Quantcast
Live

Tujuan Kosong

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Tidak terasa, tahun 2018 ini akan berakhir tiga bulan lagi dan seiring bertambah dewasanya aku, aku mulai merasa seperti Tuhan tiba-tiba menekan tombol fast forward di dalam kehidupanku. Sebelum aku mengetahuinya, aku sudah lulus kuliah. Sebelum aku mengetahuinya gue sudah bertunangan. Dan sebelum aku mengetahuinya aku (mungkin) sudah akan menikah…  (brrr…)

Seperti biasa, tiga bulan sebelum berakhirnya sebuah tahun, aku sudah mulai mempersiapkan rencana dan membuat tujuan untuk tahun berikutnya. Aku akan melihat apakah aku sudah mencapai tujuan-tujuan yang aku tetapkan tahun sebelumnya dan mengevaluasi tujuan-tujuan itu, melihat apa yang bisa aku lakukan tahun ini untuk mencapai tujuan-tujuan baruku lebih cepat. Dan dalam proses ini, aku menemukan sebuah kenyataan yang menarik. Yaitu:

Tidak semua tujuan di dunia ini diciptakan sama…

Tujuan-Tujuan Kosong

Sebagai manusia kita semua terbebas untuk menentukan tujuan kehidupan kita. Entah itu menjadi seorang astronot, menyelesaikan 120 km marathon, atau bahkan menjadi seorang bintang film porno, kita semua memiliki kebebasan untuk mengejar tujuan-tujuan itu.

Kita tidak tiba-tiba akan dipenjara jika kita memutuskan untuk mengejar sebuah tujuan (kecuali jika tujuanmu adalah untuk menyakiti orang lain, merugikan negara, dan sebagainya).

Namun, kamu harus menyadari bahwa tujuan-tujuan yang kamu tetapkan dalam hidupmu akan menentukan kualitas kehidupanmu. Beberapa tujuan saat dicapai malah akan membuatmu merasa kosong dan galau, karena tercapainya sebuah tujuan berarti hilangnya arti sebuah kehidupan. Apa yang memberikan kehidupanmu arti selama ini tiba-tiba menghilang, dan kamu akan merasakan apa yang banyak perempuan rasakan saat mereka menyelesaikan sebuah serial drama Korea. Aku menyebut tujuan-tujuan ini sebagai tujuan-tujuan kosong.

Contoh tujuan-tujuan kosong adalah menjadi populer (karena popularitas adalah sesuatu yang paling mudah hilang), mengencani dua wanita sekaligus (karena itu tidak akan membuatmu lebih bahagia- lihat kehidupan Bang Rhoma), dan mendapatkan six pack abs (karena menurut sebuah survei di Facebook berondong ber six-pack pun masih kalah populer dengan opa-opa penjual rokok).

Saat kamu mencapai tujuan-tujuan seperti ini, kamu akan merasa luar biasa dan hidup akan terasa sempurna selama beberapa waktu. Tapi beberapa saat kemudian, kamu akan merasakan sebuah kekosongan yang akan menghantui hari-harimu.

Alih-alih menetapkan tujuan seperti ini, kamu ingin menemukan alasan yang lebih kuat untuk mengejar tujuan-tujuanmu.

Perhatikanlah bagaimana atlet-atlet yang berhasil pensiun dengan baik adalah atlet-atlet yang berusaha untuk menjadi terbaik dalam olahraga yang mereka geluti karena sebuah alasan yang lebih besar dari diri mereka sendiri- membangun negara, memulai bisnis, masuk ke industri lain, dan sebagainya. Sadari bahwa para miliarder yang menghabiskan waktu mereka untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik adalah para miliarder yang paling bahagia di dunia ini.

Sebuah tujuan tanpa alasan yang kuat hanya akan menjadi tujuan-tujuan kosong yang tidak berarti. Jadi pastikan kamu memiliki alasan yang kuat dibalik tujuan-tujuanmu: entah itu membuat dunia ini lebih hijau, menemukan obat kanker, dan membuat beberapa orang merasa sedikit lebih bahagia dengan tulisanmu.  

 

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dari aku yang aku percayai akan merubah kehidupanmu, ebook terbaruku Threesome: Tiga Kebenaran Tidak Nyaman Tentang Kehidupan, dan satu bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?

 

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment