Quantcast
Category

Laugh

Category

“Journal writing is a voyage to the interior.”- Christina Baldwin Richard Branson, the founder of Virgin Group has a very fascinating habit. After making important business decision, he would open up his journal and write the reason behind the decision he just made. According to his biography, this exercise will help him reflect the ‘whys’ behind his every decision. It turns out that he was not alone in this. People like Emma Watson, Mark Twain, Lady Gaga, Benjamin Franklin, Marie Curie and the great emperor Marcus Aurelius have kept some sort of journal to evaluate their life decisions, day and values. According to the stoics,  journaling is one of the fastest way to improve oneself. Journaling can give you awareness to your inner thoughts and feelings; remind you to what matters most and help you measure your life’s progress. So starting a journaling habit is probably one of the best…

“If you wish to have a leisure for your mind either be a poor man or resemble a poor man. Study cannot be helpful unless you take pains to live simply…” – Seneca In an age where religion was viewed with deep skepticism,  people delve deeper and deeper in to individualism and consumerism has become a way of life, many people have made the pursuit of pleasure as their purpose of life.  However, the pursuit of pleasure according to most Stoics, is a very dangerous thing. Seneca argued that pursuing pleasure is like pursuing a wild beast. On being captured, it can turn on us and tear us to pieces. He then elaborated that this was so because the more pleasures a man captures, the more masters will he have to serve. Thus, the stoics were very adamant about keeping their pleasure level in check. They used the following two…

“Death is the light by which the shadow of all of life’s meaning is measured. Without death, everything would feel inconsequential, all experience arbitrary, all metrics and values suddenly zero.”- Mark Manson Living in a modern world, far from dangerous animals, wars and threatening diseases, it’s easy to think that we’ll live for a very long time. It is no surprise then that many modern human squander their time on empty pleasures and meaningless stuffs; like a son of a rich businessman squandering his parents’ money on a 3 days trip to Las Vegas. A life of safety creates an illusion of immortality, and this is a very dangerous belief to adopt. Here’s why… Although modern medicine have increased human’s average life expectancy to 79.3 years, average human will spend 7.8 hours/day sleeping, 1.8 hours/ day on household chores and 1 hour/day on eating and drinking. While our life expectancy…

“My formula for human greatness is amor fati: that one wants nothing to be different, not in the future, not in the past, not for all eternity. Not only to endure what is necessary, still less to conceal it – all idealism is falseness in the face of necessity -, but to love it…” ― Friedrich Nietzsche In life you will go through three kinds of situation: Things that you have full control over, which in this case, you need to take the most effective action to reach your goal. Things that you have partial control, which in this case, the best course of action is to internalize the goals (focusing on what you can control). And things that you have no control over, which we will discuss fully today. Most people don’t find it hard to deal with the first two situations, but when we are talking about the…

“Psychologists call this habituation, economists call it declining marginal utility, and the rest of us call it marriage.” ― Daniel Gilbert, Stumbling on Happiness Have your ever bought an I-phone in great exhilaration only to start treating it like your father’s beat up Nokia months later? Have you ever bought a beautiful house on top of a hill, only to treat it like a hotel room months later? Have you ever thought that you have finally found the love of your life, only to treat him or her like your personal assistant years later? Well you are not alone, I and the rest of humankind share the same predisposition towards new things just like you do. We just seem to be never satisfied with what we have. Psychologists called this phenomenon hedonic adaptation. This according to psychologists, Daniel Gilbert, is our tendency to quickly return to a relatively stable state…

Satu tahun yang lalu aku sempat menonton sebuah film menarik yang berjudul Into The Wild.   Film itu menceritakan tentang kehidupan seorang anak broken home yang memutuskan untuk bertualang ke alam liar untuk lari dari tuntutan dunia dan orang tuanya. Setelah ia lulus kuliah, ia memutuskan untuk merobek surat penawaran kerja dari sebuah perusahaan terkenal, membuang mobilnya di tengah jalan, kabur dari rumahnya, meninggalkan orangtua dan adik perempuannya. Di film itu diceritakan bagaimana pada awalnya ia merasa bahagia dengan keputusannya untuk kabur dari rumah dan pergi ke alam liar. Ia akan menghabiskan hari-harinya berkemah, berenang di sungai, bergaul dengan orang-orang hipi, menyanyi, dan menari. Namun suatu hari, saat ia memutuskan untuk hidup di sebuah bus rongsokan di tengah hutan belantara yang sudah ditinggalkan, ia tidak sengaja memakan sebuah tanaman beracun. Tanaman itu membuat tubuhnya lemah dan menghambat sistem metabolismenya. Ia tidak bisa lagi makan dan minum. Hidup sendirian di tengah hutan…

Dua minggu terakhir kita telah membahas pentingnya untuk menjaga keseimbangan dua aset paling berharga kita, yaitu tubuh dan pikiran kita. Namun, menjaga keseimbangan dua aset itu masih belum cukup untuk membangun kehidupan yang bahagia. Sebagai manusia, kita masih memiliki satu aset penting lagi yang harus kita jaga, yaitu kehidupan spiritual kita. Jiwa manusia adalah sesuatu yang sangat sulit dideskripsikan oleh kata-kata. Tidak seperti tubuh dan pikiran kita, peran jiwa manusia di dalam kehidupan sehari-hari sangatlah ambigu dan bahkan bisa dibilang tidak jelas. Kita hanya tahu bahwa kita telah dianugerahi oleh kesadaran dan jiwa kitalah yang membedakan kita dengan seekor monyet. Aku hampir tidak mau menulis post ini karena aku merasa kehidupan spiritual manusia adalah sebuah topik yang sangat mistis dan sampai sekarang, aku masih belum bisa menemukan riset yang tepat untuk menjelaskannya. Namun, aku sadar bahwa aku tidak mungkin melewatkan topik kehidupan spiritual dalam tema keseimbangan kita. Jadi, apa yang…

Di post minggu lalu, aku sudah menekankan seberapa pentingnya menjaga keseimbangan empat aset manusia yakni tubuh, mental, perasaan, dan jiwa kita dalam kehidupanmu. Di post yang sama, aku juga sudah memberikan beberapa tips untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Nah, di post ini, aku akan melanjutkan diskusi kita dan membahas bagaimana menjaga kesehatan mental kita. Kebanyakan dari kita berhenti belajar begitu kita menyelesaikan sekolah dan masuk ke dunia kerja. Kita berargumen bahwa kita tidak mempunyai waktu untuk belajar sesuatu yang baru dan bahkan jika kita mempunyai waktu pun, kita biasanya beralasan bahwa pikiran kita sudah tidak kuat untuk memproses informasi-informasi baru. Akibatnya, kita biasanya menghabiskan waktu luang kita melakukan hal-hal tidak penting seperti mengecek gosip-gosip artis terbaru, main game, dan menonton sinetron. Pikiran kita menjadi sempit dan perkembangan mental kita menjadi terhambat. Kita mulai menjadi tidak peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar kita dan akibatnya, kita mulai membuat kesalahan-kesalahan kecil…

Seorang biksu sedang berjalan menuju sebuah desa bersama seorang muridnya. Tiba-tiba, seorang pria tua berbaju rapi menghampirinya dan menanyakan: “Orang suci, bagaimana aku bisa menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Belajarlah untuk menysukuri apa yang kau punyai dan biarkan perasaan itu membahagiakan hatimu setiap hari…” Merasa puas, pria tua itu menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan biksu itu. Si biksu baru saja mau berjalan lagi saat tiba-tiba seorang anak muda datang menghampirinya. Ia bertanya: “Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Jangan merasa puas dengan apa yang kau punyai dan biarkan ambisimu membawamu menuju kebahagiaan…” Saat anak muda itu merasa puas dan meninggalkan si biksu dan muridnya, si murid bertanya: “Guru kamu sepertinya tidak yakin apakah kita harus menyusukuri apa yang kita punyai atau meningkatkan ambisi kita untuk merasa bahagia… apa maksudmu?” “Mencari kebahagiaan adalah seperti melewati sebuah jembatan tanpa pegangan yang…

Waktu aku masih kuliah dulu, aku tidak pernah merasakan apa itu namanya kesendirian. Pasalnya, karena aku adalah orang yang…. ehem… (sok) sibuk… aku akan menghabiskan hampir seluruh waktuku melakukan sesuatu bersama seseorang dari Senin sampai Minggu. Entah itu kuliah, mengikuti ekstra kurikuler, pergi ngegym, nongkrong, berpesta, dan kemudian pergi gereja, hari-hariku selalu penuh dengan aktivitas. Kamar kosku hanya berfungsi sebagai kamar ganti dan kamar tidur; dan terkadang jika aku beruntung, kamar bermain. Tentunya maksudku adalah bermain kartu… Hari-hariku terasa penuh dan sibuk dan sepertinya, aku tidak pernah kehabisan aktivitas. Jika aku tidak kuliah atau mengerjakan tugas, aku akan pergi bersama teman-temanku. Jika aku tidak pergi bersama teman-temanku, aku akan menghabiskan waktuku di gym, mengangkat besi. Jika aku tidak pergi ke gym, maka aku akan mencoba sebuah ekstra kurikuler baru di sekolah bersama beberapa temanku yang lain… Tentu ini semua adalah sesuatu yang luar biasa. Dimanapun aku berada, aku selalu mempunyai…