat aku memutuskan untuk menjadi seorang blogger. Tiba-tiba aku menemukan bangun lebih pagi adalah satu-satunya cara aku bisa menemukan waktu untuk menulis dan bahkan menurutku, satu-satunya waktu untuk menulis. Begitu aku masuk kantor sekitar jam delapan pagi, aku hampir tidak memiliki waktu untuk melakukan hal lain sampai jam empat atau lima sore. Bahkan, di jam makan siang pun aku masih tidak bisa menemukan waktu untuk menulis: teleponku akan terus berbunyi, tamu tiba-tiba datang, dan tugas-tugas urgent lain tiba-tiba muncul. Begitu aku pulang dari kantor, otakku biasanya sudah tidak dalam kondisi prima untuk menulis dan…