Quantcast
Laugh

Jadilah Matahari

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa hari yang lalu saya menemukan puisi ini:

“Bahkan setelah semua yang ia lakukan, sang matahari tidak pernah berkata ke bumi,  Anda berhutang kepada saya.’

Lihat apa yang terjadi dengan cinta seperti itu. Ia bisa menyinari seluruh dunia.”- Hafiz

Beberapa kali seminggu, saya akan pergi ke beranda rumah saya untuk melihat matahari datang dari belakang gunung. Sinar matahari memberi saya kebahagiaan dan tidak pernah menuntut apa-apa, tidak penting berapa kalipun saya menikmati kebaikannya.

Saat kita terobsesi dengan siapa yang akan membayar kopi terakhir, giliran siapa yang harus mencuci piring, bagaimana hadiah yang kita terima sesuai dengan hadiah yang kita berikan, atau mengharapkan ucapan terima kasih yang sama dengan waktu, talenta, atau harta yang kita berikan; kita menjadi tersinggung, jengkel, dan marah. Kita pun memutuskan untuk tidak membantu orang itu lagi.

Bagaimana jika kita terus memberi karena kebahagiaan yang kita dapatkan dari memberikan sesuatu, dan berhenti berpikir, “Anda berhutang pada saya.”

Saat kita memberi tanpa pamrih, tanpa mengharapkan untuk menerima apa-apa, kita akan merasa bahagia, terpenuhi, dan lebih positif. Alih-alih menghitung apa yang kita dapatkan, memberi untuk menerima, atau merasa tersinggung saat kebaikan kita tidak terbalaskan, jadilah sang matahari.

Jadilah matahari. Mari kita terangi dunia.

Jika anda mendapati tips ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaru saya lebih cepat, subscribe ke box dibawah ini atau like Facebook saya.

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family’s business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment