Quantcast
Live

Jadilah Pribadi yang Lebih Sukses Dengan Empati

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Neil Strauss, salah satu penulis yang tujuh bukunya masuk ke New York’s Time Bestseller List memiliki sebuah metode yang menarik untuk menyunting tulisannya. Seperti kebanyakan penulis lain, setelah Neil menyelesaikan draft pertamanya, ia akan segera menyunting tulisan itu; melihat apakah struktur buku itu sudah kuat, karakter-karakternya masuk akal, dan kata-kata yang ia gunakan sudah tepat.

Setelah proses penyuntingan pertama ini selesai, ia akan berhenti menyentuh buku itu selama satu atau dua bulan. Hal ini ia lakukan untuk mendapatkan jarak sehingga ia bisa melihat bukunya secara objektif. Setelah melakukan hal itu, ia kemudian akan memasuki tahap penyuntingan kedua, yaitu menyunting dengan persepsi pembaca di kepalanya. Ia akan memposisikan dirinya sendiri sebagai seorang pembaca setianya dan mulai memikirkan apakah buku itu sudah cukup menarik atau menyenangkan untuk dibaca.

Setelah proses penyuntingan kedua itu selesai dan Neil merasa ia telah berhasil membuat sebuah buku yang menarik dan menyenangkan untuk dibaca, ia akan berhenti untuk menyentuh buku itu selama satu atau dua bulan lagi. Setelah ia mendapatkan kembali keobjektifan-nya, ia akan mulai melakukan proses penyuntingan ketiga, yaitu menyunting bukunya dengan persepsi orang-orang yang membencinya dan buku-buku karyanya. Hal ini ia lakukan untuk memastikan setiap argumen, poin, dan pengalaman-pengalaman yang ia ceritakan masuk akal.

Menurut Neil, proses penyuntingan inilah yang membuat buku-bukunya masuk ke dalam New York’s Time Bestseller List. Ia berkata bahwa karier apapun yang kita pilih, empati adalah cara tercepat menuju kesuksesan. Saat kamu bisa memposisikan dirimu sebagai orang lain, melihat apa yang mereka lihat, dan merasakan apa yang mereka rasakan, kamu akan mampu memenuhi kebutuhan orang-orang lebih baik. Dan saat kamu bisa memenuhi kebutuhan orang-orang lebih baik, nilaimu di dunia ini juga akan menjadi lebih tinggi. Kamu akan dicari-cari, kehadiranmu akan dibutuhkan, dan kamu akan menjadi tak tergantikan. Karena pada akhirnya, dunia ini akan menilaimu dari kontribusi yang kamu berikan, bukan passion, tampang, atau hobimu…

Kekuatan Empati

Pernahkah kamu mengenal seseorang yang terus memberi, memberi, dan memberi, tetapi hal-hal yang ia berikan sepertinya tidak memenuhi kebutuhan apa-apa?

Ya, aku juga benci orang itu.

Kita bisa saja menyebutkan pemberian apa saja yang telah kita berikan ke orang-orang di sekitar kita, mendeskripsikan pengorbanan apa saja yang telah kita berikan. Tetapi pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pemberian-pemberian itu membuat kehidupan orang-orang yang menerima pemberian itu lebih bernilai?

Jika pemberianmu pada akhirnya tidak menambah nilai apa-apa di kehidupan seseorang, mungkin kamu lebih baik tidak memberikan pemberian itu pada awalnya.

Hal ini adalah nasib inovasi-inovasi baru yang gagal untuk memenuhi kebutuhan yang signifikan di dunia ini: sepatu ber AC, aplikasi yang mengetes kenikmatan ciumanmu, dan aplikasi pencukur elektronik yang tentunya tidak bisa mencukur kumismu…

Untuk menghindari kegagalan-kegagalan itu, kamu harus membangun empati dengan orang-orang yang ingin kamu jangkau. Cobalah praktikkan tiga strategi berikut untuk memastikan kontribusimu memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang-orang di sekitarmu:

  1. Hancurkan semua batas

    Di zaman ini, untuk menjangkau orang kamu harus mempunyai akses ke dalam kehidupan pribadi mereka- frustasi, aspirasi, dan bahkan kegalauan mereka. Untuk melakukan hal itu, kamu harus menghancurkan batasan-batasan yang menghalangimu dan orang-orang yang ingin kamu jangkau itu. Kamu ingin memahami jiwa mereka dan meresapi kesulitan mereka. Cara mereka melihat segala sesuatu menjadi caramu melihat segala sesuatu, dan saat kamu memasukkan hal-hal ini ke dalam karya/ produk/ jasamu, hal itu akan mempunyai jiwa yang sama dengan target pelangganmu.

    Hal ini membutuhkan pikiran yang terbuka dan keberanian. Dengan melakukan hal ini kamu telah memberi suara kepada ide dan keinginan orang. Karya/ produk/ jasa mu akan memikat hati orang-orang yang ingin kamu jangkau.
  2. Minta kritik dan saran

    Grup manapun biasanya akan menutup diri mereka sendiri dari dunia luar. Jauh lebih mudah untuk beroperasi seperti ini. Dari ketertutupan ini, orang-orang itu mulai berpikir bahwa mereka memahami bagaimana cara masyarakat berpikir- mereka membaca laporan, statistik, dan survei. Namun biasanya, informasi-informasi ini biasanya sangatlah terbatas. Informasi yang kamu dapatkan dari sebuah laporan dan interaksi langsung biasanya jauh berbeda.

    Kamu akan menemukan apa yang menjadi akar permasalahan keresahan mereka dan bagaimana produk/ jasa/ kontribusimu mempengaruhi kehidupan mereka. Masalah-masalah mereka menjadi nyata dan solusi-solusi yang kamu tawarkan menjadi lebih signifikan. Jadi carilah berbagai kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang telah kamu jangkau. Temukan bagaimana produk/ jasa/ kontribusi mu telah mempengaruhi kehidupan mereka.
  3. Lihatlah masyarakat sebagai cermin sosialmu

    Di dalam pikiran kita, kita biasanya membayangkan kita memiliki kekuatan dan keahlian spesial. Ego kita bisa membesar seenaknya. Namun, saat kita menciptakan sesuatu yang gagal untuk menciptakan sebuah dampak yang signifikan di kehidupan orang lain, kita mulai sadar bahwa kekuatan dan keahlian kita tidak seluar biasa itu. Reaksi kita dalam kasus ini biasanya adalah untuk menyalahkan masyarakat karena mereka kurang memahami karya kita. Kita mulai menutup diri kita dari orang luar dan hal ini biasanya hanya akan menciptakan kegagalan-kegagalan lain.

    Alih-alih menyalahkan orang-orang di sekitarmu karena reaksi dingin dan kritikkan mereka, anggaplah semua itu sebagai sebuah cermin yang menunjukkan keindahan/keburukan produk atau jasamu
    . Kamu melihat produk/ jasa/ kontribusimu dari dalam pikiranmu, sehingga kamu tidak melihat harapan dan ketakutan yang membungkus produk/ jasa/ kontribusimu. Orang luar terbebas dari semua perasaan itu, mereka dapat melihat produk/ jasa/ kontribusimu sebagai sebuah objek, apa adanya. Dengan kritikan mereka kamu bisa melihat produk/ jasa/ kontribusimu apa adanya dan membuatnya menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, seperti kata Neil, jika kamu ingin sukses di dunia ini, kamu harus mempunyai empati yang kuat. Dengan empati yang kuat, kamu akan menjadi lebih peka dengan kebutuhan orang-orang yang ada di sekitarmu. Dan saat kamu memahami itu semua, kamu akan bisa berkontribusi dan menciptakan solusi-solusi yang lebih efektif.

 

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dariku yang aku percayai akan merubah kehidupanmu dan satu atau dua bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?  

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment