Quantcast
Laugh

Mungkin Lo Tidak Akan Pernah Tahu Jawabannya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Baru-baru ini, gue menonton sebuah film Disney yang berjudul The Wrinkle in Time bersama tunangan gue. Dan setelah 30 menit menonton film itu, gue menjadi semakin yakin bahwa sutradara itu pasti sedang menghisap ganja saat ia sedang membuat film tersebut.

Bagaimana tidak? Dalam waktu 30 menit, gue melihat bunga-bunga yang bernyanyi riang seperti di film teletubies, makhluk yang terlihat seperti seledri terbang, dan Oprah Winfrey yang didandani seperti seorang Super Saiya…

Film itu mengisahkan tentang pertualangan dua anak, Meg dan Charles Wallace, yang sedang mencari ayahnya yang menghilang ke dunia lain.

Ayah dan ibu mereka adalah dua ilmuwan yang sedang meriset tentang konsep dunia di dalam dunia (mereka percaya bahwa ada beberapa dunia di dalam bumi ini, mereka hanya ada dalam waktu ‘berbeda’). Dan entah itu karena sebuah kecelakaan atau kebetulan, ayah mereka menemukan sebuah pintu ke dunia lain. Didorong oleh rasa penasaran yang akan membuat anak lima tahun malu, ayah mereka kemudian memutuskan untuk memasuki pintu itu dan meninggalkan keluarganya.

Empat tahun berlalu, dan ayah mereka masih belum kembali. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana ayah mereka bisa tiba-tiba menghilang, bahkan ibunya pun tidak tahu apa yang terjadi. Kehidupan Meg dan Charles Wallace mulai berubah. Meg mulai menutup dirinya sendiri, menjadi anak aneh yang pemarah, menjadi bahan olok-olokkan teman-temannya, dan bahkan beberapa gurunya. Dan inilah dimana film ini menjadi sangat aneh…

Suatu hari, Meg dan ibunya menemukan Charles Wallace sedang berbincang-bincang dengan seorang perempuan muda (yang sepertinya juga sedang dibawah pengaruh narkoba) di ruang tamu. Ia memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Ms. Whatis; dan ia berkata ke ibu mereka bahwa “tesseract”- atau sebuah pintu waktu untuk masuk ke dunia lain- itu benar-benar ada. Topik itu membuat ibu Meg mengingat riset-risetnya yang ia lakukan bersama suaminya dulu; dan bagaimana suaminya tiba-tiba menghilang setelah eksperimen tersebut. Merasa takut, ia segera mengusir perempuan aneh itu.

Beberapa hari kemudian, saat Meg sedang berjalan-jalan bersama teman sekolahnya dan Charles Wallace; Charles tiba-tiba berlari ke sebuah rumah tua yang sepertinya dipenuhi oleh genderuwo, kuntilanak, dan tentunya, suster keramas…

Disana ia bertemu seorang perempuan gila lain yang hanya bisa berbicara dengan meminjam kata-kata bijak filsuf-filsuf terkenal. Dengan panduan perempuan aneh itu; Meg, Charles Wallace, dan teman sekolah Meg memulai sebuah pertualangan ke dunia lain.

Aneh kan? Ya gue tahu…

40 menit berlalu dan gue mulai menyesal mengajak tunangan gue untuk menonton film ini. Gue bisa melihat dari wajah WTF tunangan gue, ia juga merasakan hal yang sama.

Namun, di pertengahan film itu, gue menemukan sebuah adegan yang menarik. Di adegan itu, Meg dipertemukan dengan seorang medium (dukun) yang bisa membantu Meg menemukan ayahnya. Waktu medium itu meminta Meg untuk memusatkan pikirannya pada sosok ayahnya, Meg tidak pernah bisa melakukannya.

Setelah beberapa kali mencoba, Medium itu kemudian menarik tangan Meg untuk berbicara empat mata. Ia lalu bertanya kepada Meg apakah ia takut untuk bertemu ayahnya.

Meg terdiam lalu berkata, “Bagaimana bila…”

Sebelum Meg mampu menyelesaikan kalimat itu, Sang Medium memotong, “Kamu merasa takut dengan jawaban apa yang akan kamu dapatkan setelah kamu bertemu dengan ayahmu Tetapi terkadang dalam hidup, kamu tidak mempunyai pilihan lain selain menghadapi jawaban itu langsung, walaupun kamu tidak menyukainya…”

Menghadapi Pertanyaan Kehidupan

Satu alasan kenapa adegan ini begitu berkesan untuk gue adalah karena gue merasa adegan ini menyentuh sebuah kebenaran hidup yang sangat penting, yaitu:

Lo seringkali tidak tahu apa yang akan terjadi di hidup lo di masa depan.

Atau lebih tepatnya,

Lo tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Gue yakin di sepanjang perjalanan hidup lo, lo akan menemukan beberapa pertanyaan kehidupan penting yang tidak akan bisa lo jawab sampai lo menjalaninya.

Pertanyaan seperti: “Apakah dia memang jodoh gue?” atau “Apakah gue harus keluar dari pekerjaan gue?” atau “Apakah gue harus menerima kesempatan itu?” atau “Apakah tujuan kehidupan gue adalah untuk menjadi Batman?” Adalah beberapa pertanyaan penting yang tidak akan bisa lo jawab sampai lo membuat sebuah pilihan dan menjalani pilihan-pilihan itu.

Seperti yang gue tuliskan sebelumnya, seringkali kita tidak akan pernah tahu apakah sebuah keputusan itu baik atau buruk sampai kita menjalani konsekuensi dari pilihan-pilihan itu.

Ketidakpastian inilah yang membuat kebanyakan orang-orang merasa galau dan mengalami pembotakan dini. Bahkan dengan semua informasi yang kita dapatkan dari Mbah Google dan blog-blog seperti ini sekalipun, kita masih tidak bisa mendapatkan informasi yang bisa memberi tahu kita apakah pilihan yang ada di depan mata kita itu benar atau salah.

Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk merubah hal ini (kecuali lo ingin mendaftar ke sekolah perdukunan). Apa yang bisa kita lakukan adalah menerima ketidakpastian ini sebagai sebuah misteri ilahi, berdamai dengan ketidaktahuan kita, dan melangkah dengan iman.

Dan seperti yang dikatakan Medium yang ditemui Meg, terkadang lo tidak mempunyai pilihan lain selain menghadapi jawaban yang lo cari secara langsung. Itu artinya melompat ke sesuatu yang tidak pasti. Dan itu berarti mengambil risiko untuk membuat kesalahan dan mencoba sesuatu yang baru. Bahkan walaupun lo tidak tahu apakah sesuatu yang baru itu benar atau salah…

 

Jika lo menemukan post ini bermanfaat, lo bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan email lo dibawah ini. Dengan mencantumkan email lo dibawah ini, lo akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dari gue yang gue percaya akan merubah kehidupan lo dan satu atau dua bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment