Quantcast
Laugh

Kontribusimu Adalah Kebahagiaanmu

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Nilai kita di dunia ini ditentukan oleh seberapa besar kontribusi kita ke dunia ini. Semakin banyak dan bermanfaat kontribusi yang kamu berikan, semakin orang lain akan menghargaimu. Itu adalah hukum manusia yang tidak akan berubah dan bahkan akan menjadi semakin kuat di era digital ini.

Jika hukum itu membuatmu terdengar seperti seorang pelacur, well… itu karena pada dasarnya kita semua adalah seorang pelacur. Kita hanya melacurkan diri kita dengan cara yang berbeda. Aku akan memberimu beberapa detik untuk menyerap kalimat itu baik-baik…

Arti Kehidupan dan Kontribusi

Seperti yang sudah aku tuliskan sebelumnya, kamu bisa mengartikan kehidupanmu dengan cara apa saja. Pada dasarnya, arti kehidupan seorang manusia bertujuan untuk mendorong manusia itu untuk terus ber-inovasi dan menjadi lebih baik.

Namun, ada satu aspek lain yang belum sempat aku bahas di post itu, yaitu kualitas arti kehidupan yang kita ciptakan.

Seperti segala hal di dunia ini, tidak semua arti kehidupan itu diciptakan sama.

Seseorang yang arti kehidupannya adalah untuk menjadi pemain Mobile Legend terbaik di kampusnya berbeda dengan seseorang yang arti kehidupannya adalah untuk menjadi dokter bedah terbaik di kotanya dan menolong orang lain.

Ya, kedua arti kehidupan itu akan memberikan arahan yang jelas dalam kehidupan orang-orang itu. Tetapi, itu bukan berarti mereka akan memberikan kepuasan yang sama.

Satu faktor yang akan mempengaruhi kepuasan arti kehidupan kita adalah kontribusi kita pada  kehidupan orang lain. Semakin tinggi dampak arti kehidupan kita bagi kehidupan orang lain, semakin memuaskan arti kehidupan itu bagi kita.

Diciptakan Untuk Berbagi

Menurut sebuah riset yang dilakukan di Emory University, saat kamu berbuat baik kepada orang lain, bagian otakmu yang bertanggung jawab untuk mengendalikan kebahagiaan dan kepuasan akan menjadi aktif, seolah-olah kamu telah menerima kebaikan dari orang lain. Fenomena ini disebut “kebahagiaan memberi” oleh kebanyakan psikolog yang mendalami topik ini. Mereka percaya bahwa sensasi ini disebabkan oleh endorfin, sebuah zat yang diasosiasikan oleh kebahagiaan. Maka tidak mengagetkan saat survei dari Harvard Business School di tahun 2010 tentang kebahagiaan menemukan bahwa orang-orang yang murah hati adalah orang-orang paling bahagia di dunia ini.

Karma Itu Ada

Tidak hanya itu, para psikolog juga telah membuktikan bahwa orang yang suka memberi akan menerima berkat yang setimpal. Para biksu-biksu di Tibet tidak salah saat mereka mengatakan bahwa karma itu ada.

Di buku Happiness Hypothesis, Jonathan Haidt beragumen bahwa otak kita diprogram untuk mengembalikan kebaikan dengan kebaikan, keburukan dengan keburukan. Jadi saat kita berbuat baik kepada seseorang, orang itu secara tidak langsung akan terdorong untuk mengembalikan kebaikan itu. Para psikolog menyebutnya sebagai prinsip “reciprocity” dan ini adalah sebuah fenomena yang sudah terbukti nyata.

Tapi walaupun begitu, jangan memberikan sesuatu karena kamu menginginkan sesuatu. Cepat atau lambat, orang-orang akan bisa membaca motif-mu dan mereka tidak akan lagi melihat kebaikanmu sebagai sebuah kebaikan.

Memberilah karena kamu memang ingin memberi. Bantulah orang lain karena arti kehidupanmu akan menjadi lebih bermakna saat kamu membantu orang lain. Bantulah orang lain karena pada dasarnya semua manusia itu sama, kamu hanyalah satu bagian dari ekosistem raksasa bernama bumi.

Tat Tvam Asi

Itu adalah kata-kata sanskrit yang bisa diartikan sebagai aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Untuk melukai orang lain adalah untuk melukai diri sendiri. Untuk membantu orang lain adalah untuk membantu diri sendiri.

Berkontribusilah dan bantulah orang lain.

Jika kamu menyukai post ini dan kamu telah belajar sesuatu, klik tombol subscribe dibawah ini. Kamu akan mendapatkan artikel-artikel terbaruku lebih cepat, bonus artikel, Ebook terbaruku, dan 3 rekomendasi buku setiap bulannya.

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment