Quantcast
Live

Menerima Hal-Hal yang Tidak Bisa Kita Kendalikan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Aku pernah menulis bahwa kebanyakan hal yang terjadi di kehidupan ini berada di luar kendali kita. Di mana kita akan lahir, siapa orang tua kita, bagaimana bentuk wajah kita; hal-hal ini sudah ditentukan sebelum kita lahir dan berada di luar kendali kita. Meratapi nasibmu karena kamu dilahirkan dengan wajah seperti Tukul Arwana tidak akan mengubah apa-apa. Tentu, hal ini juga berlaku untuk kebanyakan masalah dan malapetaka yang terjadi di kehidupan kita: bencana alam, krisis ekonomi, pemecatan massal, dan perubahan teknologi.

Hampir segala sesuatu di dunia ini tidak akan bisa kita kendalikan, dan hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap kita terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan ini. Karena cara kita menyikapi keterbatasan dan bencana-bencana yang terjadi di kehidupan kita akan menentukan kesuksesan, atau bahkan kebahagian kita.

Setelah membaca berbagai buku pengembangan diri dan membaca biografi pengusaha, pemimpin, dan penemu paling terkenal di dunia, gue menemukan bahwa cara terbaik untuk menyikapi hal-hal tersebut adalah dengan menerima keterbatasan itu dengan lapang dada.

Menerima Bukan Menyerah

Banyak dari kita menemukan kesulitan untuk menerima kata-kata tadi. Kita berpikir bahwa menerima adalah satu bentuk kelemahan dan orang-orang yang bisa dengan mudah menerima keterbatasan mereka adalah orang-orang yang lembek. Banyak dari kita bahkan menyamakan sikap menerima ini dengan kepasrahan terhadap nasib dan situasi. Padahal menerima dan kepasrahan adalah dua hal yang berbeda.

Orang yang pasrah adalah orang-orang yang sudah lelah untuk mengharapkan apa-apa dari kehidupan. Mereka terlihat seperti kekasih-kekasih yang sudah terlalu banyak di PHP oleh pasangan mereka dan memutuskan untuk tidak mengharapkan apa-apa dari hubungan mereka. Kamu biasanya akan menemukan orang-orang seperti ini mengeluh, mengeluh, dan terus mengeluhkan bagaimana buruknya situasi mereka. Dan saat kamu bertanya kepada mereka kenapa mereka tidak melakukan sesuatu, mereka biasanya akan beralasan bagaimana tindakan itu tidak akan pernah berhasil, mereka sudah pernah mencobanya lalu gagal, dan bagaimana ide itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Namun, kebalikan dari semua itu, orang-orang yang mempunyai sifat menerima adalah orang-orang yang menyadari bahwa tidak semua hal di dunia ini akan berjalan sesuai kehendak mereka. Orang-orang ini sadar bahwa mereka terkadang harus mundur, berbelok, memutar, dan bahkan mengulangi sesuatu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang-orang ini menyadari bahwa proses ini adalah sesuatu yang wajar, karena hidup memanglah seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang mampu membedakan hal apa saja yang berada dibawah kendali mereka, dan apa saja yang berada diluar kendali mereka. Mereka adalah orang-orang yang mampu melihat dan menerima dunia ini apa adanya.

Dengan penerimaan itu, orang-orang ini kemudian mampu menafsirkan keterbatasan dan bencana yang terjadi di kehidupan mereka dengan cara yang berbeda. Hal ini kemudian memberikan mereka kekuatan untuk menjalani segala penderitaan dan keterbatasan mereka dengan sebuah senyuman

Menafsirkan Keterbatasan/ Bencana

Ya, kita mungkin memang tidak akan pernah tahu kenapa kita lahir dengan keterbatasan kita atau kenapa sebuah bencana terjadi di kehidupan kita. Menanyakan kenapa kita dilahirkan seperti itu atau kenapa hal-hal itu terjadi hanya akan menghabiskan waktu kita dan tidak akan menghasilkan apa-apa.

Alih-alih, apa yang ingin kamu lakukan adalah untuk menerima semua hal-hal negatif itu dengan lapang dada dan menafsirkannya dengan cara berbeda. Berhentilah melihat keterbatasan atau bencana yang terjadi di kehidupanmu sebagai sebuah masalah karena melakukan hal itu hanya akan membuat hidupmu lebih sulit. Lihatlah keterbatasan atau bencana yang terjadi di kehidupanmu sebagai sebuah proses untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Orang-orang tersukses di dunia ini menyadari bahwa penderitaan bukanlah sebuah halangan menuju apa yang mereka inginkan, melainkan sesuatu yang akan menempa pikiran, hati, dan karakter mereka, sehingga setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka akan memiliki karakter yang cukup kuat untuk mempertahankannya.

Berapa banyak orang di dunia ini yang kehilangan apa yang mereka punyai karena mereka tidak mempunyai pikiran, hati, dan karakter yang cukup untuk mempertahankannya?

Bagaimana cara kita menyikapi keterbatasan dan bencana-bencana yang terjadi di kehidupan kita akan membentuk karakter kita. Dan pada akhirnya, karakter kitalah yang akan menentukan berapa lama kesuksesan kita akan bertahan.

Ketahuilah bahwa tidak ada kesuksesan yang abadi di dunia ini. Suatu kali kamu akan sukses, dan lain kali kamu akan gagal. Tetapi apa yang akan menentukan seberapa cepat kamu bangkit dari kegagalanmu dan mencapai kesuksesan lagi adalah karaktermu. Sesuatu yang ditempa dengan keterbatasan dan bencana-bencana yang terjadi di kehidupanmu.

Jadi berhentilah mengeluhkan keterbatasan dan penderitaanmu. Penderitaanmu tidaklah seunik itu. Terimalah hal-hal itu dengan lapang dada, dan percayalah bahwa pada akhirnya, semua itu terjadi untuk kebaikanmu.

(Kamu akan menemukan bahwa di artikel ini, aku telah mengubah tatanan bahasaku dari ‘gue’ dan ‘lo’ ke ‘aku’ dan ‘kamu.’ Hal ini aku lakukan karena aku telah mendapatkan ratusan email tentang susunan bahasaku yang kurang enak didengar. Menyadari bahwa proyek passion ini bukan lagi sebuah proyek pribadi, aku memutuskan untuk mengubah susunan bahasaku. Enjoy!)

Jika kamu mendapati post ini bermanfaat, silahkan subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan melakukan hal itu, kamu akan mendapatkan artikel terbaruku langsung dan mendapatkan beberapa bonus lainnya seperti rekomendasi buku yang akan merubah kehidupanmu dan berbagai artikel tambahan. Jadi, tunggu apa lagi?

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

2 Comments

  1. Seperti biasa, entah gimana rasanya, saya selalu nyaman disini dan merasa ini rumah saya. Terus lanjutkan proyek ini dan terima kasih..

Write A Comment