Quantcast
Love

Satu Kebenaran Cinta yang Sering Terlupakan: Cinta Adalah Risiko

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Aku mengakhiri post minggu lalu dengan menuliskan bahwa tidak semua cerita cinta akan berakhir bahagia dan itu adalah sesuatu yang sangat normal. Sebagai manusia kita akan bertemu dengan orang-orang yang akan langsung menyukai kita, orang-orang yang bersifat acuh tak acuh dengan kita, dan orang-orang yang akan langsung terdorong untuk menampar muka kita begitu mereka melihat kita.

Pada dasarnya, ini semua disebabkan karena memulai sebuah hubungan, entah itu adalah hubungan cinta, bisnis, dan selingkuhan (eh?) adalah sebuah risiko…

Cinta memang bisa membuatmu menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, tapi di saat yang sama, cinta juga bisa membuatmu menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini.

Cinta memang bisa membuatmu merasa seperti orang paling kaya di dunia ini, tetapi di saat yang sama, cinta juga bisa membuatmu merasa seperti orang paling miskin di dunia ini.

Cinta memang bisa membuat hidupmu terasa penuh dan berwarna, tetapi cinta juga bisa menyebabkan hidupmu terasa kosong dan hampa.

Cinta adalah risiko, dan seperti berbagai risiko lain di dunia ini, cinta terkadang memang menyakitkan.

Aku tahu, aku tahu, kalimat itu terdengar sederhana dan sangat mudah dipahami sampai aku enggan untuk menuliskan kalimat tadi. Namun, melihat jumlah teman-teman dan pembaca-pembacaku yang menanyakan bagaimana mereka sebaiknya menyatakan perasaan mereka kepada orang yang mereka cintai, aku merasa bahwa mereka belum menyadari hal ini.

Mereka sepertinya melupakan bahwa cinta adalah sebuah risiko. Sesuatu yang terkadang terasa menyakitkan dan membuat kita ingin melompat dari gedung sepuluh lantai…

Sebuah Cerita Cinta

Waktu aku kuliah di Singapura dulu, aku pernah jatuh cinta dengan seorang wanita bernama Clara (bukan nama sebenarnya). Dia adalah seorang wanita berwajah manis dan bertubuh ramping. Setiap kali dia tersenyum, aku akan salah tingkah: menumpahkan air minumanku, menabrakkan jempol kakiku ke kaki meja, dan menggaruk-garuk lenganku yang tidak gatal.

Aku dan Clara sering bermain bersama. Kami tinggal di satu rumah kos-kosan dan kami sering menghabiskan malam minggu kami berjalan-jalan di mal, menonton bioskop, dan bermain badminton bersama anak-anak kos yang lain.

Dan seperti kebanyakan kisah cinta yang sering kalian tonton di layar kaca, kami mulai menjadi lebih dekat. Kami mulai sering jalan berduaan, pergi ke bar-bar dengan musik romantis, dan bertukar berbagai kisah masa lalu.

Lambat laun, aku menjadi lebih agresif dalam menunjukkan cintaku dan aku juga bisa melihat bahwa Clara sepertinya juga mulai menyimpan perasaan yang sama.

Maka, satu minggu setelah liburan musim panas sekolahku dimulai, dan Clara akhirnya kembali dari liburan pendeknya, aku akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku.

Di satu malam yang bertebaran bintang, aku menatap matanya yang berbinar-binar dan berkata bahwa sebenarnya aku telah mencintainya selama ini. Dengan mantap aku kemudian bertanya apakah ia mau menjadi pacarku.

Sebuah pertanyaan yang dijawab dengan sebuah pernyataan pahit yang berbunyi kurang lebih seperti ini:

Sori ya, aku baru balikan sama mantanku satu minggu yang lalu…

Kampret…

Singkat cerita kejadian itu merubah persepsiku tentang cinta. Aku menjadi lebih berhati-hati dengan cinta. Aku belajar untuk tidak baper dan membedakan indikasi-indikasi ketertarikan dari Keramahan. Aku mulai melihat cinta sebagai sebuah permainan yang harus aku menangkan dengan memastikan gebetanku berinvestasi lebih banyak di dalam hubungan itu daripada aku sendiri. Aku mulai memahami kenapa orang-orang menyamakan cinta dengan permainan Poker.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai bertemu dengan wanita-wanita lain dan mulai berpacaran lagi. Tapi anehnya, hubungan-hubungan itu tidak pernah bertahan lama. Entah kenapa, hubungan-hubungan itu terasa flat dan monotone. Keseruan dan gairah yang aku rasakan waktu aku mencoba untuk memenangkan hati wanita-wanita itu hilang begitu aku mulai berpacaran dengan mereka.

Dan setelah hubungan ketigaku berakhir, aku akhirnya sadar bahwa cinta yang sesungguhnya hanya akan lahir saat dua orang di dalam hubungan itu berani untuk membuka hati mereka dan berinteraksi secara jujur. Tanpa permainan dan tanpa pretensi.

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, melakukan dua hal ini memang bisa berakhir menyakitkan. Kamu bisa dibohongi, dikhianati, dan bahkan diselingkuhi karena kejujuranmu. Tetapi tanpa membuka perasaan kita kepada orang lain dan berinteraksi secara jujur, kita tidak akan bisa membangun hubungan yang dalam dengan seseorang. Cinta pada dasarnya adalah sebuah risiko.

C.S. Lewis pernah berkata,

“Tidak ada investasi yang aman. Untuk mencintai, seseorang harus membuka hatinya pada orang lain. Cintailah apapun, dan hati Anda pasti akan remuk atau mungkin hancur. Jika Anda ingin memastikan hati anda utuh, Anda tidak boleh memberikan hati Anda kepada siapapun, bahkan untuk hewan peliharaan Anda sekalipun. Bungkus hati anda dengan hati-hati, lalu penuhi hari-hari Anda dengan hobi dan kemewahan-kemewahan kecil; menghindari semua hubungan yang ada; mengunci  hati anda di dalam sebuah peti mati dan menguburnya dengan keegoisan Anda Tapi dalam peti mati yang aman, gelap, dan pengap itu-hati anda akan berubah. Hati anda tidak akan rusak, tidak bisa dipecahkan, tak tertembus, dan tidak bisa diperbaiki. Untuk mencintai adalah untuk membuka hati Anda terhadap kebahagiaan dan kesedihan… ”

Ketahuilah bahwa segala tindakan yang kamu lakukan di dunia ini mengandung sebuah risiko. Saat kamu memulai sebuah bisnis baru, kamu mengambil risiko untuk gagal. Saat kamu memainkan sebuah game, kamu mengambil sebuah risiko untuk kalah. Dan saat kamu mencintai seseorang, kamu mengambil risiko untuk patah hati…

Semakin cepat kamu bisa berdamai dengan risiko-risiko ini dan menerimanya dengan lapang dada, semakin cepat kamu akan menemukan kebahagiaan di dunia ini.

Dan kunci untuk berdamai dengan risiko-risiko itu adalah menganggap segala sesuatu yang terjadi di kehidupanmu sebagai hadiah kehidupan…


Hadiah Kehidupan

Salah satu penulis favoritku, Robert Glover pernah berkata, “Apa yang terjadi jika kita melihat segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sebagai hadiah?”

Menurutnya, setiap kegagalan, penolakan, dan patah hati pasti akan mengajari kita sesuatu. Dan itu adalah tugas kita untuk menggali pelajaran itu dan memastikan bahwa pengalaman-pengalaman itu tidak merubah kita menjadi orang yang pahit.

Jadi lain kali kamu ditolak, patah hati, jatuh, dan gagal, tanyalah pertanyaan ini pada dirimu sendiri:

“Bagaimana jika pengalaman ini adalah sebuah hadiah kehidupan?”

Dan pelan-pelan kau akan menyadari seberapa indahnya dunia ini…

 

Jika kamu menemukan artikel ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaruku lebih cepat, cantumkan Emailmu  dibawah ini dan klik subscribe. Dengan melakukan hal itu, kamu akan mendapatkan Ebook tentang cinta, artikel bonus, dan rekomendasi buku setiap bulannya.

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment