Quantcast
Category

Laugh

Category

Satu tahun yang lalu aku sempat menonton sebuah film menarik yang berjudul Into The Wild.   Film itu menceritakan tentang kehidupan seorang anak broken home yang memutuskan untuk bertualang ke alam liar untuk lari dari tuntutan dunia dan orang tuanya. Setelah ia lulus kuliah, ia memutuskan untuk merobek surat penawaran kerja dari sebuah perusahaan terkenal, membuang mobilnya di tengah jalan, kabur dari rumahnya, meninggalkan orangtua dan adik perempuannya. Di film itu diceritakan bagaimana pada awalnya ia merasa bahagia dengan keputusannya untuk kabur dari rumah dan pergi ke alam liar. Ia akan menghabiskan hari-harinya berkemah, berenang di sungai, bergaul dengan orang-orang hipi, menyanyi, dan menari. Namun suatu hari, saat ia memutuskan untuk hidup di sebuah bus rongsokan di tengah hutan belantara yang sudah ditinggalkan, ia tidak sengaja memakan sebuah tanaman beracun. Tanaman itu membuat tubuhnya lemah dan menghambat sistem metabolismenya. Ia tidak bisa lagi makan dan minum. Hidup sendirian di tengah hutan…

Dua minggu terakhir kita telah membahas pentingnya untuk menjaga keseimbangan dua aset paling berharga kita, yaitu tubuh dan pikiran kita. Namun, menjaga keseimbangan dua aset itu masih belum cukup untuk membangun kehidupan yang bahagia. Sebagai manusia, kita masih memiliki satu aset penting lagi yang harus kita jaga, yaitu kehidupan spiritual kita. Jiwa manusia adalah sesuatu yang sangat sulit dideskripsikan oleh kata-kata. Tidak seperti tubuh dan pikiran kita, peran jiwa manusia di dalam kehidupan sehari-hari sangatlah ambigu dan bahkan bisa dibilang tidak jelas. Kita hanya tahu bahwa kita telah dianugerahi oleh kesadaran dan jiwa kitalah yang membedakan kita dengan seekor monyet. Aku hampir tidak mau menulis post ini karena aku merasa kehidupan spiritual manusia adalah sebuah topik yang sangat mistis dan sampai sekarang, aku masih belum bisa menemukan riset yang tepat untuk menjelaskannya. Namun, aku sadar bahwa aku tidak mungkin melewatkan topik kehidupan spiritual dalam tema keseimbangan kita. Jadi, apa yang…

Di post minggu lalu, aku sudah menekankan seberapa pentingnya menjaga keseimbangan empat aset manusia yakni tubuh, mental, perasaan, dan jiwa kita dalam kehidupanmu. Di post yang sama, aku juga sudah memberikan beberapa tips untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Nah, di post ini, aku akan melanjutkan diskusi kita dan membahas bagaimana menjaga kesehatan mental kita. Kebanyakan dari kita berhenti belajar begitu kita menyelesaikan sekolah dan masuk ke dunia kerja. Kita berargumen bahwa kita tidak mempunyai waktu untuk belajar sesuatu yang baru dan bahkan jika kita mempunyai waktu pun, kita biasanya beralasan bahwa pikiran kita sudah tidak kuat untuk memproses informasi-informasi baru. Akibatnya, kita biasanya menghabiskan waktu luang kita melakukan hal-hal tidak penting seperti mengecek gosip-gosip artis terbaru, main game, dan menonton sinetron. Pikiran kita menjadi sempit dan perkembangan mental kita menjadi terhambat. Kita mulai menjadi tidak peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar kita dan akibatnya, kita mulai membuat kesalahan-kesalahan kecil…

Seorang biksu sedang berjalan menuju sebuah desa bersama seorang muridnya. Tiba-tiba, seorang pria tua berbaju rapi menghampirinya dan menanyakan: “Orang suci, bagaimana aku bisa menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Belajarlah untuk menysukuri apa yang kau punyai dan biarkan perasaan itu membahagiakan hatimu setiap hari…” Merasa puas, pria tua itu menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan biksu itu. Si biksu baru saja mau berjalan lagi saat tiba-tiba seorang anak muda datang menghampirinya. Ia bertanya: “Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Jangan merasa puas dengan apa yang kau punyai dan biarkan ambisimu membawamu menuju kebahagiaan…” Saat anak muda itu merasa puas dan meninggalkan si biksu dan muridnya, si murid bertanya: “Guru kamu sepertinya tidak yakin apakah kita harus menyusukuri apa yang kita punyai atau meningkatkan ambisi kita untuk merasa bahagia… apa maksudmu?” “Mencari kebahagiaan adalah seperti melewati sebuah jembatan tanpa pegangan yang…

Waktu aku masih kuliah dulu, aku tidak pernah merasakan apa itu namanya kesendirian. Pasalnya, karena aku adalah orang yang…. ehem… (sok) sibuk… aku akan menghabiskan hampir seluruh waktuku melakukan sesuatu bersama seseorang dari Senin sampai Minggu. Entah itu kuliah, mengikuti ekstra kurikuler, pergi ngegym, nongkrong, berpesta, dan kemudian pergi gereja, hari-hariku selalu penuh dengan aktivitas. Kamar kosku hanya berfungsi sebagai kamar ganti dan kamar tidur; dan terkadang jika aku beruntung, kamar bermain. Tentunya maksudku adalah bermain kartu… Hari-hariku terasa penuh dan sibuk dan sepertinya, aku tidak pernah kehabisan aktivitas. Jika aku tidak kuliah atau mengerjakan tugas, aku akan pergi bersama teman-temanku. Jika aku tidak pergi bersama teman-temanku, aku akan menghabiskan waktuku di gym, mengangkat besi. Jika aku tidak pergi ke gym, maka aku akan mencoba sebuah ekstra kurikuler baru di sekolah bersama beberapa temanku yang lain… Tentu ini semua adalah sesuatu yang luar biasa. Dimanapun aku berada, aku selalu mempunyai…

Salah satu aktivitas favoritku saat aku sedang menyetir sendirian adalah memperhatikan tulisan-tulisan dan gambar-gambar konyol yang ada di belakang sebuah truk. Biasanya, aku akan menemukan tulisan-tulisan tidak senonoh seperti “Jangan ngaku cantik kalo belom macarin pria beristri” dengan gambar cewek berpakaian minim atau “Cintamu tidak seberat muatanku” dengan gambar penyanyi dangdut bertubuh molek. Tetapi terkadang, aku akan menemukan tulisan-tulisan bijaksana yang menghangatkan hati seperti “Bahagia itu tak harus mewah. Istigfar untuk masa lalu, bersyukur untuk hari ini & berdoa untuk hari esok.” Atau kata-kata favoritku, “Aku Rakpopo…” Aku Rakpopo Tidak ada dua kata di dunia ini yang lebih kuat dari dua kata itu. Dipopulerkan oleh almarhum Julia Perez, dua kata itu menjadi sebuah kosakata penting bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Oke paling tidak untuk kebanyakan sopir truk Indonesia. Ya “Aku Rakpopo” atau dalam bahasa Indonesianya “Aku Tidak Apa-Apa” adalah sebuah frase sederhana yang sekilas mungkin tidak berarti apa-apa. Namun, jika kamu…

Salah satu obsesi terbesarku waktu masih kecil dulu adalah mengganti Channel TV begitu melihat iklan di layar TVku. Seperti kebanyakan anak kecil yang terobsesi dengan film kartun favoritnya, aku merasa bahwa iklan adalah sesuatu yang mengganggu, obstrusif, dan bahkan menjijikkan (Dag… Dig… Dug… Der… Daia! Dan tiba-tiba seorang pria berkacamata yang memiliki sebuah rambut berbentuk sabu lidi berwarna warni tiba-tiba muncul… Ugh) Jadi setiap kali aku melihat iklan (terutama iklan Daia), aku akan mengganti Channel TVku dan mencari acara yang menarik lainnya. Walaupun taktik ini membantuku untuk menghindari iklan-iklan yang konyol dan menggelikan, taktik ini juga menciptakan sebuah masalah lain, yaitu: Aku jadi melewatkan adegan terpenting di dalam film-film kartun yang aku tonton saat itu… Aku masih ingat waktu aku sedang menonton kartun Captain Tsubasa dulu. Saat itu Captain Tsubasa sedang berlari ke arah Goal lawan dan bersiap untuk melakukan tendangan Rajawali andalannya. Di depannya, dua pemain lawan yang berwajah…

Fredrick Buechner pernah berkata bahwa “panggilan kehidupanmu adalah dimana pekerjaan yang membuatmu bahagia bertemu dengan kebutuhan terpenting dunia.” Kata-kata Buechner telah menjadi pegangan hidup-ku selama ini, terutama dalam aspek pekerjaan dan tujuan hidup. Kata-katanya mengingatkanku bahwa melakukan sesuatu yang aku cintai dan memiliki keahlian saja tidaklah cukup. Ketertarikan dan keahlian-ku harus melayani sebuah kebutuhan nyata di dunia ini. Ketertarikan dan keahlian-ku harus membuat kehidupan-kehidupan orang lain lebih baik. Apa yang aku kerjakan harus menambah nilai ke dalam kehidupan orang lain. Menambah Nilai Pada dasarnya menambah nilai berarti membantu orang lain. Jika kamu mengikatkan ketertarikan dan keahlian-mu dengan kebutuhan dunia, kamu sudah berjalan ke arah yang benar. Bagi-ku itu artinya mengarahkan passion dan keahlian menulis-ku ke dalam sebuah blog yang bertujuan untuk membantu membuat kehidupan orang lain lebih baik. Sayangnya, banyak sekali orang-orang di dunia ini yang melupakan hal ini. Mereka memulai atau menciptakan sesuatu yang luar biasa tanpa mempertimbangkan apakah…

Di akhir tahun kemarin, aku sempat menghadiri sebuah seminar di mana pendiri Orang Tua group, Bapak Hamid Djojonegoro menjadi pembicara utamanya. Di awal acara itu, dengan suara yang lantang, Bapak Hamid berkata, “Semakin besar bisnis lo, semakin besar masalah lo. Saat lo menyelesaikan sebuah masalah, lo akan menciptakan masalah lain…” Ia kemudian melanjutkan bahwa di kehidupan ini, masalahmu tidak akan pernah berakhir. Solusi dari sebuah masalah adalah sebuah masalah baru yang harus kamu selesaikan di kemudian hari. Masalah tidak akan pernah hilang dari hidupmu katanya, mereka hanya akan berubah dan menjadi lebih baik… Waktu pertama kali mendengar kata-kata itu, aku ingin tertawa. Aku berpikir, “kamu pasti bercanda, sepertinya, kehidupan tidak se-menyedihkan itu deh.” Tetapi setelah melihat kembali kehidupanku dan memikirkan kata-kata itu lagi, aku menyadari ada kenyataan dibalik kata-kata itu. Kata-katanya membuatku teringat akan peluncuran blog pertama gue… Masalah, Masalah, dan Masalah… Memulai blog ini adalah sebuah masalah. Waktu aku…

Suatu hari di bulan September 2017 kemarin, terjadi sebuah perdebatan hebat di gymku. Tidak, ini bukanlah karena seseorang telah memakai alat gym tanpa menggunakan handuk atau karena beberapa orang tidak mengembalikan alat-alat gym ke tempatnya. Perdebatan ini terjadi karena sebuah video yang kami tonton kemarin malam. Sebuah video peluncuran produk-produk baru Apple tahun 2017 kemarin… Cerita ini diawali saat seorang teman gymku membagikan video peluncuran produk-produk baru Apple beserta sebuah comment: “What do you guys think?” di Facebook dan mengetag aku dan teman-teman gymku yang lain. Keesokan harinya, seperti biasa, kami bertemu di gym sekitar pukul 5 sore. Begitu temanku yang membagikan video itu melihatku dan teman-teman gymku yang lain di loker, ia langsung bertanya, “Gimana guys, Iphone X keren nggak?” Pertanyaan itu kemudian memicu sebuah diskusi hangat di ruang loker kami. Salah satu dari teman gymku berkata bahwa Iphone X adalah inovasi paling keren di dunia Smartphone, sedangkan satu…