Quantcast
Category

Laugh

Category

Waktu gue masih kuliah dulu, gue tidak pernah merasakan apa itu namanya kesendirian. Pasalnya, karena gue adalah orang yang…. ehem… (sok) sibuk… gue akan menghabiskan hampir seluruh waktu gue melakukan sesuatu bersama seseorang dari Senin sampai Minggu. Entah itu kuliah, mengikuti ekstra kurikuler, pergi ngegym, nongkrong, berpesta, dan kemudian pergi gereja, hari-hari gue selalu penuh dengan aktivitas. Kamar kos gue hanya berfungsi sebagai kamar ganti dan kamar tidur; dan terkadang jika gue beruntung, kamar bermain. Tentunya maksud gue adalah bermain kartu… Hari-hari gue terasa penuh dan sibuk dan sepertinya, gue tidak pernah kehabisan aktivitas. Jika gue tidak kuliah atau mengerjakan tugas, gue akan pergi bersama teman-teman gue. Jika gue tidak pergi bersama teman-teman gue, gue akan menghabiskan waktu gue di gym, mengangkat besi. Jika gue tidak pergi ke gym, maka gue akan mencoba sebuah ekstra kurikuler baru di sekolah bersama beberapa teman gue yang lain… Tentu ini semua adalah sesuatu…

Salah satu aktivitas favorit gue saat gue sedang menyetir sendirian adalah memperhatikan tulisan-tulisan dan gambar-gambar konyol yang ada di belakang sebuah truk. Biasanya, gue akan menemukan tulisan-tulisan tidak senonoh seperti “Jangan ngaku cantik kalo belom macarin pria beristri” dengan gambar cewek berpakaian minim atau “Cintamu tidak seberat muatanku” dengan gambar penyanyi dangdut bertubuh molek. Tetapi terkadang, gue akan menemukan tulisan-tulisan bijaksana yang menghangatkan hati seperti “Bahagia itu tak harus mewah. Istigfar untuk masa lalu, bersyukur untuk hari ini & berdoa untuk hari esok.” Atau kata-kata favorit gue, “Aku Rakpopo…” Aku Rakpopo Tidak ada dua kata di dunia ini yang lebih kuat dari dua kata itu. Dipopulerkan oleh almarhum Julia Perez, dua kata itu menjadi sebuah kosakata penting bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Oke paling tidak untuk kebanyakan sopir truk Indonesia. Ya “Aku Rakpopo” atau dalam bahasa Indonesianya “Aku Tidak Apa-Apa” adalah sebuah frase sederhana yang sekilas mungkin tidak berarti apa-apa. Namun,…

Salah satu obsesi terbesar gue waktu masih kecil dulu adalah mengganti Channel TV begitu melihat iklan di layar TV gue. Seperti kebanyakan anak kecil yang terobsesi dengan film kartun favoritnya, gue merasa bahwa iklan adalah sesuatu yang mengganggu, obstrusif, dan bahkan menjijikkan (Dag… Dig… Dug… Der… Daia! Dan tiba-tiba seorang pria berkacamata yang memiliki sebuah rambut berbentuk sabu lidi berwarna warni tiba-tiba muncul… Ugh) Jadi setiap kali gue melihat iklan (terutama iklan Daia), gue akan mengganti Channel TV gue dan mencari acara yang menarik lainnya. Walaupun taktik ini membantu gue untuk menghindari iklan-iklan yang konyol dan menggelikan, taktik ini juga menciptakan sebuah masalah lain, yaitu: Gue jadi melewatkan adegan terpenting di dalam film-film kartun yang gue tonton saat itu… Gue masih ingat waktu gue sedang menonton kartun Captain Tsubasa dulu. Saat itu Captain Tsubasa sedang berlari ke arah Goal lawan dan bersiap untuk melakukan tendangan Rajawali andalannya. Di depannya, dua…

Fredrick Buechner pernah berkata bahwa “panggilan kehidupanmu adalah dimana pekerjaan yang membuatmu bahagia bertemu dengan kebutuhan terpenting dunia.” Kata-kata Buechner telah menjadi pegangan hidup gue selama ini, terutama dalam aspek pekerjaan dan tujuan hidup. Kata-katanya mengingatkan gue bahwa melakukan sesuatu yang gue cintai dan memiliki keahlian saja tidaklah cukup. Ketertarikan dan keahlian gue harus melayani sebuah kebutuhan nyata di dunia ini. Ketertarikan dan keahlian gue harus membuat kehidupan-kehidupan orang lain lebih baik. Apa yang gue kerjakan harus menambah nilai ke dalam kehidupan orang lain. Menambah Nilai Pada dasarnya menambah nilai berarti membantu orang lain. Jika lo mengikatkan ketertarikan dan keahlian lo dengan kebutuhan dunia, lo sudah berjalan ke arah yang benar. Bagi gue itu artinya mengarahkan passion dan keahlian menulis gue ke dalam sebuah blog yang bertujuan untuk membantu membuat kehidupan orang lain lebih baik. Sayangnya, banyak sekali orang-orang di dunia ini yang melupakan hal ini. Mereka memulai atau menciptakan…

Di akhir tahun kemarin, gue sempat menghadiri sebuah seminar di mana pendiri Orang Tua group, Bapak Hamid Djojonegoro menjadi pembicara utamanya. Di awal acara itu, dengan suara yang lantang, Bapak Hamid berkata, “Semakin besar bisnis lo, semakin besar masalah lo. Saat lo menyelesaikan sebuah masalah, lo akan menciptakan masalah lain…” Ia kemudian melanjutkan bahwa di kehidupan ini, masalah lo tidak akan pernah berakhir. Solusi dari sebuah masalah adalah sebuah masalah baru yang harus lo selesaikan di kemudian hari. Masalah tidak akan pernah hilang dari hidup lo katanya, mereka hanya akan berubah dan menjadi lebih baik… Waktu pertama kali mendengar kata-kata itu, gue ingin tertawa. Gue berpikir, “lo pasti bercanda, sepertinya, kehidupan tidak se-menyedihkan itu deh.” Tetapi setelah melihat kembali kehidupan gue dan memikirkan kata-kata itu lagi, gue menyadari ada kenyataan dibalik kata-kata itu. Kata-katanya membuat gue teringat akan peluncuran blog pertama gue… Masalah, Masalah, dan Masalah… Memulai blog ini adalah…

Suatu hari di bulan September 2017 kemarin, terjadi sebuah perdebatan hebat di gym gue. Tidak, ini bukanlah karena seseorang telah memakai alat gym tanpa menggunakan handuk atau karena beberapa orang tidak mengembalikan alat-alat gym ke tempatnya. Perdebatan ini terjadi karena sebuah video yang kami tonton kemarin malam. Sebuah video peluncuran produk-produk baru Apple tahun 2017 kemarin… Cerita ini diawali saat seorang teman gym gue membagikan video peluncuran produk-produk baru Apple beserta sebuah comment: “What do you guys think?” di Facebook dan mengetag gue dan teman-teman gym gue yang lain. Keesokan harinya, seperti biasa, kami bertemu di gym sekitar pukul 5 sore. Begitu teman gue yang membagikan video itu melihat gue dan teman-teman gym gue yang lain di loker, ia langsung bertanya, “Gimana guys, Iphone X keren nggak?” Pertanyaan itu kemudian memicu sebuah diskusi hangat di ruang loker kami. Salah satu dari teman gym gue berkata bahwa Iphone X adalah inovasi…

Dua minggu terakhir, gue telah menuliskan tentang pentingnya memiliki prioritas hidup dan bagaimana cara membedakan prioritas yang baik dan buruk. Nah, di esai ini gue ingin membagikan satu tips untuk menjaga prioritas-prioritas itu dan memastikan lo menggunakan waktu lo untuk hal-hal terpenting kehidupan. Tips itu adalah mengadopsi gaya hidup minimalisme… Menjaga Prioritas Hidup dan Minimalisme Pernahkah lo mengalami pengalaman ini: Lo berkata pada diri lo sendiri bahwa lo akan mengerjakan tugas lo selama tiga jam ke depan. Lo menyeruput kopi hitam yang ada di sebelah lo seperti seorang tauke besar lalu membuka laptop lo untuk bekerja. Tetapi sebelom lo sempat melakukan apa-apa atau mengetik satu huruf-pun, lo tiba-tiba menerima sebuah video lagu anak-anak lucu tentang bayi ikan hiu dari pacar lo. Penasaran, lo akhirnya menonton video itu sampai habis. Setelah selesai menonton video itu, lo berkata bahwa lo akan mulai bekerja dengan serius sekarang, tetapi beberapa detik kemudian, lo malah…

Di post gue yang sebelumnya, gue telah menuliskan betapa pentingnya itu untuk mengetahui dan menghidupi nilai-nilai terpenting kehidupan lo, apalagi di abad 21 ini. Di sebuah zaman yang dipenuhi gangguan, opsi-opsi baru, dan kesibukan-kesibukan palsu; sangatlah mudah untuk menjadi seorang manusia galau yang menghabiskan hari-harinya tidak tahu harus melakukan apa dan mempertanyakan setiap pilihan-pilihan yang sudah mereka buat. Namun seperti segala pilihan di dunia ini, tidak semua nilai-nilai kehidupan yang ada di dunia ini adalah nilai-nilai kehidupan yang baik. Beberapa nilai-nilai kehidupan di dunia ini memang akan membuat masalah-masalah kita menjadi lebih baik dan mendewasakan kita. Namun, beberapa nilai kehidupan di dunia ini malah akan memperparah masalah-masalah kita dan hanya akan membuat kita stress dan menyanyikan lagu Manusia Bodoh karangan Ada Band sambil nangis Bombay. Kuncinya adalah untuk membedakan dan mengetahui nilai-nilai apa yang baik untuk kita, dan nilai-nilai apa yang kurang baik untuk kita. Dari situ, kebahagiaan dan kesuksesan…

Beberapa minggu yang lalu gue memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen kecil. Gue ingin mengetahui bagaimana gue menghabiskan waktu gue dalam satu bulan. Jadi setiap harinya, setelah gue selesai melakukan sesuatu, gue akan mencatat aktivitas itu di dalam sebuah buku. Disampingnya, gue akan menuliskan berapa banyak waktu yang gue habiskan untuk melakukan aktivitas itu dan seberapa memuaskan aktivitas itu dari skala 1 sampai 10. Setelah satu bulan, eksperimen kecil ini menunjukkan dimana dan kapan gue biasanya menyia-nyiakan waktu gue. Eksperimen ini juga menunjukkan hal apa yang paling penting di dalam kehidupan gue. Atau lebih tepatnya, hal apa yang sebenarnya paling penting untuk gue. Selama ini gue selalu merasa bahwa passion, hubungan, dan kebahagiaan adalah nilai-nilai paling penting di dalam kehidupan gue. Jadi gue pikir gue akan menghabiskan waktu gue untuk mengembangkan passion gue, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang gue cintai, dan mencari kedamaian. Namun setelah melakukan eksperimen kecil ini, gue baru…

Nilai kita di dunia ini ditentukan oleh seberapa besar kontribusi kita ke dunia ini. Semakin banyak dan bermanfaat kontribusi yang lo berikan, semakin orang lain akan menghargai lo. Itu adalah hukum manusia yang tidak akan berubah dan bahkan akan menjadi semakin kuat di era digital ini. Jika hukum itu membuat lo terdengar seperti seorang pelacur, well… itu karena pada dasarnya kita semua adalah seorang pelacur. Kita hanya melacurkan diri kita dengan cara yang berbeda. Gue akan memberikan lo beberapa detik untuk menyerap kalimat itu baik-baik… Arti Kehidupan dan Kontribusi Seperti yang sudah gue tuliskan sebelumnya, lo bisa mengartikan kehidupan lo dengan cara apa saja. Pada dasarnya, arti kehidupan seorang manusia bertujuan untuk mendorong manusia itu untuk terus ber-inovasi dan menjadi lebih baik. Namun, ada satu aspek lain yang belum gue bahas di post itu, yaitu kualitas arti kehidupan yang kita ciptakan. Seperti segala hal di dunia ini, tidak semua arti…