Quantcast
Love

Tips Menemukan Pasangan Hidup- Jangan Terlalu Serius Memilih Pacar…

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Aku pernah mempunyai seorang teman yang bisa dibilang memiliki tampang yang cukup oke, hati yang baik, dan karier yang sangat mapan. Umurnya sudah mendekati 30 dan entah kenapa, setiap kali ia mendekati seseorang, usaha PDKT itu tidak pernah berhasil.

Ia bukannya ditolak, tetapi ia selalu merasa tidak yakin bahwa wanita yang ia dekati adalah jodohnya. Selang beberapa bulan kemudian, biasanya wanita-wanita yang ia dekati akan mulai berpacaran dengan orang lain, sementara ia meratapi kejombloannya lagi. Ia selalu berkata bahwa ia memang menginginkan sebuah hubungan yang serius, sebuah hubungan yang akan berakhir ke sebuah pernikahan. Jadi ia tidak mau salah memilih. Ia berkata bahwa ia tidak mau menyesal di kemudian hari. Ia melihat proses pencarian jodoh seperti sebuah pernikahan, sebuah hubungan yang hanya bisa dipatahkan oleh maut…

Aku yakin beberapa dari kita pasti pernah memiliki pengalaman yang sama. Kita menginginkan hubungan yang serius, jadi kita menjadi lebih berhati-hati untuk memilih jodoh kita. Setiap kali kita pergi berkencan, kita mencoba untuk mengenal orang itu lebih dalam, mencoba melihat apakah orang itu bisa cocok dengan kita, dan seperti seorang cenayang, mencoba membayangkan masa depan seperti apa yang akan kita punyai dengan orang itu.

Namun, semakin banyak kita berpikir dan mengenal mereka, semakin kita ragu. Pertanyaan seperti “Apakah ini orang yang tepat untukku?” terus terngiang-ngiang di kepala kita. Kita menjadi semakin bingung dan akhirnya, karena kita sibuk galau sendiri, orang itu akhirnya berpacaran dengan orang lain, meninggalkan kita sendirian merana di rumah, memberi makan pacar imajinasi kita…


Jangan Terlalu Serius Mencari Pacar

Tentu berpacaran dengan orang yang salah hanya akan membuang-buang waktumu. Namun, beberapa dari kita (seperti aku dulu, dan temanku tadi) sering kali menganggap berpacaran terlalu serius.

Beberapa dari kita merasa bahwa kita harus menikahi pacar kita. Jadi saat kita mencari pacar, kita tidak hanya mencari seorang pacar, tetapi juga seorang istri/suami/sahabat sejati/asisten rumah tangga/ATM/suster. Walaupun, maksudnya baik, tetapi pola pikir ini sering kali membuat kita melewatkan orang-orang luar biasa yang berpotensi untuk menjadi pasangan hidup kita. Saat kita berpikir bahwa orang yang kita pacari harus kita nikahi, tekanan untuk mencari pacar yang tepat menjadi lebih tinggi.

Padahal, jika dipikir secara logika, berpacaran tidak lebih adalah sebuah cara untuk menentukan kecocokkanmu dan pacarmu. Kamu ingin melihat sifat dan karakter pacarmu. Kamu ingin mengatahui bagaimana rasanya berhubungan dengan orang itu. Ya, mungkin suatu hari nanti kamu mau menikahi pacarmu. Tetapi, menurutku, itu bukanlah tujuan utama kenapa kamu ingin berpacaran. Berpacaran tidak lebih adalah sebuah cara untuk melihat seberapa cocok kamu dan pacarmu berhubungan sebagai sebuah pasangan.  

Kita tidak akan pernah bisa mengetahui seberapa cocok kita dengan seseorang sampai kita mulai berpacaran. Seberapa dalam hubunganmu dengan orang itu sebelum berpacaran tidak akan merubah hal ini. Berhubungan dengan seseorang sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang pacar adalah dua hal yang berbeda.

Kamu tidak akan tahu apakah seseorang cukup baik untuk menjadi pasanganmu sampai kamu mulai berhubungan dengannya. Itulah kenapa menurutku kamu tidak perlu seserius itu mencari pacar, mencoba menebak seberapa cocok kamu dan pasanganmu sebagai sebuah pasangan karena kamu tidak akan pernah mengetahui kebiasaan buruk, temperamen, dan karakter orang itu sampai kamu mulai berpacaran dengannya.

Tentu ini juga bukan berarti memacari semua orang yang kamu temui seperti anjing di musim kawin. Kamu mungkin mau berhati-hati dengan seseorang yang menghabiskan hari-harinya melinting ganja dan mabuk-mabukkan bersama teman-temannya. Kamu mungkin mau berhati-hati dengan seseorang yang hanya mempedulikan kekayaanmu. Kamu mungkin mau berhati-hati dengan seseorang yang berani untuk memarahi ayah dan ibunya. Mencari pasangan yang tepat memang membutuhkan logika dan objektivitas.

Poin esai ini adalah untuk menyadari bahwa seperti membuat keputusan-keputusan lain di dunia ini, menemukan pasangan yang cocok memang membutuhkan proses, waktu, dan terkadang sedikit uji coba. Kamu tidak akan menemukan pasangan yang cocok dengan dua atau tiga kali kencan. Kecocokan dan kepercayaan terkadang adalah sesuatu yang harus dibangun pelan-pelan dalam kurun waktu beberapa tahun. Dan terkadang itu berarti kamu harus melewati proses berpacaran untuk memastikan apakah dia adalah orang yang tepat.

Jadi, lain kali kamu merasa galau apakah sebaiknya kamu berpacaran dengan seseorang atau tidak karena kamu takut dia bukanlah tipe orang yang cocok dinikahi, tanyalah pertanyaan ini:

Kenapa tidak?

Toh kamu tidak perlu menandatangani surat nikah dan memanggil seorang pengacara untuk memutuskan pacarmu.

Toh cinta memang beresiko… 

 

Jika kamu menikmati artikel ini dan ingin mendapatkan post-post terbaruku lebih cepat, klik subscribe di bawah ini. Dengan melakukan itu, kamu juga akan memdapatkan Ebook gratis, rekomendasi buku di awal bulan, dan bonus artikel di akhir bulan. Jadi tunggu apa lagi?

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment