Quantcast
Category

Live

Category

Waktu aku masih duduk di bangku SMP dulu, aku suka membaca buku-buku tentang membangun hubungan dan teknik komunikasi. Salah satu alasan kenapa aku menyukai buku-buku bergenre ini adalah karena dari dulu, aku percaya bahwa hubungan yang kita bangun di dunia ini akan menentukan kesuksesan kita. Ya, tentu itu juga mungkin disebabkan karena waktu itu aku adalah seorang jomblo menyedihkan yang ingin berinteraksi lebih baik dengan teman-teman lawan jenis. Tetapi pada intinya, alasan-alasan itu mendorongku untuk membaca buku-buku seperti “How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie, “How to Make People Like You in 90 seconds or Less” yang ditulis oleh Nicholas Boothman atau bahkan serial “Making Friends for Dummy” (ya aku se- desperate itu untuk membangun hubungan-hubungan yang lebih baik.) Buku-buku itu memang mengajariku berbagai teknik untuk menjadi pribadi yang lebih menarik dan makhluk-makhluk sosial yang tidak kenal rasa malu, tapi menurutku, buku-buku itu gagal untuk…

Beberapa bulan yang lalu, kita telah membahas beberapa poin tentang berlatih dengan tujuan; sebuah konsep latihan yang biasanya digunakan oleh para ahli seperti atlet Kobe Bryant, musisi kelas dunia seperti the Beatles, dan bahkan pengusaha-pengusaha tersukses di dunia seperti Bill Gates.  Pada dasarnya, konsep berlatih dengan tujuan ini bisa dipecah menjadi beberapa poin berikut: Pecahkan keahlian yang ingin kamu pelajari menjadi beberapa komponen kecil Dorong dirimu untuk keluar dari zona nyamanmu Temukan apa yang menghambat perkembanganmu Carilah seorang ahli/mentor yang berpengalaman Kita sudah membahas poin-poin ini secara detail di post sebelumnya, dan jika kamu belum membacanya, aku sangat menyarankanmu untuk membacanya sekarang. Nah, lewat artikel ini, aku ingin membahas bagaimana kamu bisa mempertahankan metode latihan ini dan menjadi seorang ahli. Karena seperti cerita Kobe Bryant di artikelku sebelumnya, berlatih dengan tujuan tidaklah mudah. Latihan seperti ini sangatlah menyakitkan, sulit, dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Jika kamu tidak merasa tertekan dalam latihan-latihanmu,…

Di postku sebelumnya, aku telah menuliskan bahwa cara terbaik untuk mengalahkan ketakutanmu adalah dengan melakukan hal-hal yang paling kamu takutkan disamping semua ketakutan yang kamu rasakan saat itu. Walaupun begitu, aku sadar ada beberapa ketakutan yang memang terlalu besar untuk dihadapi langsung. Menghadapi ketakutan-ketakutan ini secara langsung biasanya hanya akan menyebabkan kegagalan dan trauma untuk mencoba lagi. Kegagalan memang tidak bisa dihindari, dan bahkan sesuatu yang normal di dunia ini, tetapi kegagalan untuk mencoba lagi adalah sesuatu yang fatal. Saat kamu berhenti mencoba, kegagalan adalah sesuatu yang pasti. Terlebih lagi, melakukan hal-hal yang kamu takutkan juga membutuhkan kesiapan mental dan energi tinggi. Di tengah tekanan seperti itu, otak kita biasanya lebih memilih untuk menunda melakukan hal-hal menakutkan itu dan mengalihkan perhatian kita dengan hiburan-hiburan kosong seperti berita perselingkuhan terbaru, bokep, atau sixpack atlet yang masih dibawah umur (brondong). Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan? Mengalahkan Ketakutan Kita Sedikit Demi Sedikit…

Tidak terasa, tahun 2018 ini akan berakhir tiga bulan lagi dan seiring bertambah dewasanya aku, aku mulai merasa seperti Tuhan tiba-tiba menekan tombol fast forward di dalam kehidupanku. Sebelum aku mengetahuinya, aku sudah lulus kuliah. Sebelum aku mengetahuinya gue sudah bertunangan. Dan sebelum aku mengetahuinya aku (mungkin) sudah akan menikah…  (brrr…) Seperti biasa, tiga bulan sebelum berakhirnya sebuah tahun, aku sudah mulai mempersiapkan rencana dan membuat tujuan untuk tahun berikutnya. Aku akan melihat apakah aku sudah mencapai tujuan-tujuan yang aku tetapkan tahun sebelumnya dan mengevaluasi tujuan-tujuan itu, melihat apa yang bisa aku lakukan tahun ini untuk mencapai tujuan-tujuan baruku lebih cepat. Dan dalam proses ini, aku menemukan sebuah kenyataan yang menarik. Yaitu: Tidak semua tujuan di dunia ini diciptakan sama… Tujuan-Tujuan Kosong Sebagai manusia kita semua terbebas untuk menentukan tujuan kehidupan kita. Entah itu menjadi seorang astronot, menyelesaikan 120 km marathon, atau bahkan menjadi seorang bintang film porno, kita semua…

Aku memang bisa dibilang tidak pernah selalu cocok dengan Ayahku. Kami dulu sering bertengkar meributkan ini itu dan bila dijadikan sebuah film, aku yakin hubunganku dengan ayahku jauh lebih menarik dari 70% sinetron Indonesia. (Bukan karena hubungan kami separah itu, tetapi karena kebanyakan sinetron Indonesia memang sangatlah… parah…). Tapi aku harus mengakui, Ayahku adalah orang yang luar biasa. Seperti kebanyakan pengusaha, Ayahku pandai berhitung dan mengatur risiko. Tetapi satu hal yang membedakan Ayahku dari ratusan pengusaha yang aku kenal adalah jiwa kemanusiaan Ayahku. Aku masih ingat dulu waktu Ayahku baru pulih dari penyakitnya (waktu itu Ayahku baru sembuh dari sebuah penyakit sejenis Stroke yang hampir mengakhiri hidupnya), ia sering berjalan ke belakang rumahku untuk melatih pernafasan dan staminanya. Suatu pagi, saat ia sedang berjalan melewati sebuah sawah-sawah kosong dan melatih nafasnya, ia bertemu dengan seorang janda tua yang hidup sendirian. Suami wanita tua itu sudah meninggal karena sebuah penyakit parah…

Neil Strauss, salah satu penulis yang tujuh bukunya masuk ke New York’s Time Bestseller List memiliki sebuah metode yang menarik untuk menyunting tulisannya. Seperti kebanyakan penulis lain, setelah Neil menyelesaikan draft pertamanya, ia akan segera menyunting tulisan itu; melihat apakah struktur buku itu sudah kuat, karakter-karakternya masuk akal, dan kata-kata yang ia gunakan sudah tepat. Setelah proses penyuntingan pertama ini selesai, ia akan berhenti menyentuh buku itu selama satu atau dua bulan. Hal ini ia lakukan untuk mendapatkan jarak sehingga ia bisa melihat bukunya secara objektif. Setelah melakukan hal itu, ia kemudian akan memasuki tahap penyuntingan kedua, yaitu menyunting dengan persepsi pembaca di kepalanya. Ia akan memposisikan dirinya sendiri sebagai seorang pembaca setianya dan mulai memikirkan apakah buku itu sudah cukup menarik atau menyenangkan untuk dibaca. Setelah proses penyuntingan kedua itu selesai dan Neil merasa ia telah berhasil membuat sebuah buku yang menarik dan menyenangkan untuk dibaca, ia akan berhenti…

Kita hidup di sebuah era baru yang petinggi-petinggi dunia ini sebut sebagai “Connection Economy,” sebuah zaman di mana kita tersambung dengan satu sama lain 24 jam 7. Jika efisiensi dan teknologi adalah sesuatu yang akan menentukan kesuksesan seseorang di era “Industrial Revolution,” hubungan adalah sesuatu yang akan menentukan kesuksesan seseorang di era “Connection Economy” ini. Dengan teknologi-teknologi komunikasi yang kita punyai sekarang, seseorang bisa menjangkau ratusan atau bahkan ribuan orang dengan mudah. Dan menurut para ekonomis, sosiologis, dan pakar teknologi, hubungan-hubungan inilah yang akan dijual belikan di kemudian hari. Gue tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana hubungan-hubungan itu akan dijual belikan karena hal tersebut sudah banyak dibahas di blog-blog teknologi beberapa tahun terakhir. Yang gue ingin bahas adalah sebuah strategi yang bisa kita gunakan untuk menjadi lebih sukses di era “Connection Economy” ini, yaitu strategi memberi tanpa pamrih. Strategi Memberi Tanpa Pamrih Kisah hidup Ryan Holiday mungkin adalah contoh…

Demosthenes tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi pembicara terbaik di Athena, apalagi dalam sejarah. Ia terlahir sakit-sakitan dan ia memiliki kecacatan berbicara. Pada saat ia berumur tujuh tahun, ia kehilangan ayahnya. Dan di saat itulah kehidupannya menjadi semakin sulit. Harta warisan yang ditinggalkan untuknya- yang seharusnya digunakan untuk membayar sekolah dan guru lesnya- dicuri oleh penjaga yang dipercaya untuk mengasuh dan melindunginya. Mereka tidak mau membiayai uang sekolah dan guru les Demosthenes. Masih lemah dan sakit-sakitan, Demosthenes juga tidak bisa sukses menjadi tentara. Disinilah seorang anak yatim piatu, sakit-sakitan, sedikit aneh, dan tidak dipahami oleh orang lain hidup sebatang kara. Ia bukanlah seorang anak laki-laki yang lo pikir akan bisa menggerakkan sebuah negara hanya dengan kata-katanya. Lahir cacat, ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya menjaganya; hampir semua kesalahan yang bisa terjadi di hidup seorang anak jatuh ke Demosthenes. Semua ini jelas tidak adil. Kebanyakan dari kita, jika berada di posisi itu, mungkin…

Waktu aku kuliah di Singapura dulu, aku pernah mengikuti sebuah klub berpidato yang bernama Toastmaster. Dan waktu aku menjabat sebagai salah satu komite klub itu, presiden klub-ku mencoba untuk melakukan sesuatu yang menarik, yaitu: menciptakan sebuah program mentorship untuk anggota-anggota baru. Saat seseorang baru mendaftar ke klub Toastmaster, ia akan diperkenalkan ke seorang mentor. Seseorang yang akan menemaninya berlatih, mengajarinya berbagai teknik berpidato, dan dalam kasus tertentu, mengisi kekosongan hati yang mereka rasakan dari waktu ke waktu (ada sekitar 3 atau 4 pasangan yang terlahir dari hubungan mentor-mentee ini, sesuatu yang fantastis menurutku). Hubungan mentor-mentee ini membuahkan hasil yang luar biasa. Anggota-anggota baru yang biasanya merasa enggan untuk melakukan presentasi tiba-tiba menjadi lebih aktif. Setiap kali kita mengadakan event-event untuk menarik anggota baru, pendaftaran kita terus meningkat. Jumlah manusia-manusia jomblo di klubku juga semakin berkurang (entah karena program mentorship atau karena bertambahnya anggota baru). Dan yang paling penting, aku bisa…

Kobe Bryant adalah salah satu pemain basket tersukses sepanjang masa. Ia adalah pemenang 5 kejuaraan NBA dan dua medali emas Olimpiade. Bryant telah menghasilkan lebih dari dua ratus juta dolar dari bermain basket. Dan ya, dia adalah seseorang yang mengagumkan. Di tahun 2012, Bryant telah dipilih untuk merepresentasikan Amerika untuk Olimpiade. Waktu itu, salah seorang pelatih Tim USA yang bernama Robert dipilih untuk mempersiapkan Bryant dalam pertandingan itu. Satu malam sebelum perjalanan mereka ke London, Robert dan tim Amerika diutus untuk bermalam di Las Vegas. Malam itu, Robert memutuskan untuk menonton film Casablanca sampai sekitar jam 3:30 pagi. Beberapa menit kemudian, setelah ia merebahkan dirinya sendiri di kasur, ia mendengar handphonenya berbunyi. Orang yang meneleponnya tidak lain adalah Kobe Bryant. Dengan was-was ia menjawab telepon itu. Setelah berbasa-basi sejenak, Bryant meminta Robert untuk datang ke tempat latihan dan membantunya melakukan latihan-latihan pengkondisian. Saat Robert mengecek jam di handphonennya, ia melihat…