Quantcast
Category

Live

Category

Almarhum Steve Jobs memiliki sebuah kebiasaan yang sangat buruk waktu ia menjabat sebagai CEO Apple: Ia sering membuat deadline ‘tidak mungkin’ yang membuat tim teknisinya tertekan, frustasi, dan hampir gila. Contohnya, di tahun 2005, ia memberikan tim teknisinya waktu dua minggu untuk menciptakan sebuah “visi untuk software” IPhone pertama Apple. Ia mengancam bahwa ia akan memberikan tugas ini ke orang lain jika mereka tidak bisa menyelesaikan tugas tersebut dalam tenggat waktu yang sudah ia tetapkan. Walaupun teknisi-teknisi itu mengutuki Steve Jobs seperti seorang rapper dan bekerja seperti orang kesetanan, mereka berhasil melakukan yang tidak mungkin. Mereka menciptakan desain software Iphone pertama dalam waktu dua minggu… Di bukunya 33 Strategies of War, Robert Greene menuliskan tentang sebuah fenomena yang disebut “death ground” – fenomena ini terjadi saat sebuah pasukan terdesak, tidak bisa lari, dan tidak punya pilihan lain selain memenangkan pertempuran. Pasukan-pasukan ini akan menjadi lebih kuat dan bahkan seringkali, tidak…

Setiap orang yang berhasil meraih mimpi mereka adalah orang-orang yang berhasil melewati apa yang para profesional sebut sebagai “lembah-lembah pergumulan.” Ini adalah satu periode di kehidupan pemimpi-pemimpi ini dimana kerja keras dan usaha mereka sepertinya terlihat sia-sia. Mungkin, seorang penulis novel telah mencoba untuk menjual draft novelnya ke ratusan penerbit, tetapi tidak ada satupun dari penerbit itu yang tertarik. Mungkin, seorang kakek-kakek berpakaian serba putih sedang mencoba untuk menawarkan resep ayam gorengnya ke ribuan restoran, hanya untuk ditolak secara mengenaskan. Momen lembah pergumulan ini adalah sebuah waktu yang sangat menantang bagi para pemimpi-pemimpi ini… Namun, jika ada satu waktu yang akan menentukan apakah seseorang akan berhasil atau gagal mencapai mimpi mereka, itu adalah momen ini. #### Waktu Kevin Hart memulai kariernya sebagai seorang pelawak, ia sempat berguru dengan seorang pelawak senior yang bernama Keith. Selama beberapa bulan, Keith tidak memberikan Kevin kesempatan untuk pergi ke depan panggung dan bahkan mengenalkannya…

Waktu aku berumur 16 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk mempunyai perut kotak-kotak ala Aderai, bermain gitar di depan ratusan orang seperti John Mayer, dan mendapatkan rangking 10 besar di SMP ku di Singapura. Waktu aku berumur 20 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk lulus dengan gelar Magna Cum Laude, menjadi Mr. UOB (pada dasarnya pria paling keren di kampus), dan menjadi MC populer di Singapura. Waktu aku berumur 22 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk membuat sebuah majalah pria dengan nilai-nilai positif, keluar dari bisnis keluarga, dan memulai sebuah startup kecil-kecilan. Tahun ini aku resmi berumur 25 tahun dan aku harus mengakui bahwa aku tidak pernah mendapatkan perut kotak-kotak sepeti Ade Rai, bermain gitar di depan ratusan orang, mendapatkan rangking 10 besar di SMP, lulus dengan gelar Magna Cum Laude, menjadi Mr. UOB, dikenal sebagai MC populer, mempunyai sebuah majalah…

Sekitar satu tahun yang lalu, aku dan pacarku sempat pergi ke Jakarta untuk menghadiri sebuah konser musik. Di perjalanan kami ke Semarang, kami tidak sengaja bertemu dengan salah satu nasabah pacarku. Pria itu adalah seorang pengusaha travo yang ternyata cukup terkenal di Semarang. Singkat cerita, aku pun berkenalan dengan pria itu dan mulai berbasa basi tentang cuaca yang tidak menentu, kondisi ekonomi tahun 2018, dan berbagai hal lain. Saat aku berencana untuk mengakhiri pembicaraan itu dan pergi tidur, pria itu mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Ia berkata kurang lebih seperti ini: “Kamu cuma akan hidup di dunia ini sekali. Jadi pastikan kamu melakukan apa yang kamu cintai, mengejar passion kamu, dan mengerjakan sesuatu yang menarik. Karena jika kamu tidak tertarik dengan pekerjaanmu, kamu tidak akan kalah bersaing dengan orang-orang yang mencintai pekerjaan mereka.” Hatiku ingin melompat dan meneriakkan “amin” saat aku mendengar kata-kata itu. Namun, logikaku…

Kita bisa melakukan yang terbaik, mengintegrasikan ketertarikan dan pekerjaan kita, membangun keahlian di dalam bidang tersebut, dan berusaha untuk memenuhi sebuah kebutuhan nyata di dunia ini. Namun, kita tidak akan pernah bisa mengendalikan bagaimana dunia ini akan menilai hasil kerja kita. Kita bisa mengendalikan pikiran kita dengan benar, menanggapi sebuah masalah dengan positif, menyambut kesempatan dengan baik, dan masih saja gagal. Lantas apa yang harus kita lakukan dalam situasi ini? Well, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah untuk terus mencoba, karena tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menghentikan kita untuk terus mencoba dan memberikan yang terbaik. Beberapa masalah dan halangan memang terkadang tidak bisa diselesaikan. Kegagalan terkadang tidak bisa dihindari dan beberapa jalan terkadang memang tidak bisa dilewati. Namun, ini belum tentu adalah sesuatu yang buruk, karena kita bisa menggunakan situasi atau kegagalan itu sebagai kesempatan untuk menempa karakter kita- walaupun itu terkadang berarti belajar…

Aku menyadari bahwa salah satu masalah terbesar manusia (itu termasuk aku sendiri) berakar dari keinginan kita untuk mengendalikan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Bagi kebanyakan orang sepert aku, melepaskan kendali, untuk apapun itu, adalah sesuatu yang memalukan, lemah, dan bahkan sedikit menakutkan. Kita lebih suka melakukan sesuatu, membuat rencana, dan bahkan merasa cemas, alih-alih berdiam diri dan berserah pada keadaan. Paling tidak dengan melakukan ‘sesuatu’ kamu merasa seperti kamu telah melakukan sesuatu untuk merubah situasimu. Kamu merasa seperti kamu sudah mengirim sebuah pukulan telak terhadap nasib. Padahal jika dipikir lagi, seberapa besar pengaruh tindakan-tindakan tersebut dalam merubah situasimu? Ya, tidak bisa dipungkiri, melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada berdiam diri dan berserah pada nasib. Namun dalam beberapa situasi, melakukan sesuatu tidak akan merubah apa-apa. Malah-malah, melakukan sesuatu hanya akan membuatmu tertekan, stres, dan akhirnya memutuskan untuk menelan 40 Panadol dalam waktu yang sama. Dalam beberapa situasi, melawan nasib membuat…

Waktu aku baru lulus kuliah dulu, satu hal yang paling sulit untuk aku lakukan adalah bangun pagi. Aku tidak menemukan alasan yang kuat untuk bangun lebih pagi selain melihat sinar matahari pagi dan toh, aku juga sering berpergian sampai malam, jadi bangun pagi adalah sesuatu yang menurutku hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Namun, itu semua berubah saat aku memutuskan untuk menjadi seorang blogger. Tiba-tiba aku menemukan bangun lebih pagi adalah satu-satunya cara aku bisa menemukan waktu untuk menulis dan bahkan menurutku, satu-satunya waktu untuk menulis. Begitu aku masuk kantor sekitar jam delapan pagi, aku hampir tidak memiliki waktu untuk melakukan hal lain sampai jam empat atau lima sore. Bahkan, di jam makan siang pun aku masih tidak bisa menemukan waktu untuk menulis: teleponku akan terus berbunyi, tamu tiba-tiba datang, dan tugas-tugas urgent lain tiba-tiba muncul. Begitu aku pulang dari kantor, otakku biasanya sudah tidak dalam kondisi prima untuk menulis dan…

Aku pernah menulis bahwa kebanyakan hal yang terjadi di kehidupan ini berada di luar kendali kita. Di mana kita akan lahir, siapa orang tua kita, bagaimana bentuk wajah kita; hal-hal ini sudah ditentukan sebelum kita lahir dan berada di luar kendali kita. Meratapi nasibmu karena kamu dilahirkan dengan wajah seperti Tukul Arwana tidak akan mengubah apa-apa. Tentu, hal ini juga berlaku untuk kebanyakan masalah dan malapetaka yang terjadi di kehidupan kita: bencana alam, krisis ekonomi, pemecatan massal, dan perubahan teknologi. Hampir segala sesuatu di dunia ini tidak akan bisa kita kendalikan, dan hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap kita terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan ini. Karena cara kita menyikapi keterbatasan dan bencana-bencana yang terjadi di kehidupan kita akan menentukan kesuksesan, atau bahkan kebahagian kita. Setelah membaca berbagai buku pengembangan diri dan membaca biografi pengusaha, pemimpin, dan penemu paling terkenal di dunia, gue menemukan bahwa cara…

Setelah membaca beberapa post tentang menemukan passion, membangun beberapa keahlian, dan memenuhi sebuah kebutuhan dunia, mungkin kamu berpikir bahwa sekarang kamu mempunyai sebuah resep baku untuk menjadi orang yang sukses. Namun, seperti segala hal di dunia ini, kesuksesan tidaklah sesederhana itu. Beberapa bulan yang lalu, aku menuliskan bahwa menemukan passion, membangun keahlian, dan memenuhi sebuah kebutuhan di dunia ini akan membantumu mencari nafkah dengan melakukan apa yang kamu cintai. Tetapi, hal itu tidak akan menjamin kekayaan, popularitas, status, dan ya, kesuksesan; karena suka tidak suka, keberuntungan cukup berperan besar dalam kesuksesan seseorang. Peran Keberuntungan Saat kita membaca sebuah buku atau post-post pengembangan diri seperti ini, kita biasanya akan menemukan berbagai perkataan seperti “nasib kita ada di tangan kita sendiri” atau “kehidupan kita adalah 100% tanggung jawab kita” atau yang paling keren “tindakan kita bisa mengubah nasib kita.” Walaupun kata-kata ini terdengar indah dan menggugah jiwa; aku yakin cepat atau lambat,…

Waktu aku masih duduk di bangku SMP dulu, aku suka membaca buku-buku tentang membangun hubungan dan teknik komunikasi. Salah satu alasan kenapa aku menyukai buku-buku bergenre ini adalah karena dari dulu, aku percaya bahwa hubungan yang kita bangun di dunia ini akan menentukan kesuksesan kita. Ya, tentu itu juga mungkin disebabkan karena waktu itu aku adalah seorang jomblo menyedihkan yang ingin berinteraksi lebih baik dengan teman-teman lawan jenis. Tetapi pada intinya, alasan-alasan itu mendorongku untuk membaca buku-buku seperti “How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie, “How to Make People Like You in 90 seconds or Less” yang ditulis oleh Nicholas Boothman atau bahkan serial “Making Friends for Dummy” (ya aku se- desperate itu untuk membangun hubungan-hubungan yang lebih baik.) Buku-buku itu memang mengajariku berbagai teknik untuk menjadi pribadi yang lebih menarik dan makhluk-makhluk sosial yang tidak kenal rasa malu, tapi menurutku, buku-buku itu gagal untuk…