Quantcast
Love

Kenapa Perubahan Adalah Sesuatu yang Sulit (Dan Kamu Masih Jomblo)?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Waktu aku kuliah di Singapura dulu, aku pernah mendaftar ke sebuah gym yang bernama True Fitness.

Suatu sore, di musim panas tahun 2013, saat aku sedang melatih perutku, berharap aku bisa mendapatkan perut seorang Spartan, seorang wanita dengan rambut coklat yang diikat ke belakang mengambil matras berwarna ungu yang ada di sebelahku dan menggelarnya beberapa meter dari mesin yang aku gunakan.

Wanita itu memiliki wajah yang manis dan sepertinya kami seumuran. Ia memakai pakaian olahraga Nge Ann Polytechnic, sebuah sekolah yang berada tepat di sebelah sekolahku dan celana olahraga pendek yang berwarna hitam. Niatku untuk melatih perutku pelan-pelan sirna, fokusku mulai pecah, dan aku mulai memikirkan bagaimana cara berkenalan dengan wanita yang sedang melakukan gerakan leg raise di sebelahku itu.

Namun, saat aku hampir memalingkan wajahku dan mengatakan “Halo,” otakku tiba-tiba berkata sesuatu seperti, “Kamu yakin mau berkenalan sama cewek seperti itu?”

Otakku lalu memberondongiku dengan berbagai alasan kenapa berkenalan dengan wanita itu adalah sebuah ide yang buruk: ia sepertinya tidak ingin diganggu, ia sepertinya sangat jutek dan galak, dan ia sepertinya bukan tipeku. (Padahal aku sama sekali belum mengenal wanita itu sama sekali!)

Aku harap, aku bisa mengatakan bahwa aku berhasil mendiamkan otak kadalku dan berhasil mendapatkan nomor wanita itu. Namun sayangnya, hal itu tidak pernah terjadi. Aku berkata bahwa aku akan berkenalan dengan wanita itu setelah aku menyelesaikan latihan perut ini. Akan tetapi, di set terakhir latihan perutku, wanita itu melipat matras ungunya, berdiri, kemudian berjalan ke loker wanita.

Aku tidak pernah bertemu dengan wanita itu lagi. Sepertinya hari itu ia sedang melakukan sebuah free trial secara cuma-cuma… (Dasar Cheapo!)

####

Aku yakin aku bukanlah satu-satunya pria di dunia ini yang pernah mengalami hal ini. Entah kamu adalah seorang playboy cap kadal ataupun seorang kutu buku yang pemalu, kamu pasti pernah melewatkan sebuah kesempatan untuk berkenalan dengan seseorang yang menurutmu menarik karena alasan-alasan yang tidak jelas.

Setiap manusia pasti memiliki ketakutan terhadap perubahan. Separuh dari kita pasti akan selalu enggan untuk mencoba melakukan sesuatu yang baru, atau dalam konteksku, berkenalan dengan seorang wanita yang baru; dan ketakutan-ketakutan itu biasanya akan berubah menjadi alasan-alasan yang seringkali muncul di kepala kita sebelum kita melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan itu.

Alasan-alasan ini diciptakan oleh pikiran bawah sadar kita untuk melawan perubahan-perubahan yang ingin kita lakukan. Alasan-alasan ini membuat perubahan itu terdengar seperti sebuah ide yang buruk, dan jika kita gali lebih dalam, alasan-alasan ini didasari oleh perasaan-perasaan negatif seperti ketakutan, kebosanan, kemarahan, rasa malu, dan lain-lain. Perasaan-perasaan ini hadir untuk memastikan kita tidak berubah. Ini adalah jangkar emosional kita, sebuah mekanisme yang memastikan bahwa kita akan hidup aman dan tenteram. Dan kita semua memilikinya.

Alasan Kenapa Kamu Masih Jomblo?

Alasan-alasan inilah yang biasanya menghalang-halangi teman-temanku yang ganteng dan cantik untuk mendapatkan jodoh.

Mereka semua selalu berkencan atau dikencani seseorang, namun, kencan-kencan itu tidak pernah berakhir menjadi sebuah hubungan, dan setelah beberapa bulan atau beberapa tahun, di setiap acara perkumpulan mereka selalu mendapatkan pertanyaan yang sama dari teman-teman yang lain: “Eh mana gebetanmu?”

Sebuah pertanyaan yang selalu membuat mereka tersenyum getir…

Alasan-alasan inilah yang biasanya juga menghalang-halangi kesuksesan kita.

Pernahkah kamu menemui seseorang yang berkata bahwa mereka ingin memulai bisnis mereka sendiri namun di saat yang sama berkata bahwa mereka tidak pernah mempunyai waktu?

Ya itu pada dasarnya dua skenario tadi berakar dari masalah yang sama…

Jadi alasan seperti apa yang kamu gunakan untuk membatasi dirimu sendiri?

Karena sampai kamu menyadari alasan-alasan itu, kamu tidak akan bisa membuat perubahan-perubahan yang kamu mau.

Mungkin kamu merasa resah di bar atau klub malam dan kamu menggunakan alasan seperti, “Wanita-wanita ini biasanya hanyalah wanita-wanita dangkal yang menyukai pria-pria berotot berwajah ganteng.” Atau seperti aku, kamu beralasan, “Aku akan berkenalan setelah menghabiskan minuman ini.” Atau kamu mungkin berkata “perempuan-perempuan di bar atau klub itu pasti wanita-wanita urakan yang tidak benar. (Yea right, seolah-olah kamu kenal mereka saja…)

Mungkin kamu merasa resah untuk menelepon suplier yang ingin kamu ajak negosiasi dan kamu menggunakan alasan seperti, “Dia pasti lagi sibuk, aku akan telepon dia setelah makan siang.” Atau kamu beralasan, “Dia pasti sudah bekerjasama dengan orang lain. Menelefon dia hanya buang-buang waktu saja…”

Dan hal paling parah yang biasanya terjadi adalah kamu mempercayai alasan-alasan tidak nyata ini. Semakin tinggi ketakutan dan keresahan yang kamu rasakan, semakin mudah bagimu untuk mempercayai alasan-alasan tidak nyata yang otakmu ciptakan itu…

Ketakutan dan Keresahan Kita

Beberapa psikolog mengatakan bahwa ketakutan dan keresahan ini ada hubungannya dengan kurang aktifnya peranan orangtua di dalam kehidupan orang itu, beberapa psikolog lain juga menemukan ini ada hubungannya dengan trauma masa kecil, atau bahkan cara asuh yang terlalu ketat.

Namun, ada juga psikolog yang mengatakan bahwa keresahan dan ketakutan ini bukanlah salah orangtua kita, mereka muncul atas hasil interaksi kita dengan lingkungan kita. Jika melakukan sesuatu menghasilkan sebuah manfaat positif, kemungkinan besar, otak kita akan terprogram untuk mengulangi hal itu.

Kenyataan menyedihkan tentang ketakutan dan keresahan yang kita rasakan adalah saat kita mempunyainya, kita mempunyainya. Memahami asal-usul ketakutan dan keresahan itu adalah sebuah usaha yang sia-sia karena ada terlalu banyak faktor yang bisa menyebakan perasaan-perasaan itu.

Di post-post berikutnya, aku akan membahas beberapa strategi untuk mengatur ketakutan dan keresahanmu. Namun, untuk saat ini, cobalah untuk mulai memperhatikan pola berpikirmu. Setiap kali pikiranmu memberondongi otakmu dengan berbagai alasan mengapa sebuah perubahan yang ingin kamu mulai akan gagal, ingat bahwa kemungkinan besar, alasan-alasan itu tidak lebih adalah usaha pikiranmu untuk melindungi dirimu sendiri.

Sadarilah bahwa alasan-alasan itu tidak lebih adalah sebuah jangkar yang berguna untuk memastikan kamu tidak kemana-mana. Dan satu-satunya cara untuk menciptakan perubahan yang kamu inginkan adalah dengan memutus jangkar itu… 

 

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dariku yang aku percayai akan merubah kehidupanmu dan satu atau dua bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?  

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment