Quantcast
Category

Love

Category

We all wear masks, and the time comes when we cannot remove them without removing some of our own skin. – André Berthiaume One my favorite TV show as a kid is a film called Masked Rider. The very first installment of the Masked Rider series introduced us to a man called Takeshi Hongo. He’s a kind hearted gentleman who loves motorcycle. One day, as he was practicing some motorcycle stunts, he was attacked by a group of men dressed in black. And after beating the shit out of him, the men in black brought Takeshi to a secret laboratory and turned him into a cyborg (gasp)… As the men in black were about to erase his memories and turn him into a full cyborg, Takeshi was rescued by a professor (who apparently is his friend) and escaped the facility. However, just as they were about to successfully escape the…

“If you don’t love yourself, you cannot love others. You will not be able to love others. If you have no compassion for yourself then you are not able of developing compassion for others”- Dalai Lama Remember that time you told yourself to be patient the next time your girlfriend said something stupid, only to lash out hours later when your girlfriend said something stupid? Or, remember that time you reminded yourself to talk to your staff with grace, only to act like a mad dictator when you found out that they make an insignificant presentation error? All these are strong signs that you don’t understand how compassion actually works… The Dalai Lama once said that you can’t love others well until you can love yourself well; and you can’t give other compassion until you can develop compassion for yourself. Hence, the key to become a more compassionate person is…

“Insecurity, anxiety, and depression are incredibly common in our society, and much of this is due to self-judgement, to beating ourselves up when we feel we aren’t winning the game of life.”- Kristin Neff Recently a new belief has been spreading around the world like a contagion, infecting young minds with affirmations like ‘I’m special’, ‘I’m unique’ and ‘I’m different’. Although the desire to feel special is understandable, it pose a little problem. By definition, it’s impossible for everyone to be above average at the same time. Of course we can always work hard and give our best, but even then, there will always someone smarter, prettier, and more successful than you. In her book, Self Compassion, Kristin Neff said, “Even if we do manage to get our act together, the goalpost for what counts as good enough seem always to remain frustratingly out of reach.” Nowadays, it is not…

Tidakkah kamu menyukai satu bulan pertama hubungan cintamu? Semua terasa sempurna, semua kalimat yang pasanganmu utarakan berakhir dengan ‘sayang’ atau ‘Adinda,’ konflik adalah sebuah konsep yang sangat asing di pikiranmu dan pasanganmu. Semua terasa indah, dan pasanganmu terasa seperti seorang bidadari dari surga… Inilah kenapa orang-orang menyebut masa-masa ini sebagai honey moon period atau periode bulan madu. Namun, seperti yang kamu ketahui, masa-masa ini tidak akan bertahan lama. Happily ever after don’t exist. Cepat atau lambat, kamu akan menemukan madu itu berubah menjadi racun yang pelan-pelan mengikis intimasi dan kepercayaan hubunganmu. Hubungan mu yang tadinya terasa luar biasa sekarang terasa biasa-biasa saja, kata-kata sayangmu berubah menjadi benci, dan konflik mulai menjadi makanan sehari-hari. Apa yang terjadi? #### Salah satu penulis favoritku, Psikiater Dr. M. Scott Peck menyebut periode bulan madu itu sebagai efek samping perasaan jatuh cinta. Dua orang yang sedang jatuh cinta kehilangan batasan ego mereka dan mereka mulai…

Apakah kamu ingin tahu rahasia hubungan yang luar biasa? Well, kamu bukanlah orang pertama yang menanyakan pertanyaan itu. Di sekitar tahun 1990an seorang psikolog bernama John Gottman memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mengumpulkan puluhan pasangan ke sebuah Villa modis (yang aku rasa berada di daerah Bali) selama beberapa hari dan membiarkan mereka berlaku seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang liburan. Tanpa sepengetahuan pasangan-pasangan ini, Gottman dan teman-temannya memasang beberapa kamera rahasia di Villa tersebut. Dan tentunya, sebagai psikolog beretika dan bermoral tinggi, mereka tidak memasang kamera di kamar mandi dan kamar tidur. Setelah mengumpulkan semua data yang ada, Gottman dan teman-temannya mulai berusaha untuk mencari sebuah pola yang membedakan hubungan yang positif (hubungan yang harmonis) dan hubungan yang negatif (hubungan yang penuh pertengkaran dan konflik). Mereka melihat karakter pasangan-pasangan tersebut, jumlah kata “sayang” yang mereka gunakan dalam pembicaraan mereka, dan cara mereka menatap satu sama lain……

Waktu aku masih duduk di bangku SMP kelas 2 dulu, aku adalah seorang pemalu yang lebih suka mendengarkan lagu dari Discman Sony-ku daripada pertanyaan “apa kabar” orang lain. Suaraku pelan dan aku lebih sering bergumam daripada berbicara, jadi orang-orang seringkali tidak memahami kata-kataku. Dan seperti yang kalian duga, aku tidak mempunyai banyak teman dan tentunya, masih jomblo. Sementara anak-anak SMP lain menghabiskan malam minggu mereka bergonta-ganti pacar dan bereksperimen dengan seksualitas mereka, aku akan menghabiskan malam mingguku menggambar Manga. (Ya aku dulu suka menggambar). Orangtuaku yang tidak tahan dengan sifat pendiam-ku akhirnya mendorongku untuk lebih sering berkumpul dengan teman-teman sekelas dan mencari teman-teman baru, sehingga aku lebih bisa bergaul dengan orang lain. Tetapi, karena waktu itu aku tidak melihat teknik berkomunikasi dengan orang lain sebagai sesuatu yang penting, aku memutuskan untuk mendiamkan nasihat-nasihat itu. Terlebih lagi, berkenalan dengan orang baru dan memulai sebuah pembicaraan seringkali membuatku merasa tidak nyaman. Selang…

Di postku sebelumnya, aku telah menuliskan bahwa cara terbaik untuk mengalahkan ketakutanmu adalah dengan melakukan hal-hal yang paling kamu takutkan disamping semua ketakutan yang kamu rasakan saat itu. Walaupun begitu, aku sadar ada beberapa ketakutan yang memang terlalu besar untuk dihadapi langsung. Menghadapi ketakutan-ketakutan ini secara langsung biasanya hanya akan menyebabkan kegagalan dan trauma untuk mencoba lagi. Kegagalan memang tidak bisa dihindari, dan bahkan sesuatu yang normal di dunia ini, tetapi kegagalan untuk mencoba lagi adalah sesuatu yang fatal. Saat kamu berhenti mencoba, kegagalan adalah sesuatu yang pasti. Terlebih lagi, melakukan hal-hal yang kamu takutkan juga membutuhkan kesiapan mental dan energi tinggi. Di tengah tekanan seperti itu, otak kita biasanya lebih memilih untuk menunda melakukan hal-hal menakutkan itu dan mengalihkan perhatian kita dengan hiburan-hiburan kosong seperti berita perselingkuhan terbaru, bokep, atau sixpack atlet yang masih dibawah umur (brondong). Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan? Mengalahkan Ketakutan Kita Sedikit Demi Sedikit…

Saat Pablo Picasso sudah tua, ia sering pergi ke sebuah kafe di ujung jalan, dan menggambar-gambar di atas tissue. Suatu hari, saat Picasso sedang menggambar-gambar di atas sebuah tissue, seorang wanita sedang memperhatikan apa yang sedang ia lakukan dengan penuh kekaguman. Beberapa menit kemudian, Picasso menghabiskan kopinya, menggumalkan kertas tissuenya, dan bermaksud untuk membuangnya. Namun, wanita yang duduk di belakangnya menghentikannya dan berkata “Bolehkah aku meminta kertas tissue itu? Aku akan membayarnya.” “Tentu,” jawab Picasso. “Itu akan menjadi dua puluh ribu dolar.” Wanita itu menjadi kaget dan berkata, “Apa? Kamu hanya memerlukan waktu dua menit untuk menggambarnya.” “Tidak,” jawab Picasso. “Aku membutuhkan waktu sekitar 60 tahun untuk menggambarnya.” Menguasai Sesuatu membutuhkan Waktu Picasso hidup sampai ia berumur 91 tahun. Ia lalu meninggal di tahun 1973, dalam masa hidupnya ia telah menghasilkan sekitar 500 juta dolar, dan karya seninya telah diakui oleh dunia. Karya seni yang ia ciptakan diperkirakan mencapai angka…

Di post sebelumnya, kita sudah membahas tentang sebuah fenomena yang menyebabkan otak kita untuk menyabotase inisiatif-inisiatif dan perubahan-perubahan baru yang ingin kita lakukan. Setiap kali kita ingin melakukan sebuah perubahan, otak kita memiliki kecenderungan untuk menciptakan berbagai alasan yang menyatakan mengapa perubahan itu bukanlah sebuah ide yang bagus. Kita kemudian membahas bagaimana alasan-alasan ini berakar dari ketakutan-ketakutan kita. Aku mengakhiri post itu dengan mengatakan bahwa mencoba menggali asal-usul ketakutan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah untuk menjadi lebih besar dari ketakutan-ketakutan itu dan mencoba untuk mengalahkannya, Nah, langkah pertama untuk mengalahkan ketakutan-ketakutanmu adalah untuk menemukan alasan-alasan seperti apa yang sering kamu gunakan untuk menyabotase dirimu sendiri. Saat kita merasa takut atau resah, kita biasanya mempunyai sebuah pola atau strategi yang biasanya kita gunakan untuk menyiasati perasaan tidak nyaman itu. Menyalahkan orang lain- Saat seseorang dengan pola ini dihadapkan dengan apa yang ia takutkan, ia…