Quantcast
Laugh

Bagaimana Dunia Telah Mem-PHPmu dan Pentingnya Bersyukur

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Suatu hari di bulan September 2017 kemarin, terjadi sebuah perdebatan hebat di gymku. Tidak, ini bukanlah karena seseorang telah memakai alat gym tanpa menggunakan handuk atau karena beberapa orang tidak mengembalikan alat-alat gym ke tempatnya. Perdebatan ini terjadi karena sebuah video yang kami tonton kemarin malam. Sebuah video peluncuran produk-produk baru Apple tahun 2017 kemarin…

Cerita ini diawali saat seorang teman gymku membagikan video peluncuran produk-produk baru Apple beserta sebuah comment: “What do you guys think?” di Facebook dan mengetag aku dan teman-teman gymku yang lain.

Keesokan harinya, seperti biasa, kami bertemu di gym sekitar pukul 5 sore. Begitu temanku yang membagikan video itu melihatku dan teman-teman gymku yang lain di loker, ia langsung bertanya, “Gimana guys, Iphone X keren nggak?”

Pertanyaan itu kemudian memicu sebuah diskusi hangat di ruang loker kami. Salah satu dari teman gymku berkata bahwa Iphone X adalah inovasi paling keren di dunia Smartphone, sedangkan satu temanku yang lain mengatakan bahwa Iphone X adalah usaha Apple untuk merampok dunia keenam atau ketujuh kalinya…

Pada akhir diskusi itu, rata-rata, kami semua setuju bahwa Iphone X bukanlah inovasi terbaik Apple (seperti yang sering para petinggi Apple katakan setiap tahunnya). Walaupun Iphone X tidak bisa dipungkiri adalah sebuah smartphone yang indah, tetapi dengan harga 18 juta, aku mulai setuju dengan pendapat temanku yang mengatakan bahwa para pemimpin Apple mungkin sedang merencanakan sebuah perampokan massal dengan IPhone X.

Kami mulai bercanda bahwa Apple mulai kehilangan arahnya setelah Steve Jobs meninggal dan produk-produk baru mereka setelah IPhone 4s dan Ipad 2 bukanlah produk-produk baru melainkan IPhone dan IPad baru yang sedikit lebih baik. Tentu teman kami yang berkata bahwa IPhone X adalah inovasi paling luar biasa di dunia smartphone tidak mau mendengar pembicaraan itu. Kami menyadari bahwa kebanyakan penggemar-penggemar Apple adalah orang-orang fanatik yang terkadang lebih setia daripada pengikut-pengikut ISIS.

Beberapa jam kemudian setelah aku pulang dari gym dan sedang menyetir ke rumahku, sebuah ide terlintas di kepalaku. Aku mulai berpikir bahwa mungkin IPhone X tidaklah seburuk itu, inovasi-inovasi Apple setelah IPhone 4s dan IPad 2 tidaklah se-membosankan itu. Mungkin kita hanya memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi…

###

Aku merasa salah satu alasan kenapa kita sebagai manusia tidak pernah merasa bahagia adalah karena kita memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap kehidupan.

Seperti kata temanku yang suka PHP orang, “Tidak ada orang-orang yang pernah memberikan harapan palsu, yang ada hanyalah orang-orang yang berharap terlalu banyak…”

Intinya, kita tidak pernah di-PHP, kita hanya berharap terlalu banyak…

Dalam derajat tertentu, aku setuju dengan kata-kata itu. Perkembangan teknologi yang terjadi berpuluh-puluh tahun terakhir telah mengacaukan ekspektasi kita. Jika kamu memberi tahu kakekmu bahwa kamu sekarang bisa menonton film bokep hanya dengan beberapa sentuhan jari telunjuk dan tanpa membayar langganan apa-apa, kakekmu mungkin akan bangkit dari kursi rodanya, menggebrak meja makan yang ada di depannya, dan berteriak, “APA? JADI DARI DULU AKU BERLANGGANAN MAJALAH PLAYBOY SECARA SIA-SIA??”

Teknologi kita telah memperkaya pilihan-pilihan kita, mempercepat hampir semua proses di dunia ini, dan menyambungkan kita dengan satu sama lain. Jika dipikir secara logika, perkembangan-perkembangan ini seharusnya membuat kita lebih bahagia. Membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah, membeli segala sesuatu menjadi lebih mudah, dan tentunya mencari jodoh pun jadi lebih mudah. Tetapi nyatanya, kita tidak merasa lebih bahagia. Dan hal ini disebabkan karena ekspektasi kita juga berkembang seiring dengan perkembangan-perkembangan yang terjadi di sekitar kita.

Kita terus menginginkan segala sesuatu lebih cepat, lebih baik, dan tentunya lebih murah. Kita seolah-olah tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita punyai. Dan tentu, mungkin ini memang adalah sifat dasar manusia, tetapi menurutku, para marketer dunia juga berperan besar dalam menimbulkan masalah ini.

Marketing 101- Tukang PHP Profesional

Waktu aku mengambil pelajaran Marketing 101 di Universitasku, guruku pernah berkata bahwa marketing pada dasarnya adalah menemukan “kesakitan” orang-orang, membuatnya terdengar lebih parah dari kenyataannya, lalu menunjukkan bagaimana jasa/produkmu bisa membuat mereka merasa lebih baik.

Contohnya jika aku adalah seorang penulis buku pengembangan diri, aku akan menunjukkan bahwa kehidupan itu sulit, lalu secara halus, aku akan menunjukkan bagaimana kamu juga mengalami kesulitan-kesulitan itu dalam derajat tertentu, dan terakhir, aku akan memberikan sebuah solusi untuk menghilangkan kesulitan-kesulitan itu dengan membeli bukuku yang berharga sekitar 75 ribuan. Oh dan untuk membuatmu merasa sedikit lebih baik, aku akan berkata bahwa aku akan menyumbangkan laba yang aku dapatkan dari buku itu ke sebuah pulau terpencil di ujung Indonesia…

Hal-hal ini membuat kita berpikir bahwa dengan membeli barang-barang yang ditawarkan marketer-marketer ini, masalah kehidupan kita akan hilang. Kehidupan kita akan menjadi lebih baik dan kita akan menjadi manusia-manusia yang lebih keren.

Namun, masalahnya, kehidupan tidak berjalan seperti itu. Kita tidak akan bisa membeli sebuah solusi untuk masalah-masalah kita. Kita hanya bisa menyelesaikan masalah-masalah kita. Dan itu berarti terus mengembangkan diri kita sendiri dan mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah-masalah kita.

Saat kita berpikir bahwa dengan membeli X atau menyewa jasa Y, semua masalah kita akan selesai dengan sendirinya dan kehidupan kita akan menjadi lebih indah, kamu akan merasa di PHP…

Tentu, beberapa hal di dunia ini benar-benar bisa mempermudah masalah kita. Mobil bisa membawaku ke sebuah tempat dengan lebih cepat, sebuah handphone bisa membantu menghubungkan aku dengan para calon pembeliku, dan internet bisa membantuku menyelesaikan PR-PR ku lebih cepat. Tetapi kebanyakan barang di dunia ini tidak begitu spesial. Mereka hanya menjadi spesial setelah para marketer membuatnya terdengar/terlihat spesial.

Pernahkah kamu melihat Iklan burger McDonalds di internet?

Roti berwarna coklat yang masih mengepul-ngepul, daging asap yang tebal dengan keju dan saus tomat yang meleleh-leleh… Kentang goreng berwarna coklat keemasan yang berjatuhan… hmmm…

Namun saat kamu memutuskan untuk pergi ke McDonalds di dekat rumahmu dan memesan burger itu, kamu hanya mendapatkan sebungkus burger lembek dengan keju kecil dan daging burger yang diiris tipis-tipis. Kamu telah di PHP oleh Mc Donalds.

Hal ini juga berlaku untuk berbagai produk-produk lain di dunia ini. Seminar-seminar yang berjanji mereka akan merubah kehidupanmu dalam satu malam, sebuah program yang bisa menyelesaikan semua masalah perusahaanmu, dan baju-baju yang akan membuatmu terlihat seperti Afgan atau Raisa…

Mengatur Ekspektasi Kita

Pada akhirnya, seperti kata temankuyang suka memPHP orang, harapan kitalah yang biasanya membuat kita kecewa dan tidak bahagia. Harapan memang adalah sesuatu yang penting di dunia ini. Tanpa harapan, mungkin statistik kasus bunuh diri dunia akan meningkat drastis.

Namun, tinggal di sebuah zaman dimana kita terus dibombardir oleh pesan-pesan yang diciptakan untuk melambungkan harapan kita, sangatlah penting untuk mempunyai ekspektasi yang realistik terhadap segala sesuatu.

Seorang Kaisar Roma yang terkenal akan kebijaksanaan-nya, Marcus Aurelius pernah berkata bahwa ia selalu mencoba untuk  melihat segala sesuatu apa adanya. Ia akan melihat wine sebagai anggur busuk, steik sebagai binatang mati yang dibakar, dan wanita-wanita cantik sebagai manusia-manusia biasa yang bisa terlihat jelek. (saat mereka di toilet, dll).

Ini bukan berarti melihat segala sesuatu secara negatif, tetapi melihat segala sesuatu secara objektif dan membedakan mana janji iklan dan mana kenyataan. Dengan melakukan hal ini kamu akan menemukan bahwa kamu akan berhenti membeli barang-barang yang tidak sebenarnya kamu butuhkan dan lebih mensyukuri apa yang kamu punyai.

Dua resep untuk kehidupan yang lebih bahagia…

 

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, klik tombol subscribe dibawah ini dan dapatkan artikel-artikel terbaruku lebih cepat. Dengan mensubscribe ke blogku, kamu juga akan mendapatkan 3 rekomendasi buku yang akan membuat kehidupanmu lebih baik, bonus artikel setiap bulannya, dan Ebook terbaruku, Threesome. (ini bukan PHP)  Jadi tunggu apa lagi? Subscribe…

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment