Quantcast
Love

Tips Pendek Untuk Mengalahkan Rasa Malu dan Berkomunikasi Lebih Baik

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Waktu aku masih duduk di bangku SMP kelas 2 dulu, aku adalah seorang pemalu yang lebih suka mendengarkan lagu dari Discman Sony-ku daripada pertanyaan “apa kabar” orang lain.

Suaraku pelan dan aku lebih sering bergumam daripada berbicara, jadi orang-orang seringkali tidak memahami kata-kataku. Dan seperti yang kalian duga, aku tidak mempunyai banyak teman dan tentunya, masih jomblo. Sementara anak-anak SMP lain menghabiskan malam minggu mereka bergonta-ganti pacar dan bereksperimen dengan seksualitas mereka, aku akan menghabiskan malam mingguku menggambar Manga. (Ya aku dulu suka menggambar).

Orangtuaku yang tidak tahan dengan sifat pendiam-ku akhirnya mendorongku untuk lebih sering berkumpul dengan teman-teman sekelas dan mencari teman-teman baru, sehingga aku lebih bisa bergaul dengan orang lain. Tetapi, karena waktu itu aku tidak melihat teknik berkomunikasi dengan orang lain sebagai sesuatu yang penting, aku memutuskan untuk mendiamkan nasihat-nasihat itu. Terlebih lagi, berkenalan dengan orang baru dan memulai sebuah pembicaraan seringkali membuatku merasa tidak nyaman. Selang dua bulan kemudian, aku masih menjadi Magnus yang pemalu, pendiam, dan antisosial.

Semua itu berubah saat aku jatuh cinta dengan seorang kakak kelas. Gadis itu berumur satu tahun lebih tua dari aku dan memiliki rambut panjang yang berwarna coklat. Ia memiliki wajah yang kuat dan pribadi yang ceria. Setelah berjuang melawan ketakutanku dan meminta bantuan beberapa teman, aku akhirnya berhasil mendapatkan kontak emailnya (sesuatu yang luar biasa di zaman itu). Dan dengan alamat email itu, aku akhirnya mulai mengechatnya setiap malam lewat MSN messenger.

Namun, entah itu karena keminderanku atau kelabilanku dalam berkomunikasi, aku gagal untuk membawa hubungan itu kemana-mana. Aku terjebak masuk ke dalam sebuah zona berbahaya yang telah membuat jutaan pria di dunia ini mati gaya: The Friend Zone.

Selang beberapa bulan setelah chat pertamaku, aku tiba-tiba mendapatkan sebuah kabar bahwa gadis itu telah pindah ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Begitu pulang sekolah, aku langsung men sign-in messengerku dan mencoba untuk mengechatnya.

Namun, karena waktu itu ia sedang offline, aku akhirnya hanya bisa meninggalkan sebuah pesan selamat tinggal pendek yang kurang lebih berbunyi seperti ini “Sampai jumpa di lain waktu dan sering-sering chatting ya…”

Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa hubungan(?) kami telah berakhir karena aku … .

###

Sejak hari itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan belajar untuk berkomunikasi lebih efektif. Aku mulai mengganti potongan rambutku, merubah gaya berpakaianku, dan membaca buku-buku pengembangan diri. Aku mulai merasa lebih percaya diri dan seiring berjalannya waktu, aku berhasil mengalahkan ketakutan sosialku.

Di post ini, aku ingin membagikan beberapa pelajaran dan observasi sosial yang telah membantuku mengalahkan rasa maluku, merasa lebih percaya diri saat bertemu orang lain, berkomunikasi lebih baik, dan ehmm… menjadi kupu-kupu sosial?

  1. Bentuk wajahmu tidaklah sepenting itu. Bahkan jika kamu terlihat seperti genderuwo baru bangun tidur sekali pun, bagaimana caramu merepresentasikan dirimu: bagaimana kamu berpakaian, menata rambut, dan merias wajahmu lebih penting daripada wajahmu. Kuncinya adalah kerapian. Kamu ingin terlihat bersih dan rapi.
  2. Tidak ada orang yang menilaimu. Mereka terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain menilai mereka (termasuk penilaianmu) sehingga mereka seringkali tidak mempunyai waktu untuk menghakimi tindakanmu. Jadi, alih-alih meminta penerimaan mereka, belajarlah untuk menerima mereka apa adanya.
  3. Perempuan sebenarnya menyukai pria baik-baik. Mereka hanya tidak menyukai pria lemah. Jadi tidak ada yang salah dengan berbuat baik. Namun kamu juga harus percaya diri- mempercayai kemampuanmu sendiri, pendapatmu, dan nilai yang kamu anut di dunia ini. Untuk membuat seseorang tertarik, kamu harus membuatnya merasa nyaman dan memberinya kesempatan untuk mengenalmu- karakter, kepercayaan, dan nilai-nilai yang kamu anut.
  4. Menjadi dirimu saja tidak cukup. Terkadang kamu harus menjadi versi yang terbaik dari dirimu sendiri. (Argumen ini juga aku tulis di Ebook terbaruku, Threesome. Subscribe ke blog ini untuk mendapatkannya gratis)
  5. Hanya karena seseorang berinteraksi denganmu, bukan berarti ia tertarik kepadamu. Belajar untuk menyadari perbedaan kesopanan dan ketertarikan.
  6. Untuk memenangkan hati seseorang, kamu seringkali harus rela mengambil risiko untuk kehilangannya.
  7. Terakhir, untuk mengutip seorang pemain hoki dari Canada, Wayne Gretzky, “Anda akan melewatkan 100 persen kesempatan yang tidak anda ambil.” Jadi dengan berkenalan kepada seseorang dan mengatakan sesuatu, tidak penting seberapa buruknya kata-kata itu, kamu telah meningkatkan kesempatanmu untuk berhubungan dengan orang itu.

Jika kamu menikmati artikel ini dan ingin mendapatkan post-post terbaruku lebih cepat, klik subscribe di bawah ini. Dengan melakukan itu, kamj juga akan mendapatkan Ebook gratis, rekomendasi buku di awal bulan, dan bonus artikel di akhir bulan. Jadi tunggu apa lagi?

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment