Quantcast
Live

Tips Menjadi Seorang Ahli: Berlatih Dengan Tujuan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Kobe Bryant adalah salah satu pemain basket tersukses sepanjang masa.ia adalah pemenang 5 kejuaraan NBA dan dua medali emas Olimpiade. Bryant telah menghasilkan lebih dari dua ratus juta dolar dari bermain basket. Dan ya, dia adalah seseorang yang mengagumkan.

Di tahun 2012, Bryant telah dipilih untuk merepresentasikan Amerika untuk Olimpiade. Waktu itu, salah seorang pelatih Tim USA yang bernama Robert dipilih untuk mempersiapkan Bryant dalam pertandingan itu.

Satu malam sebelum perjalanan mereka ke London, Robert dan tim Amerika diutus untuk bermalam di Las Vegas. Malam itu, Robert memutuskan untuk menonton film Casablanca sampai sekitar jam 3:30 pagi.

Beberapa menit kemudian, setelah ia merebahkan dirinya sendiri di kasur, ia mendengar handphonenya berbunyi. Orang yang meneleponnya tidak lain adalah Kobe Bryant. Dengan was-was ia menjawab telepon itu.

Setelah berbasa-basi sejenak, Bryant meminta Robert untuk datang ke tempat latihan dan membantunya melakukan latihan-latihan pengkondisian. Saat Robert mengecek jam di handphonennya, ia melihat ini masih pukul 03:45 pagi. Setelah mengatakan “Oke” Robert segera bersiap-siap dan berjalan ke tempat latihan.

Sesampainya di sana, ia menemukan Bryant sedang berlatih sendirian. Bajunya sudah basah kuyub seolah-olah ia baru saja berenang. Saat Robert melihat jam tangannya, ia menemukan bahwa ini bahkan belum jam 5 pagi.

Mereka kemudian melakukan latihan pengkondisian selama kurang lebih satu setengah jam. Lalu mereka masuk ke gym dan di situ, Bryant melanjutkan latihan pengkondisian nya dengan mengangkat beban selama 45 menit. Setelah itu mereka berpisah. Robert kembali ke hotelnya dan Bryant kembali melatih tembakannya.

Robert dipanggil lagi sekitar jam 11 siang. Ia masih sedikit ngantuk dan pegal-pegal karena kurang tidur, namun apa yang ia lihat di lapangan membuatnya terkejut.

Semua pemain dari tim Amerika berkumpul disitu. Lebron sedang berbicara dengan Carmelia dan Coach Krzyzewski sedang menjelaskan sesuatu kepada Kevin Durant. Di sisi kanan lapangan itu, Bryant sedang berlatih menembak, sendirian, di bagian lapangan yang sama beberapa jam yang lalu.

Robert yang merasa penasaran dengan apa yang sedang Bryant lakukan kemudian berjalan menghampirinya. Setelah berbasa-basi sejenak Robert menemukan sebuah informasi yang mencengangkan yang langsung menghilangkan semua rasa kantuknya.

Bryant belum kembali ke hotel sejak tadi pagi, ia telah berkomitmen untuk melakukan 800 tembakan melompat sebelum berlatih bersama Tim Amerika.

###

Jika lo memperhatikan cerita ini baik-baik, Bryant memulai latihan pengkondisian-nya sekitar pukul 04:30 pagi. Ia lalu lari pagi sampai jam 6 pagi, mengangkat beban dari jam 6 sampai jam 7 pagi, dan akhirnya berlatih menembak dari jam 7 sampai jam 11.

Oh dan ini belum termasuk latihan bersama tim Amerika dan latihannya sebelum ia bertemu Robert…

Disiplin inilah yang menjadikan Kobe Bryant salah satu pemain basket terbaik di dunia. Dari cerita ini, kita bisa belajar bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang akan datang begitu saja. Kesuksesan membutuhkan perjuangan, sedikit keberuntungan, keinginan untuk menjadi lebih baik, dan seperti Kobe Bryant, banyak latihan…  

Sukses Adalah… 10,000 jam

Di tahun 2008, gue pernah membaca sebuah buku menarik tentang kesuksesan berjudul Outliers yang ditulis oleh Malcolm Gladwell. Buku itu dipenuhi oleh berbagai penemuan menarik tentang apa yang membuat seseorang menjadi sukses. Dan salah satu konsep paling terkenal dalam buku itu adalah hukum 10,000 jam.

Pada dasarnya, menurut riset yang ia temukan, pemain violin kelas dunia bisa meraih prestasi itu karena mereka telah berlatih selama kurang lebih 10,000 jam. Hal ini juga didukung oleh cerita menarik tentang bagaimana Bill Gates bisa menjadi sukses (ia diperkenalkan ke dunia komputer saat ia masih muda, sehingga ia bisa dibilang sudah berlatih lebih dari 10,000 jam) atau bagaimana Beatles bisa menjadi band kelas dunia karena konser-konser yang mereka lakukan di Eropa. Cerita-cerita ini seolah-olah menunjukkan bahwa seseorang akan menjadi orang/ band yang sukses setelah mereka berlatih selama paling tidak 10,000 jam.

Buku itu merubah persepsi gue tentang kesuksesan. Gue mulai melihat kesuksesan dengan kacamata 10,000 jam. Jika gue ingin menjadi seorang gitaris terkenal, gue harus berlatih 10,000 jam. Jika gue ingin menjadi pengusaha terkenal, gue harus berlatih 10,000 jam. Jika gue pengen lulus SMP dengan nilai-nilai yang memuaskan gue harus… well tidak juga, gue hanya perlu cari teman yang cukup pintar yang mau diajak kerjasama (Walalupun harus diakui, melakukan hal itu sangatlah sulit di Singapura).  

Namun, semakin gue beranjak dewasa, gue mulai sadar bahwa kesuksesan tidaklah sesederhana itu. Ada berbagai faktor lain yang akan menentukan kesuksesan selain latihan. Dan berlatih selama 10,000 jam juga belum tentu akan membuat lo menjadi lebih baik, karena cara lo melakukan latihan itu jauh lebih penting dari jumlah waktu yang lo habiskan di dalam latihan latihan lo.

Anders Ericsson Vs. Malcolm Gladwell

Di tahun 2016, Anders Ericsson, penulis riset tentang pemain violin yang “dipinjam” Malcolm Gladwell untuk dasar buku Outliers (10,000 jam) memutuskan untuk menulis sebuah buku berjudul Peak. Di buku itu, Anders Ericsson menuliskan kenapa Malcolm Gladwell salah mengartikan peraturan 10,000 jamnya dan merupakan seorang jurnalis abal-abal yang bahkan tidak bisa melakukan risetnya dengan baik.

Ia menarik kesimpulan yang sama dengan gue, yakni: cara kita melakukan latihan kita jauh lebih penting dari jumlah waktu yang kita habiskan untuk latihan itu sendiri .

Jika Malcolm Gladwell dan peraturan 10,000 jamnya benar, maka kebanyakan dari kita seharusnya bisa menyetir seperti Vin Diesel di film Fast & Furious…

Itulah kenapa di buku itu, ia menunjukkan sebuah cara untuk berlatih lebih baik baik, yaitu berlatih dengan tujuan.  

Berlatih Dengan Tujuan

Berlatih dengan tujuan berarti menaruh diri kita di luar zona nyaman kita terus menerus. Pola latihan ini akan membangun representasi mental untuk keahlian yang sedang kita coba kuasai. Hasilnya, kita mulai melihat hal-hal/pola-pola yang tidak bisa dilihat orang biasa. Seorang ahli bisa melihat seluk beluk sebuah masalah dengan cara pandang yang berbeda. Ia bisa melihat gambar besar dan gambar kecil sebuah proyek dalam waktu yang bersamaan.

Pada dasarnya, berlatih dengan tujuan adalah berlatih seperti Kobe Bryant.

Jika lo memperhatikan cerita tadi dengan baik, Kobe jelas-jelas mengetahui latihan-latihan apa saja yang harus ia lakukan untuk menjadi seorang pemain basket profesional (lari, angkat beban, latihan menembak). Kobe juga mempunyai tujuan latihan yang jelas: 800 tembakan melompat yang masuk ke ring. (menurut sebuah interview, tujuannya terus berkembang dari waktu ke waktu). Ia juga tidak segan-segan untuk meminta tolong Robert untuk membantu latihannya, meminta saran, dan bahkan kritikannya.

Mari kita bahas aspek-aspek berlatih dengan tujuan ini satu per satu.

  • Pecahkan keahlian yang ingin lo kuasai menjadi beberapa komponen kecil

    Seperti Bryant, apa yang ingin lo lakukan adalah untuk memecahkan keahlian yang ingin lo kuasai menjadi rutinitas-rutinitas kecil yang bisa lo lakukan berulang kali dan lo ukur.

    Contohnya, jika lo ingin belajar untuk melawak lebih baik, lo mungkin bisa memecahkan keahlian melawak itu menjadi: bahasa tubuh, raut muka, menulis lelucon, dan gaya berpakaian.  

    Lo bisa menggunakan tabel seperti ini:

KeahlianRutinitasMetric (Tolak ukur)
Bahasa tubuh & raut mukaBerlatih di depan kaca (1 jam)Reaksi penonton (gunakan survey, minta feedback, dll)
Menulis leluconMenulis 5 lelucon baru setiap hariJumlah dan kualitas lelucon yang ditulis
Gaya berpakaianMenyiapkan jadwal untuk mencoba pakaian-pakaian baruReaksi penonton (gunakan survey, minta feedback, dll)

 

  • Dorong diri lo sendiri keluar dari zona nyaman lo

Setelah lo sudah memecahkan keahlian lo menjadi beberapa komponen-komponen kecil, apa yang ingin lo lakukan adalah memastikan bahwa latihan-latihan yang lo lakukan selalu mendorong lo keluar dari zona nyaman lo.

Hal ini bisa lo lakukan dengan membuat tujuan-tujuan yang terus bertambah sulit seiring berjalannya waktu. Hal ini akan memastikan latihan-latihan lo terus menantang lo untuk keluar dari zona nyaman lo.

  • Temukan apa yang menghambat perkembangan lo

    Pertama tanyalah pada diri lo sendiri, kesalahan apa yang sering lo buat, dan kapan biasanya kesalahan itu terjadi?

    Lalu ciptakan sebuah latihan yang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan itu. Dalam konteks ini, lo mungkin bisa melakukannya sendiri atau seperti Bryant, lo harus mencari seorang Robert. Dan inilah yang akan membawa gue ke poin terakhir gue…

  • Carilah seorang guru/mentor yang berpengalaman

    Pada akhirnya, menguasai sebuah keahlian adalah sebuah proses panjang yang berliku-liku. Satu cara paling efektif untuk mempercepat proses itu adalah dengan mencari seorang guru atau mentor yang akan membantu lo megoreksi kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan lo.

    Minggu depan gue akan membahas topik ini lebih dalam, tapi untuk saat ini, ingatlah bahwa lo membutuhkan kritik dan saran orang lain untuk menjadi lebih baik. Tentu dalam konteks ini, kritik dan saran yang lo inginkan adalah kritik dan saran yang objektif. Dan tidak semua orang bisa melakukan hal itu…

 

Gue harap, post ini akan membantu lo untuk membangun keahlian-keahlian yang lo inginkan. Seperti yang gue tulis di post gue sebelumnya, dunia menilai kita dari kontribusi yang kita berikan. Dan jumlah kontribusi yang bisa kita berikan sangatlah tergantung dengan jumlah dan level keahlian yang kita punyai.

Terakhir, jika lo berpikir bahwa metode latihan dengan tujuan ini terasa sulit dan ribet, itu adalah karena menguasai sebuah keahlian memang sangatlah sulit dan ribet. Berlatih dengan tujuan membutuhkan fokus, konsentrasi, dan dedikasi yang sangat tinggi. Jika latihan-latihan lo terasa nyaman dan begitu-begitu saja, mungkin ada yang salah dengan latihan lo.

Nah, itulah kenapa mencari seorang guru/mentor yang berpengalaman sangatlah penting dalam kesuksesan lo.

Minggu depan kita akan membahas bagaimana mencari dan mempertahankan seorang guru/ mentor yang bisa membantu lo menguasai keahlian lo. Jika lo ingin mendapatkan artikel ini lebih cepat, subscribe ke email newsletter gue dibawah sini.




Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment