Quantcast
Love

Ini Adalah Bagaimana Kamu Mengalahkan Ketakutanmu

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Saat Pablo Picasso sudah tua, ia sering pergi ke sebuah kafe di ujung jalan, dan menggambar-gambar di atas tissue.

Suatu hari, saat Picasso sedang menggambar-gambar di atas sebuah tissue, seorang wanita sedang memperhatikan apa yang sedang ia lakukan dengan penuh kekaguman. Beberapa menit kemudian, Picasso menghabiskan kopinya, menggumalkan kertas tissuenya, dan bermaksud untuk membuangnya.

Namun, wanita yang duduk di belakangnya menghentikannya dan berkata “Bolehkah aku meminta kertas tissue itu? Aku akan membayarnya.”

“Tentu,” jawab Picasso. “Itu akan menjadi dua puluh ribu dolar.”

Wanita itu menjadi kaget dan berkata, “Apa? Kamu hanya memerlukan waktu dua menit untuk menggambarnya.”

“Tidak,” jawab Picasso. “Aku membutuhkan waktu sekitar 60 tahun untuk menggambarnya.”

Menguasai Sesuatu membutuhkan Waktu

Picasso hidup sampai ia berumur 91 tahun. Ia lalu meninggal di tahun 1973, dalam masa hidupnya ia telah menghasilkan sekitar 500 juta dolar, dan karya seninya telah diakui oleh dunia.

Karya seni yang ia ciptakan diperkirakan mencapai angka 50,000 buah, dan itu termasuk lukisan, gambaran, pahatan, keramik, dan karpet.

Dengan menajamkan ilmu seninya selama puluhan tahun, Picasso mencapai sebuah titik dimana ia bisa menghargai corat-coretan dua menitnya sebesar dua puluh ribu dolar. Dan untuk melakukan hal itu kita harus berani membuat beberapa kesalahan tanpa kehilangan momentum atau menyerah dengan keadaan.  

Untuk menjadi luar biasa dalam sesuatu yang kamu lakukan- entah itu dalam bisnis, seni, dan ya, cinta- kamu harus merasa nyaman untuk gagal dalam hal-hal tersebut.

Untuk menjadi yang terbaik, kamu harus rela untuk gagal lebih banyak dari kebanyakan orang.

Kenapa Kegagalan Adalah Sesuatu yang Menakutkan

Saat kamu masih anak-anak dulu, kamu tidak akan berpikir dua kali untuk belajar berjalan.

Tidak penting hasil apapun yang kamu dapatkan dalam percobaan pertama, kamu akan terus mencobanya.

Kamu akan berdiri, melangkah lagi, lalu jatuh lagi, kemungkinan melukai dirimu sendiri, menangis, dan lalu, mencoba lagi…

Kata menyerah tidak pernah terlintas di kepalamu. Kamu tidak pernah berhenti dan berpikir, “Sial, ini sulit sekali. Mungkin berjalan bukanlah untukku.”

Jelas, menghindari kegagalan adalah sesuatu yang kita pelajari saat kita dewasa. Di satu titik di kehidupan kita, kita menjadi takut untuk gagal. Kita belajar bahwa kegagalan adalah sesuatu yang memalukan dan orang lain akan mencaci maki kegagalan kita.

Dan saat itu terjadi, kita seringkali lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Atau dalam konteks ini, lebih memilih menjadi jomblo daripada patah hati…

Kita Gagal Dalam Kegagalan

Masalahnya adalah, pola pikir seperti ini seringkali membatasi potensi kita. Begitu kita berpikir bahwa kegagalan adalah sesuatu yang seharusnya dihindari, setiap usaha kita yang tidak berhasil akan menjadi sebuah sinyal untuk berhenti mencoba. Dan walaupun pola pikir seperti itu membuat kita merasa aman, pola pikir seperti itu juga membuat kita melewatkan kesempatan untuk memenuhi potensi kita atau mungkin, mendapatkan seorang pasangan hidup.

Karena satu-satunya jalan untuk menjadi luar biasa dalam sesuatu adalah untuk gagal, dan bahkan gagal berkali-kali. Untuk mencapai kesuksesan kamu harus mengalami kegagalan. Jadi kita harus terus bertindak disamping kegagalan kita.

Bagaimana cara kita melakukannya?

Lingkaran Pilihan

Di filosofi stoikisme, ada sebuah konsep yang disebut “lingkaran pilihan.” Konsep ini mencoba untuk membedakan antara:

Hal-hal yang ada di dalam lingkaran kendali kita, contohnya karakter, nilai-nilai, dan tindakan kita.

Hal-hal yang ada di luar lingkaran kendali kita, contohnya masa lalu kita, bencana alam, dan opini dan kepercayaan orang lain.

Filsuf stoikisme Epictetus percaya bahwa kita harus memfokuskan pikiran kita pada hal-hal yang ada di dalam lingkaran kendali kita, dan melepaskan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Hanya saat kita berhenti mencemaskan apa yang berada di luar kendali kita dan alih-alih mengalihkan perhatian kita pada apa yang di dalam kendali kita, kita baru akan merasakan ketenangan.

Lepaskan Apa yang Tidak Bisa Kamu Kendalian

Aku menemukan konsep lingkaran pilihan ini sebagai sebuah alat yang efektif untuk menghadapi ketakutanku terhadap kegagalan. Setiap aku menulis sesuatu, aku akan menemukan bahwa aku harus bergulat dengan ketakutanku:

Aku akan mendengar sesuatu seperti, “Siapa kamu? Tidak ada orang yang akan membaca tulisanmu.” Atau “Munafik. Kamu tidak punya dasar apa-apa untuk menyokong hal-hal yang kamu tulis!” Atau, “Lupakan tulisan ini dan mari kita melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan.”

Waktu pertama kali memulai blog ini, ketakutan-ketakutan ini akan mewarnai keputusanku, dan aku berakhir menunda-nunda tulisanku. Namun, pelan-pelan, aku belajar bahwa aku bukanlah pikiranku- aku adalah orang yang mendengar pikiranku.

Dan karena hal itu, pikiranku adalah hal-hal yang berada di luar lingkaran kendaliku. Aku tidak bisa mengendalikan pikiran apa yang akan terlintas di kepalaku dalam satu waktu, jadi aku memutuskan untuk tidak mempedulikannya.  

Tulisanku, masih berada di dalam lingkaran kendaliku. Tulisanku masih bisa aku kendalikan. Aku masih bisa selalu mencoba. Jadi itu adalah yang aku lakukan.

Apapun yang otakku teriakkan, aku akan terus menulis sampai aku mencapai tujuan menulisku.

Opini Orang Lain

Ini adalah satu aspek lain yang merupakan satu kelemahan besarku. Jika kamu pernah menciptakan sesuatu dan mencoba untuk menaruhkannya di luar sana, sehingga dunia bisa melihatnya, aku yakin kamu bisa memahami ketakutanku.

Mendapatkan komentar yang baik tentang tulisanku terasa menyenangkan. Namun, menerima komentar negatif tentang tulisanku terasa menyakitkan. Jika aku mendapat 100 komentar positif yang diikuti oleh 1 komentar negatif, 1 komentar negatif itu akan mempengaruhi moodku hari itu.

Tetapi, pelan-pelan aku belajar bahwa jika kamu ingin menjadi luar biasa dalam apa yang kamu lakukan, kamu tidak boleh mempedulikan pendapat orang lain.

Ingat bahwa opini, pendapat, dan tingkah laku orang lain berada di luar lingkaran kendalimu, dan itulah kenapa kamu harus memperlakukannya dengan secercah ketidakpedulian. Kamu tidak akan bisa menyenangkan semua orang, jadi berhentilah untuk melakukan hal itu.

Bagaimana Mengalahkan Rasa Takutmu Terhadap Kegagalan

Mulai hari ini, setiap kali kamu merasakan ketakutan terhadap kegagalan- dalam karier, hobi, dan cinta- ingatlah konsep lingkaran pilihan tadi.

Jika kamu menemukan ketakutanmu adalah sesuatu yang disebabkan oleh hal-hal yang berada di luar lingkaran kendalimu, belajarlah untuk melepaskan.

Ingatlah bahwa menghabiskan waktu dan energimu untuk sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan hanya akan membuang-buang waktumu.

Jika ketakutanmu didasari oleh sesuatu yang berada di dalam lingkaran kendalimu, gunakan penemuanmu sebagai motivasi untuk melakukan sesuatu. Berhentilah berpikir dan lakukan sesuatu.

Jadilah seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan. Jatuhlah tanpa kecemasan terhadap persepsi orang lain atau seberapa memalukannya kegagalan itu. Lalu lakukan lagi, lagi, dan lagi.

Ukur kesuksesanmu bukan dari kemampuanmu untuk menghindari kegagalan, tetapi dari kemampuanmu untuk bertindak dan melakukan sesuatu yang berarti (paling tidak untukmu).

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dari aku yang aku percayai akan merubah kehidupanmu, ebook terbaruku Threesome: Tiga Kebenaran Tidak Nyaman Tentang Kehidupan, dan satu bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment