Quantcast
Category

Live

Category

Zaman dahulu kala, hidup seorang pandai besi yang memutuskan untuk menyerahkan kekayaannya dan hidup untuk Tuhan. Selama beberapa tahun, ia bekerja keras dan berusaha menolong orang-orang yang ada di sekitarnya, namun disamping segala pengabdiannya pada Tuhan, kehidupannya malah menjadi semakin parah. Masalah-masalah terus bermunculan dan hutangnya semakin bertambah banyak. Suatu hari, sahabatnya mendatangi rumahnya dan, merasa kasihan pada kondisi kehidupannya, ia berkata: “Aku mendapati ini semua aneh. Beberapa tahun yang lalu, aku melihatmu mengabdikan hidupmu pada Tuhan. Namun, bukannya menjadi lebih baik, kehidupanmu malah menjadi lebih buruk. Aku tidak ingin menggoncangkan imanmu, namun disamping kepercayaanmu pada Tuhan, hidupmu terlihat lebih buruk dari sebelumnya.” Si pandai besi tidak langsung menjawab temannya itu, ia sering memikirkan hal yang sama, dan sampai sekarang ia masih belum bisa menemukan jawabannya. Ia ingin memberikan sahabatnya itu sebuah jawaban, ia mulai berbicara dan pelan-pelan ia menemukan jawaban yang ia cari. Ini adalah apa yang ia katakan: “Besi…

Menyadari bahwa manusia di dunia ini mulai berhenti mempercayai hal-hal gaib, setan memutuskan untuk mengobral alat-alat yang ia gunakan untuk menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Ia menaruhkan sebuah iklan di surat kabar dan menghabiskan hari-hari berikutnya melayani pelanggan-pelanggan yang datang ke toko kecilnya. Ada berbagai benda-benda gaib menarik yang dijual di toko itu: sebuah batu yang bisa menjatuhkan orang-orang saleh, cermin yang bisa menambahkan keegoisan seseorang, dan kacamata yang merendahkan nilai orang lain. Tergantung di tembok yang membelakanginya adalah benda-benda kramat seperti: pisau berwarna hijau berbentuk melengkung yang bisa digunakan untuk menusuk orang dari belakang, dan sebuah alat perekam suara yang hanya bisa menyimpan gosip dan kebohongan. “Jangan takut soal harga!” teriak setan tua ke setiap pelanggan yang ia temui. “Bawalah barang-barang itu sehari dan bayar saya saat kamu sudah mampu!” Seorang pelanggan menyadari dua alat yang disingkirkan dan ditaruh di ujung toko. Kedua benda itu tidak terlihat spesial, namun…

Saat kita memikirkan sebuah tujuan besar atau menghadapi sebuah masalah, kita biasanya akan meragukan kemampuan kita. Setelah kegembiraan yang kita rasakan untuk masa depan yang lebih baik mulai hilang, suara di dalam diri kita mulai mencoba untuk menyabotase kita- bahkan sebelum kita melakukan sesuatu. Ada tiga cara bagaimana kita biasanya menanggapi situasi ini: Anda bisa berkata bahwa anda tidak mungkin bisa menghadapi situasi ini dan menyerah. Ini adalah kebanyakan orang Anda bisa berkata pada diri anda sendiri anda tidak siap, dan menunda melakukan sesuatu. Penundaan paling mudah adalah belajar untuk melakukan sesuatu. Anda dapat membaca artikel demi artikel, buku demi buku, dan kursus demi kursus- belajar banyak hal tetapi tidak melakukan apa-apa. Biasanya apa yang anda butuhkan bukanlah lebih banyak informasi- tetapi eksekusi. Seorang pemenang belajar dari pengalaman. Anda dapat memulai sesuatu, membuat batas waktu, dan mengejar mimpi anda. Besok atau nanti saja adalah kata-kata seorang penakut. Besok biasanya akan…

