Quantcast
Love

Menemukan Kembali Momen-Momen Ajaib

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Tidakkah kamu menyukai satu bulan pertama hubungan cintamu?

Semua terasa sempurna, semua kalimat yang pasanganmu utarakan berakhir dengan ‘sayang’ atau ‘Adinda,’ konflik adalah sebuah konsep yang sangat asing di pikiranmu dan pasanganmu.

Semua terasa indah, dan pasanganmu terasa seperti seorang bidadari dari surga…

Inilah kenapa orang-orang menyebut masa-masa ini sebagai honey moon period atau periode bulan madu. Namun, seperti yang kamu ketahui, masa-masa ini tidak akan bertahan lama. Happily ever after don’t exist.

Cepat atau lambat, kamu akan menemukan madu itu berubah menjadi racun yang pelan-pelan mengikis intimasi dan kepercayaan hubunganmu.

Hubungan mu yang tadinya terasa luar biasa sekarang terasa biasa-biasa saja, kata-kata sayangmu berubah menjadi benci, dan konflik mulai menjadi makanan sehari-hari.

Apa yang terjadi?

####

Salah satu penulis favoritku, Psikiater Dr. M. Scott Peck menyebut periode bulan madu itu sebagai efek samping perasaan jatuh cinta.

Dua orang yang sedang jatuh cinta kehilangan batasan ego mereka dan mereka mulai berpikir bahwa mereka dan pasangan mereka adalah satu. Di masa-masa ini, memisahkan mereka adalah seperti berusaha memisahkan Spongebob dengan Patrick; atau memisahkan anak millenials dengan smartphone mereka; hampir tidak mungkin.

Namun, semua ini hanyalah ilusi yang otak kita ciptakan. Faktanya adalah, kita adalah dua orang yang berbeda; dengan pikiran, sifat, kesukaan, dan keinginan yang berbeda. Pelan-pelan, setelah perasaan “jatuh cinta” itu mulai hilang dan batasan ego kita kembali normal, kita akan mulai menyadari perbedaan-perbedaan itu. Dan itulah saat cinta kita akan diuji.

Apakah kita bisa mencintai pasangan kita tanpa campur tangan zat-zat kimia di dalam tubuh kita?

Apakah kita bisa mencintai pasangan kita seperti sedia kala?

Dan jawaban dari dua pertanyaan itu adalah iya dan iya. Aku sudah membahas topik ini di postku sebelumnya, bagaimana keharmonisan sebuah hubungan sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang kita buat. Cara kita berinteraksi dengan pasangan kita, cara kita menanggapi pernyataan emosional mereka, dan bahkan bagaimana kita menyentuh mereka; semua ini, menurut psikolog John Gottman, akan menentukan keharmonisan hubungan kita. (John Gottman menyebut hal-hal ini sebagai Bid, atau usaha pasangan kita untuk berinteraksi secara emosional dengan kita).

Saat kita dapat menanggapi interaksi-interaksi ini dengan positif, sebuah momen emosional akan terjadi.  Pada dasarnya momen emosional ini terjadi saat dua orang memfokuskan perhatian mereka pada satu sama lain dan menanggapi interaksi emosional masing-masing dengan positif. (Untuk membaca tentang topik ini lebih lanjut, baca artikelku sebelumnya lewat link ini).

Kamu dan pasanganmu akan merasa seperti dunia telah menjadi milik kalian berdua. Suara kecapan yang kamu dengar dari mulut pasanganmu tidak lagi menganggumu. Di meja bundar itu hanya ada kamu, pasanganmu dan dua cangkir cappucino yang mulai dingin karena tidak kalian sentuh.

Ini adalah sebuah momen yang membuat sebuah hubungan menjadi sangat sangat indah.

Tiga Momen Ajaib

Dr. John Gottman menganjurkan bahwa setiap orang harus mencoba untuk menciptakan tiga momen emosional bersama orang-orang yang mereka cintai setiap hari. Berikut adalah beberapa tips untuk menciptakan momen-momen ini:

  1. Fokus-Fokus-Fokus
    Seperti yang aku tuliskan di post sebelumnya, fokus adalah sesuatu yang sangat penting. Buatlah komitmen untuk memfokuskan perhatianmu pada orang-orang yang kamu cintai. Hindari untuk melakukan sesuatu yang lain saat kamu sedang bersamanya. Aku tahu kamu benci dengan orang-orang yang menjawab pertanyaanmu dengan “Umm” dan “Ohh.” Jadi hilangkan semua gangguan- telepon genggam, email, media sosial, to do list- mu. Tatap pasanganmu seperti Song Joong Ki di film Descendants of The Sun. Tanyalah pada dirimu sendiri: Apa yang akan kamu lakukan jika ini adalah momen terakhirmu  bersamanya?

  2. Dengar

    Aku harus mengakui bahwa aku adalah penolong yang baik dan pendengar yang buruk. Setiap kali pasanganku mencurahkan masalah kehidupannya dan mengharapkan perhatian dan kasih sayang, aku biasanya cenderung malah memberikan sebuah solusi praktis yang dingin. Lambat laun, aku belajar bahwa cara mendengarkan seperti itu tidak akan membuat seseorang merasa spesial- ini hanya akan membuat orang tersebut merasa tidak didengarkan dan jengkel. Cobalah untuk mendengarkan secara penuh tanpa berusaha untuk memberikan sebuah solusi. Jangan pikirkan kata-kata emas yang ingin kamu katakan setelah ini. Dengarlah dengan hatimu dan jawaban yang tepat akan muncul di ujung lidahmu.

  3. Buatlah komitmen untuk mencoba

    Aku tahu, aku tahu, ini sangatlah sulit. Kamu adalah orang yang super sibuk yang akan merasa sangat bersyukur jika kamu mempunyai 15 menit untuk menarik nafasmu sejenak dan tidak melakukan apa-apa. Kita hidup di sebuah dunia yang super sibuk. Namun, kita bisa memilih untuk berkomitmen memberikan waktu kita pada pasangan kita. Hal ini memang membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran, namun semua ini adalah harga yang setimpal untuk membangun sebuah hubungan yang indah.

Pada akhirnya kita semua ingin merasa spesial, untuk didengarkan, dan dianggap penting. Namun, di luar dugaanmu, cara tercepat untuk mendapatkan semua ini adalah dengan menginvestasikan waktumu dan membuat komitmen untuk memfokuskan perhatianmu. Saat orang lain merasakan energi dan fokus ini darimu, mereka akan berusaha untuk menyamakan energi itu. Dan itulah saat keajaiban terjadi. Hubunganmu tidak akan terasa membosankan. Cinta mulai bersemi lagi di hatimu dan pasanganmu. Dan tanpa kamu sadari kehidupanmu akan menjadi lebih indah…

 

Jika kamu menikmati artikel ini dan ingin membuat pilihan-pilihan kecil yang lebih baik, klik subscribe di bawah ini. Dengan melakukan itu, kamu juga akan mendapatkan Ebook gratis, rekomendasi buku di awal bulan, dan bonus artikel di akhir bulan. Jadi tunggu apa lagi?

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment