Quantcast
Live

Lampaui Batasanmu & Capai Lebih Banyak Dengan Strategi Death Ground

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Almarhum Steve Jobs memiliki sebuah kebiasaan yang sangat buruk waktu ia menjabat sebagai CEO Apple:

Ia sering membuat deadline ‘tidak mungkin’ yang membuat tim teknisinya tertekan, frustasi, dan hampir gila.

Contohnya, di tahun 2005, ia memberikan tim teknisinya waktu dua minggu untuk menciptakan sebuah “visi untuk software” IPhone pertama Apple. Ia mengancam bahwa ia akan memberikan tugas ini ke orang lain jika mereka tidak bisa menyelesaikan tugas tersebut dalam tenggat waktu yang sudah ia tetapkan. Walaupun teknisi-teknisi itu mengutuki Steve Jobs seperti seorang rapper dan bekerja seperti orang kesetanan, mereka berhasil melakukan yang tidak mungkin. Mereka menciptakan desain software Iphone pertama dalam waktu dua minggu…

Di bukunya 33 Strategies of War, Robert Greene menuliskan tentang sebuah fenomena yang disebut “death ground” – fenomena ini terjadi saat sebuah pasukan terdesak, tidak bisa lari, dan tidak punya pilihan lain selain memenangkan pertempuran. Pasukan-pasukan ini akan menjadi lebih kuat dan bahkan seringkali, tidak mungkin untuk dikalahkan. Sun Tzu berkata, “Saat sebuah pasukan berada dalam bahaya besar, mereka tidak mempunyai rasa takut. Saat mereka tidak mempunyai jalan keluar, mereka akan menjadi lebih kuat… saat mereka tidak mempunyai pilihan, mereka akan bertarung lebih hebat.”

Dan inilah kunci kesuksesan Steve Jobs di Apple. Ia memaksa staff-staffnya untuk memberikan yang terbaik, berinovasi, dan melampaui batas kemampuan mereka dengan menciptakan sebuah death ground, yang berbentuk deadline dan ekspektasi yang “tidak mungkin.”

Deadline-deadline inilah yang kemudian memacu teknisi-teknisi Apple melebarkan imajinasi mereka, berinovasi, dan melakukan sesuatu yang orang bilang tidak mungkin.

Deadline-deadline inilah yang membuat Apple menjadi salah satu perusahaan teknologi paling inovatif di dunia.

Jadi jika kamu ingin menjadi lebih inovatif dan sukses, cobalah untuk menciptakan “death ground” untukmu sendiri. Seperti Steve Jobs itu berarti mungkin memberikan dirimu sendiri deadline yang ‘tidak masuk akal’ atau membuat taruhan yang sepertinya tidak rasional atau bahkan membuang rencana-rencana cadanganmu.

Dengan menciptakan sebuah death ground, kamu akan menaruh dirimu sendiri dalam posisi ‘berjuang’ atau ‘mati.’ Dan tiba-tiba kamu akan menemukan kekuatan dan motivasi untuk melakukan sesuatu yang kamu rasa tidak mungkin: menulis sebuah novel dalam tiga bulan, menciptakan sebuah startup yang populer, dan menikahi gadis impian-mu…

Ingat, seringkali apa yang kita anggap sebagai tidak mungkin tidak lebih adalah batasan yang kita ciptakan di kepala kita sendiri. Batasan-batasan ini membatasi kinerja dan potensi kita yang sesungguhnya.

Di tahun 1940an, orang-orang percaya bahwa tubuh manusia tidak akan bisa melewati “The 4-minute mile.”: yaitu berlari 1609 meter dalam waktu kurang dari empat menit. Para ahli pun percaya bahwa melakukan hal ini tidak hanya berbahaya, tetapi juga tidak mungkin.

Namun, di tahun 1954, seorang pelari yang bernama Roger Bannister memecahkan batas itu, berlari 1609 meter dalam waktu 3 menit 59 detik.

Kurang lebih satu tahun setelah pencapaian Bannister, seorang pelari lain mulai melakukan hal yang sama. Lalu puluhan pelari lain mampu melakukannya. Sekarang, berlari 1609 meter dibawah empat menit telah menjadi sebuah rutin. Bahkan seorang anak SMP yang kuat bisa berlari 1609 meter dibawah 4 menit.

Pelajarannya sederhana: apa yang kita pikir sebagai batasan seringkali adalah sesuatu yang otak kita ciptakan sendiri, sebuah alasan untuk tidak melakukan lebih. Begitu kita tahu bahwa sesuatu bisa dilakukan, batasan-batasan tersebut akan hilang, dan ratusan atau bahkan ribuan orang lain akan mulai melakukan hal yang sama.

Hal inilah yang juga dicapai Apple dan Iphone mereka. Berapa banyak handphone Touchscreen yang mulai bermunculan setelah Iphone keluar? Sekarang, hampir semua handphone yang kamu lihat di toko elektronik memiliki sebuah touchscreen, memiliki kamera berkualitas, dan sensor jempol tangan. Apple telah mendobrak batasan teknologi dengan menaruhkan diri mereka sendiri ke dalam sebuah deathground- deadline yang mencekik dan ekspektasi yang tidak mungkin.

Kita pun bisa melakukan hal yang sama dengan kehidupan kita sendiri: buatlah komitmen-komitmen berbahaya, ciptakan tenggat waktu yang terasa tidak mungkin, harapkan lebih dari dirimu sendiri. Taruhlah dirimu sendiri dalam sebuah “deathground”

Dan aku yakin kamu akan mengejutkan dirimu sendiri…

 

Jika kamu menikmati artikel ini dan ingin mendapatkan post-post terbaruku lebih cepat, klik subscribe di bawah ini. Dengan melakukan itu, kamu juga akan mendapatkan Ebook gratis, rekomendasi buku di awal bulan, dan bonus artikel di akhir bulan. Jadi tunggu apa lagi?

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment