Quantcast
Laugh

Kamu Tidak Akan Pernah Tahu Apa Yang Kamu Mau (Kamu Selalu Salah)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Kita semua pasti ingin menjadi lebih bahagia.

Tanyalah pada seseorang kenapa ia menginginkan sesuatu beberapa kali, dan kamu akan menemukan bahwa mereka menginginkan hal-hal tersebut karena mereka ingin lebih bahagia. Tidak bisa dipungkiri kebahagiaan adalah sebuah kebutuhan manusia yang paling penting dan hidup akan terasa seperti sebuah penyiksaan panjang tanpa kebahagiaan.

Namun masalahnya, kebahagiaan adalah sebuah perasaan yang subjektif, sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan dengan kata-kata. Dan selama ribuan tahun, para filsuf dan pemimpin agama di dunia ini telah mencoba untuk menjawab pertanyaan itu: Apa yang akan membuat manusia bahagia?

Selama ribuan tahun, orang-orang pintar ini mengajari satu sama lain, berdebat, dan bekerjasama untuk mencoba menjawab pertanyaan itu. Namun, sayangnya mereka sepertinya tidak pernah menemukan satu jawaban baku untuk menjawab pertanyaan itu… sampai saat ini…

Dengan berkembangnya teknologi X-ray dan berbagai inovasi canggih lainnya, kita akhirnya bisa melihat isi kepala manusia dan mulai memetakan isi pikiran dan perasaan kita. Kita mulai bisa menjelaskan fenomena-fenomena aneh yang tidak bisa terjelaskan sebelumnya (kenapa pria tidak bisa berhenti memikirkan seks, kenapa kita bisa mimpi basah, kenapa Raisa memilih untuk menikahi Hamish dan bukan salah satu dari kita, dll). Dan sepertinya kita akhirnya berhasil menjawab pertanyaan paling penting itu:

“Apa yang membuat kita bahagia?”  

Selama beberapa minggu ke depan, kita akan mencoba untuk menjawab pertanyaan itu dengan meminjam berbagai riset dan penemuan baru di bidang psikologi, neurologi, sosiologi, dan apapun itu yang berakhir dengan logi. Kamu akan belajar banyak tentang kepercayaan, pikiran, dan prilaku manusia. Dan hari ini kita akan mulai dengan mengupas sebuah kebenaran penting tentang pikiran manusia, satu komputer paling membingungkan di dunia ini.

Kamu Selalu Salah

Kenyataan pertama yang harus kamu terima jika kamu ingin menjadi lebih bahagia adalah ini:

Kamu selalu salah.

Prinsip ini berlaku baik untuk laki-laki dan ya, perempuan. Siapapun itu yang mencetuskan ide bahwa wanita selalu benar adalah seorang SSTI (Suami Suami Takut Istri) yang menyedihkan! Di buku Stumbling on Happiness yang ditulis oleh seorang profesor Harvard bernama Dan Gilbert, ia menemukan bahwa otak kita tidak sempurna. Pertama, kita sering salah melihat dan mendengar hal-hal yang ada di sekitar kita. Kita bisa melupakan suatu kejadian atau salah menafsirkan sesuatu dengan mudah. Kedua, setelah menciptakan arti kita sendiri, otak kita biasanya akan cenderung untuk mempertahankan arti itu. Kita beranggapan bahwa penafsiran-penafsiran itu adalah sebuah kebenaran dunia dan kita akan menjadi seorang idiot jika menyalahkan kebenaran itu.

Hampir semua kepercayaanmu salah. Atau lebih tepatnya, semua kepercayaan salah- beberapa hanya sedikit lebih salah dibandingkan yang lain.

Dan Gilbert juga menekankan bahhwa saat kita mengalami sesuatu, beberapa hari kemudian, kita akan mengingatnya sedikit berbeda dari kenyataannya. Saat kita menceritakan pengalaman itu ke orang lain, kita biasanya juga akan menambahkan beberapa detail baru supaya semua lebih masuk akal untuk kita dan kita tidak terdengar seperti orang gila. Lalu, kita sendiri bakal mempercayai detail-detail tambahan itu, sehingga kita akan menceritakan cerita yang sama lain kali. Hanya saja detail-detail itu tidak nyata, jadi saat kita melakukan hal itu, kita secara tidak langsung telah berbohong.

Terakhir, Dan Gilbert juga mengatakan bahwa otak kita selalu mencoba untuk memahami situasi kita saat ini berdasarkan kepercayaan dan pengalaman masa lalu kita. Setiap informasi baru yang kita dapatkan akan diukur dan dibandingkan dengan nilai-nilai dan kesimpulan yang  kita miliki sebelumnya. Alhasil, otak kita cenderung membenarkan hal-hal yang kita rasa cocok untuk saat ini.

Jika kalimat-kalimat itu terdengar seperti bahasa alien dan pidato kepala sekolah kalian, jangan kuatir karena aku  akan menyederhanakan penemuan-penemuan itu dalam satu kalimat, yaitu:

Kepercayaan, persepsi, pengalaman, dan ingatan kita tidak bisa diandalkan.

Dan inilah akar ketidak-bahagiaan manusia…

Saat Keyakinan kita Menjadi Sebuah Masalah

Saat kita berbicara soal kebahagiaan, kita biasanya mempercayai bahwa kita akan merasa bahagia saat kita akhirnya mempunyai x, mencapai y, atau melakukan z. Namun, seperti yang sudah aku tuliskan sebelumnya, otak kita sebenarnya tidak tahu apa yang kita inginkan.

Otak kita menciptakan keinginan-keinginan itu berdasarkan kepercayaan, pengalaman, dan memori-memori palsu yang kita punyai saat ini dan pengalaman-pengalaman kita sebelumnya. Keinginan kita saat ini biasanya tidak mencerminkan keinginan masa depan kita.

Intinya, kita tidak akan pernah tahu apakah sesuatu akan membuat kita bahagia atau tidak sampai kita mendapatkannya.

Inilah kenapa seorang jomblo yang mendambakan seorang pacar malah menyia-nyiakan pasangannya setelah ia berpacaran selama 4 bulan.

Inilah kenapa seorang pengamen yang ingin menjadi seorang artis malah menjadi tertekan dan membunuh dirinya sendiri setelah ia menjadi terkenal.

Inilah kenapa seorang karyawan swasta yang ingin menjadi seorang entrepreneur mendambakan pekerjaan lamanya enam bulan setelah ia memulai bisnis barunya.

Kita merasa tidak puas dengan pencapaian-pencapaian ini karena masa depan yang kita dapatkan ternyata tidak seindah bayangan kita…

Jadi Aku Nggak Boleh Menginginkan Sesuatu Gitu?

Tentu ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh menginginkan sesuatu. Sebagai manusia itu tidak mungkin. (Kecuali kamu adalah seorang petapa sakti yang sudah bermeditasi dibawah air mancur selama berpuluh-puluh tahun). Yang aku maksud di sini adalah kebahagiaan tidak datang dari mencapai tujuan-tujuan kita, karena kita tidak akan pernah tahu apakah tujuan-tujuan itu akan membuat kita merasa lebih bahagia sampai kita sudah berada di titik itu. Awal dari kebahagiaan datang dari kemampuan kita untuk berdamai dengan ketidaktahuan kita.

Dan berdamai dengan ketidaktahuan ini artinya menerima bahwa kamu tidak akan pernah tahu segalanya. Bahwa apa yang kamu percayai, inginkan, atau harapkan selama ini mungkin salah.

Hal ini mungkin terdengar menakutkan pada awalnya, namun saat kamu bisa melakukan semua itu, kamu akan menyadari bahwa selama ini kamu telah salah. Dan saat kamu menyadari kamu telah berbuat salah, kamu mulai bisa mengoreksi kesalahan-kesalahan itu. Dan saat kamu bisa mengoreksi kesalahan-kesalahanmu, kamu akan berkembang. Dan perkembangan artinya kehidupan yang sedikit lebih bahagia.

Pada akhirnya, kebahagiaan adalah sebuah proses bertahap yang membutuhkan waktu. Dan untuk masuk ke tahap selanjurnya, kamu harus mengkoreksi kesalahanmu dan berubah dan menjadi lebih baik. Itulah kenapa hal pertama yang harus kamu ketahui untuk hidup yang bahagia adalah menyadari bahwa otakmu biasanya salah. Dan itu tidak apa-apa, itu adalah bagian dari menjadi manusia.

Kita sudah membahas banyak di artikel ini dan aku tidak ingin kepalamu berasap dan terbakar setelah membaca artikel ini. Jadi mari kita berhenti sampai disini dulu.

Minggu depan, kita akan melanjutkan topik kita tentang kebahagiaan dan membahas satu aspek kebahagiaan lain yang menurutku cukup penting, yaitu: arti kehidupan.

Di esai itu aku akan menjelaskan bagaimana arti kehidupan akan membuatmu lebih bahagia dan tentunya, bagaimana kamu (mungkin) bisa menemukan arti kehidupanmu.

 

Jadi, jika kamu ingin mendapatkan artikel itu lebih cepat, subscribe ke email list ini. Dengan men-subscribe ke email list ini, kamu juga akan mendapatkan rekomendasi buku-buku yang menginspirasi artikel-artikelku setiap bulannya. Oh dan aku mungkin kadang-kadang akan mengirimimu video-video lucu seperti video Baby Shark yang aku tonton sambil menulis artikel ini….

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

2 Comments

Write A Comment