Quantcast
Live

Passion VS. Keahlian- Mengapa Mengejar Passionmu Adalah Sebuah Ide yang Buruk

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Aku sedang berada di kantor baruku yang masih berumur enam bulan. Di depanku, duduk partner bisnisku yang juga merupakan teman sekolahku dulu. Setelah lima detik yang panjang, aku akhirnya berhasil mengatakan kata-kata itu…

“Kayaknya kita mending berhenti melakukan semua ini deh…” kataku dengan berat hati.

Partner bisnisku hanya menatapku sejenak lalu menganggukkan kepalanya.

Beberapa hari setelah itu, kami memutuskan untuk mengecilkan bisnis kami dan selang beberapa bulan kemudian, kami memutuskan untuk menutup bisnis itu untuk selamanya…

Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan akan aku lakukan enam bulan yang lalu…

###

Itu adalah hari-hari terakhirku di Fvour media, sebuah perusahaan digital marketing yang aku dirikan bersama teman sekolahku. Seperti kebanyakan anak-anak muda yang terinspirasi oleh entrepreneur-entrepreneur cilik yang memulai berbagai bisnis berdasarkan passion mereka, kami terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Kami memutuskan untuk memulai sebuah Digital Marketing Agency di Semarang dan awalnya, kami berpikir bahwa bisnis kami akan sukses jaya. Banyak kafe-kafe baru di Semarang membutuhkan jasa manajemen media sosial dan iklan online, dan kami pikir, kami bisa memenuhi kebutuhan itu.

Namun, setelah membangun bisnis kita selama enam bulan dan menghadapi pahitnya dunia nyata, kami akhirnya memutuskan untuk menutup perusahaan itu. Ya mungkin, ini karena Semarang adalah sebuah kota kecil yang masih belum menggunakan media sosial seperti orang Jakarta. Tetapi di sisi lain, aku juga sadar bahwa kegagalan itu juga disebabkan oleh aku sendiri. Aku gagal karena aku kurang mampu. Aku gagal karena aku belum cukup ahli…

###

Beberapa tahun terakhir, banyak sekali motivator, coach, dan guru pengembangan diri yang mendorong pengikut-pengikutnya untuk menemukan passion mereka, melakukan apa yang mereka cintai di dalam hidup apapun caranya. Mereka memberikan sebuah kesan yang menyatakan bahwa semua akan baik-baik saja setelah kamu menemukan dan menghidupi passion-mu. Ya mungkin kalimat itu ada benarnya. Hidup itu pendek dan kita memang harus berusaha untuk melakukan sesuatu yang kita cintai, sesuatu yang berarti untuk kita.

Namun, apa yang tidak motivator, coach, dan guru pengembangan diri ini katakan adalah menghidupi passion kita dan melakukan apa yang kita cintai bukanlah sesuatu yang bisa kita lakukan begitu saja. Kita harus membuat rencana, berjuang, dan membangun keahlian yang bisa memenuhi sebuah kebutuhan nyata di dunia.

Dan hari ini, kita akan membahas salah satu dari aspek itu yaitu, keahlian. Karena, passion tanpa keahlian hanya akan membuatmu menjadi seorang pemimpi galau yang akan menghabiskan malam-malamnya menonton film bokep di kamar kontrakkannya yang bobrok…

Dan aku yakin, kamu tidak mau menjadi orang itu…

Keahlian vs. Passion

Nilaimu di dunia ini ditentukan oleh kontribusi yang telah kamu berikan ke dunia ini. Dan kontribusi yang bisa kamu berikan ke dunia ini ditentukan oleh jumlah dan tingkat keahlian yang kamu punyai. Semakin banyak dan tinggi keahlian yang kamu punyai, semakin banyak kamu bisa berkontribusi ke dunia ini.

Dibandingkan dengan itu, passion adalah sebuah kata-kata kosong yang tidak berarti apa-apa. Aku bisa berkata bahwa aku memiliki passion untuk bela diri dan melawan kejahatan. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku akan menjadi Batman yang hebat.

Aku juga bisa berkata bahwa aku memiliki passion untuk menyanyi, tetapi itu bukan berarti bahwa aku bisa menyanyi seperti Afgan.

Intinya, orang-orang di dunia ini tidak menghargai passion-mu. Mereka menghargai keahlian yang bisa kamu tawarkan, sebuah keahlian yang memenuhi sebuah kebutuhan nyata di dunia ini…

Atau lebih tepatnya, orang-orang di dunia ini tidak akan membayarmu karena kamu mempunyai passion. Orang-orang di dunia ini hanya akan membayarmu jika keahlianmu bisa menyelesaikan masalah-masalah mereka.

Inilah kenapa kita harus berhenti bertanya “apa passion kita?” karena pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan kosong yang hanya akan membingungkanmu.

Pertanyaan yang seharusnya kamu tanya adalah “keahlian apa yang kamu butuhkan untuk mencapai mimpi-mimpimu?”

Karena dengan melakukan hal itu, kamu paling tidak mempunyai sebuah rencana konkret untuk mencapai mimpi-mimpi-mu.

Karena dengan melakukan hal itu, kamu sekarang mempunyai sesuatu yang bisa kamu tawarkan ke dunia. Sesuatu yang akan menentukan nilaimu di dunia ini.

Keahlian= Kebebasan

Keahlian juga akan membawa manfaat lain di dalam karir-mu.

Kebanyakan dari kita menginginkan kebebasan dalam pekerjaan kita. Kita ingin bekerja kapanpun kita mau, berlibur kapanpun kita bisa, dan mendapatkan uang yang lebih banyak. Pendek kata, kita ingin lebih bisa mengendalikan pekerjaan kita.

Namun, kendali itu tidak akan bisa kamu dapatkan begitu saja. Kamu harus mempunyai keahlian dalam level tertentu untuk mendapatkan lebih banyak kebebasan di dunia ini.

Contohnya, seorang sarjana ekonomi berumur 21 tahun yang tidak mempunyai pengalaman apa-apa tidak akan mempunyai banyak pilihan dalam pekerjaan pertamanya sebagai seorang akuntan. Ia harus mengikuti peraturan jam kantor, keinginan bosnya (karena melawannya sama saja mati), dan menerima upah yang biasa-biasa saja.

Namun, seorang akuntan senior yang telah berkecimpung di dunia akuntansi dan perpajakan selama 9 tahun di sebuah perusahaan papan atas tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, memulai usaha konsultan-nya sendiri (karena ia sudah berpengalaman), atau bahkan meminta gaji atau cuti yang lebih banyak.

Menjadi lebih ahli dalam sesuatu akan memberikan kita lebih banyak pilihan, yang berarti lebih banyak kebebasan. Kamu bisa memulai bisnis-mu sendiri, menuntut gaji yang lebih tinggi, dan mungkin, mengajak kencan anak bosmu yang terlihat seperti Pevita Pearce. Riset juga mengatakan bahwa saat kita merasa ahli dalam pekerjaan kita, kita akan merasa lebih puas dan bahagia dalam pekerjaan kita.

Pada Akhirnya…

Untuk melakukan sesuatu yang kita cintai atau mengerjakan sesuatu yang berarti, kita harus mempunyai keahlian tertentu. Hal ini berlaku untuk semua orang: entrepreneur, seniman, karyawan kantoran, dan tentunya… artis bokep. (Ya percaya tidak percaya mereka membutuhkan keahlian tertentu untuk membuat sebuah video yang menggugah).

Ya, passion akan membantu-mu untuk terus berjuang meraih mimpi-mimpimu, tetapi pada akhirnya, keahlian-mu lah yang akan menentukan hasil yang akan kamu dapatkan. Dunia tidak menghargai passion-mu. Dunia menghargai kontribusi-mu  ke dunia ini, dan seberapa banyak kamu bisa berkontribusi ditentukan oleh keahlian yang kamu punyai.

Beberapa dari kalian mungkin akan bertanya:

“Aku sudah punya ijazah dan aku rasa, aku sudah cukup ahli di bidang-ku. Lantas kenapa aku masih belom merasa dihargai?”

Well hal itu bisa mungkin terjadi karena dua alasan sederhana.

Satu, keahlian-mu mungkin tidak melayani kebutuhan apapun di dunia ini. Atau lebih tepatnya, kebutuhan yang kamu layani tidak cukup besar. Perlu kamu ketahui bahwa tidak semua keahlian di dunia ini akan dihargai orang lain (pikirkan pelukis terkenal yang menjadi terkenal setelah ia mati, penyair terkenal yang hidup miskin, penjual-penjual MLM yang kontaknya di blokir). Keahlian-mu harus bisa melayani sebuah kebutuhan yang cukup besar sebelum kamu bisa menghasilkan sesuatu dari kontribusi-kontribusi itu.

Kedua, cara mu membangun keahlian itu salah. kamu berpikir kamu sudah berlatih cukup, tetapi pada nyatanya latihan-latihan itu tidak membuat kamu menjadi lebih baik. Latihan-latihan-mu tidaklah efektif…

Itulah kenapa di post selanjutnya, aku akan menulis sebuah post tentang cara berlatih lebih baik, sebuah cara yang digunakan seniman terkenal, para ahli, dan Kobe Bryant untuk menjadi orang-orang tersukses di industri mereka… Stay tuned dengan men-subscribe blog ini.

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment