Quantcast
Live

Jangan Kejar Mimpi mu Sampai Kamu Sudah Memahami Hal Ini

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sekitar satu tahun yang lalu, aku dan pacarku sempat pergi ke Jakarta untuk menghadiri sebuah konser musik. Di perjalanan kami ke Semarang, kami tidak sengaja bertemu dengan salah satu nasabah pacarku. Pria itu adalah seorang pengusaha travo yang ternyata cukup terkenal di Semarang.

Singkat cerita, aku pun berkenalan dengan pria itu dan mulai berbasa basi tentang cuaca yang tidak menentu, kondisi ekonomi tahun 2018, dan berbagai hal lain. Saat aku berencana untuk mengakhiri pembicaraan itu dan pergi tidur, pria itu mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Ia berkata kurang lebih seperti ini:

“Kamu cuma akan hidup di dunia ini sekali. Jadi pastikan kamu melakukan apa yang kamu cintai, mengejar passion kamu, dan mengerjakan sesuatu yang menarik. Karena jika kamu tidak tertarik dengan pekerjaanmu, kamu tidak akan kalah bersaing dengan orang-orang yang mencintai pekerjaan mereka.”

Hatiku ingin melompat dan meneriakkan “amin” saat aku mendengar kata-kata itu. Namun, logikaku mengetahui bahwa melakukan sesuatu yang kita cintai tidaklah sesederhana itu. Dan inilah yang membuatku tidak bisa tidur malam itu, pikiranku terus bertanya-tanya apakah aku melewatkan sesuatu? Apakah aku sudah tidak percaya lagi dengan melakukan apa yang aku cintai? Apa yang membuat aku tidak percaya lagi?

Dan jauh di lubuk hatiku, aku sudah tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Terutama pertanyaan: “Apa yang membuatku tidak percaya lagi?”

###

Beberapa tahun yang lalu, aku sempat memulai sebuah perusahaan online marketing yang menawarkan jasa social media management dan web design solution bersama seorang teman.

Waktu itu aku merasa bahwa pekerjaan ini adalah panggilanku dan aku merasa bahwa bisnis-bisnis Semarang sudah mulai merasakan kebutuhan untuk go digital.

Aku pun menginvestasikan uang tabunganku, keluar dari perusahaan keluargaku… dan kembali ke perusahaan keluargaku enam bulan kemudian dengan hati yang kecewa dan pikiran yang tertekan.

Singkat cerita, kita gagal. Walaupun kita tidak kehilangan uang, tetapi kita juga tidak mendapatkan cukup laba untuk mengembangkan bisnis kita. Aku waktu itu masih belum mempunyai cukup pengalaman untuk menjalankan sebuah Agency, sehingga kami sering menghabiskan waktu kita melakukan pekerjaan yang tidak menguntungkan dan aku juga menemukan bahwa orang-orang Jawa Tengah sepertinya masih belum siap dengan teknologi Online Marketing, sehingga kami mengalami kesulitan menemukan pelanggan yang tetap. Dan parahnya, aku menemukan bahwa ternyata pekerjaan impianku ternyata tidak seindah bayanganku. Saat aku sedang dikejar deadline, aku terkadang harus melembur sampai jam 12 malam untuk menyelesaikan masalah-masalah teknis kecil yang menghabiskan banyak waktu.

Setelah aku dan temanku memutuskan untuk mengakhiri bisnis itu, aku belajar bahwa melakukan apa yang kita cintai dan dibayar untuk melakukan apa yang kita cintai adalah dua hal yang berbeda. Yang satu hanya membutuhkan semangat dan passion, yang satu lagi membutuhkan pengalaman, keahlian, kemampuan untuk membaca dan memenuhi kebutuhan pasar.

Melakukan apa yang kamu cintai mungkin akan memberimu kepuasan, namun, itu belum tentu akan memberimu kekayaan, atau bahkan kenyamanan.

Dibayar untuk melakukan apa yang kamu cintai mengharuskanmu untuk menguasai beberapa keahlian, memenuhi sebuah kebutuhan,  dan sedikit keberuntungan.

Tanpa tiga hal tersebut, kamu tidak akan berhasil dan kalaupun kamu berhasil, kemungkinan besar kamu akan mengalami kesulitan untuk mengulangi kesuksesan tersebut. Semangat, passion, dan mimpi tanpa keahlian dan kemampuan untuk membaca pasar adalah seperti narkoba. Hal-hal itu akan membuatmu merasa seperti kamu bisa melakukan apapun. Namun, karena perasaan-perasaan itu tidak didasari oleh kenyataan, kemungkinan besar kamu akan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali di kemudian hari.

Seperti yang pernah aku tuliskan sebelumya, melakukan sesuatu yang kita cintai membutuhkan sebuah proses. Dan hal ini terkadang mengharuskanmu untuk membuat rencana jangka panjang sehingga kamu bisa mencapai pekerjaan mimpi-mu. Mungkin itu berarti terus bekerja di pekerjaan lamamu sampai kamu bisa menghasilkan uang dari pekerjaan sampingan yang kamu cintai. Ini mungkin berarti menerima kenyataan bahwa kamu masih belum mempunyai kompetensi yang cukup untuk memulai sebuah bisnis dan bekerja dibawah orang lain untuk mencari pengalaman.

Ya apa yang nasabah pacarku katakan di pesawat itu benar. Kita harus menemukan apa yang kita cintai dan menyalurkan ketertarikan itu ke sebuah pekerjaan. Namun, apa yang banyak orang lupakan (termasuk nasabah pacarku) adalah bahwa menemukan pekerjaan impian kita, melakukan apa yang kita cintai membutuhkan sebuah proses.

Jadi, jangan terlalu cepat untuk mengejar mimpi-mu. Sadari kekuatan dan keterbatasanmu saat ini. Bangun keahlian yang dibutuhkan. Carilah sebuah pasar yang menguntungkan. Bersabarlah, dan buatlah rencana.

Semua orang bisa dengan mudah berkata bahwa mereka mempunyai mimpi untuk menjadi seorang pelukis, penyanyi, atau artis. Namun, tidak banyak orang yang bisa menjadikan mimpi itu menjadi kenyataan. Apa yang banyak orang sering lupakan adalah bahwa diantara keinginan dan pencapaian, ada usaha, investasi dan pengorbanan yang harus kita lakukan.

Pertanyaannya adalah, apakah kamu sudah memahami hal ini?

 

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dari aku yang aku percayai akan merubah kehidupanmu, ebook terbaruku Threesome: Tiga Kebenaran Tidak Nyaman Tentang Kehidupan, dan satu bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment