Quantcast
Category

Love

Category

Ada 3 kata yang bisa lo katakan di dunia ini yang bisa membuat lo lebih disukai oran lain. Apakah lo ingin mencoba menebak apa 3 kata itu? Bukan, jelas bukan “aku cinta kamu,” karena pada kenyataannya tidak semua orang yang mengatakan kata-kata itu jadi lebih disukai orang lain. Beberapa orang  bahkan ditampar karena mengatakan kata-kata itu. Kecuali lo adalah Lee Min Ho atau Song Hye Kyo, lo harus berhati-hati dengan kata-kata itu. Tiga kata itu juga bukan kata-kata pujian seperti “Kamu luar biasa” atau “Kamu cantik/ganteng sekali.” Pujian itu mungkin membuat orang yang mendengarnya tersenyum, tapi itu bukan berarti kata-kata itu akan membuat lo disukai orang lain. Percaya tidak percaya 3 kata yang akan membuat lo lebih disukai orang lain adalah… “Eh sama dong…” Kekuatan “Eh Sama Dong” Psikolog Robert B. Cialdini, penulis buku Influence pernah mengatakan bahwa kita menyukai orang yang mirip dengan kita. Saat kita bertemu dengan orang-orang…

Gue mengakhiri post minggu lalu dengan menuliskan bahwa tidak semua cerita cinta akan berakhir bahagia dan itu adalah sesuatu yang sangat normal. Sebagai manusia kita akan bertemu dengan orang-orang yang akan langsung menyukai kita, orang-orang yang bersifat acuh tak acuh dengan kita, dan orang-orang yang akan langsung terdorong untuk menampar muka kita begitu mereka melihat kita. Pada dasarnya, ini semua disebabkan karena memulai sebuah hubungan, entah itu adalah hubungan cinta, bisnis, dan selingkuhan (eh?) adalah sebuah risiko… Cinta memang bisa membuat lo menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, tapi di saat yang sama, cinta juga bisa membuat lo menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Cinta memang bisa membuat lo merasa seperti orang paling kaya di dunia ini, tetapi di saat yang sama, cinta juga bisa membuat lo merasa seperti orang paling miskin di dunia ini. Cinta memang bisa membuat hidup lo terasa penuh dan berwarna, tetapi cinta…

Baru-baru ini teman gue lagi naksir satu cewek, sebut saja Mawar. Dilihat dari manapun, kemungkinan teman gue untuk memenangkan hati wanita itu adalah seperti menunggu Jakarta untuk tidak macet atau seperti merebut hati Raisa dari Hamish. Mawar adalah wanita berwajah manis yang punya banyak temen. Sementara itu, teman gue ini adalah cowok pendiam yang menghabiskan hari-harinya bekerja, bekerja, dan bekerja dan kebanyakan temannya adalah orang-orang yang sudah berpacaran seperti gue. Singkat cerita, seperti kebanyakan cowok-cowok SMA yang sedang kasmaran, teman gue ini mulai menunjukkan cintanya pada si mawar dengan melakukan hal-hal yang akan membuat Song Hye-Kyo terkesan. Di malam-malam tertentu, ia akan mengirimkan sebuah coklat beserta sekuntum bunga ke rumahnya, di lain hari ia akan mengiriminya meme meme lucu untuk menggombalinya, di hari-hari tertentu, ia akan mengajak Si Mawar untuk makan siang di kafe-kafe terbaru dan mentraktirnya makan. Dan setelah tiga bulan yang penuh kebimbangan dan ketidakpastian, teman gue akhirnya…

Seperti kebanyakan cowok normal di dunia ini, gue paling benci jika seseorang mengajak gue menonton film drama. Gue sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan film drama itu sendiri. Film itu memang dibuat sedramatis dan semelankolis mungkin untuk memainkan perasaan penontonnya, dan itu adalah sesuatu yang wajar. Para sutradara memang dibayar untuk itu.   Masalahnya adalah saat orang yang mengajak gue menonton film-film ini menggunakan film itu sebagai sebuah standar untuk mengukur kualitas hubungan mereka. Gue nggak tahan sama mereka karena biasanya orang-orang ini mempunyai ekspektasi yang nggak nyata terhadap hubungan mereka. Dan ujung-ujungnya, setelah film itu selesai, kita biasanya akan berdebat tentang apa itu artinya sebuah hubungan yang bahagia. Gue akan berargumen bahwa tokoh-tokoh di film itu adalah orang-orang idiot, sementara temen nonton gue akan berargumen bahwa pemeran utama di film itu adalah orang-orang romantis yang sangat memahami cinta. Sebuah argumen tidak penting yang bisa berlangsung berjam-jam. Gue melakukan semua…

Beberapa minggu terakhir kita sudah membahas berbagai hal tentang keterbukaan. Mulai dari penerimaan diri, bagaimana kita bisa hidup lebih terbuka, dan cara menanggapi penolakan. Namun, ada satu aspek dari keterbukaan yang masih belum kita bahas, yaitu, membangun batasan yang sehat. Kenapa membangun batasan ini penting di dalam sebuah hubungan? Jawabannya adalah karena sebuah hubungan yang sehat akan selalu mengizinkan kita untuk berkata “tidak.” Apa maksud semua ini? Mari kita telusuri makna kalimat itu lebih dalam… Batasan dan Menjadi Kesatria Berkuda Putih Saat gue bersekolah di Singapura dulu, gue pernah berteman baik dengan seorang perempuan Filipina yang bernama Pat. Ia memiliki wajah yang ayu, mata yang jernih, dan lesung pipi yang manis. Ia bukanlah perempuan paling cantik di sekolah gue dulu, tetapi ia adalah teman Singapura pertama gue. Dan bagi seorang murid Indonesia berumur 15 tahun yang bersekolah di negara asing untuk pertama kalinya, itu adalah segalanya… Seperti layaknya dua…

Seperti yang gue bahas di artikel gue sebelumnya, keterbukaan dan kejujuran adalah dua hal yang akan membuat lo menjadi orang yang lebih menarik. Di artikel itu gue telah menjelaskan manfaat keterbukaan dan bagaimana keterbukaan akan membuat lo menjadi orang yang lebih menarik di mata orang lain. Jika lo belum membaca artikel itu, gue menyarankan lo untuk membaca artikel itu terlebih dulu. Sudah? Mari kita lanjutkan bahasan kita tentang keterbukaan. Di artikel gue yang sebelumnya, gue menuliskan bahwa membuka hati kita dan menunjukkan kejujuran kita tidaklah mudah. Jika lo tidak biasa melakukan hal itu dan lo adalah orang yang tertutup, membuka hati lo pada orang lain mungkin akan terasa seperti melepaskan celana lo di depan umum. Para atlet angkat besi mengalami sebuah fase yang disebut sebagai “masa-masa sakit” dan mereka menyadari di fase inilah justru otot-otot mereka mulai berkembang. Sama seperti itu, saat lo mempraktikkan keterbukaan untuk pertama kalinya, lo mungkin…

Empat tahun yang lalu, saat gue masih kuliah di Singapura, gue pernah mengikuti sebuah klub pidato dan pengembangan diri bernama Toastmaster International di sekolah gue. Di klub itu gue sempat menjabat sebagai Vice President of Public Relations, seseorang yang berperan untuk mempromosikan klub Toastmaster gue dan mengunjungi klub-klub Toastmaster lain di Singapura untuk menjalin hubungan (ada sekitar 150 Toastmaster club lain di Singapura waktu itu). Suatu hari, gue memutuskan untuk pergi ke sebuah klub Toastmaster di dekat apartemen gue di Toa Pa yoh. Klub itu berada di sebuah Universitas swasta yang dipenuhi oleh murid-murid Cina dan Vietnam. Di situlah gue bertemu dengan dia untuk pertama kalinya…   Perempuan itu memiliki tubuh yang tinggi dan langsing, rambutnya hitam mengkilat seperti wanita-wanita di iklan Sunsilk, matanya bulat dan bersinar, bibirnya merah menggoda, tingkah lakunya se-anggun permaisuri-permaisuri di serial Putri Huan-Zhu, dan gue langsung menyukainya…   Di pertemuan itu, kami tidak sempat berbicara…

Percaya tidak percaya, langkah pertama untuk memulai sebuah hubungan yang bahagia bukanlah memperias wajah lo, mendaftar ke sebuah gym, atau bahkan belajar menari diantara tiang seperti orang India. Percaya tidak percaya, langkah pertama memulai sebuah hubungan yang bahagia adalah belajar untuk menerima diri lo sendiri… Ya, gue yakin banyak dari kita pasti sudah pernah mendengar nasihat itu di satu waktu kehidupan kita. Entah itu dari guru agama kita, orangtua kita, atau bahkan dari teman kita yang sedang mabuk dan tiba-tiba menjadi bijak… Namun, setiap kali kita mendengar nasihat itu, gue yakin lo pasti akan bertanya pada diri lo sendiri. “Ya itu memang kedengarannya bagus sih… tapi sebenarnya apa sih artinya menerima diri sendiri?” Nasihat itu memang terdengar seperti nasihat-nasihat motivator botak berkacamata yang dulu sempat sering tampil di Metro TV… Nasihat-nasihat ambigu yang lebih mudah didengar daripada dipraktekkan… Well, itulah kenapa di post ini gue akan mencoba untuk menerangkan arti…

Seorang guru bijak bernama Saadi dari Shiraz sedang berjalan menyusuri sebuah jalan bersama murid-muridnya saat ia melihat seorang pria mencoba untuk membuat keledainya untuk bergerak. Saat binatang itu tidak mau bergerak juga, pria itu mulai memaki-maki keledai itu dengan kata-kata kotor yang tidak pantas di tuliskan di post ini. “Jangan bodoh,” kata Saadi. Keledai itu tidak akan pernah memahami bahasamu. Kamu hanya akan bisa menggerakkannya saat kamu sudah tenang dan mengetahui bahasanya.” Dan setelah ia berjalan jauh, ia mengingatkan murid-muridnya: “Sebelum kalian berdebat dengan seekor keledai, ingat apa yang baru saja kamu lihat.” Kunci kebahagiaan: Mendengar dan memahami lawan bicara kita adalah cara terbaik untuk memenangkan perdebatan apapun. Saat anda memahami, anda akan dipahami. Jangan berdebat dengan keledai. Jika anda mendapati tips ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaru saya lebih cepat, subscribe ke box dibawah ini atau like Facebook saya.

Kehidupan yang bahagia bisa diartikan sebagai kehidupan yang terbebas dari beban-beban hidup. Kebahagiaan bisa ditandai dengan kesatuan. Saat kehidupan anda konsisten dengan nilai-nilai anda, kehidupan terasa sederhana. Hasilnya, kita merasa bebas. Hal ini membuat kita bisa fokus pada hal-hal terpenting di kehidupan kita. Kesederhanaan tidak bisa kita capai tanpa kejujuran. Kejujuran bisa hidup tanpa kesederhanaan, tapi kesederhanaan tidak bisa hidup tanpa kejujuran. Coba pikirkan sejenak. Setiap kali kita tidak jujur, kita menciptakan realita yang berbeda. Dan suatu hari, kita akan dipaksa untuk hidup di dalam dua dunia itu: dunia yang sebenarnya dan dunia yang kita ciptakan. Di sisi lain, saat kita memilih kejujuran di setiap aspek kehidupan kita, termasuk pernikahan, bisnis, dan hubungan kita, kita hidup di dalam kehidupan yang sama dengan kenyataan. Kejujuran akan menyebabkan kesederhanaan yang kemudian membawa kebahagiaan. Namun, kebohongan akan menciptakan konflik- sesuatu yang bertolak belakang dengan kejujuran. Coba pikirkan manfaat kehidupan yang jujur: Teman-teman yang…