Quantcast
Laugh

Tips Kebahagiaan: Carilah Waktu Untuk Menyendiri (Kesendirian)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Waktu aku masih kuliah dulu, aku tidak pernah merasakan apa itu namanya kesendirian. Pasalnya, karena aku adalah orang yang…. ehem… (sok) sibuk… aku akan menghabiskan hampir seluruh waktuku melakukan sesuatu bersama seseorang dari Senin sampai Minggu. Entah itu kuliah, mengikuti ekstra kurikuler, pergi ngegym, nongkrong, berpesta, dan kemudian pergi gereja, hari-hariku selalu penuh dengan aktivitas.

Kamar kosku hanya berfungsi sebagai kamar ganti dan kamar tidur; dan terkadang jika aku beruntung, kamar bermain. Tentunya maksudku adalah bermain kartu…

Hari-hariku terasa penuh dan sibuk dan sepertinya, aku tidak pernah kehabisan aktivitas. Jika aku tidak kuliah atau mengerjakan tugas, aku akan pergi bersama teman-temanku. Jika aku tidak pergi bersama teman-temanku, aku akan menghabiskan waktuku di gym, mengangkat besi. Jika aku tidak pergi ke gym, maka aku akan mencoba sebuah ekstra kurikuler baru di sekolah bersama beberapa temanku yang lain…

Tentu ini semua adalah sesuatu yang luar biasa. Dimanapun aku berada, aku selalu mempunyai teman yang akan menemaniku melakukan sesuatu. Namun, pelan-pelan kebahagiaan yang aku rasakan dari kesibukan-kesibukan itu mulai berkurang dan aku tidak lagi menikmatinya. Tiba-tiba aku menemukan aktivitas-aktivitas dan kesibukan-kesibukan itu terasa semu dan tak berarti.

Selama beberapa waktu, aku memutuskan untuk mendiamkan kefrustasian dan kejemuanku. Aku merasa bahwa ini hanyalah sebuah fase yang akan cepat atau lambat akan hilang. Namun, dari hari ke hari kejemuanku bukannya menghilang tetapi malah semakin menjadi-jadi. Aku menjadi lebih sensitif terhadap ejekan teman-temanku, aku menjadi tidak sabaran, dan aku menjadi gampang marah.

Menyadari semua itu, aku akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya, yaitu: pergi mengelilingi Singapura sendirian selama tiga hari. Dalam tiga hari itu, aku pergi ke beberapa perpustakaan nasional, memutari Botanical Garden, dan memasuki beberapa museum. Selama tiga hari itu, aku akhirnya memiliki waktu untuk memikirkan kehidupanku dan berinteraksi dengan diriku sendiri, mendengarkan keresahan dan kebimbangan hatiku.  

Dari situ, aku akhirnya sadar: selama ini aku selalu membenamkan diriku sendiri dalam kesibukan untuk mendiamkan keresahan dan ketakutanku. Aku takut dengan apa yang akan aku temukan di dalam diriku sendiri. Seperti sebuah mobil yang sudah lama tidak di tune up, begitu aku membuka kap hatiku dan membiarkan suara-suara itu bebas, aku akhirnya menemukan berbagai masalah yang selama ini menghambat dan membatasi kehidupanku: ketidakmampuanku untuk menerima diri sendiri, kebencianku terhadap jurusan yang aku ambil, dan obsesiku untuk diterima orang lain…

Di hari ketiga, aku kemudian menuliskan beberapa perubahan yang ingin aku lakukan dalam hidupku dan membuat komitmen untuk melakukannya setelah ini. Salah satu perubahan paling besar yang aku buat hari itu adalah keputusanku untuk merubah jurusanku. Waktu itu aku mengambil jurusan manajemen karena seperti kebanyakan orang yang mengambil jurusan manajemen, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan hidupku dan mengatur orang terdengar seperti sebuah pekerjaan yang keren. Namun, setelah menjalaninya selama satu tahun dan melakukan refleksi diri selama tiga hari itu, aku akhirnya sadar bahwa jurusan itu bukanlah jurusan yang aku mau. Jurusan itu bukanlah jurusan yang tepat.

Setelah mendapat restu dari orangtuaku, aku akhirnya menyelesaikan jurusan manajemen itu (untungnya program itu hanya satu setengah tahun) dan mengambil jurusan lain.

Manfaat Kesendirian

Seperti aku dulu, mungkin bagi kebanyakan dari kalian, kesendirian adalah sesuatu yang menakutkan. Kesendirian membuatmu semakin peka dengan masalah-masalah yang ada di kehidupanmu, keresahan-kerasahan yang kamu rasakan, dan ketakutan-ketakutan terdalammu. Kesendirian membuatmu bisa mendengar suara hatimu yang terdalam, dan bagi kebanyakan orang, hal itu adalah sesuatu yang menakutkan.

Kebanyakan dari kita lebih memilih untuk membius hati kita dengan kesibukan dan hiburan-hiburan kosong daripada mendengarkan keluh kesah hati kita. Kita takut dengan apa yang akan kita temukan di dalam sana. Padahal, saat kita menjadi lebih peka dengan suara hati kita, kita akan mulai menyadari penyebab masalah-masalah kehidupan kita dan apa yang salah dengan kehidupan kita.

Dari kesadaran ini, kita lalu bisa mulai mengambil langkah untuk menyembuhkan jiwa kita, mengembangkan diri kita sendiri, dan menyelesaikan masalah-masalah kita.

Ya pada awalnya, ini semua memang menakutkan, apalagi jika kita sudah lama mendiamkan suara-suara itu. Seperti sebuah mobil yang sudah lama tidak di tune up, kamu akan menemukan berbagai masalah tersembunyi begitu kamu membuka hatimu dan mencoba untuk mendengarkannya. Namun, saat kamu mulai meluangkan waktu untuk mendengarkan hati dan berdamai dengan suara hati dan pikiranmu, kamu akan merasa lebih hidup. Kamu akan merasa lebih damai dan pelan-pelan, kamu akan menemukan, bahwa mengenal dirimu sendiri adalah sebuah pengalaman yang luar biasa.

Selain membantu kamu menyadari masalah-masalah terpendam-mu, kesendirian juga memiliki berbagai manfaat lain. Kesendirian akan memberikanmu waktu untuk berpikir dan menciptakan sesuatu. Di sebuah biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson, diceritakan bagaimana Steve sering berjalan-jalan sendirian mengelilingi kantornya untuk berpikir. Lewat aktivitas sederhana itulah berbagai inovasi terbesar Apple lahir.

Kamu tidak perlu berjalan-jalan sendirian selama tiga hari seperti aku. Aku sadar tidak semua orang memiliki waktu untuk melakukan hal tersebut. Namun, apa yang ingin kamu lakukan adalah untuk meluangkan waktu untuk menyendiri, mendengarkan suara hati dan pikiranmu.

Menemukan waktu untuk menyendiri tidaklah sesulit itu. Seperti Steve Jobs, kamu mungkin bisa meluangkan 15-30 menit untuk berjalan-jalan sendirian, atau seperti Phil Knight, sang pendiri Nike, kamu mungkin mau mencoba berlari 2-5 kilo setiap harinya.

Namun, dari semua cara-cara itu, menurutku cara paling efektif untuk menyendiri adalah dengan bangun lebih pagi dan menciptakan sebuah rutinitas pagi hari.

Pada dasarnya, rutinitas pagi hari ini adalah aktivitas-aktivitas kecil yang kamu lakukan untuk menyiapkan hati dan pikiranmu untuk menghadapi hari-harimu. Aktivitas yang kamu lakukan di rutinitas ini tidaklah penting, kamu bisa berdoa, menulis jurnal, atau bahkan bermeditasi. Yang paling penting adalah memastikan aktivitas-aktivitas itu akan membantumu berinteraksi dengan dirimu sendiri..

Jadi tunggu apa lagi? Mulailah mencari waktu untuk menyendiri sekarang juga…

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dariku yang aku percayai akan merubah kehidupanmu dan satu atau dua bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment