Quantcast
Category

Laugh

Category

Di akhir tahun kemarin, aku sempat menghadiri sebuah seminar di mana pendiri Orang Tua group, Bapak Hamid Djojonegoro menjadi pembicara utamanya. Di awal acara itu, dengan suara yang lantang, Bapak Hamid berkata, “Semakin besar bisnis lo, semakin besar masalah lo. Saat lo menyelesaikan sebuah masalah, lo akan menciptakan masalah lain…” Ia kemudian melanjutkan bahwa di kehidupan ini, masalahmu tidak akan pernah berakhir. Solusi dari sebuah masalah adalah sebuah masalah baru yang harus kamu selesaikan di kemudian hari. Masalah tidak akan pernah hilang dari hidupmu katanya, mereka hanya akan berubah dan menjadi lebih baik… Waktu pertama kali mendengar kata-kata itu, aku ingin tertawa. Aku berpikir, “kamu pasti bercanda, sepertinya, kehidupan tidak se-menyedihkan itu deh.” Tetapi setelah melihat kembali kehidupanku dan memikirkan kata-kata itu lagi, aku menyadari ada kenyataan dibalik kata-kata itu. Kata-katanya membuatku teringat akan peluncuran blog pertama gue… Masalah, Masalah, dan Masalah… Memulai blog ini adalah sebuah masalah. Waktu aku…

Suatu hari di bulan September 2017 kemarin, terjadi sebuah perdebatan hebat di gymku. Tidak, ini bukanlah karena seseorang telah memakai alat gym tanpa menggunakan handuk atau karena beberapa orang tidak mengembalikan alat-alat gym ke tempatnya. Perdebatan ini terjadi karena sebuah video yang kami tonton kemarin malam. Sebuah video peluncuran produk-produk baru Apple tahun 2017 kemarin… Cerita ini diawali saat seorang teman gymku membagikan video peluncuran produk-produk baru Apple beserta sebuah comment: “What do you guys think?” di Facebook dan mengetag aku dan teman-teman gymku yang lain. Keesokan harinya, seperti biasa, kami bertemu di gym sekitar pukul 5 sore. Begitu temanku yang membagikan video itu melihatku dan teman-teman gymku yang lain di loker, ia langsung bertanya, “Gimana guys, Iphone X keren nggak?” Pertanyaan itu kemudian memicu sebuah diskusi hangat di ruang loker kami. Salah satu dari teman gymku berkata bahwa Iphone X adalah inovasi paling keren di dunia Smartphone, sedangkan satu…

Dua minggu terakhir, aku telah menuliskan tentang pentingnya memiliki prioritas hidup dan bagaimana cara membedakan prioritas yang baik dan buruk. Nah, di esai ini aku ingin membagikan satu tips untuk menjaga prioritas-prioritas itu dan memastikan kamu menggunakan waktumu untuk hal-hal terpenting kehidupan. Tips itu adalah mengadopsi gaya hidup minimalisme… Menjaga Prioritas Hidup dan Minimalisme Pernahkah kamu mengalami pengalaman ini: Kamu berkata pada dirimu sendiri bahwa kamu akan mengerjakan tugasmu selama tiga jam ke depan. Kamu menyeruput kopi hitam yang ada di sebelahmu seperti seorang tauke besar lalu membuka laptopmu untuk bekerja. Tetapi sebelum kamu sempat melakukan apa-apa atau mengetik satu huruf-pun, kamu tiba-tiba menerima sebuah video lagu anak-anak lucu tentang bayi ikan hiu dari pacarmu. Penasaran, kamu akhirnya menonton video itu sampai habis. Setelah selesai menonton video itu, kamu berkata bahwa kamu akan mulai bekerja dengan serius sekarang, tetapi beberapa detik kemudian, kamu malah menemukan video baby shark dance yang…

Di postku yang sebelumnya, aku telah menuliskan betapa pentingnya itu untuk mengetahui dan menghidupi nilai-nilai terpenting kehidupanmu, apalagi di abad 21 ini. Di sebuah zaman yang dipenuhi gangguan, opsi-opsi baru, dan kesibukan-kesibukan palsu; sangatlah mudah untuk menjadi seorang manusia galau yang menghabiskan hari-harinya tidak tahu harus melakukan apa dan mempertanyakan setiap pilihan-pilihan yang sudah mereka buat. Namun seperti segala pilihan di dunia ini, tidak semua nilai-nilai kehidupan yang ada di dunia ini adalah nilai-nilai kehidupan yang baik. Beberapa nilai-nilai kehidupan di dunia ini memang akan membuat masalah-masalah kita menjadi lebih baik dan mendewasakan kita. Namun, beberapa nilai kehidupan di dunia ini malah akan memperparah masalah-masalah kita dan hanya akan membuat kita stress dan menyanyikan lagu Manusia Bodoh karangan Ada Band sambil nangis Bombay. Kuncinya adalah untuk membedakan dan mengetahui nilai-nilai apa yang baik untuk kita, dan nilai-nilai apa yang kurang baik untuk kita. Dari situ, kebahagiaan dan kesuksesan akan tumbuh. Jadi…

Beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen kecil. Aku ingin mengetahui bagaimana aku menghabiskan waktuku dalam satu bulan. Jadi setiap harinya, setelah aku selesai melakukan sesuatu, aku akan mencatat aktivitas itu di dalam sebuah buku. Disampingnya, aku akan menuliskan berapa banyak waktu yang aku habiskan untuk melakukan aktivitas itu dan seberapa memuaskan aktivitas itu dari skala 1 sampai 10. Setelah satu bulan, eksperimen kecil ini menunjukkan dimana dan kapan aku biasanya menyia-nyiakan waktuku. Eksperimen ini juga menunjukkan hal apa yang paling penting di dalam kehidupanku. Atau lebih tepatnya, hal apa yang sebenarnya paling penting untukku. Selama ini aku selalu merasa bahwa passion, hubungan, dan kebahagiaan adalah nilai-nilai paling penting di dalam kehidupanku. Jadi aku pikir aku akan menghabiskan waktuku untuk mengembangkan passionku, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang aku cintai, dan mencari kedamaian. Namun setelah melakukan eksperimen kecil ini, aku baru sadar bahwa ternyata aku adalah seorang workaholic…