“Jadilah perubahan yang ingin anda lihat di dunia ini.”- Mahatma Gandhi Masalah yang muncul di kehidupan kita biasanya tidaklah seburuk yang kita kira- atau lebih tepatnya, baik buruknya sebuah masalah sangatlah tergantung dengan persepsi kita. Anda telah membuat kemajuan besar saat anda menyadari bahwa hal terburuk yang terjadi bukanlah masalah yang muncul di kehidupan kita, namun masalah yang membuat kita kehilangan akal sehat kita. Karena saat anda kehilangan akal sehat anda, anda memiliki dua masalah. Setelah anda mampu melihat segala sesuatu dengan objektif, apa adanya, hal yang anda harus lakukan adalah memiliki tekad untuk bertindak. Persepsi yang sesuai dengan kebenarannya- objektif dan rasional- akan memberikan anda kekuatan untuk melihat masalah itu apa adanya. Kepala yang dingin merupakan fondasi tangan yang kuat. Lalu hal kedua yang harus anda lakukan adalah untuk menggunakan tangan anda untuk bertindak. Kita semua memiliki sebuah asumsi untuk menimbang-nimbang harga dan manfaat yang akan kita dapatkan. Tidak…

Berbicaralah dengan para pengusaha sukses, atau pekerja profesional mana pun yang memiliki sikap yang positif, dan anda akan menemukan sebuah karakter yang sama: Mereka semua memiliki cara berpikir unik yang membuat mereka dapat menghadapi masalah-masalah kehidupan dengan cara yang berbeda. Alih-alih melihat masalah sebagai sebuah beban yang menghalang-halangi kesuksesan, mereka melihat masalah sebagai kesempatan- kesempatan untuk belajar, bertumbuh, berkembang, atau berubah menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik.  Cara berpikir ini memiliki banyak manfaat. Pertama, cara berpikir itu akan mengurangi stres yang biasanya akan mendampingi masalah-masalah baru- karena masalah dianggap sebagai sesuatu yang positif, masalah tersebut menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan. Kedua, cara berpikir itu akan memberikan arti yang baru terhadap masalah ini. Karena otak kita langsung memikirkan efek dan tanggapan kita terhadap masalah-masalah yang kita hadapi, masalah itu menjadi lebih mudah untuk dipelajari dan diselesaikan. Ketiga, cara berpikir itu akan mendorong perkembangan- cara berpikir ini akan memaksa anda untuk beradaptasi dan…

“Bahagia itu persepsi. Kita tidak perlu menunggu punya kekayaan, punya anak yang sehat dan pintar, punya pasangan yang sempurna, dan keluarga yang kokoh.”- Shof Annisa Suatu hari saat seorang Jenderal Athena yang bernama Pericles dikirim untuk menyelesaikan Perang Peloponnesos, sebuah gerhana matahari terjadi. Gerhana itu membutakan Pericles dan 150 armada kapalnya. Terkejut dengan kejadian yang membingungkan ini, prajurit-prajurit Pericles menjadi bingung dan panik. Namun, tidak seperti anak buahnya, Pericles malah terlihat tenang. Ia berjalan menuju kepala nahkodanya, melepaskan jubahnya, dan membalutkan jubahnya ke wajah pria tua itu. Ia kemudian bertanya pada pria itu apakah ia takut dengan apa yang ia lihat. Ia menjawab tidak, tentu tidak. “Jadi apa bedanya dengan apa yang kita hadapi sekarang?” tanya Pericles. Persepsi Adalah Segalanya Orang-orang Yunani adalah orang-orang yang jenius. Rahasia dibalik kejeniusan mereka adalah sebuah pemahaman yang menyatakan bahwa persepsi adalah segalanya. Artinya saat anda dapat melihat segala sesuatu dengan objektif, dan melihat…

“Melihat secara objektif adalah kemampuan untuk melihat sebuah objek seperti objek itu sendiri, apa adanya”- Matthew Arnold. Kata-kata “apa yang terjadi ini sangatlah buruk untuk kita” bisa diartikan sebagai berikut. Yang pertama- “apa yang terjadi”- adalah sebuah fakta. Namun yang kedua- “sangatlah buruk untuk kita”- itu bisa dibilang relatif. Melihat vs. Mengamati Konon, Samurai terkenal di abad ke 16, Miyamoto Musashi diceritakan telah memenangkan berbagai pertarungan dengan musuh atau bahkan musuh-musuhnya dengan tangan kosong. Di dalam bukunya, “The Book of Five Rings,” ia mencatat perbedaan antara “mengamati” dan “melihat.” Menurutnya, melihat itu lemah karena apa yang kita lihat biasanya terpengaruh oleh perasaan dan pendapat kita. Sedangkan mengamati itu kuat karena kita dapat melihat lebih dari apa yang terlihat di depan kita. Orang yang mengamati sesuatu telah memperhatikan sebuah situasi dengan jelas;  tanpa gangguan dan tanpa melebih-lebihkan sesuatu. Orang  yang melihat biasanya melihat “rintangan yang tidak mungkin dilewati” atau “sebuah malapetaka besar.”…

Objektivitas adalah sebuah karakteristik yang kebanyakan dari kita pikir sudah kita miliki. Toh, jika dipikir-pikir, objektivitas hanya berarti mempertimbangkan fakta dan situasi kita, lalu mencapai sebuah keputusan terbaik. Membangun objektivitas mudah bukan? Well, kenyataannya tidak begitu. Kenyataannya kita semua memiliki prasangka kita masing-masing. Jika kita tidak dapat mengendalikan prasangka-prasangka itu, kita akan kehilangan kesempatan, uang, hubungan, dan hal-hal berharga lainnya, kata Elizabeth R. Thornton, seorang profesor manajemen di Babson College, Boston. “Kita selalu membuat kesalahan kognitif,” kata Thornton. “Kita melihat sesuatu dan tiba-tiba, kita memproyeksikan masa lalu, pengalaman, dan berbagai teori yang ada di kepala kita terhadap apa yang kita lihat- seseorang, sebuah situasi, atau sebuah kejadian. Biasanya, persepsi kita salah.” Kapanpun anda berpikir anda sudah tahu tentang segalanya, anda harus mengecek apakah anda sudah melihat segalanya dengan objektivitas.     Thornton menceritakan bagaimana bisnisnya pernah gagal karena ia kehilangan keobjektivitasnya. Alih-alih mengevaluasi tanda-tanda kegagalan bisnisnya secara objektif, ia terbutakan oleh…

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, emosi manusia bisa menjadi sumber kesakitan, kesedihan, dan penderitaan manusia. Namun, masalahnya manusia adalah makhluk emosional yang didorong oleh emosi-emosi itu. Kita mengambil sebuah kesempatan karena kita tertarik dengan masa depan yang ditawarkan kesempatan itu. Kita menangis karena kita dilukai dan kita berkorban karena kita mencintai. Tidak bisa dipungkiri, perasaan kita mempengaruhi pikiran, persepsi, keinginan, dan tindakan kita sehari-hari. Namun, saat kita membiarkan perasaan kita mengendalikan pikiran kita, kita biasanya akan membuat keputusan-keputusan yang akan kita sesali di kemudian hari. Berhati-Hatilah Dengan Emosi Anda! Perasaan kita bisa berayun di antara dua kutub yang berbeda. Berayun terlalu jauh ke kiri dan anda akan merasa marah. Berayun terlalu jauh ke kanan dan anda akan merasa euforia yang tak terbendung. Seperti segala aspek kehidupan lain, kita harus belajar untuk mengendalikan perasaan kita di bawah naungan logika dan objektivitas. Saya tidak berkata bahwa kita harus berhenti merasakan cinta…

Sebelum John D. Rockefeller menjadi salah satu seorang pengusaha minyak paling besar di dunia, ia adalah seorang staf administrasi di sebuah perusahaan finansial kecil yang bermimpi untuk menjadi seorang investor kecil di Cleveland, Ohio. Anak dari seorang kriminal dan pemabuk yang meninggalkan keluarganya, Rockefeller muda menerima pekerjaan pertamanya saat ia berumur 16 tahun. Hidup terasa menyenangkan dan waktu itu, ia digaji 50 sen sehari. Lalu, pada tahun 1857, sebuah krisis finansial yang bermula dari Ohio menyerang kota kelahiran Rockefeller. Banyak bisnis mulai bangkrut dan harga gandum mulai berjatuhan di Amerika, menghentikan ekspansi Amerika ke Barat. Akibatnya Amerika mengalami sebuah depresi panjang yang berlangsung selama beberapa tahun. Rockefeller muda bisa memilih untuk takut. Ini mungkin adalah salah satu krisis ekonomi terbesar di Amerika waktu itu dan krisis ini menerjang kehidupannya saat ia mulai merasa nyaman dengan pekerjaannya. Ia bisa memilih untuk meninggalkan keluarganya dan lari seperti ayahnya. Ia bisa memilih untuk…