Quantcast

Ribuan tahun yang lalu, hidup seorang pemuda dari Cina bernama Mogo yang bekerja sebagai pemotong batu. Walaupun ia adalah seorang pemuda yang sehat dan kuat, ia selalu merasa tidak puas dengan kehidupannya dan terus mengeluh siang dan malam. Kebenciannya pada kehidupan dan Tuhan semakin menjadi-jadi dan ia mulai mencela Tuhan. Mendengar semua itu, suatu hari seorang malaikat muncul di depannnya. “Anda adalah orang yang sehat dan anda memiliki masa depan yang cerah,” tukas malaikat itu. “Semua pria muda disini memulai karir mereka dengan melakukan hal yang sama dengan anda. Mengapa anda masih terus mengeluh dan tidak pernah merasa puas?” “Tuhan telah memperlakukan aku secara tidak adil dan ia tidak memberikan saya kesempatan untuk bertumbuh.” Jawab Mogo. Merasa iba dengannya, malaikat itu meninggalkannya dan menjumpai Tuhan untuk mendiskusikan bagaimana ia bisa menyembuhkan Mogo dari kebutaannya. “Lakukan sesukamu.” Tuhan berkata pendek. “Apapun yang Mogo inginkan akan saya jadikan kenyataan.” Keesokan harinya, seperti…

“Kebahagiaan tidak bisa dimiliki, dicapai, dipakai, atau dikonsumsi. Kebahagiaan adalah sebuah pengalaman spiritual dimana anda hidup dengan cinta, kemurahan hati, dan rasa syukur”- Denis Waitley Lebih banyak belum tentu lebih baik, cepat atau lambat, kita akan mulai terbiasa dengan hal-hal yang kita miliki dan mulai menyia-nyiakan hal-hal tersebut. Bersyukur dengan apa yang sudah anda miliki sekarang adalah cara paling cepat untuk merasa bahagia di dunia ini. Hal ini adalah sebuah kesimpulan yang kita capai di artikel saya yang sebelumnya tentang minimalisme. Di artikel ini, saya ingin membagikan bagaimana anda bisa bersyukur di sebuah dunia yang dipenuhi keirihatian, kompetisi, dan ketidakpuasan. Kita tahu pentingnya untuk mensyukuri apa yang kita miliki. Namun, melakukan hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Saya yakin ini bukanlah artikel pertama yang meminta anda untuk bersyukur dengan apa yang kita miliki. Kita tahu bahwa memiliki sifat bersyukur akan membuat kita menjadi orang yang lebih bahagia. Riset-riset psikologi sudah…

“Kita sering lupa bahwa kebahagiaan tidak datang dari mendapatkan apa yang tidak kita miliki, melainkan dari menyadari dan menghargai apa yang sudah kita miliki” – Frederick Keonig Aku membuang sisa sayuran, daging, dan nasi merah yang ada di piringku ke tong sampah. Juru masak yang bekerja di kantorku selalu memastikan bahwa semua kebutuhan pangan kami tercukupi. Walaupun biasanya, itu berarti membuang sisa makanan kami setelah jam makan siang. Ini bukan berarti bahwa saya tidak menyukai masakan-masakannya, ia hanya memasak sedikit terlalu banyak. Sebuah masalah yang aku yakin banyak dirasakan oleh orang-orang di negara maju. Saat Lebih Banyak Bukan Berarti Lebih Banyak Kebahagiaan Walaupun hal ini masih belum dirasakan kebanyakan penduduk Indonesia, kedamaian panjang yang sudah berjalan selama berpuluh-puluh tahun sejak perang dunia ke 2 ini membuat banyak negara semakin makmur. Standar kehidupan orang-orang mulai meningkat, anak-anak bisa hidup dan bertumbuh di lingkungan yang damai, dan kita tidak lagi harus berebut…