Nilai kita di dunia ini ditentukan oleh seberapa besar kontribusi kita ke dunia ini. Semakin banyak dan bermanfaat kontribusi yang kamu berikan, semakin orang lain akan menghargaimu. Itu adalah hukum manusia yang tidak akan berubah dan bahkan akan menjadi semakin kuat di era digital ini. Jika hukum itu membuatmu terdengar seperti seorang pelacur, well… itu karena pada dasarnya kita semua adalah seorang pelacur. Kita hanya melacurkan diri kita dengan cara yang berbeda. Aku akan memberimu beberapa detik untuk menyerap kalimat itu baik-baik… Arti Kehidupan dan Kontribusi Seperti yang sudah aku tuliskan sebelumnya, kamu bisa mengartikan kehidupanmu dengan cara apa saja. Pada dasarnya, arti kehidupan seorang manusia bertujuan untuk mendorong manusia itu untuk terus ber-inovasi dan menjadi lebih baik. Namun, ada satu aspek lain yang belum sempat aku bahas di post itu, yaitu kualitas arti kehidupan yang kita ciptakan. Seperti segala hal di dunia ini, tidak semua arti kehidupan itu diciptakan sama.…

Baru-baru ini, aku menonton sebuah film Disney yang berjudul The Wrinkle in Time bersama tunanganku. Dan setelah 30 menit menonton film itu, aku menjadi semakin yakin bahwa sutradara film itu pasti sedang menghisap ganja saat ia sedang membuat film tersebut. Bagaimana tidak? Dalam waktu 30 menit, aku melihat bunga-bunga yang bernyanyi riang seperti di film teletubies, makhluk yang terlihat seperti seledri terbang, dan Oprah Winfrey yang didandani seperti seorang Super Saiya… Film itu mengisahkan tentang pertualangan dua anak, Meg dan Charles Wallace, yang sedang mencari ayahnya yang menghilang ke dunia lain. Ayah dan ibu mereka adalah dua ilmuwan yang sedang meriset tentang konsep dunia di dalam dunia (mereka percaya bahwa ada beberapa dunia di dalam bumi ini, mereka hanya ada dalam waktu ‘berbeda’). Dan entah itu karena sebuah kecelakaan atau kebetulan, ayah mereka menemukan sebuah pintu ke dunia lain. Didorong oleh rasa penasaran yang akan membuat anak lima tahun malu,…

Seringkali kita merasa bahwa penderitaan kita itu unik, lain dari yang lain, dan lebih berat daripada penderitaan orang lain. Namun, nyatanya, lo bukanlah satu-satunya orang yang mengalami penderitaan itu. Lo bukanlah satu-satunya. Baca…

Sejak aku masih kecil dulu, aku sudah sering bertanya pada diriku  sendi “Apa sih tujuan hidupku?” sambil menggosok-gosok daguku yang masih mulus. Aku sadar bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan paling sulit sekaligus pertanyaan paling penting yang harus kita jawab sebagai manusia. Aku  merasa tanpa menjawab pertanyaan itu, kehidupan akan terasa kosong dan membosankan. Akan tetapi, saat aku mencoba untuk menjawab pertanyaan itu, aku mulai sadar bahwa pertanyaan itu bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah. Ini bukan karena aku malas atau tidak bisa menemukan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan itu, tetapi masalah ini lebih disebabkan karena jawaban-jawaban yang aku pikir tepat ternyata berakhir… tidak tepat… Waktu aku berumur lima tahun, aku pikir mempunyai mainan terbaru dan membuat Ayah dan Ibuku bahagia adalah tujuan kehidupanku. Tetapi semakin aku bertambah dewasa, semakin aku sadar bahwa itu bukanlah tujuan kehidupanku. Mempunyai mainan-mainan terbaru dan cinta orangtuaku memang membuatku bahagia, tetapi kebahagiaan itu hanya bertahan sementara.…

Kita semua pasti ingin menjadi lebih bahagia. Tanyalah pada seseorang kenapa ia menginginkan sesuatu beberapa kali, dan kamu akan menemukan bahwa mereka menginginkan hal-hal tersebut karena mereka ingin lebih bahagia. Tidak bisa dipungkiri kebahagiaan adalah sebuah kebutuhan manusia yang paling penting dan hidup akan terasa seperti sebuah penyiksaan panjang tanpa kebahagiaan. Namun masalahnya, kebahagiaan adalah sebuah perasaan yang subjektif, sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan dengan kata-kata. Dan selama ribuan tahun, para filsuf dan pemimpin agama di dunia ini telah mencoba untuk menjawab pertanyaan itu: Apa yang akan membuat manusia bahagia? Selama ribuan tahun, orang-orang pintar ini mengajari satu sama lain, berdebat, dan bekerjasama untuk mencoba menjawab pertanyaan itu. Namun, sayangnya mereka sepertinya tidak pernah menemukan satu jawaban baku untuk menjawab pertanyaan itu… sampai saat ini… Dengan berkembangnya teknologi X-ray dan berbagai inovasi canggih lainnya, kita akhirnya bisa melihat isi kepala manusia dan mulai memetakan isi pikiran dan perasaan…