Quantcast
Live

Amor Fati- Berhentilah Melawan Nasib

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Aku menyadari bahwa salah satu masalah terbesar manusia (itu termasuk aku sendiri) berakar dari keinginan kita untuk mengendalikan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Bagi kebanyakan orang sepert aku, melepaskan kendali, untuk apapun itu, adalah sesuatu yang memalukan, lemah, dan bahkan sedikit menakutkan.

Kita lebih suka melakukan sesuatu, membuat rencana, dan bahkan merasa cemas, alih-alih berdiam diri dan berserah pada keadaan. Paling tidak dengan melakukan ‘sesuatu’ kamu merasa seperti kamu telah melakukan sesuatu untuk merubah situasimu. Kamu merasa seperti kamu sudah mengirim sebuah pukulan telak terhadap nasib. Padahal jika dipikir lagi, seberapa besar pengaruh tindakan-tindakan tersebut dalam merubah situasimu?

Ya, tidak bisa dipungkiri, melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada berdiam diri dan berserah pada nasib. Namun dalam beberapa situasi, melakukan sesuatu tidak akan merubah apa-apa. Malah-malah, melakukan sesuatu hanya akan membuatmu tertekan, stres, dan akhirnya memutuskan untuk menelan 40 Panadol dalam waktu yang sama.

Dalam beberapa situasi, melawan nasib membuat kita melewatkan sesuatu yang penting, yaitu: kedamaian dan kesempatan untuk bekerja dengan apa yang ada di depan kita.

Bekerja Dengan Apa yang Ada

Kamu tidak harus menyukai sesuatu untuk memanfaatkan hal tersebut dan merubahnya menjadi sebuah kesempatan. Namun, itu semua dimulai dengan melihat segala sesuatu dengan jelas dan menerima sebuah situasi dengan lapang dada. Amor Fati- atau dalam bahasa Indonesianya ‘kecintaan terhadap segala sesuatu yang terjadi’ adalah sebuah frase yang sering digunakan filsuf Yunani. Mereka percaya bahwa sifat ini adalah karakter terbaik yang bisa dimiliki seseorang, karena seringkali, itu adalah satu-satunya pilihan yang kita punyai di hidup ini.

Para filsuf Yunani juga mempunyai sebuah perumpamaan yang menarik tentang amor fati. Menurut mereka, kita semua adalah seekor anjing yang diikatkan ke sebuah kereta yang bergerak. Kita memiliki dua pilihan dalam situasi ini: kita bisa berpikir bahwa kita mempunyai kendali terhadap arahan kehidupan kita dan menjejakkan kaki kita, menantang gerakan kereta tersebut, dan kemungkinan besar berakhir diseret-seret. Atau kita bisa mengikuti gerakan kereta itu, menikmatinya dan berbahagia dengan apa yang kita punyai.

Dunia ini  akan berputar sesuai kehendaknya sendiri. Seringkali hal-hal yang terjadi di kehidupanmu tidak bisa diganggu gugat. Orang-orang di kehidupanmu akan bertindak dan berpikir semau mereka. Bencana akan terjadi, tidak penting kamu menyukainya atau tidak. Masalah akan muncul, tidak penting apakah kamu siap atau tidak siap.

Terima, pahami, dan berempatilah dengan apa yang kamu punyai, lalu, pikirkan bagaimana kamu bisa memanfaatkan apa yang ada untuk mencapai keinginanmu. Itulah prinsip dasar pola pikir ‘amor fati.’

Jika kamu menikmati artikel ini dan ingin mendapatkan post-post terbaruku lebih cepat, klik subscribe di bawah ini. Dengan melakukan itu, kamu juga akan mendapatkan Ebook gratis, rekomendasi buku di awal bulan, dan bonus artikel di akhir bulan. Jadi tunggu apa lagi?

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment