Quantcast
Love

Berhenti Menunggu Orang Lain Berubah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Salah satu sumber kesulitan dan kesedihan terbesar manusia adalah keinginan untuk merubah orang lain.

Kita sepertinya tidak bisa mengendalikannya: kita ingin kehidupan berjalan sesuai keinginan kita. Sayangnya, realita biasanya memiliki rencana yang berbeda, dan orang-orang sepertinya terus bertindak di luar keinginan kita. Masalahnya bukanlah pada orang-orang ini, namun pada ekspektasi kita.

Ya, tentu sangatlah luar biasa jika penduduk Indonesia bisa berhenti bertengkar dengan satu sama lain karena perbedaan ras, agama, dan lain-lain. Namun, itu bukanlah realita yang terjadi, Indonesia masih membutuhkan waktu untuk berubah.

Ya tentu sangatlah luar biasa jika pacar saya bisa terus memberi saya lebih banyak kebebasan untuk melakukan apa yang saya mau (menulis blog ini, dll), namun wanita butuh dicintai dan diperhatikan. Itu adalah realita dunia. Jadi masalahnya:  

  • Kita mempunyai sebuah ide bagaimana orang-orang seharusnya bertindak
  • Orang-orang tidak bertindak sesuai ekspektasi  dan kehendak kita
  • Kita terganggu dengan kenyataan itu. Kita menjadi jengkel, marah, kecewa, dan sedih
  • Ini membuat kita tidak bahagia, merusak hubungan kita dengan orang lain

Tentu ini bukanlah hal yang baik.

Dari sini, kita memiliki beberapa pilihan:

1. Bertahan dengan ekspektasi kita terhadap orang-orang di kehidupan kita, dan merasa marah saat mereka tidak memenuhi ekspektasi-ekspektasi itu.

2. Bertahan dengan ekspektasi kita terhadap orang-orang di kehidupan kita, dan memaksa mereka untuk menerima ekspektasi kita.

3. Melepaskan ekspektasi itu dan merasa lebih bahagia dengan kehidupan. 

Saat kita berpikir seperti ini, jelas opsi ke tiga adalah jalan terbaik. Kita akan membicarakan opsi ini sebentar lagi, namun mari kita berbicara sejenak tentang beberapa pertentangan tentang ide ini.  

Penolakan Terhadap Kepasrahan

Saat orang-orang dihadapkan dengan ide untuk melepaskan ekspektasi mereka terhadap orang lain, mereka biasanya mengajukan beberapa penolakan:

    • Penolakan: Namun orang-orang akan dibiarkan bebas dari tindakan yang merugikan orang lain. Ada perbedaan antara menginginkan seseorang untuk bertindak dalam cara tertentu (dan merasa jengkel saat mereka tidak melakukannya), menerima tindakan seseorang, dan kemudian dengan penuh kasih menemukan tanggapan yang tepat untuk menindaklanjuti tindakan itu.Di kasus yang pertama, anda marah kepada mereka karena perlakuan mereka, dan memarahi mereka hanya akan memperparah keadaan.Di kasus kedua, anda tidak terganggu dengan tingkah laku mereka, namun anda bisa melihat bahwa tindakan mereka memberikan dampak yang negatif dan anda ingin membantu mereka berhenti melakukan hal itu. Anda tidak bisa mengendalikan mereka, namun anda bisa membantu mereka. Jika anda mencoba untuk membantu namun mengharuskan mereka untuk menerima bantuan anda, anda hanya akan merasa jengkel. Bantulah dia tapi lepaskan ekspektasi perubahan yang ingin anda lihat dari bantuan anda.

       

    • Penolakan: Lalu bagaiman dengan penyiksaan? Ada perbedaan antara menderita karena penyiksaan yang anda terima,  menerima bahwa orang itu telah melukai anda, dan mengambil sebuah tindakan. Melepaskan ekspektasi anda tentang bagaimana orang yang terus melukai anda seharusnya berlaku bukan berarti anda membiarkan orang itu terus melukai anda. Itu berarti bahwa anda menerima bahwa mereka adalah seseorang yang membuat hidup anda menderita dan anda harus mengambil tindakan untuk menjauhinya, meminta bantuan, atau melaporkannya ke polisi. Jangan biarkan diri anda terus dilukai orang yang sama.
    • Penolakan: Namun kita tidak membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Jika orang-orang bertindak melawan ekspektasi anda, anda bisa merasa jengkel terhadap perlawanan itu atau anda bisa menerima bahwa dunia ini memang tidak berputar sesuai ekspektasi anda… namun dengan tenang dan penuh kasih berusahalah untuk membantu orang lain. Di kedua skenario itu, anda mencoba untuk melakukan sesuatu yang baik… namun di skenario kedua, anda tidak lagi merasa jengkel atau marah.  

Jadi penolakan-penolakan itu adalah tentang menginginkan untuk merubah sifat buruk seseorang. Artikel ini adalah tentang kedamaian hati dan penerimaan terhadap perlakuan buruk (atau yang saya pikir ideal atau tidak ideal)… namun saat anda bisa menerima semua itu, anda bisa mengambil tindakan yang tepat. Hal itu mungkin berarti membantu, mengasihi, mencintai seseorang, melaporkan perlakuan-perlakuan negatif pada pihak yang berwajib, pergi ke psikolog, menjauhi orang itu dan tindakan-tindakan lain yang didasari oleh cinta, kasih, dan pemahaman; bukan rasa marah dan kejengkelan.

Melepaskan Ekspektasi Anda

Jadi bagaimana anda bisa melepaskan ekspektasi anda terhadap orang lain?

Pertama, pikirkan bagaimana ekspektasi ini melukai anda dan orang lain. Menginginkan cara anda, memilih realitas anda sendiri… telah membuat anda jengkel, marah, tidak bahagia. Hal itu merusak hubungan anda. Ekspektasi anda biasanya juga membuat orang-orang yang ada di kehidupan anda tidak bahagia juga. Ini disebabkan karena keterikatan kita pada ekspektasi dan ideal yang kita miliki.

Kedua, pikirkan cara membuat anda dan orang-orang di sekitar anda lebih bahagia. Jika ideal dan ekspektasi anda telah melukai diri anda sendiri dan orang lain… bukankah lebih baik kita berhenti melukai diri kita sendiri? Bukankah itu merasa bahagia lebih menyenangkan daripada merasa jengkel? Pikirkan keinginan anda untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain dan buat mereka lebih bahagia dengan hubungan anda. Cinta seharusnya merupakan keinginan terbesar hidup anda.

Ketiga, perhatikan ekspektasi dan kejengkelan anda saat mereka mulai muncul. Lihat saat seseorang membuat anda jengkel dan pikirkan ekspektasi seperti apa yang anda miliki terhadap orang itu. Bagaimana anda ingin orang itu memperlakukan anda? Jangan terjebak di dalam cerita anda, mencari alasan mengapa mereka harus bertindak sesuai kehendak anda, alih-alih, pahami ekspektasi itu. Lihat apakah ekspektasi itu membuat kehidupan anda lebih negatif. Jika betul, buang ekspektasi itu jauh-jauh.

Perhatikan juga pola kejengkelan anda. Saat seseorang tidak memenuhi ekspektasi anda, cobalah untuk menyadari kejengkelan yang anda rasakan dengan cepat. Kejengkelan adalah sebuah pola yang bisa anda sadari dan ubah dengan cepat.

Terakhir, perhatikan kekakuan di dalam tubuh anda. Lalu, pusatkan perhatian anda pada tubuh anda, kekencangan yang disebabkan oleh ekspektasi kita. Perhatikan perasaan apa yang muncul, jenis energi yang mengalir di tubuh anda, di mana anda merasakannya, bagaimana perasaan itu berubah. Saat anda memperhatikan semua ini, indra anda akan menjadi lebih peka, alih-alih terjebak di dalam ekspektasi yang salah, anda akan menjadi lebih objektif. 

Setelah semua ini, anda bisa memilih untuk merubah kebiasaan anda.

Cara yang Berbeda

Jadi sekarang, anda bisa mencoba pola pikir yang berbeda. Berikut ini beberapa pola pikir yang menurut saya bermanfaat:

  • Alih-alih berkutat pada bagaimana seseorang seharusnya bertindak, bukalah pikiran anda terhadap kemungkinan-kemungkinan lain.
  • Cobalah untuk pahami orang itu, alih-alih menilai apa yang mereka lakukan berdasarkan informasi yang terbatas. Coba untuk pahami mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan- mungkin mereka takut. Mungkin mereka telah dilukai. Mungkin ini hanyalah sebuah strategi untuk melindungi diri mereka sendiri.
  • Cobalah untuk melihat unsur kebaikan di setiap tindakan seseorang. Contohnya, anda bisa melihat bahwa orang itu sebenarnya baik tetapi penakut, jadi mereka bertindak atas dasar ketakutan mereka. Atau mereka hanya mau merasa bahagia, dan ini adalah strategi mereka untuk merasa bahagia. Intinya, jauh di dalam lubuk hati kita, kita semua itu baik, namun kita harus mengupas beberapa lapisan hati kita untuk melihat kebaikan itu. Kemarahan bisa datang dari keirian yang berasal dari keresahan yang berakar dari kecemasan kita bahwa kita tidak cukup baik. Kemarahan itu jelas tidak baik, namun jauh dibalik perasaan itu, ada kebaikan.  
  • Lihatlah penderitaan mereka sebagai penyebab kejahatan mereka dan sadari bahwa anda juga pernah menderita. Ingat bagaimana penderitaan itu terasa, jadi anda bisa melihat apa yang sedang mereka hadapi. Harapkan bahwa penderitaan mereka itu akan berakhir.
  • Berkatalah kepada diri anda sendiri bahwa anda tidak tahu bagaimana seseorang seharusnya bertindak. Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya sedang membodohi diri saya sendiri jika saya berpikir saya tahu apa yang harus orang lain lakukan. Alih-alih, cobalah untuk mengetahui mengapa seseorang melakukan apa yang mereka lakukan.
  • Lihatlah orang itu sebagai seorang guru. Mereka sedang membantu anda untuk melatih karakter anda dan melepaskan pola pikir lama anda. Mereka mengajari anda tentang bagaimana seorang manusia seharusnya bertindak.
  • Tenang. Lihatlah kekakuan yang anda rasakan. Cobalah tersenyum, berbahagialah dengan saat ini.
  • Berlatihlah untuk melihat kebaikan di dalam hati orang lain dan diri anda sendiri. Anda akan bisa menemukan kebaikan jika anda memutuskan untuk mencarinya. Percayalah pada kebaikan ini, dan anda akan menjadi lebih berani dan bahagia.

Ini hanyalah beberapa pola pikir baru yang bisa anda coba. Cobalah pola pikir itu, praktikan di kehidupan anda. Saya percaya anda akan menjadi pribadi yang lebih bahagia.

Jika anda mendapati tips ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaru saya lebih cepat, subscribe ke box dibawah ini atau like Facebook Page saya.

Jika anda ingin membaca artikel-artikel terpopuler saya yang lain, baca di sini.

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment