Quantcast
Live

Bagaimana Keberuntungan Mempengaruhi Kesuksesanmu

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Setelah membaca beberapa post tentang menemukan passion, membangun beberapa keahlian, dan memenuhi sebuah kebutuhan dunia, mungkin kamu berpikir bahwa sekarang kamu mempunyai sebuah resep baku untuk menjadi orang yang sukses.

Namun, seperti segala hal di dunia ini, kesuksesan tidaklah sesederhana itu. Beberapa bulan yang lalu, aku menuliskan bahwa menemukan passion, membangun keahlian, dan memenuhi sebuah kebutuhan di dunia ini akan membantumu mencari nafkah dengan melakukan apa yang kamu cintai. Tetapi, hal itu tidak akan menjamin kekayaan, popularitas, status, dan ya, kesuksesan; karena suka tidak suka, keberuntungan cukup berperan besar dalam kesuksesan seseorang.

Peran Keberuntungan

Saat kita membaca sebuah buku atau post-post pengembangan diri seperti ini, kita biasanya akan menemukan berbagai perkataan seperti “nasib kita ada di tangan kita sendiri” atau “kehidupan kita adalah 100% tanggung jawab kita” atau yang paling keren “tindakan kita bisa mengubah nasib kita.”

Walaupun kata-kata ini terdengar indah dan menggugah jiwa; aku yakin cepat atau lambat, kamu akan menemukan bahwa kata-kata ini tidak mencerminkan kenyataan dunia.

Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang berada dibawah kendali kita: apa yang kita lakukan setiap pagi, pekerjaan kita, dan teman-teman kita; tu semua berada di bawah kendali kita. Dengan sedikit tekad dan keberanian, kita bisa merubahnya dengan mudah. Namun, kenyataannya, kebanyakan hal di dunia ini: kondisi ekonomi dunia, perubahan peraturan pemerintah, perubahan pasar, dan bencana alam, itu semua berada di luar kendali kita. Dan hal-hal yang berada di luar kendali kita ini bisa disingkat menjadi satu kata yang sederhana yaitu: keberuntungan.

Seorang penyanyi bisa saja mempunyai suara yang indah, memiliki disiplin tinggi untuk berlatih dengan keras, rajin melakukan tur keliling, dan menciptakan beberapa album. Namun, tanpa keberuntungan, apapun yang ia lakukan tidak akan membuatnya menjadi seorang Raisa atau seorang Afgan selanjutnya.

Di tempat lain, seorang penyanyi beruntung yang memiliki suara biasa-biasa saja, berlatih tiga kali seminggu, menyanyi di bar setiap akhir pekan, dan membuat beberapa cover video di Youtube mungkin malah sudah menandatangani sebuah kontrak dengan sebuah record label dan sudah memiliki jadwal untuk bernyanyi bersama Afgan dua bulan lagi.

Terkadang passion, kerja keras, keahlian, dan empati tidak cukup untuk menjadi orang yang sukses. Dunia ini tidak pernah beroperasi dalam sistem meritokrasi yang sederhana, dan sepertinya, sistem itu juga tidak akan pernah berubah.

Di bukunya Outliers, Malcolm Gladwell mengilustrasikan poin ini dengan baik. Di salah satu studi kasus yang ia muat di buku tersebut, ia menjelaskan tentang manfaat-manfaat tersembunyi yang didapatkan pemain Hoki profesional Kanada yang lahir di awal tahun. Di Kanada, tanggal pemotongan terakhir untuk mendaftar ke liga Hoki Junior adalah 1 Januari. Jadi seorang anak yang berulang tahun ke 10 di tanggal 2 Januari bisa bermain bersama seseorang yang tidak akan menjadi 10 tahun sampai akhir tahun. Di umur-umur itu, lo bisa melihat kedewasaan fisik yang anak itu miliki dengan jelas dan dari sini lo bisa menebak kira-kira anak mana yang akan direkrut tim-tim hoki terbaik di Kanada dan mendapatkan perhatian lebih dari pelatih-pelatih mereka.

Begitu mereka masuk ke tim profesional, anak yang lahir di tanggal Januari 2 itu akan berlatih lebih banyak, mendapatkan panduan lebih baik, dan bertanding dengan musuh-musuh yang lebih kuat- sehingga begitu ia berumur 14 tahun, ia tidak hanya lebih tua dari anak-anak yang lahir di tanggal 30 Desember, ia akan menjadi jauh lebih baik dari mereka.

Ya dalam derajat tertentu, keberuntungan cukup berperan besar dalam menentukan kesuksesan seseorang. Dimana dan kapan kita lahir bisa menentukan seberapa cerah masa depan kita nanti. Namun, seperti kata-kataku tadi tadi, kita tidak akan pernah bisa mengendalikan keberuntungan kita. Mencoba mengendalikan keberuntungan sama saja dengan mencoba untuk memelintir tangan Tuhan. Itu tidak mungkin bisa kita lakukan.

Ya, kita mungkin memang tidak akan pernah bisa mengendalikan keberuntungan, tetapi kita semua bisa mengundang keberuntungan dengan memberikan yang terbaik dan bekerja keras.

Ayahku pernah berkata, “Tidak semua orang di dunia ini akan lahir beruntung, tetapi semakin banyak seseorang bekerja, semakin banyak keberuntungan yang kamu akan dapatkan.”

Keberuntungan bukanlah sebuah kecelakaan. Ayahku hanya mengulangi kata-kata terkenal nenek moyang kita: “Semakin banyak kita bekerja, semakin keras kita berusaha, semakin anda akan beruntung.”

Namun, bukankah itu menakutkan? Seseorang bisa saja melakukan segala sesuatu dengan benar: rajin bekerja, tidak bermain politik, dan mencintai pekerjaannya, tetapi sukses masih melewatinya. Atau kesuksesan itu baru akan datang setelah tahun demi tahun yang mengecewakan dan satu faktor yang menentukan semua ini hanyalah… keberuntungan?!

Kesuksesan Kecil

Waktu aku masih berumur 14 tahun, aku pernah mengikuti les menggambar di sebuah sanggar seni kecil di Semarang. Guru menggambarku adalah seorang pria berumur 30an tahun yang suka komik Jepang dan bermimpi untuk menjadi seorang komikus suatu hari. Dari caranya berbicara, aku bisa melihat bahwa ia sangat mencintai apa yang ia lakukan. Dan pelajaran demi pelajaran, ia tidak pernah gagal untuk mengajari aku dan beberapa anak lainnya beberapa tips untuk menggambar lebih baik.

Aku masih ingat satu kali waktu kami berkumpul-kumpul setelah jam pelajaran dan mengobrol berbagai hal tentang komik, tren terbaru, dan kehidupan. Salah satu temanku bertanya, “Pak aku suka menggambar komik…” katanya. “Tapi apakah aku bisa menjadi orang yang sukses dengan menggambar?”

Mendengar pertanyaan itu, guruku terdiam sejenak lalu tersenyum. Ia lalu berkata, “Tidak ada yang pasti di dunia ini. Bahkan saat kamu melakukan apa yang kamu cintai sekalipun, hal itu belum tentu akan membawamu menuju kesuksesan yang kamu inginkan.”

Aku dan anak itu melihat satu sama lain, bingung kemana sang guru akan membawa arah pembicaraan ini. Menyadari kebingungan kami, lalu guru gue berkata,

“Namun, jika kamu bekerja keras, fokus untuk melakukan segala sesuatu dengan benar, kamu pasti paling tidak akan mendapatkan sedikit kesuksesan…:”

Baru-baru ini aku baru sadar bahwa guruku sedang mendeskripsikan kehidupannya. Terakhir kali aku bertemu dengannya, ia masih berusaha untuk menerbitkan komiknya, membagikannya secara cuma-cuma di internet, berharap untuk mendapatkan perhatian seorang penerbit, dan bekerja sebagai guru menggambar untuk mencari nafkah.

Ia memang tidak bisa dibilang sebagai seorang komikus sukses, tetapi aku tidak ragu bahwa di sepanjang kehidupannya, ia telah mencapai berbagai kesuksesan kecil: memupuk bakat menggambar anak-anak, membantu mereka mencapai mimpi-mimpinya, dan mengingatkan seorang anak bahwa pada akhirnya, melakukan apa yang kita cintai itu tidak pernah salah…

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 rekomendasi buku yang aku percayai akan merubah kehidupanmu, sebuah Ebook gratis, dan satu atau dua bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment