Quantcast
Love

Kesalahan Terbesar Dalam Mencari Pasangan Hidup

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Empat tahun yang lalu, saat gue masih kuliah di Singapura, gue pernah mengikuti sebuah klub pidato dan pengembangan diri bernama Toastmaster International di sekolah gue. Di klub itu gue sempat menjabat sebagai Vice President of Public Relations, seseorang yang berperan untuk mempromosikan klub Toastmaster gue dan mengunjungi klub-klub Toastmaster lain di Singapura untuk menjalin hubungan (ada sekitar 150 Toastmaster club lain di Singapura waktu itu).

Suatu hari, gue memutuskan untuk pergi ke sebuah klub Toastmaster di dekat apartemen gue di Toa Pa yoh. Klub itu berada di sebuah Universitas swasta yang dipenuhi oleh murid-murid Cina dan Vietnam. Di situlah gue bertemu dengan dia untuk pertama kalinya…  

Perempuan itu memiliki tubuh yang tinggi dan langsing, rambutnya hitam mengkilat seperti wanita-wanita di iklan Sunsilk, matanya bulat dan bersinar, bibirnya merah menggoda, tingkah lakunya se-anggun permaisuri-permaisuri di serial Putri Huan-Zhu, dan gue langsung menyukainya…  

Di pertemuan itu, kami tidak sempat berbicara banyak, tetapi gue berhasil mendapatkan nama dan nomor telepon perempuan Cina itu. Dan bagi seorang pemuda berumur 20 tahun dengan smartphone yang canggih, itu adalah awal yang bagus.

Setelah beberapa hari mengenal satu sama lain lewat Wechat, perempuan itu akhirnya menyetujui ajakan kencan makan malam gue. Di hari yang ditentukan, kami akhirnya bertemu di sebuah restoran Perancis di daerah Orchard Road.

Hari itu ia mengenakan dress berwarna kuning ketat yang elegan dan ia terlihat seperti Emma Stone di film La La Land versi Asia. Dengan hati yang berdebar-debar gue menuntunnya ke restoran Perancis itu.

Namun, begitu kita duduk, memesan makanan, dan mulai menanyakan kabar satu sama lain, gue sadar bahwa gue sedang berada dalam sebuah masalah besar…

Kami tidak memahami perkataan satu sama lain…

###

Jika cerita di atas terdengar janggal, itu karena gue sengaja meninggalkan dua fakta memalukan dari cerita itu. Pertama, waktu kami pertama kali berkenalan, gue sudah mengetahui bahwa perempuan itu tidak begitu bisa berbicara bahasa Inggris. Ia baru saja datang ke Singapura sekitar dua bulan yang lalu, dan bahasa Inggrisnya pas-pasan. Tetapi, waktu itu gue tidak peduli, gue telah terlanjur terpikat pada kecantikan wanita Cina itu.

Kedua, setelah mendapatkan nomor teleponnya gue selalu mengechatnya dengan bahasa Mandarin. Padahal, bahasa Mandarin gue sendiri pas-pasan (kenapa gue melakuan hal ini, gue tidak tahu. Salahkan saja pada libido gue).

Di titik ini, beberapa dari kalian mungkin mulai mengernyitkan alis kalian. Jika bahasa mandarin lo pas-pasan, bagaimana mungkin lo bisa mengajak perempuan Cina itu berkencan?

Well, di sinilah gue ingin berterimakasih pada aplikasi Google Translate dan YouDao Translate di handphone gue. Dengan dua aplikasi itu, tidak sulit untuk berpura-pura menjadi seseorang yang pandai berbahasa Mandarin dan mengajak seorang perempuan Cina berkencan. Masalahnya adalah saat kita akhirnya pergi berkencan dan bertemu empat mata.

Singkat cerita, kencan itu gagal total. Setelah sebuah acara makan malam yang canggung, kami langsung pulang. Kecanggihan Google Translate pun tidak bisa menyelamatkan kencan kami malam itu. Itu adalah terakhir kalinya gue pergi ke klub Toastmaster itu dan bertemu dengan wanita Cina tadi…

Berpura-Pura Untuk Mendapatkan Cinta

Gue yakin gue bukanlah orang pertama yang pernah melakukan hal ini. Setiap kali gue menceritakan pengalaman ini ke teman-teman gue dan menanyakan apakah mereka pernah melakukan hal yang sama, mereka biasanya mengangguk-anggukan kepala mereka.

Di satu waktu di kehidupan kita, kita pasti pernah berpura-pura menjadi orang lain untuk memenangkan hati seseorang…

Menurut gue, inilah kesalahan terbesar seseorang yang sedang mencari cinta.

Sebuah hubungan yang harmonis dimulai dari penerimaan diri, lalu diperkukuh oleh keterbukaan dan kejujuran, bukan oleh kesan-kesan palsu, kebohongan, atau permainan hati…

Hubungan dan Keterbukaan

Keterbukaan adalah jalan tercepat menuju hati seseorang dan kunci hubungan yang bahagia. Keterbukaan dalam sebuah hubungan akan menciptakan kepercayaan dan keintiman, menghilangkan permainan dan ketidakpastian, menciptakan “chemistry”, membangun karakter, dan biasanya membuat kita terlihat lebih percaya diri di depan pasangan kita.

Menurut psikolog Robert Glover, “Manusia tertarik pada ketidaksempurnaan satu sama lain.” Saat lo mampu mengekspresikan diri lo yang sesungguhnya, apa adanya, lo tidak hanya akan membangun hubungan emosional, tetapi juga sebuah hubungan jiwa. Sesuatu yang sangat langka di zaman ini.

Keterbukaan bukanlah sebuah kelemahan. Saat kita membuka hati dan jiwa kita kepada orang lain, kita sedang menunjukkan bahwa kita tidak takut dengan pendapat orang lain. Kita sedang menunjukkan bahwa kita tidak takut untuk menjadi diri kita sendiri…

Seseorang yang terbuka adalah seseorang yang berdiri tegak dan mampu menatap lawan bicaranya dengan penuh percaya diri. Ia tidak takut untuk berdebat dengan orang lain dan memaparkan pendapatnya. Saat ia membuat kesalahan, ia segera meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya. Saat ia tidak mahir melakukan sesuatu, ia tidak menutup-nutupinya. Ia dapat menerima penolakan dengan lapang dada, karena ia tidak takut untuk menjadi dirinya sendiri. Ia adalah seseorang yang sudah menerima dirinya sendiri…

Pada dasarnya sifat-sifat yang dimiliki menteri perikanan kita…

Dikombinasikan dengan ketulusan dan logika, keterbukaan adalah sebuah sifat yang akan dikagumi banyak orang. Dan toh jika keterbukaan itu membuat seseorang menolak lo, lo sekarang tahu bahwa lo dan orang itu memang tidak cocok. Gue akan menjelaskan kalimat itu di post selanjutnya, tapi sebelum itu, kita akan membahas dua hal yang harus lo perhatikan saat lo membuka hati dan jiwa lo pada orang lain: ketulusan dan logika.

Ketulusan

Saat lo membuka hati dan jiwa lo pada seseorang, pastikan lo melakukannya dengan tulus. Itu artinya membuka hati lo tanpa ekspektasi apa-apa.  Tanpa ketulusan, keterbukaan tidak lebih hanyalah sebuah tindakan untuk memanipulasi orang lain.

Alasan kenapa lo membuka hati lo pada seseorang jauh lebih penting daripada apa yang lo bagikan ke orang itu. Bukalah hati lo jika pembicaraan lo dengan orang itu mendorong lo untuk melakukan hal itu. Bukalah hati lo karena lo ingin berempati dengan pasangan lo. Tetapi jangan pernah membuka hati lo karena lo ingin perhatian orang itu atau belas kasihannya. Bukalah hati lo, ceritakan pengalaman lo, tetapi jangan mengharapkan apa-apa. Bukalah hati lo karena lo memang ingin melakukannya.

Logika

Poin kedua yang harus lo perhatikan tentang keterbukaan adalah logika. Di sini, menjadi orang yang lebih terbuka bukan berarti menuliskan berlembar-lembar puisi cinta untuk seseorang yang baru lo kenal tiga hari yang lalu atau merajut nama lo di baju-baju gebetan lo. Itu sangat-sangat menakutkan…

Ya tentu, menuliskan puisi-puisi itu dan menuliskan nama lo di baju gebetan lo adalah satu bentuk keterbukaan. Namun perasaan itu tidak sebanding dengan kedalaman hubungan kalian saat itu.

Orang-orang yang melakukan hal ini menunjukkan sifat posesif kronis. Mereka biasanya mencari cara untuk menyalahkan orang lain karena mereka merasa orang-orang itu tidak menghargai mereka atau telah memanfaatkan mereka. Padahal apa yang seharusnya mereka lakukan adalah untuk melihat kedalam diri mereka sendiri dan menanyakan apakah apa yang mereka rasakan saat ini itu masuk akal atau tidak.

Keterbukaan harus disertai dengan logika. Jika perasaan lo terhadap orang yang lo cintai tidak sebanding dengan investasi atau kedalaman hubungan lo dengan orang tersebut, itu adalah tanda untuk berhenti dan berpikir sejenak. Apa yang lo alami itu bukanlah cinta tetapi obsesi…

Pada Akhirnya…

Pada akhirnya, membuka hati dan jiwa lo pada orang lain memang adalah sesuatu yang sulit dan terkadang, menyakitkan. Dan jika lo dari dulu adalah orang yang tertutup, melakukan hal ini akan menjadi sebuah tantangan yang menakutkan. Namun pelan-pelan, gue yakin lo bisa menjadi lebih terbuka. Lo hanya harus mulai menerima diri lo sendiri, mengambil sedikit risiko, dan belajar bahwa semua akan baik-baik saja.

Kesalahan itu normal. Kegagalan itu normal. Penolakan itu normal…

Lo hanya harus belajar untuk menafsirkan kejadian-kejadian itu dengan cara baru. Sesuatu yang akan gue bahas minggu depan.

 

Jika lo adalah orang-orang tidak sabar seperti gue dan ingin mendapatkan lanjutan dari artikel ini lebih cepat, klik subscribe dibawah ini. Lo juga akan mendapatkan beberapa bonus lainnya seperti Ebook gratis, artikel tambahan, dan rekomendasi buku.

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment