Quantcast
Live

Menemukan Makna Kehidupan Dengan Menerima Kematian

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Berita Kematian…

Gue sedang makan siang, menikmati campuran dada ayam rebus, tumis bayam, dan nasi merah, saat salah satu staf gue tiba-tiba menggebrak pintu kantor gue dan masuk dengan tergesa-gesa. Wanita yang biasanya selalu tersenyum ramah itu terlihat panik dan ia seolah-olah telah menjadi satu atau dua tahun lebih tua.

“Pak kamu nggak akan percaya apa yang baru aku dengar…” katanya sedikit terbata-bata.

Ayahku yang saat itu sedang menggigit ikan lele di sebelahku langsung ‘melepehkan’ ikan itu ke piringnya dan menatap stafku dengan mata was-was.

“Mmmenapa?” Tanya Ayahku dengan mulut penuh. (Kenapa?)

Wanita yang telah menjadi staf perusahaan keluarga kami selama hampir tujuh tahun itu menelan ludahnya lalu berkata

“Febri mati Pak, digilas truk…” sahut staff perusahaanku setengah bergidik.

Febri adalah salah satu staff perusahaan kami yang lain, dan di hari itu, ia meninggal ditabrak dan digilas sebuah truk.

###

Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Yang jelas, setelah menerima berita itu, aku, ayahku, dan beberapa staff kami yang lain segera pergi ke rumah sakit untuk mengidentifikasi tubuh Febri. Kami berbincang-bincang sejenak dengan beberapa dokter pembedah dan polisi, lalu pulang ke kantor.

Sampai sekarang, aku masih tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas apa yang aku rasakan hari itu, yang jelas, malam itu aku tidak bisa tidur. Itu adalah pertama kalinya aku menyaksikan kematian begitu dekat. Dan melihat kematian terjadi kepada seseorang yang hampir aku temui setiap hari membuat aku menyadari sesuatu:

Seberapa pendeknya hidup ini…

Apa Sih Maksudmu?

Pada titik ini, beberapa dari kalian mungkin merasa tidak nyaman membaca cerita di atas. Ini adalah bulan Januari, dan kalian ingin membaca sesuatu yang bisa menginspirasi hidup, sesuatu yang bisa menggugah jiwa kalian di minggu pertama tahun 2018 ini. Beberapa dari kalian mungkin berkata “Terimakasih Magnus, kamu telah menghancurkan tahun baruku.” Beberapa dari kalian bahkan mungkin mulai berpikir bahwa aku sebenarnya adalah om-om berkacamata tebal yang gemar mengetik artikel-artikel pengembangan diri ini agar bisa masuk ke Metro TV lagi…

Well, di luar prasangka-prasangka negatif kalian, aku memiliki sebuah alasan kenapa aku memutuskan untuk memulai tahun ini dengan sebuah artikel tentang kematian. Dan sebelum kalian menutup browser ini dan memutuskan untuk mencari video bokep terbaru di Pornhub atau RedTube (ya aku tahu), aku ingin kalian mendengar alasan itu.  

Sejak kematian Febri beberapa tahun yang lalu, aku belajar bahwa menerima kematian adalah cara tercepat untuk merubah kehidupan seseorang.

Kamu Akan Mati, Dan Kamu Tidak Bisa Berbuat Apa-Apa Tentang Hal Itu

Cepat atau lambat, kita semua pasti akan mati. Diagnosa ini berlaku untuk kita semua. Entah kamu kaya atau miskin, cantik atau jelek, baik atau jahat.  Setiap detik, hidup terus menggerogoti waktu kita di dunia ini. Sesuatu atau (dalam beberapa kasus) seseorang akan mengakhiri kehidupan kita.

Dan untuk beberapa orang, hal ini adalah sesuatu yang menakutkan. Menyadari bagaimana waktu kita sangatlah terbatas dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk merubah hal itu telah membuat kebanyakan orang di dunia ini enggan untuk membicarakan atau mengakui kematian.

Padahal, dengan persepsi yang tepat, kematian bisa menjadi cahaya yang akan menuntun perjalanan kehidupan kita di dunia ini. Sesuatu yang akan membantu kita menyadari apa yang paling penting dalam hidup ini. Tanpa kematian, dunia ini akan kehilangan keindahannya. Segala hal di dunia ini akan menjadi semu dan hidup akan kehilangan maknanya.  

Di dunia yang membingungkan ini, kematian bisa menjadi kompas kehidupan kita… kita hanya perlu merubah persepsi kita tentang kematian…

Mendefinisikan Ulang Kematian

Kematian bukanlah sebuah hukuman yang kita dapatkan begitu kita lahir di dunia ini. Kematian adalah sebuah tenggat waktu untuk melakukan hal-hal yang luar biasa di kehidupan ini.

Saat kamu bisa melihat kematian dengan cara seperti itu, kamu akan mulai menyadari hal-hal terpenting kehidupan.

Sementara kebanyakan orang di dunia ini menghabiskan waktu mereka mengejar uang, ketenaran, dan penghargaan, kematian akan membuat kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih penting:

Apa tujuan kehidupan kita?

Apakah dunia akan berubah dan menjadi lebih baik saat kita meninggal?

Kontribusi apa yang akan kita berikan?

Pengaruh seperti apa yang kita bawa?

Dengan menyadari bahwa suatu hari kita akan meninggalkan dunia ini selama-lamanya, hal-hal yang dulunya terasa tidak penting tiba-tiba menjadi penting, dan hal-hal yang dulunya terasa penting tiba-tiba menjadi tidak penting. Kita mulai melihat waktu sebagai hadiah, sesuatu yang harus kita hargai dan pergunakan sebaik mungkin…

Itulah kenapa aku memutuskan untuk membuat post ini di minggu pertama Januari 2018.

Mengingatkan diri kita bahwa waktu kita di dunia ini sangatlah terbatas akan memotivasi kita untuk menjadi manusia lebih baik, berkembang, dan mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Seseorang yang sedang dipatok sebuah deadline tidak akan menghabiskan waktu mereka melakukan sesuatu yang konyol. Ia tidak akan menghabiskan hidupnya menonton bokep dan mengeluh mengapa ia masih jomblo. Ia akan memanfaatkan waktunya dengan baik dan menjadi lebih proaktif dalam mencari jodoh. Ia bisa melakukan semua ini karena ia menyadari bahwa waktunya di dunia ini sangatlah terbatas…

 

Pria yang masih belum bisa menerima kematian…

Orang yang menyadari bahwa waktu mereka di dunia ini terbatas akan menemukan apa yang harus mereka lakukan dan mendapatkan motivasi untuk melakukan hal-hal itu dengan cepat sebelum waktu mereka di dunia ini habis. Arti kehidupan mereka akan menjadi jelas dan mereka akan berusaha untuk menjalani hidup ini dengan benar.

Orang yang menyadari bahwa waktu mereka di dunia ini terbatas tidak akan lagi merasa takut. Mereka tidak akan lagi merasa ragu dengan pilihan mereka, karena sekarang mereka tahu apa yang paling penting di dalam hidup ini.

Orang yang menyadari bahwa waktu mereka di dunia ini terbatas akan menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Menyadari seberapa pendeknya hidup ini membuat mereka melihat pertengkaran sebagai sesuatu yang menggelikan. Sesuatu yang hanya membuang-buang waktu kita yang sudah sangat pendek ini.  

Pada Akhirnya…

Beberapa hari setelah kematian Febri, aku memutuskan untuk berhenti bermain video game, menonton serial TV, dan memutuskan untuk memulai blog ini, sesuatu yang sudah aku ingin lakukan dari dulu.

Kematian Febri mengingatkanku bahwa suatu hari, aku juga akan mati dan hal itu membuatku bertanya apa saja yang telah aku lakukan di dalam hidupku selama ini. Saat aku sadar bahwa aku telah membuang-buang waktuku seperti anak orang kaya menghabiskan uang ayah mereka di Blowfish atau Empirica, aku memutuskan untuk merubah hidupku.

Aku ingin menggunakan waktuku di dunia ini untuk melakukan hal-hal yang aku cintai, berkontribusi ke dunia, dan merubahnya menjadi tempat yang lebih baik.

Nah bagaimana denganmu?   

Aku harap setelah membaca artikel ini, kamu akan mendapatkan persepsi baru tentang kematian. Aku harap kamu mulai belajar untuk menerima kematian dan berhenti menanyakan “kapan aku akan mati.” Alih-alih, kamu akan menanyakan bagaimana kamu sebaiknya menghabiskan sisa waktumu di dunia ini dan melakukan sesuatu yang berarti…

Jika kamu ingin mendapatkan artikelku selanjutnya lebih cepat, subscribe ke blog ini dengan mencantumkan e-mailmu di box dibawah ini.

Selain mendapatkan artikel-artikel terbaruku, kamu juga akan mendapatkan rekomendasi buku yang aku jamin akan merubah persepsimu. Oh, dan dengan mensubscribe ke blog ini, kamu juga akan mendapatkan Ebook terbaruku, Threesome- Tiga Kebenaran Tidak Nyaman Tentang Kehidupan. 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment