Quantcast
Category

Love

Category

Di post sebelumnya, kita sudah membahas tentang sebuah fenomena yang menyebabkan otak kita untuk menyabotase inisiatif-inisiatif dan perubahan-perubahan baru yang ingin kita lakukan. Setiap kali kita ingin melakukan sebuah perubahan, otak kita memiliki kecenderungan untuk menciptakan berbagai alasan yang menyatakan mengapa perubahan itu bukanlah sebuah ide yang bagus. Kita kemudian membahas bagaimana alasan-alasan ini berakar dari ketakutan-ketakutan kita. Aku mengakhiri post itu dengan mengatakan bahwa mencoba menggali asal-usul ketakutan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah untuk menjadi lebih besar dari ketakutan-ketakutan itu dan mencoba untuk mengalahkannya, Nah, langkah pertama untuk mengalahkan ketakutan-ketakutanmu adalah untuk menemukan alasan-alasan seperti apa yang sering kamu gunakan untuk menyabotase dirimu sendiri. Saat kita merasa takut atau resah, kita biasanya mempunyai sebuah pola atau strategi yang biasanya kita gunakan untuk menyiasati perasaan tidak nyaman itu. Menyalahkan orang lain- Saat seseorang dengan pola ini dihadapkan dengan apa yang ia takutkan, ia…

Waktu aku kuliah di Singapura dulu, aku pernah mendaftar ke sebuah gym yang bernama True Fitness. Suatu sore, di musim panas tahun 2013, saat aku sedang melatih perutku, berharap aku bisa mendapatkan perut seorang Spartan, seorang wanita dengan rambut coklat yang diikat ke belakang mengambil matras berwarna ungu yang ada di sebelahku dan menggelarnya beberapa meter dari mesin yang aku gunakan. Wanita itu memiliki wajah yang manis dan sepertinya kami seumuran. Ia memakai pakaian olahraga Nge Ann Polytechnic, sebuah sekolah yang berada tepat di sebelah sekolahku dan celana olahraga pendek yang berwarna hitam. Niatku untuk melatih perutku pelan-pelan sirna, fokusku mulai pecah, dan aku mulai memikirkan bagaimana cara berkenalan dengan wanita yang sedang melakukan gerakan leg raise di sebelahku itu. Namun, saat aku hampir memalingkan wajahku dan mengatakan “Halo,” otakku tiba-tiba berkata sesuatu seperti, “Kamu yakin mau berkenalan sama cewek seperti itu?” Otakku lalu memberondongiku dengan berbagai alasan kenapa berkenalan…

Aku pernah mempunyai seorang teman yang bisa dibilang memiliki tampang yang cukup oke, hati yang baik, dan karier yang sangat mapan. Umurnya sudah mendekati 30 dan entah kenapa, setiap kali ia mendekati seseorang, usaha PDKT itu tidak pernah berhasil. Ia bukannya ditolak, tetapi ia selalu merasa tidak yakin bahwa wanita yang ia dekati adalah jodohnya. Selang beberapa bulan kemudian, biasanya wanita-wanita yang ia dekati akan mulai berpacaran dengan orang lain, sementara ia meratapi kejombloannya lagi. Ia selalu berkata bahwa ia memang menginginkan sebuah hubungan yang serius, sebuah hubungan yang akan berakhir ke sebuah pernikahan. Jadi ia tidak mau salah memilih. Ia berkata bahwa ia tidak mau menyesal di kemudian hari. Ia melihat proses pencarian jodoh seperti sebuah pernikahan, sebuah hubungan yang hanya bisa dipatahkan oleh maut… Aku yakin beberapa dari kita pasti pernah memiliki pengalaman yang sama. Kita menginginkan hubungan yang serius, jadi kita menjadi lebih berhati-hati untuk memilih jodoh…

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang menarik? Kemanapun ia pergi, rambutnya selalu terlihat rapi, matanya berbinar-binar, dan pakaiannya terlihat elegan. Kemanapun ia pergi tubuhnya selalu tegak dan pandangannya selalu mantap ke depan. Setiap kali ia membuka mulutnya untuk bercerita atau bercanda, kata-katanya selalu singkat, jelas, dan padat. Ia selalu mempunyai kata-kata yang tepat di saat yang tepat. Kemanapun ia pergi, orang-orang selalu tertawa, tersenyum, atau terkesan. Jika ia seorang pria, kamu akan selalu menemukannya ditemani seorang perempuan cantik di sebuah kafe, restoran, atau bahkan warung, di akhir pekan. Jika ia adalah seorang wanita, kamu akan selalu menemukannya dikelilingi laki-laki yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatiannya. Bahkan walaupun itu berarti menginjakkan kaki mereka di sebuah zona terkutuk yang disebut friend-zone… Maukah kamu menjadi orang itu? Well, percaya tidak percaya, menjadi pribadi yang menarik ternyata tidaklah sesulit itu. Kamu hanya perlu mengikuti 7 tips sederhana ini dan mencoba untuk mempraktikkannya…

Ada 3 kata yang bisa kamu katakan di dunia ini yang bisa membuatmu lebih disukai oran lain. Apakah kamu ingin mencoba menebak apa 3 kata itu? Bukan, jelas bukan “aku cinta kamu,” karena pada kenyataannya tidak semua orang yang mengatakan kata-kata itu jadi lebih disukai orang lain. Beberapa orang  bahkan ditampar karena mengatakan kata-kata itu. Kecuali kamu adalah Lee Min Ho atau Song Hye Kyo, kamu harus berhati-hati dengan kata-kata itu. Tiga kata itu juga bukan kata-kata pujian seperti “Kamu luar biasa” atau “Kamu cantik/ganteng sekali.” Pujian itu mungkin membuat orang yang mendengarnya tersenyum, tapi itu bukan berarti kata-kata itu akan membuatmu disukai orang lain. Percaya tidak percaya 3 kata yang akan membuatmu lebih disukai orang lain adalah… “Eh sama dong…” Kekuatan “Eh Sama Dong” Psikolog Robert B. Cialdini, penulis buku Influence pernah mengatakan bahwa kita menyukai orang yang mirip dengan kita. Saat kita bertemu dengan orang-orang yang sama dengan…

Aku mengakhiri post minggu lalu dengan menuliskan bahwa tidak semua cerita cinta akan berakhir bahagia dan itu adalah sesuatu yang sangat normal. Sebagai manusia kita akan bertemu dengan orang-orang yang akan langsung menyukai kita, orang-orang yang bersifat acuh tak acuh dengan kita, dan orang-orang yang akan langsung terdorong untuk menampar muka kita begitu mereka melihat kita. Pada dasarnya, ini semua disebabkan karena memulai sebuah hubungan, entah itu adalah hubungan cinta, bisnis, dan selingkuhan (eh?) adalah sebuah risiko… Cinta memang bisa membuatmu menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, tapi di saat yang sama, cinta juga bisa membuatmu menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Cinta memang bisa membuatmu merasa seperti orang paling kaya di dunia ini, tetapi di saat yang sama, cinta juga bisa membuatmu merasa seperti orang paling miskin di dunia ini. Cinta memang bisa membuat hidupmu terasa penuh dan berwarna, tetapi cinta juga bisa menyebabkan hidupmu terasa…

Baru-baru ini temanku Sedang mendekati seorang wanita, sebut saja Mawar. Dilihat dari manapun, kemungkinan temanku untuk memenangkan hati wanita itu adalah seperti menunggu Jakarta untuk tidak macet atau seperti merebut hati Raisa dari Hamish. Mawar adalah wanita berwajah manis yang punya banyak temen. Sementara itu, temanku ini adalah pria pendiam yang menghabiskan hari-harinya bekerja, bekerja, dan bekerja dan kebanyakan temannya adalah orang-orang yang sudah berpacaran sepertiku. Singkat cerita, seperti kebanyakan cowok-cowok SMA yang sedang kasmaran, temanku ini mulai menunjukkan cintanya pada si mawar dengan melakukan hal-hal yang akan membuat Song Hye-Kyo terkesan. Di malam-malam tertentu, ia akan mengirimkan sebuah coklat beserta sekuntum bunga ke rumahnya, di lain hari ia akan mengiriminya meme meme lucu untuk menggombalinya, di hari-hari tertentu, ia akan mengajak Si Mawar untuk makan siang di kafe-kafe terbaru dan mentraktirnya makan. Dan setelah tiga bulan yang penuh kebimbangan dan ketidakpastian, temanku akhirnya memutuskan untuk menembak si Mawar. Dua hari…

Seperti kebanyakan cowok normal di dunia ini, aku paling benci jika seseorang mengajakku menonton film drama. Aku sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan film drama itu sendiri. Film itu memang dibuat sedramatis dan semelankolis mungkin untuk memainkan perasaan penontonnya, dan itu adalah sesuatu yang wajar. Para sutradara memang dibayar untuk itu.   Masalahnya adalah saat orang yang mengajakku  menonton film-film ini menggunakan film itu sebagai sebuah standar untuk mengukur kualitas hubungan mereka. Aku tidak tahan dengan mereka karena biasanya orang-orang ini mempunyai ekspektasi yang sangat tidak nyata dengan hubungan mereka. Dan ujung-ujungnya, setelah film itu selesai, kita biasanya akan berdebat tentang apa itu artinya sebuah hubungan yang bahagia. Aku akan berargumen bahwa tokoh-tokoh di film itu adalah orang-orang idiot, sementara temen nontonku akan berargumen bahwa pemeran utama di film itu adalah orang-orang romantis yang sangat memahami cinta. Sebuah argumen tidak penting yang bisa berlangsung berjam-jam. Aku melakukan semua itu karena…

Beberapa minggu terakhir kita sudah membahas berbagai hal tentang keterbukaan. Mulai dari penerimaan diri, bagaimana kita bisa hidup lebih terbuka, dan cara menanggapi penolakan. Namun, ada satu aspek dari keterbukaan yang masih belum kita bahas, yaitu, membangun batasan yang sehat. Kenapa membangun batasan ini penting di dalam sebuah hubungan? Jawabannya adalah karena sebuah hubungan yang sehat akan selalu mengizinkan kita untuk berkata “tidak.” Apa maksud semua ini? Mari kita telusuri makna kalimat itu lebih dalam… Batasan dan Menjadi Kesatria Berkuda Putih Saat aku bersekolah di Singapura dulu, aku pernah berteman baik dengan seorang perempuan Filipina yang bernama Pat. Ia memiliki wajah yang ayu, mata yang jernih, dan lesung pipi yang manis. Ia bukanlah perempuan paling cantik di sekolahku  dulu, tetapi ia adalah teman Singapura pertamaku. Dan bagi seorang murid Indonesia berumur 15 tahun yang bersekolah di negara asing untuk pertama kalinya, itu adalah segalanya… Seperti layaknya dua sahabat karib, kami…

Seperti yang aku bahas di artikelku sebelumnya, keterbukaan dan kejujuran adalah dua hal yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih menarik. Di artikel itu aku telah menjelaskan manfaat keterbukaan dan bagaimana keterbukaan akan membuatmu menjadi orang yang lebih menarik di mata orang lain. Jika kamu belum membaca artikel itu, aku menyarankanmu untuk membaca artikel itu terlebih dulu. Sudah? Mari kita lanjutkan bahasan kita tentang keterbukaan. Di artikelku yang sebelumnya, aku menuliskan bahwa membuka hati kita dan menunjukkan kejujuran kita tidaklah mudah. Jika kamu tidak biasa melakukan hal itu dan kamu adalah orang yang tertutup, membuka hatimu pada orang lain mungkin akan terasa seperti melepaskan celanamu di depan umum. Para atlet angkat besi mengalami sebuah fase yang disebut sebagai “masa-masa sakit” dan mereka menyadari di fase inilah justru otot-otot mereka mulai berkembang. Sama seperti itu, saat kamu mempraktikkan keterbukaan untuk pertama kalinya, kamu mungkin akan mengalami sakit hati, momen-momen canggung, dan…