“Tenang, kamu baik-baik saja.” Saya terdorong untuk mengulangi kata-kata itu paling tidak lima kali setiap kali teman saya merasa galau. Apa yang kebanyakan orang anggap sebagai sebuah “krisis” tidak lebih hanyalah satu episode dari sebuah drama yang berjudul kehidupan. Terkadang anda menang, terkadang anda kalah, dan entah kenapa, kebanyakan dari kita sepertinya lupa bahwa ini adalah hal yang normal. Masalah Dari Keresahan Coba bayangkan anda adalah orang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah dan sering menyalahkan diri anda sendiri. Anda percaya bahwa segala hal yang anda lakukan adalah sebuah kesalahan dan anda adalah orang yang gagal. Mengembangkan diri adalah hal yang sulit dilakukan karena usaha itu mencerminkan seberapa gagalnya kehidupan anda. Toh, jika anda bukanlah orang yang gagal, anda tidak akan menghabiskan hari-hari anda menginginkan kesuksesan bukan? Di dalam kehidupan manusia, keinginan adalah sesuatu yang bermanfaat. Anda ingin lari lebih cepat? Buatlah target yang ingin anda capai dan berlatihlah untuk…

Percayakah anda jika otak anda sering membohongi anda? Saat anda sedang mengalami kesulitan, otak anda biasanya lebih memilih untuk melihat apa yang ingin anda lihat daripada kenyataan yang ada di depan mata. Artinya, saat kita berada di dalam situasi yang sulit, otak kita biasanya akan berkonspirasi untuk membohongi diri kita sendiri. Inilah kenapa kebanyakan orang akan kehilangan keobjektivitasannya di masa-masa sulit. Kenapa Kita Membohongi Diri Kita Sendiri?   Kita semua memiliki ego yang rapuh. Pikiran bawah sadar kita selalu bekerja keras untuk melindungi perasaan dan pikiran kita dari kebingungan dan rasa sakit. Akibatnya, mekanisme ini terkadang mewarnai cara kita melihat dunia, membuat keadaan kita terlihat lebih baik dari kenyataannya. Kita semua benci dibohongi orang lain, namun banyak dari kita tidak menyadari bahwa kita sering membohongi diri kita sendiri. Membohongi diri sendirilah yang biasanya menyebabkan kegagalan, kesedihan, dan berbagai konflik manusia. Contohnya, saya pernah bertemu dengan seorang wanita yang berada di…

“Ini adalah sebuah pesan untuk orang-orang gila, anak-anak aneh, para pemberontak, pembuat onar, pasak melingkar di sebuah lubang kotak… orang-orang yang melihat dunia dengan cara yang berbeda, orang-orang yang tidak menyukai peraturan… Anda bisa mengutip mereka, membantah mereka, memuja, atau bahkan menjelek-jelekkan mereka, namun anda tidak akan pernah bisa mengabaikan mereka karena mereka adalah orang-orang yang merubah dunia… mendorong kemajuan umat manusia, dan walau beberapa orang menganggap mereka sebagai orang gila, kita melihat mereka sebagai jenius, karena orang-orang gila yang berpikir mereka akan merubah dunia adalah orang-orang yang akan merubah dunia”- Steve Jobs Pria dan wanita yang membuat perubahan-perubahan paling besar di dunia ini adalah orang-orang gila. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sebuah ide dan pemikiran unik yang tidak bisa digoyahkan oleh peraturan-peraturan dan standar dunia ini. Orang-orang berkarakter kuat yang tidak bisa diubah oleh tekanan budaya, lingkungan, dan sosial. Pola-pola ini bisa anda lihat pada kehidupan orang-orang tersukses di…

Menjadi diri sendiri adalah sebuah perjuangan seumur hidup yang membutuhkan komitmen yang kuat. Hati dan jiwa anda sebenarnya sudah memahami jati diri anda yang sesungguhnya, namun kebanyakan dari kita tidak pernah menyempatkan waktu untuk mendengarkan suara hati kita. Kita lebih memilih untuk memenuhi otak kita dengan hiburan-hiburan kosong  daripada mendengar suara hati kita sendiri. Saat anda menjadi diri anda sendiri, itu berarti anda bisa menerima apa yang anda rasakan, hargai, dan inginkan sejujur-jujurnya. Ini juga berarti mengkomunikasikan perasaan anda dengan terbuka pada diri anda sendiri dan terutama pada orang lain, mengijinkan kebenaran untuk mengalir keluar dari dalam diri anda. Untuk mengetahui kebenaran anda dan mengekspresikan kebenaran itu sejujur-jujurnya, anda harus mulai dengan membangun kepercayaan pada diri anda sendiri. Pada akhirnya, hal ini dimulai dari menyadari pemikiran, tindakan, dan interaksi kita terhadap dunia kita setiap harinya. Anda bisa meningkatkan kesadaran dan hubungan anda terhadap diri anda sendiri dengan kegiatan-kegiatan introspeksi diri…

Menurut legenda, saat Jeanne d’ Arc berjalan menuju Potiers bersama pasukannya, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang bermain di tengah jalan. Anak itu duduk di tengah jalan dan bermain dengan tanah liat dan dahan-dahan kering yang berceceran di jalanan. Jeanne d’ Arc turun dari kudanya dan menghampiri anak laki-laki itu. “Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Jeanne d’ Arc “Tidakkah kamu bisa melihatnya?” Jawab anak laki-laki itu. “Ini adalah sebuah kota.” “Baik sekali!” jawab Jeanne d’ Arc., “Nah, sekarang bisakah kamu meninggalkan jalan ini karena aku dan pasukanku harus lewat.” Anak ini dengan marah bangkit berdiri dan menatap Jeanne d’ Arc dengan tajam. “Sebuah kota tidak akan bergerak! Pasukan-pasukan musuh bisa datang dan menghancurkannya, namun kota itu tidak akan pindah kemana-mana.” jawab anak itu dengan tegas. Tersenyum oleh semangat anak laki-laki itu, Jeanne d’ Arc memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan jalan itu dan memutari ‘kota’ tersebut. Interpretasi: Keberanian,…

Apakah ketakutan selalu membuat seseorang menjadi penakut? Secara logis, jawabannya adalah tentu iya. Banyak pasien yang terkena gangguan kecemasan mendukung pernyataan tersebut, rasa takut yang tinggi menunjukkan bahwa mereka adalah pribadi yang lemah dan penakut. Namun seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, kita tidak akan mendapatkan keberanian tanpa rasa takut.     Banyak orang menganggap bahwa orang yang takut dan penakut adalah dua jenis orang yang sama. Dalam kamus, keberanian diartikan sebagai “suatu keadaan dimana seseorang bisa menghadapi kesulitan, bahaya, dan rasa sakit tanpa ketakutan.” Hal ini menyebabkan banyak orang berpikir bahwa keberanian adalah kekuatan untuk melakukan sesuatu tanpa rasa takut. Tentu ini bukan satu-satunya cara untuk mendefinisikan keberanian. Di dalam bukunya Fear and Courage, Stanley (Jack) Ratchman menawarkan satu cara lain untuk mengartikan keberanian. Menurutnya, keberanian adalah kekuatan seseorang untuk menghadapi kesulitan, bahaya, dan rasa sakit walaupun ia merasa takut. Intinya, jika seseorang tidak merasakan keresahan atau ketakutan saat melakukan…

Ini adalah sebuah post yang pernah saya tulis dalam bahasa inggris pada awal tahun 2016. Post ini saya tulis kembali dalam bahasa Indonesia karena menurut saya post ini sangat bersangkutan dengan topik kita bulan ini, keberanian.  **** Aku menggenggam tangannya erat, seperti seorang anak kecil di hari pertama sekolah dan berkata, “Aku takut…” Malam itu, aku dan pacarku sedang duduk di sebuah kursi kayu panjang di sebuah warung soto di Semarang. Kita baru saja menghabiskan semangkuk soto hangat dan membicarakan berbagai hal tentang pekerjaan kita. Beberapa bulan terakhir aku sudah memikirkan untuk memulai usaha sendiri diluar bisnis keluargaku. Selama berbulan-bulan aku sudah merasa resah dengan bisnis keluargaku. Berapa kalipun aku mencoba untuk mencintai pekerjaanku, aku malah merasa semakin tertekan. Sepertinya idealisme-ku terlalu tinggi untuk menerima kondisi itu… Dua kata yang baru saja aku ucapkan, “aku takut” adalah kata-kata paling tabu yang bisa dikatakan seorang pria pada pacarnya. Budaya kita mengajarkan…