Quantcast
Live

Tips Hubungan: Apa Motifmu?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Waktu aku masih duduk di bangku SMP dulu, aku suka membaca buku-buku tentang membangun hubungan dan teknik komunikasi. Salah satu alasan kenapa aku menyukai buku-buku bergenre ini adalah karena dari dulu, aku percaya bahwa hubungan yang kita bangun di dunia ini akan menentukan kesuksesan kita. Ya, tentu itu juga mungkin disebabkan karena waktu itu aku adalah seorang jomblo menyedihkan yang ingin berinteraksi lebih baik dengan teman-teman lawan jenis. Tetapi pada intinya, alasan-alasan itu mendorongku untuk membaca buku-buku seperti “How to Win Friends and Influence People” yang ditulis oleh Dale Carnegie, “How to Make People Like You in 90 seconds or Less” yang ditulis oleh Nicholas Boothman atau bahkan serial “Making Friends for Dummy” (ya aku se- desperate itu untuk membangun hubungan-hubungan yang lebih baik.)

Buku-buku itu memang mengajariku berbagai teknik untuk menjadi pribadi yang lebih menarik dan makhluk-makhluk sosial yang tidak kenal rasa malu, tapi menurutku, buku-buku itu gagal untuk membahas satu topik paling penting di dalam sebuah hubungan manusia, yaitu motif.

Motif, Motif, Motif…

Di post-postku yang sebelumnya, aku sudah membahas pentingnya untuk berkontribusi pada kehidupan orang-orang lain di dunia ini. Aku ber-argumen bahwa nilaimu di dunia ini ditentukan oleh jumlah kontribusi yang kamu berikan ke dunia ini. Namun, kali ini, aku ingin menekankan satu aspek lain dari argumen itu, yaitu memberi dengan tulus. Atau dalam konteks ini, motif dari kontribusimu.

Jika kamu memberikan sesuatu untuk terlihat lebih baik, maka jauh lebih baik untuk tidak memberikan apa-apa.  

Jika kamu memberikan sesuatu dengan terpaksa, maka kamu jauh lebih baik untuk tidak memberikan apa-apa.

Jika kamu memberikan sesuatu untuk merasa lebih baik dengan dirimu sendiri, maka jauh lebih baik untuk tidak memberikan apa-apa.

Hal ini disampaikan oleh penyair terkenal, Kahlil Gibran dengan baik:

“Ada orang yang memberikan sebagian kecil dari apa yang mereka punyai- dan mereka memberikannya untuk mendapatkan pengakuan. Keinginan terpendam tersebut membuat pemberian mereka tidak penuh.

Dan lalu ada juga orang-orang yang mempunyai sedikit dan memberikan segalanya.

Ini adalah orang-orang yang mempercayai kehidupan dan karunia-Nya, dan kantong mereka tidak akan pernah kosong.

Ada orang-orang yang memberikan dengan kebahagiaan, dan kebahagiaan itu sendiri adalah hadiahnya.

Dan ada orang-orang yang memberikan segala sesuatu dengan penuh rasa sakit, dan rasa sakit itu adalah baptisme mereka.

Dan ada juga orang-orang yang memberi dan tidak merasakan rasa sakit dalam memberi sesuatu. Mereka juga bukanlah orang-orang yang  mencari kebahagiaan ataupun kebajikan.

Mereka memberi seperti bunga-bunga di atas bukit yang menyebarkan keharuman mereka kepada sekeliling mereka.

Dari tangan-tangan seperti inilah Tuhan berbicara, dan dari balik mata-mata orang ini Tuhan tersenyum pada dunia.”

Kamu Tidak Punya Apa-Apa

Di bait-bait terakhir itu, Gibran menganjurkan kita untuk memberi dan memberi dengan tulus karena pada dasarnya, kita tidak mempunyai apa-apa.

Segala sesuatu yang kita punyai di dunia ini tidak lebih adalah pinjaman kehidupan. Cepat atau lambat, kita akan mengembalikannya ke Dia yang mempunyai segala kehidupan.

Waktumu di dunia ini terbatas, kecelakaan bisa terjadi, dan kesialan bisa menimpa siapapun.

Jadi kenapa kamu memegangi hal-hal yang kamu punyai seolah-olah mereka adalah milikmu sendiri? Kenapa membagikan apa yang kita punyai terasa begitu sulit?

Padahal, pohon-pohon di kebunmu dan hewan-hewan ternak yang ada di dunia ini saja tidak berpikir seperti itu.

Mereka memberi sehingga mereka bisa hidup, karena untuk menyimpan apa yang mereka punyai akan membuat mereka binasa.

Bagaimana denganmu?

 

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 buku rekomendasi, Ebook terbaruku-Threesome- yang aku percayai akan merubah kehidupanmu, dan satu atau dua bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?  

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment