Quantcast

Kita semua pasti ingin menjadi lebih bahagia. Tanyalah pada seseorang kenapa ia menginginkan sesuatu beberapa kali, dan kamu akan menemukan bahwa mereka menginginkan hal-hal tersebut karena mereka ingin lebih bahagia. Tidak bisa dipungkiri kebahagiaan adalah sebuah kebutuhan manusia yang paling penting dan hidup akan terasa seperti sebuah penyiksaan panjang tanpa kebahagiaan. Namun masalahnya, kebahagiaan adalah sebuah perasaan yang subjektif, sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan dengan kata-kata. Dan selama ribuan tahun, para filsuf dan pemimpin agama di dunia ini telah mencoba untuk menjawab pertanyaan itu: Apa yang akan membuat manusia bahagia? Selama ribuan tahun, orang-orang pintar ini mengajari satu sama lain, berdebat, dan bekerjasama untuk mencoba menjawab pertanyaan itu. Namun, sayangnya mereka sepertinya tidak pernah menemukan satu jawaban baku untuk menjawab pertanyaan itu… sampai saat ini… Dengan berkembangnya teknologi X-ray dan berbagai inovasi canggih lainnya, kita akhirnya bisa melihat isi kepala manusia dan mulai memetakan isi pikiran dan perasaan…

Seperti kebanyakan cowok normal di dunia ini, aku paling benci jika seseorang mengajakku menonton film drama. Aku sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan film drama itu sendiri. Film itu memang dibuat sedramatis dan semelankolis mungkin untuk memainkan perasaan penontonnya, dan itu adalah sesuatu yang wajar. Para sutradara memang dibayar untuk itu.   Masalahnya adalah saat orang yang mengajakku  menonton film-film ini menggunakan film itu sebagai sebuah standar untuk mengukur kualitas hubungan mereka. Aku tidak tahan dengan mereka karena biasanya orang-orang ini mempunyai ekspektasi yang sangat tidak nyata dengan hubungan mereka. Dan ujung-ujungnya, setelah film itu selesai, kita biasanya akan berdebat tentang apa itu artinya sebuah hubungan yang bahagia. Aku akan berargumen bahwa tokoh-tokoh di film itu adalah orang-orang idiot, sementara temen nontonku akan berargumen bahwa pemeran utama di film itu adalah orang-orang romantis yang sangat memahami cinta. Sebuah argumen tidak penting yang bisa berlangsung berjam-jam. Aku melakukan semua itu karena…

Beberapa minggu terakhir kita sudah membahas berbagai hal tentang keterbukaan. Mulai dari penerimaan diri, bagaimana kita bisa hidup lebih terbuka, dan cara menanggapi penolakan. Namun, ada satu aspek dari keterbukaan yang masih belum kita bahas, yaitu, membangun batasan yang sehat. Kenapa membangun batasan ini penting di dalam sebuah hubungan? Jawabannya adalah karena sebuah hubungan yang sehat akan selalu mengizinkan kita untuk berkata “tidak.” Apa maksud semua ini? Mari kita telusuri makna kalimat itu lebih dalam… Batasan dan Menjadi Kesatria Berkuda Putih Saat aku bersekolah di Singapura dulu, aku pernah berteman baik dengan seorang perempuan Filipina yang bernama Pat. Ia memiliki wajah yang ayu, mata yang jernih, dan lesung pipi yang manis. Ia bukanlah perempuan paling cantik di sekolahku  dulu, tetapi ia adalah teman Singapura pertamaku. Dan bagi seorang murid Indonesia berumur 15 tahun yang bersekolah di negara asing untuk pertama kalinya, itu adalah segalanya… Seperti layaknya dua sahabat karib, kami…

Seperti yang aku bahas di artikelku sebelumnya, keterbukaan dan kejujuran adalah dua hal yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih menarik. Di artikel itu aku telah menjelaskan manfaat keterbukaan dan bagaimana keterbukaan akan membuatmu menjadi orang yang lebih menarik di mata orang lain. Jika kamu belum membaca artikel itu, aku menyarankanmu untuk membaca artikel itu terlebih dulu. Sudah? Mari kita lanjutkan bahasan kita tentang keterbukaan. Di artikelku yang sebelumnya, aku menuliskan bahwa membuka hati kita dan menunjukkan kejujuran kita tidaklah mudah. Jika kamu tidak biasa melakukan hal itu dan kamu adalah orang yang tertutup, membuka hatimu pada orang lain mungkin akan terasa seperti melepaskan celanamu di depan umum. Para atlet angkat besi mengalami sebuah fase yang disebut sebagai “masa-masa sakit” dan mereka menyadari di fase inilah justru otot-otot mereka mulai berkembang. Sama seperti itu, saat kamu mempraktikkan keterbukaan untuk pertama kalinya, kamu mungkin akan mengalami sakit hati, momen-momen canggung, dan…

Empat tahun yang lalu, saat aku  masih kuliah di Singapura, aku pernah mengikuti sebuah klub pidato dan pengembangan diri yang menyebut diri mereka sendiri Toastmaster International. Di klub itu aku sempat menjabat sebagai Vice President of Public Relations, seseorang yang berperan untuk mempromosikan klub Toastmasterku dan mengunjungi klub-klub Toastmaster lain di Singapura untuk menjalin hubungan (ada sekitar 150 Toastmaster club lain di Singapura waktu itu). Suatu hari, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah klub Toastmaster di dekat apartemenku di Toa Pa yoh. Klub itu berada di sebuah Universitas swasta yang dipenuhi oleh murid-murid dari China dan Vietnam. Di situlah aku bertemu dengan dia untuk pertama kalinya…   Perempuan itu memiliki tubuh yang tinggi dan langsing, rambutnya hitam mengkilat seperti wanita-wanita di iklan Sunsilk, matanya bulat dan bersinar, bibirnya merah menggoda, tingkah lakunya se-anggun permaisuri-permaisuri di serial Putri Huan-Zhu, dan aku langsung menyukainya…   Di pertemuan itu, kami tidak sempat berbicara…

Percaya tidak percaya, langkah pertama untuk memulai sebuah hubungan yang bahagia bukanlah memperias wajah mu, mendaftar ke sebuah gym, atau bahkan belajar menari diantara tiang seperti orang India. Percaya tidak percaya, langkah pertama memulai sebuah hubungan yang bahagia adalah belajar untuk menerima dirimu sendiri… Ya, aku yakin banyak dari kita pasti sudah pernah mendengar nasihat itu di satu waktu kehidupan kita. Entah itu dari guru agama kita, orangtua kita, atau bahkan dari teman kita yang sedang mabuk dan tiba-tiba menjadi bijak… Namun, setiap kali kita mendengar nasihat itu, aku yakin kamu pasti akan bertanya pada dirimu sendiri. “Ya itu memang kedengarannya bagus sih… tapi sebenarnya apa sih artinya menerima diri sendiri?” Nasihat itu memang terdengar seperti nasihat-nasihat motivator botak berkacamata yang dulu sempat sering tampil di Metro TV… Nasihat-nasihat ambigu yang lebih mudah didengar daripada dipraktekkan… Well, itulah kenapa di post ini aku akan mencoba untuk menerangkan arti menerima diri…

Oke, aku yakin setelah membaca post tentang 3 Rencana Kehidupan dan Eksperimen Hidup, kamu kurang lebih sudah mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang karier yang kamu inginkan. Namun, gambaran-gambaran ini tidak cukup untuk menciptakan sebuah karier. Kamu harus membuat pilihan yang tepat, dalam artian bukan pilihan yang 100% benar (karena pilihan seperti itu tidak ada), tetapi sebuah pilihan yang mantap. Sebuah pilihan yang kamj percayai. Sebuah pilihan yang membuat hatimu tenang. Dan membuat pilihan seperti itu membutuhkan sebuah keahlian tersendiri. Sebuah keahlian yang akan kita bedah di post ini. Kenapa Kita Harus Membuat Pilihan? Saat kita masih kecil dulu, keinginan kita sepertinya tidak ada habisnya. Kita selalu menginginkan mainan baru, gadget baru, baju baru, atau dalam kasus tertentu, pacar baru. Dan anak-anak kecil biasanya bisa bertingkah seperti itu karena mereka masih belum tahu bahwa ada harga yang harus mereka bayar untuk mendapatkan sesuatu. Mereka hanya belum merasakannya. Mereka tidak perlu…

Menurut sebuah riset, kita akan menghabiskan paling tidak 90,000 jam dari waktu kita di dunia ini bekerja. Itu artinya ⅓ waktu kita di dunia ini akan habis bekerja… Inilah mengapa menentukan pekerjaan apa yang ingin kita lakukan di dunia ini sangatlah penting. Jika kita tidak menanggapi isu ini dengan serius, kehidupan kita akan menjadi jauh lebih menyedihkan daripada karakter-karakter protagonis di kebanyakan sinetron Indonesia. Dan dalam kasus ini, ibu tirimu adalah pekerjaanmu… Brrrr!! Nah masalahnya, saat kamu mencoba untuk mencari pekerjaan idealmu dan mulai menjelajahi pilihan-pilihan yang ada, berbagai pertanyaan seringkali akan mulai bermunculan di kepalamu. Apakah mengejar mimpi-mimpiku akan membuat aku lebih bahagia? Apakah mimpi-mimpi ini hanya akan membuang-buang waktuku? Menjadikanku orang gagal yang hidup sendirian di sebuah gubug reyot dengan seekor kucing? Percaya tidak percaya hal ini adalah ketakutan umum yang dirasakan banyak anak muda di dunia ini. Bahkan Steve Jobs muda pun sempat merasakan ketakutan ini. Ia…

Minggu lalu kita sudah membahas bagaimana menemukan keunikan kita adalah kunci untuk menemukan pekerjaan impianmu. Kita juga membahas bagaimana menemukan pekerjaan impianmu adalah sebuah proses panjang yang terkadang mengharuskan kita untuk mengorbankan sesuatu. Nah pertanyaannya adalah, bagaimana kita mengaplikasikan prinsip-prinsip itu dan menemukan pekerjaan impianmu? Gali Masa Lalumu Seperti yang sudah kita bahas minggu lalu, cara paling mudah untuk menemukan keunikan kita adalah dengan menggali masa lalu kita dan menilik kembali ketertarikan masa kecil kita. Coba ingat-ingat aktivitas seperti apa yang membuatmu tidak keberatan untuk melakukannya berkali-kali, sebuah subjek yang mengaduk rasa penasaranmu, sesuatu yang membuatmu bersemangat hingga kamu lupa diri dan ngompol di kelas. Keunikan ini sudah ada di dalam dirimu, jadi kamu tidak perlu bingung untuk mencarinya kemana-mana lagi. Kamu hanya perlu menggali masa lalumu dan menemukan apa yang sudah terpendam di dalam hatimu selama ini. Berhenti membaca post ini sejenak, tutup matamu, dan coba ingat-ingat aktivitas apa…

Seperti yang sudah aku tulis minggu lalu, hidup itu pendek. Cepat atau lambat kematian akan mendatangi kita semua. Itulah kenapa kita harus menggunakan waktu kita di dunia ini dengan baik dan melakukan sesuatu yang berarti. Nah, pertanyaannya adalah apa itu artinya melakukan sesuatu yang berarti? Apakah itu berarti keluar dari pekerjaan kantormu yang super membosankan dan mengikuti sebuah organisasi nil laba yang berusaha untuk menyelamatkan dunia? Apakah itu berarti belajar karate dan menciptakan kostum kelelawar untuk melawan kejahatan? Well, tidak juga. Jawaban dari pertanyaan itu jauh lebih sederhana dari dugaanmu. Melakukan sesuatu yang berarti bisa ditafsirkan sebagai menemukan sebuah pekerjaan yang berarti… Coba pikir sejenak. Kita akan menghabiskan ⅓ waktu kita di dunia ini bekerja. Dalam konteks ini, pekerjaan itu sendiri bisa berarti pekerjaan yang dibayar atau tidak dibayar seperti mengasuh anak atau memimpin sebuah organisasi sosial. Jika kamu adalah seperti kebanyakan manusia di dunia ini, ini adalah kenyataan sehari-harimu.…