Quantcast
Laugh

Natal Terburuk

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Natal telah tiba. Tony yang baru berumur 4 tahun sedang sibuk merobek kertas kado yang kemudian menunjukkan mainan lego yang ia terima dari kedua orang tuanya. Ia tersenyum melihat mainan istana berwarna-warni itu. Namun, senyuman di wajah kedua orangtua Tony berubah kecut saat Tony kecil mendorong mainan istana itu dan berlari ke pohon natal di ruang tamu.

Beberapa menit kemudian, Tony mulai membuka kado-kadonya yang lain, mengambil setiap kotak yang berada di bawah pohon natal, satu demi satu- beberapa panjang, beberapa tinggi, beberapa berat, beberapa ringan. Setiap kotak menunjukkan mainan baru. Setiap mainan itu dibungkus kertas-kertas terang yang berwarna-warni.

Satu jam kemudian, Tony menangis. Dari suara tangisannya, itu adalah natal terburuk yang pernah ia alami. Tentu, Tony menerima berbagai hadiah yang ada di dalam daftar mainan impiannya- namun ia lebih cemas akan hal-hal yang tidak ia dapatkan. Mainan-mainan yang ada di depannya hanya mengingatkannya akan mainan-mainan yang tidak ia miliki.

Saya tahu ini terdengar kekanak-kanakan, namun kita melakukan hal yang sama: kita melihat semua yang ada di sekitar kita dan kita mau lebih banyak lagi. Kita menginginkan mobil tetangga kita, baju baru teman kerja kita, handphone baru teman kita.

Bagaimana jika Tony bahagia dengan mainan yang ada di depannya? Bagaimana jika kita juga begitu?

Jika anda mendapati tips ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaru saya lebih cepat, subscribe ke box dibawah ini atau like Facebook saya.

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment