Quantcast
Live

Satu Karakteristik yang Dimiliki Orang-Orang Tersukses di Dunia- Grit

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Demosthenes tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi pembicara terbaik di Athena, apalagi dalam sejarah. Ia terlahir sakit-sakitan dan ia memiliki kecacatan berbicara. Pada saat ia berumur tujuh tahun, ia kehilangan ayahnya. Dan di saat itulah kehidupannya menjadi semakin sulit.

Harta warisan yang ditinggalkan untuknya- yang seharusnya digunakan untuk membayar sekolah dan guru lesnya- dicuri oleh penjaga yang dipercaya untuk mengasuh dan melindunginya. Mereka tidak mau membiayai uang sekolah dan guru les Demosthenes. Masih lemah dan sakit-sakitan, Demosthenes juga tidak bisa sukses menjadi tentara.

Disinilah seorang anak yatim piatu, sakit-sakitan, sedikit aneh, dan tidak dipahami oleh orang lain hidup sebatang kara. Ia bukanlah seorang anak laki-laki yang lo pikir akan bisa menggerakkan sebuah negara hanya dengan kata-katanya.

Lahir cacat, ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya menjaganya; hampir semua kesalahan yang bisa terjadi di hidup seorang anak jatuh ke Demosthenes. Semua ini jelas tidak adil. Kebanyakan dari kita, jika berada di posisi itu, mungkin sudah menyerah. Namun tidak Demosthenes

Terbayang di kepalanya seorang sosok pembicara hebat, seorang pria yang pernah ia lihat berbicara di lapangan Athena. Sosok individual ini, yang terlihat tangguh dan kuat, telah berhasil mempesona masyarakat Athena, orang-orang mengikuti setiap kata-katanya selama berjam-jam- mengalahkan semua perlawanan dengan suara dan kekuatan idenya. Kata-katanya menginspirasi Demosthenes yang lemah, disia-siakan, dan ditinggalkan untuk berubah. Sosok pembicara kuat, percaya diri ini adalah kebalikannya.

Jadi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Untuk menguasai kecacatan bicaranya, ia menciptakan latihan berpidatonya sendiri. Ia akan mengisi mulutnya dengan batu-batu kecil dan berlatih berbicara. Ia melatih pidatonya di daerah-daerah berangin atau ia akan mencoba untuk berpidato sambil berlari menaiki tebing-tebing terjal. Ia belajar untuk memberikan sebuah pidato dengan sekali nafas saja. Dan pelan-pelan, suaranya yang lemah dan pelan berubah menjadi lebih kuat dan percaya diri.

Demosthenes mengunci dirinya sendiri di bawah tanah- di dalam sebuah ruangan yang ia gali sendiri untuk belajar dan berlatih pidato. Untuk memastikan bahwa ia tidak akan bersenang-senang di luar, ia memutuskan untuk membotaki setengah kepalanya sehingga ia akan merasa malu untuk berpergian kemana-mana. Dan dari titik itu, ia terus melatih suara, ekspresi wajah, dan kata-katanya setiap hari.

Saat ia pergi keluar, itu adalah untuk belajar lebih keras. Setiap saat, setiap pembicaraan, setiap transaksi, adalah sebuah kesempatan untuk mengembangkan keahliaannya. Semua ini ia lakukan untuk mencapai sebuah tujuan: untuk menghadapi musuh-musuhnya di pengadilan dan memenangkan hak yang seharusnya ia dapatkan dulu. Sesuatu yang akhirnya ia capai.

Saat Demosthenes sudah beranjak dewasa, ia akhirnya menuntut pengasuh-pengasuh tidak becus yang telah mencuri hak warisnya. Orang-orang itu berusaha untuk menghindari tuntutan tersebut dengan menyewa pengacara, namun Demosthenes terus menyerang mereka dan pengacara bayarannya. dengan kecerdasan dan kebijaksanan. Ia terus mencari celah-celah di dalam argumen mereka dan menyampaikan beberapa argumen untuk menuntut orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya. Merasa percaya pada kekuatannya sendiri dan didorong oleh tekad dan kerja keras, pengacara-pengacara itu bukan tandingan Demosthenes. Demosthenes menang.

Hak warisan yang ia menangkan hanya tersisa sedikit, namun uang sudah tidak lagi menjadi prioritas hidupnya. Reputasi Demosthenes sebagai seorang pembicara, keahliannya untuk memimpin masyarakat Athena, dan pengetahuannya dalam peraturan Yunani, jauh lebih berharga dari apapun yang tersisa dari warisan yang ia terima dari orang tuanya.

Setiap pidato yang ia berikan membuatnya menjadi lebih kuat, semakin sering ia berpidato, semakin ia menyukai kegiatan itu. Ia mulai bisa melihat orang apa adanya dan mengalahkan rasa takutnya. Dalam perjuangannya melawan nasib buruk, Demosthenes telah menemukan tujuan hidupnya: Ia akan menjadi Suara Athena, seorang pembicara yang hebat dan bermoral. Ia akan sukses karena apa yang telah ia alami dan bagaimana ia bereaksi terhadap pengalaman itu. Ia telah merubah kemarahan dan rasa sakitnya menjadi sebuah latihan, dan kemudian menjadikannya pidato-pidatonya sebagai ekspresi jiwa, menyalurkan semua itu dengan kekuatan dan semangat yang tidak bisa tertandingi.

Beberapa akademis pernah bertanya pada Demosthenes apa tiga watak paling penting yang harus dimiliki seorang pembicara. Kata-katanya mengatakan segalanya: “Aksi! Aksi! Aksi!”

Ya, Demosthenes memang kehilangan warisannya, dan itu adalah sebuah tragedi yang mengenaskan. Namun, dalam proses menghadapi masalah ini, ia mendapatkan sesuatu yang lebih baik- sesuatu yang tidak bisa diambil orang lain, yaitu:

Kepercayaan yang menyatakan bahwa ia bisa menghadapi masalah apapun yang muncul di depannya.

Sesuatu yang disebut Angela Duckworth sebagai “Grit…”

Demosthenes, Grit, dan Angela Duckworth

Angela Duckworth adalah seorang professor psikolog di Universitas Pennsylvania dan pendiri Character Lab, sebuah perusahaan nil laba yang bertujuan untuk menguak dan mengajari sains kesuksesan ke dunia. Di tahun 2016, ia menulis sebuah buku berjudul Grit dan di dalam buku itu, ia menuliskan bahwa apa yang membedakan orang yang sukses dan orang yang gagal bukanlah talenta, tetapi sebuah karakteristik yang ia sebut sebagai “Grit” atau dalam bahasa Indonesia, tekad.

Di buku itu, ia mendefinisikan grit sebagai kombinasi semangat dan kegigihan untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Setelah meneliti atlit tersukses di dunia, musisi papan atas, dan pengusaha-pengusaha terkenal, ia menemukan bahwa orang-orang yang memiliki grit memiliki empat hal berikut:

  • Passion

Ketertarikan adalah awal dari grit. Untuk melakukan sesuatu dengan baik, lo harus tertarik dengan aktivitas itu pada awalnya, seperti bagaimana Demosthenes menjadi tertarik dengan berpidato. Di dalam interviewnya, Angela Duckworth menemukan atlet, musisi, dan pengusaha kelas dunia mencintai apa yang mereka lakukan, atau paling tidak, mereka cukup tertarik untuk terus melakukannya setiap hari. Ketertarikan mungkin tidak akan menentukan karier masa depan lo, tapi semua diawali dari sana.

Seperti yang sudah gue tuliskan sebelumnya, lo tidak akan bisa menemukan passion lo dengan menuliskannya di atas secarik kertas atau bertapa di bawah air terjun tujuh warna. Lo harus mengambil tindakan untuk menemukan passion-passion lo dan bereksperimen untuk menentukan mana passion yang paling cocok untuk lo.

Itulah kenapa passion itu tidak ditemukan tetapi dibangun sedikit demi sedikit. Jika lo masih galau bagaimana sebaiknya lo membangun passion lo, gue sarankan lo untuk membaca artikel gue tentang melakukan sesuatu yang berarti, tiga rencana kehidupan, dan melakukan eksperimen hidup.

  • Berlatih dengan tujuan

Seperti Demosthenes, orang-orang yang bertekad kuat juga terus berusaha untuk menjadi lebih baik dan satu hal yang memebedakan mereka dari orang-orang biasa adalah cara mereka berlatih. Gue sudah membahas topik ini di post gue yang sebelumnya, jadi gue tidak akan membahasnya panjang lebar.

Pada dasarnya berlatih dengan tujuan berarti melakukan latihan serius dengan tujuan yang jelas. Satu aspek paling penting yang membedakan latihan ini dengan latihan-latihan biasa adalah pentingnya kritik dan saran dalam menjalani latihan-latihan ini

Berlatih dengan tujuan memang tidak mudah dan menyenangkan, itulah kenapa penting bagi lo untuk membangun rutinitas harian dan mencari seorang mentor.

  • Tujuan

Tujuan adalah sesuatu yang dimiliki semua orang-orang bertekad kuat. Hal ini bisa kita lihat dari cerita Demosthenes tadi. Motivasinya untuk menuntut pengasuh-pengasuhnya telah mendorongnya untuk menjadi pembicara profesional. Bahkan orang-orang yang melakukan pekerjaan egois seperti pencicip anggur memilikinya. Tanpa mengkaitkan apa yang kita lakukan dengan tujuan yang lebih besar (menjadikan dunia tempat yang lebih baik, berkontribusi, dll) kita tidak akan mempunyai motivasi yang cukup untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan dengan baik.

Di risetnya, Angela Duckworth menemukan murid-murid yang diberitahu bahwa belajar lebih keras akan membuat mereka bisa berkontribusi lebih banyak ke dunia akan membuat mereka lebih termotivasi untuk belajar.

Untuk membuat pekerjaan lo lebih bermakna, lo ingin memastikan pekerjaan lo selaras dengan nilai-nilai yang lo punya. Contohnya jika nilai lo adalah kontribusi, mungkin bekerja di sebuah perusahaan besi yang kotor yang tidak mementingkan kesejahteraan karyawan dan lingkungan sekitarnya bukanlah pilihan yang tepat untuk lo. Carilah pekerjaan yang cocok dengan nilai-nilai kehidupan lo.

  • Harapan

Terakhir, apa yang orang-orang bertekad kuat punyai yang membuat mereka berbeda dari jutaan manusia lain di dunia ini adalah harapan, harapan bahwa semua akan menjadi lebih baik.

Inilah satu faktor yang membuat Demosthenes menjadi salah satu pembicara terbaik di Athena. Inilah satu hal yang membuat Beatles menjadi salah satu band terbaik di dunia. Inilah yang membuat Sukarno berhasil menjadi presiden pertama di Indonesia.

Dimanapun kita berada, apapun situasi yang kita hadapi sekarang, kita harus percaya bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk merubah situasi kita saat ini.

Ya, menjaga harapan memang bukanlah sebuah tugas yang mudah. Itulah kenapa Angela Duckworth mendorong kita untuk mempunyai seorang teman/ pasangan/ selingkuhan (eh?) untuk membantu kita melewati masa-masa sulit. Inilah kenapa Batman mempunyai Robin, Spiderman membutuhkan Tony Stark, dan Luke Skywalker membutuhkan Yoda…

Grit memang tidak akan membuat kesuksesan menjadi lebih mudah. Jalan menuju kesuksesan memanglah panjang, berliku-liku, dan berlubang-lubang. Namun, tekad yang kuat akan memastikan lo akan menyelesaikan perjalanan itu, dengan penerimaan, rasa syukur, dan mungkin, sebuah senyuman. Dan seperti Demosthenes, lo tidak akan pernah tahu kemana tekad itu akan membawa lo. Siapa yang akan berpikir, seorang anak yatim piatu yang sakit-sakitkan dan gagap berbicara akan menjadi pembicara paling terkenal di Athena? Seseorang yang bisa menggerakkan negaranya dengan suaranya?

Tidak ada, jadi jangan ragukan diri lo sendiri.

 

Jika lo menemukan artikel ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaru gue lebih cepat, cantumkan Email lo dibawah ini dan klik subscribe. Dengan melakukan hal itu, lo akan mendapatkan Ebook tentang cinta, artikel bonus, dan rekomendasi buku setiap bulannya.

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment