Quantcast
Laugh

Kamulah (Bukan) Satu-Satunya- Penderitaan Lo Tidaklah Seunik Itu

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Steve Jobs pernah menghamili pacarnya, menolak untuk bertanggung jawab atas kehidupan anak yang lahir dari hubungan itu, dipecat dari perusahaan yang ia dirikan, dan saat ia berusaha untuk membangun sebuah perusahaan yang ia harap akan menyaingi perusahaannya yang lama, Apple, ia gagal. Perusahaan itu bernama NeXT dan mereka hanya berhasil menjual sekitar 50,000 komputer. Angka penjualan yang sangat mengenaskan untuk sebuah perusahaan komputer.

Tukul Arwana pernah bekerja sebagai sopir truk gas elpiji, sopir angkutan, dan melakukan beberapa pekerjaan tidak jelas, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta bersama temannya Joko Dewo dan Tony Rastafara. Di Jakarta pun, kehidupannya tidak jauh berubah. Ia terkadang harus meminjam uang dari Joko dan Tony untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Setelah mencoba melamar kerja di beberapa tempat, ia akhirnya diterima di sebuah perusahaan… sebagai seorang sopir pribadi…

Gue pernah mencoba melamar kerja di puluhan perusahaan di Singapura setelah gue lulus, tetapi semua lamaran itu ditolak. Setelah menghabiskan malam-malam gue meminum Whiskey sendirian sambil menyanyikan lagu “Itu Aku” di kamar kos, gue akhirnya mendapat kabar bahwa salah satu lamaran gue diterima.

Gue bisa bekerja di salah satu perusahaan idaman gue! Tetapi waktu gue memberi tahu Bokap gue bahwa gue ingin bekerja di Singapura, Bokap gue malah menyuruh gue balik ke Semarang, membantu perusahaan keluarga…

Gue menulis semua ini bukan karena gue ingin membandingkan penderitaan gue dengan Steve Jobs atau Tukul Arwana.

Gue juga tidak bermaksud untuk menuliskan semua ini karena gue pengen curhat atau meminta perhatian lo. Alasan kenapa gue memutuskan untuk menuliskan semua itu adalah karena gue ingin mengingatkan lo akan sebuah kebenaran yang sering kita lupakan di dunia ini. Bahwa kita tidaklah se-spesial itu, atau dalam konteks ini, bahwa penderitaan kita tidaklah se-unik pikiran kita.

Salahkan Media Sosial

Hidup di era media sosial ini, sangatlah mudah untuk berpikir bahwa masalah yang kita hadapi, penderitaan yang kita lalui, dan halangan-halangan yang ada di depan mata kita sangatlah unik.

Setiap kali kita membuka Instagram kita, kita akan dibanjiri oleh ratusan foto teman-teman kita yang tersenyum, melakukan sesuatu yang mengasyikan, sambil merangkul bahu gebetan baru mereka yang terlihat seperti Raisa atau Pevita Pearce. Sementara lo masih harus bangun jam enam pagi untuk menghadapi seorang bos yang lebih keji dari Pak Harto, mengisi dokumen-dokumen tidak penting, dan menghabiskan malam minggu lo bersama kucing lo, karena selama 1 tahun ini lo masih menjomblo…

Melihat perbedaan kehidupan kita dan teman-teman kita di media sosial, kita tidak mungkin untuk tidak merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan kehidupan kita. Kita mulai berpikir bahwa tidak ada orang lain yang menderita seperti kita, bahwa kitalah satu-satunya orang di dunia ini yang merasa seperti ini… sampai kalian menyadari bahwa mungkin, foto-foto yang kalian lihat di Instagram itu tidak mencerminkan kehidupan teman-teman kalian yang sebenarnya.

Mari kita lakukan sebuah eksperimen pikiran sejenak:

Bayangkan kita sedang berada di sebuah kafe dan gue adalah temen baik lo. Dan setelah berdiskusi tentang kemungkinan gue untuk merebut Raisa dari Hamish (masih belom bisa move on) dan seberapa kecilnya kemungkinan itu, gue akhirnya menantang lo untuk melakukan sesuatu yang gila, yaitu:

Mengepost foto paling memalukan lo di Instagram.

Dan untuk membuat tantangan ini lebih keren, gue akan menamainya #pleasejudgemechallenge. Apa yang akan lo lakukan?

Jika lo seperti kebanyakan orang, gue yakin lo akan berkata tidak, tidak peduli seberapa dekat hubungan kita saat itu.

Dan itu memang masuk akal, karena kebanyakan orang biasanya hanya akan memasukkan foto terbaik, terkeren, atau tercantik mereka di media sosial. Mereka tidak akan mungkin mau mengupload foto kamar kos-kosan mereka yang terlihat seperti rumah bordir, mereka tidak akan mungkin mau mengupload foto kotoran hidung mereka, dan mereka jelas tidak akan mau mengupload foto kloset mereka. Nah, jika kita menggunakan media sosial untuk mengukur kualitas kehidupan kita, kita akan menjadi manusia galau yang tidak akan pernah puas. Kehidupan nyata seseorang tidak akan pernah seindah foto-foto Instagram (hal ini juga berlaku untuk Facebook, Snapchat, dll) mereka.

Hidup Itu…

Ketahuilah bahwa semua orang di dunia ini- tidak penting apakah mereka kaya atau miskin, tua atau muda, cantik atau jelek- pasti pernah mengalami penderitaan yang sama. Mereka pernah ditolak, mereka pernah takut, mereka pernah gagal, mereka pernah melakukan hal-hal yang memalukan, mereka pernah sakit hati, mereka pernah ngompol di celana, dan itu semua tidak apa-apa… itu adalah bagian dari menjadi manusia.

Dan jika dipikir-pikir kebanyakan manusia juga menginginkan hal yang sama. Kita ingin dicintai, kita ingin sukses, kita ingin bahagia, kita ingin menjadi lebih baik, kita ingin merubah dunia, dan itu semua normal. Itu juga adalah bagian dari menjadi manusia.

Tidak ada yang salah dari semua ini, kehidupan memanglah seperti itu. Manusia memanglah seperti itu. Semakin cepat lo bisa menerima kenyataan ini, semakin cepat lo akan merasa bahagia.

Saat lo menyadari semua ini, lo tidak akan lagi merasa gundah atau resah. Lo akan menyadari bahwa penderitaan atau masalah lo tidaklah seunik itu. Lo akan menyadari bahwa lo tidak pernah sendiri di dunia ini…

Jika lo menemukan post ini bermanfaat, lo bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan email lo dibawah ini. Dengan mencantumkan email lo dibawah ini, lo akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dari gue yang gue percaya akan merubah kehidupan lo dan satu atau dua bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

2 Comments

Write A Comment