Quantcast
Category

Laugh

Category

Nilai kita di dunia ini ditentukan oleh seberapa besar kontribusi kita ke dunia ini. Semakin banyak dan bermanfaat kontribusi yang lo berikan, semakin orang lain akan menghargai lo. Itu adalah hukum manusia yang tidak akan berubah dan bahkan akan menjadi semakin kuat di era digital ini. Jika hukum itu membuat lo terdengar seperti seorang pelacur, well… itu karena pada dasarnya kita semua adalah seorang pelacur. Kita hanya melacurkan diri kita dengan cara yang berbeda. Gue akan memberikan lo beberapa detik untuk menyerap kalimat itu baik-baik… Arti Kehidupan dan Kontribusi Seperti yang sudah gue tuliskan sebelumnya, lo bisa mengartikan kehidupan lo dengan cara apa saja. Pada dasarnya, arti kehidupan seorang manusia bertujuan untuk mendorong manusia itu untuk terus ber-inovasi dan menjadi lebih baik. Namun, ada satu aspek lain yang belum gue bahas di post itu, yaitu kualitas arti kehidupan yang kita ciptakan. Seperti segala hal di dunia ini, tidak semua arti…

Baru-baru ini, gue menonton sebuah film Disney yang berjudul The Wrinkle in Time bersama tunangan gue. Dan setelah 30 menit menonton film itu, gue menjadi semakin yakin bahwa sutradara itu pasti sedang menghisap ganja saat ia sedang membuat film tersebut. Bagaimana tidak? Dalam waktu 30 menit, gue melihat bunga-bunga yang bernyanyi riang seperti di film teletubies, makhluk yang terlihat seperti seledri terbang, dan Oprah Winfrey yang didandani seperti seorang Super Saiya… Film itu mengisahkan tentang pertualangan dua anak, Meg dan Charles Wallace, yang sedang mencari ayahnya yang menghilang ke dunia lain. Ayah dan ibu mereka adalah dua ilmuwan yang sedang meriset tentang konsep dunia di dalam dunia (mereka percaya bahwa ada beberapa dunia di dalam bumi ini, mereka hanya ada dalam waktu ‘berbeda’). Dan entah itu karena sebuah kecelakaan atau kebetulan, ayah mereka menemukan sebuah pintu ke dunia lain. Didorong oleh rasa penasaran yang akan membuat anak lima tahun malu,…

Sejak gue masih kecil dulu, gue sudah sering bertanya pada diri gue sendi “Apa sih tujuan hidup gue?” sambil menggosok-gosok dagu gue yang masih mulus. Gue sadar bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan paling sulit sekaligus pertanyaan paling penting yang harus kita jawab sebagai manusia. Gue merasa tanpa menjawab pertanyaan itu, kehidupan akan terasa kosong dan membosankan. Akan tetapi, saat gue mencoba untuk menjawab pertanyaan itu, gue mulai sadar bahwa pertanyaan itu bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah. Ini bukan karena gue malas atau tidak bisa menemukan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan itu, tetapi masalah ini lebih disebabkan karena jawaban-jawaban yang gue pikir tepat ternyata berakhir… tidak tepat… Waktu gue berumur lima tahun, gue pikir mempunyai mainan terbaru dan membuat Bokap Nyokap gue bahagia adalah tujuan kehidupan gue. Tetapi semakin gue bertambah dewasa, semakin gue sadar bahwa itu bukanlah tujuan kehidupan gue. Mempunyai mainan-mainan terbaru dan cinta orangtua gue memang membuat gue…

Kita semua pasti ingin menjadi lebih bahagia. Tanyalah pada seseorang kenapa ia menginginkan sesuatu beberapa kali, dan lo akan menemukan bahwa mereka menginginkan hal-hal tersebut karena mereka ingin lebih bahagia. Tidak bisa dipungkiri kebahagiaan adalah sebuah kebutuhan manusia yang paling penting dan hidup akan terasa seperti sebuah penyiksaan panjang tanpa kebahagiaan. Namun masalahnya, kebahagiaan adalah sesuatu yang subjektif, sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan dengan kata-kata. Dan selama ribuan tahun, para filsuf dan pemimpin agama di dunia ini telah mencoba untuk menjawab pertanyaan itu: Apa yang akan membuat manusia bahagia? Selama ribuan tahun, orang-orang pintar ini mengajari satu sama lain, berdebat, dan bekerjasama untuk mencoba menjawab pertanyaan itu. Namun, sayangnya mereka sepertinya tidak pernah menemukan satu jawaban baku untuk menjawab pertanyaan itu… sampai saat ini… Dengan berkembangnya teknologi X-ray dan berbagai inovasi canggih lainnya, kita akhirnya bisa melihat isi kepala manusia dan mulai memetakan isi pikiran dan perasaan kita.…

Barang-barang mewah hanya akan kita beli saat kita sudah berkecukupan. Jangan membeli tas Chanel saat anda hanya memiliki satu juta di tabungan anda. Sangat mudah untuk percaya bahwa kebaikan bekerja seperti itu. Kita harus merasa cukup, sebelum kita bisa memberikan kebaikan kita ke orang lain. Anda mungkin mempunyai hari yang buruk, anda kehujanan, dunia telah berubah, bos anda memecat anda, tabungan anda menipis, deadline proyek anda semakin dekat… Namun… Apakah segala kebutuhan kita harus terpenuhi sebelum kita bisa berbuat baik? Apakah kita harus mempunyai cukup uang, merasa positif dengan kondisi ekonomi dunia, dan merasa cukup dengan apa yang kita punyai sebelum kita bisa mengulurkan tangan kita ke orang-orang yang lebih membutuhkan? Namun, kebaikan tidak bekerja seperti itu, banyak orang mengartikannya terbalik. Berbuat baik adalah fondasi kehidupan. Memberikan waktu dan tenaga kita untuk membantu orang lain akan memberikan kita persepsi yang baru terhadap kebutuhan-kebutuhan kita. Hidup akan terasa lebih bahagia, kecemasan-kecemasan…

Anda hanya memiliki satu kesempatan untuk hidup di dunia ini. Jadi jangan segan-segan untuk mengejar mimpi-mimpi anda, jangan biarkan ketakutan membatasi hidup anda. Jangan tinggal di dalam sebuah pekerjaan yang membuat anda tidak bahagia hanya karena anda takut anda tidak akan mendapatkan pekerjaan lain. Jangan hidup dengan orang yang membuat hidup anda menderita karena anda takut hidup sendirian. Jangan menunggu sampai anda mempunyai cukup uang di tabungan anda untuk memulai sebuah proyek atau kehidupan yang anda impikan. Saya tidak berkata bahwa kita harus bertindak dengan sembrono dan mengharapkan keberuntungan, namun yang saya maksudkan disini adalah untuk berhenti menunggu dan mulai melakukan sesuatu. Mulai kejar mimpi anda sekarang- biarkan mimpi itu masuk ke dalam setiap pori-pori tubuh anda. Biarkan hal-hal yang tidak anda sukai hilang dari kehidupan anda. Saya baru-baru ini mendengar sebuah wawancara Joseph Campbell, seorang penulis mitologis dan dosen terkenal di Amerika. Di wawancara itu ia mengatakan sesuatu yang…

Natal telah tiba. Tony yang baru berumur 4 tahun sedang sibuk merobek kertas kado yang kemudian menunjukkan mainan lego yang ia terima dari kedua orang tuanya. Ia tersenyum melihat mainan istana berwarna-warni itu. Namun, senyuman di wajah kedua orangtua Tony berubah kecut saat Tony kecil mendorong mainan istana itu dan berlari ke pohon natal di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Tony mulai membuka kado-kadonya yang lain, mengambil setiap kotak yang berada di bawah pohon natal, satu demi satu- beberapa panjang, beberapa tinggi, beberapa berat, beberapa ringan. Setiap kotak menunjukkan mainan baru. Setiap mainan itu dibungkus kertas-kertas terang yang berwarna-warni. Satu jam kemudian, Tony menangis. Dari suara tangisannya, itu adalah natal terburuk yang pernah ia alami. Tentu, Tony menerima berbagai hadiah yang ada di dalam daftar mainan impiannya- namun ia lebih cemas akan hal-hal yang tidak ia dapatkan. Mainan-mainan yang ada di depannya hanya mengingatkannya akan mainan-mainan yang tidak ia miliki.…

Beberapa hari yang lalu saya menemukan puisi ini: “Bahkan setelah semua yang ia lakukan, sang matahari tidak pernah berkata ke bumi,  Anda berhutang kepada saya.’ Lihat apa yang terjadi dengan cinta seperti itu. Ia bisa menyinari seluruh dunia.”- Hafiz Beberapa kali seminggu, saya akan pergi ke beranda rumah saya untuk melihat matahari datang dari belakang gunung. Sinar matahari memberi saya kebahagiaan dan tidak pernah menuntut apa-apa, tidak penting berapa kalipun saya menikmati kebaikannya. Saat kita terobsesi dengan siapa yang akan membayar kopi terakhir, giliran siapa yang harus mencuci piring, bagaimana hadiah yang kita terima sesuai dengan hadiah yang kita berikan, atau mengharapkan ucapan terima kasih yang sama dengan waktu, talenta, atau harta yang kita berikan; kita menjadi tersinggung, jengkel, dan marah. Kita pun memutuskan untuk tidak membantu orang itu lagi. Bagaimana jika kita terus memberi karena kebahagiaan yang kita dapatkan dari memberikan sesuatu, dan berhenti berpikir, “Anda berhutang pada saya.”…

Bagi saya kesuksesan terdiri dari beberapa rumus sederhana: Kebahagiaan + Perkembangan + Kontribusi = Sukses Itu adalah satu-satunya sukses yang saya tahu. Jika kita tidak bahagia, kita tidak sukses. Jika kita tidak berkembang, kita tidak sukses. Jika kita tidak berkontribusi ke dunia ini, kita tidak sukses. Orang yang sukses tanpa kebahagiaan, perkembangan, atau kontribusi hanya akan mendapatkan sebuah kesuksesan yang kosong. Jika anda mendapati tips ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaru saya lebih cepat, subscribe ke box dibawah ini atau like Facebook saya.