Quantcast
Category

Love

Category

Empat tahun yang lalu, saat aku  masih kuliah di Singapura, aku pernah mengikuti sebuah klub pidato dan pengembangan diri yang menyebut diri mereka sendiri Toastmaster International. Di klub itu aku sempat menjabat sebagai Vice President of Public Relations, seseorang yang berperan untuk mempromosikan klub Toastmasterku dan mengunjungi klub-klub Toastmaster lain di Singapura untuk menjalin hubungan (ada sekitar 150 Toastmaster club lain di Singapura waktu itu). Suatu hari, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah klub Toastmaster di dekat apartemenku di Toa Pa yoh. Klub itu berada di sebuah Universitas swasta yang dipenuhi oleh murid-murid dari China dan Vietnam. Di situlah aku bertemu dengan dia untuk pertama kalinya…   Perempuan itu memiliki tubuh yang tinggi dan langsing, rambutnya hitam mengkilat seperti wanita-wanita di iklan Sunsilk, matanya bulat dan bersinar, bibirnya merah menggoda, tingkah lakunya se-anggun permaisuri-permaisuri di serial Putri Huan-Zhu, dan aku langsung menyukainya…   Di pertemuan itu, kami tidak sempat berbicara…

Percaya tidak percaya, langkah pertama untuk memulai sebuah hubungan yang bahagia bukanlah memperias wajah mu, mendaftar ke sebuah gym, atau bahkan belajar menari diantara tiang seperti orang India. Percaya tidak percaya, langkah pertama memulai sebuah hubungan yang bahagia adalah belajar untuk menerima dirimu sendiri… Ya, aku yakin banyak dari kita pasti sudah pernah mendengar nasihat itu di satu waktu kehidupan kita. Entah itu dari guru agama kita, orangtua kita, atau bahkan dari teman kita yang sedang mabuk dan tiba-tiba menjadi bijak… Namun, setiap kali kita mendengar nasihat itu, aku yakin kamu pasti akan bertanya pada dirimu sendiri. “Ya itu memang kedengarannya bagus sih… tapi sebenarnya apa sih artinya menerima diri sendiri?” Nasihat itu memang terdengar seperti nasihat-nasihat motivator botak berkacamata yang dulu sempat sering tampil di Metro TV… Nasihat-nasihat ambigu yang lebih mudah didengar daripada dipraktekkan… Well, itulah kenapa di post ini aku akan mencoba untuk menerangkan arti menerima diri…

Lemari es di rumah terlihat kosong. Kompartemen kedua yang biasanya diisi oleh telur, susu, dan keju terlihat kosong, bersih, dan rapi. Sinar oranye yang menyala dari dalam kulkas itu menerpa wajahku yang terlihat kusut dan menyedihkan. Aku sudah berdiri di depan lemari es berwarna hitam itu selama satu menit, dan entah kenapa, setiap kali aku melihat kompartemen kedua yang kosong itu, hatiku dilanda sebuah kepedihan yang tak bisa kujelaskan. Aku sedih karena kotak susu yang biasanya tersimpan rapi di dalam kompartemen kedua lemari es itu tidak ada di situ… Kejadian ini bukan disebabkan karena aku tidak mempunyai uang untuk membeli susu atau karena aku sedang terkena busung lapar. Kepedihan yang aku rasakan malam itu lebih bersifat rohaniah ketimbang jasmaniah; sebuah kepedihan yang seseorang rasakan saat ia menyadari sebuah kenyataan pahit yang tidak bisa ia hindari…Sebuah kenyataan penting yang banyak orang lupakan di dunia ini… ### Aku tidak bisa hidup tanpa…

Dua tahun yang lalu, ayah saya memulai sebuah bisnis baru bersama seorang sahabatnya. Di dalam persetujuan mereka, pria itu akan menginvestasikan sejumlah uang ke dalam perusahaan kami, dan saya diminta menjalankan bisnis itu bersama anak laki-lakinya. Ayah saya mengharapkan pengalaman ini akan menjadi sebuah pembelajaran untuk saya yang baru lulus dari Singapura waktu itu, namun, hal ini menyebabkan sebuah masalah besar. Saya tidak menyukai pekerjaan itu. Saya tidak tahu apakah itu adalah idealisme remaja saya atau saya terlalu mempercayai diri saya sendiri, namun, saya merasa bekerja di perusahaan ini adalah sesuatu yang salah. Saya merasa pekerjaan ini membosankan, tidak bernilai, dan membuang-buang waktu saya. Tidak heran jika saat itu saya dan ayah saya sering bertengkar karena hal-hal kecil. Seperti yang teman baik saya pernah katakan, keluarga seharusnya adalah harta pertama seseorang. Begitu kita lahir ke dunia ini, kita diberikan ayah, ibu, dan mungkin beberapa saudara. Mereka adalah orang-orang pertama yang…

Suatu hari di sebuah hutan belantara seekor singa sedang tertidur lelap, kepalanya tertunduk rapi di atas kedua telapak kakinya. Seekor tikus kecil yang ingin kembali ke rumahnya mendapati bahwa jalan menuju rumahnya telah tertutup oleh singa yang tertidur itu. Semua hewan di hutan itu memahami bahwa membangunkan si singa berarti mati. Tidak ada hewan yang berani mendekati singa yang tertidur. Dengan takut, tikus itu cepat-cepat melewati si singa, berharap untuk segera kabur dari tempat itu. Namun, karena terburu-buru, ia tidak sengaja menendang hidung singa itu dan membangunkannya. Terganggu dari tidurnya yang lelap, singa itu dengan marah menagkap tikus itu untuk membunuhnya. Terjebak di antara kuku singa itu, tikus itu mulai memohon. “Bebaskan aku,” katanya. “Bebaskan aku dan suatu hari nanti aku pasti akan bisa membantumu.” Si singa hanya tertawa kecil dan memakan tikus itu dengan lahap. Beberapa hari kemudian, saat si singa sedang berburu di hutan, singa itu tertangkap oleh…

Kita semua pasti menginginkan kehidupan yang lebih bermakna. Tidak penting apakah anda seorang anak SMA yang sedang sibuk belajar untuk Ujian Nasional atau seorang wirausahawan berumur 30 tahun yang sedang mencoba untuk membuat sebuah aplikasi handphone yang bisa mengubah dunia, kita semua menginginkan kehidupan yang lebih bermakna. Masalahnya, hanya segelintir orang di dunia ini yang berhasil menemukan sebuah makna di dalam kehidupan. Kebanyakan dari kita hidup di dalam kesengsaraan terpendam, memaksakan kaki kita untuk pergi ke kantor dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore untuk membangun kehidupan impian kita. Walaupun kehidupan kita jauh lebih baik daripada leluhur kita, kebanyakan dari kita tidak merasa lebih bahagia. Kita semua masih terbelenggu oleh kesengsaraan yang juga dirasakan leluhur kita ribuan tahun yang lalu. Kita mulai sadar bahwa segala kekayaan di dunia ini tidak akan pernah cukup, kebahagiaan adalah sebuah pencarian yang sepertinya tidak pernah berakhir, dan passion adalah sebuah ilusi yang sepertinya…

“Kesuksesan sejati adalah ketika kita membuat orang lain bahagia.” ― Helvy Tiana Rosa Pencarian akan arti kehidupan adalah satu hal penting yang harus dilakukan setiap orang di dunia ini. Bahkan pencarian ini jauh lebih penting daripada pencarian akan kebahagiaan pribadi yang banyak dianut anak-anak muda jaman sekarang. Orang yang menghabiskan waktunya untuk mengejar kebahagiaan pribadi akan kecewa. Seperti mengejar ketenaran atau harta, mengejar kebahagiaan pribadi adalah sebuah pencarian tak berakhir yang tidak akan menghasilkan apa-apa.    Meninggalkan Kebahagiaan Pribadi Jelas, kebahagiaan adalah sesuatu yang positif. Bergaul dengan orang yang bahagia jauh lebih menyenangkan daripada bergaul dengan orang yang muram. Namun, mementingkan kebahagiaan kita terus menerus membuat kita menjadi orang yang dangkal. Membahagiakan orang lain akan membuat hidup kita lebih bermakna, sedangkan menurut riset terbaru, membahagiakan diri sendiri akan membuat hidup kita terasa kosong dan tidak bermakna. Banyak ilmuwan masih bertanya-tanya mengapa mencari kebahagiaan pribadi bisa menyebabkan kekosongan ini. Beberapa…

“Tujuan hidup bukanlah untuk menjadi bahagia. Namun menjadi berguna, mulia, dan ramah, untuk membuat perubahan positif di dalam kehidupan orang lain.“ Ralph Waldo Emerson Kapan terakhir kali anda melakukan sesuatu untuk orang lain Jika anda seperti kebanyakan orang di dunia ini (termasuk saya sendiri), biasanya anda akan merasa kesulitan untuk menjawab pertanyaan mudah ini. Kebanyakan dari kita tidak melakukan sesuatu untuk orang lain, kita melakukan segala sesuatu karena alasan pribadi kita masing-masing. Jika anda bertanya pada diri anda sendiri mengapa anda melakukan sesuatu beberapa kali, anda akan menyadari bahwa kita melakukan apa yang kita lakukan karena tindakan itu akan membuat kita lebih bahagia. Hanya sedikit orang di dunia ini yang benar-benar hidup untuk orang lain. Jika anda tidak percaya, carilah sebuah foto keluarga lama dan anda akan menyadari bahwa wajah pertama yang akan anda cari adalah wajah anda sendiri. Anda tidak perlu malu akan hal ini karena manusia memang adalah…

“Persahabatan bukanlah sesuatu yang bisa anda pelajari di sekolah. Namun, jika anda belum mempelajari arti persahabatan di hidup ini, anda belum mempelajari apapun.” – Muhammad Ali. Buku “How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie puluhan tahun yang lalu adalah salah satu buku terbaik yang pernah ditulis tentang hubungan manusia. Buku ini telah menjadi buku panduan bagi banyak motivator, pemimpin agama dan pengusaha terkenal dalam cara mereka menjalin hubungan dengan orang lain. Namun, saya merasa bahwa buku ini melewatkan satu aspek paling penting dalam setiap hubungan manusia, yaitu karakter. Buku ini memang menawarkan beberapa soft-skills yang bisa langsung anda praktikkan untuk memperhalus hubungan anda dengan orang lain. Namun, buku ini sama sekali tidak membahas bagaimana cara mebangun karakter yang baik untuk mempertahankan hubungan-hubungan anda. Padahal menurut saya, karakter yang baik adalah pondasi dasar hubungan yang kokoh. Mempelajari teknik-teknik komunikasi yang dijabarkan buku ini tidak akan…

“Satu repetisi lagi! Itulah satu hal yang akan membedakan pemenang dan pecundang” – anonim Setelah mengevaluasi kehidupan saya beberapa tahun terakhir ini, saya baru menyadari berapa banyak waktu yang saya habiskan di gym. Saya adalah orang itu yang selalu anda lihat di gym dari hari Senin sampai Jumat. Melewati sebuah sesi gym adalah satu hal yang tabu bagi saya. Namun, saya tidak menjadi seorang gym-addict begitu saja. Diperlukan waktu yang lama dan proses yang cukup panjang sebelum saya mencintai olahraga ini. Saat saya pertama kali pergi ke gym, saya tidak menyukainya sama sekali. Jika bukan karena tim sales yang rajin mengajak saya masuk ke gym, saya tidak akan menginjakkan kaki saya ke gym. Minggu pertama saya di gym berakhir cukup mengenaskan. Minggu itu saya membatalkan 3 dari 4 appointment dengan pelatih saya, karena mengangkat beban begitu melelahkan dan menyakitkan. Life Buddy dan Satu Repetisi Lagi Namun, semua itu berubah setelah…