Quantcast
Live

Persetan Resolusi Tahun Barumu- 1 Alasan Kenapa Kamu Belum Mencapai Mimpimu

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Waktu aku berumur 16 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk mempunyai perut kotak-kotak ala Aderai, bermain gitar di depan ratusan orang seperti John Mayer, dan mendapatkan rangking 10 besar di SMP ku di Singapura.

Waktu aku berumur 20 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk lulus dengan gelar Magna Cum Laude, menjadi Mr. UOB (pada dasarnya pria paling keren di kampus), dan menjadi MC populer di Singapura.

Waktu aku berumur 22 tahun, aku pernah memiliki sebuah resolusi tahun baru untuk membuat sebuah majalah pria dengan nilai-nilai positif, keluar dari bisnis keluarga, dan memulai sebuah startup kecil-kecilan.

Tahun ini aku resmi berumur 25 tahun dan aku harus mengakui bahwa aku tidak pernah mendapatkan perut kotak-kotak sepeti Ade Rai, bermain gitar di depan ratusan orang, mendapatkan rangking 10 besar di SMP, lulus dengan gelar Magna Cum Laude, menjadi Mr. UOB, dikenal sebagai MC populer, mempunyai sebuah majalah pria, keluar dari bisnis keluarga, dan menciptakan sebuah startup…

Jika kamu hitung baik-baik itu berarti kurang lebih tiga dari enam resolusi tahun baru yang gagal total. Dan jika kamu adalah orang yang merasa frustasi dengan resolusi-resolusi tahun baru-mu, aku harap pengalaman-pengalamanku tadi sedikit menghiburmu.

Sering kali, kebanyakan resolusi tahun baru itu gagal bukan karena orang tersebut malas, tidak mempunyai motivasi, dan kebanyakan menonton film bokep. Tidak, tidak, tidak. Kebanyakan resolusi tahun baru gagal karena memang resolusi tahun baru itu adalah sebuah sistem yang buruk untuk mencapai tujuan-tujuanmu. Di post ini, aku ingin menjelaskan kenapa kamu harus mengatakan “persetan” terhadap resolusi tahun barumu dan menganjurkan sebuah sistem pencapaian tujuan yang lebih baik. Sebuah sistem yang aku sebut sebagai kebiasaan tahun baru.


Kenapa Kebanyakan Resolusi Tahun Baru Gagal


Saat kita menciptakan sebuah resolusi tahun baru, kita seringkali membuat satu atau bahkan dua dari tiga kesalahan berikut:

Membuat tujuan yang terlalu ambisius

Tujuan yang terlalu ambisius biasanya gagal karena tujuan seperti itu biasanya terlalu mengintimidasi. Pada awalnya tujuan-tujuan tersebut memang akan memotivasimu seperti seorang tukang pecut yang super sadis. Tetapi seiring berjalannya waktu, saat kamu menemukan bahwa tujuan-mu masih jauh, saat kamu merasa bahwa perkembanganmu menjadi lambat, kamu akan kehilangan motivasi dan memutuskan untuk berhenti mengejar tujuan itu karena terlalu sulit.

Contohnya, seseorang yang memiliki resolusi tahun baru untuk mengurangi 20 kilo dalam waktu satu tahun biasanya akan merasa frustasi bahwa ia hanya baru berhasil mengurangi 3 kilo dalam waktu dua bulan. Padahal jika dipikir-pikir ia masih memiliki 10 bulan untuk mengurangi 17 kilo…

Tidak memiliki tujuan yang jelas

Seperti sebuah hubungan manusia yang sehat, sebuah tujuan yang baik membutuhkan sebuah kejelasan. Resolusi tahun baru seperti mendaftar ke sebuah gym bukanlah resolusi yang bagus karena resolusi tersebut tidak memberikan tindakan spesifik yang jelas setelah kamu mendaftar ke gym. Apa yang akan kamu lakukan di gym? Berapa kali seminggu kamu akan ke gym? Latihan apa yang akan kamu lakukan?

Tanpa memikirkan semua ini, aku yakin kamu akan menjadi orang-orang yang mendaftar gym di bulan Januari dan hilang di bulan Maret.

Mengejar tujuan yang tidak penting

Tujuan tanpa alasan yang kuat dibaliknya biasanya akan gagal karena mencapai sesuatu, apapun itu, membutuhkan usaha, waktu, dan tentunya pengorbanan. Itulah kenapa kamu harus mendasari setiap tujuanmu dengan alasan yang kuat. Tanpa semua itu kamu hanya akan mengejar tujuan-tujuan tidak penting yang tidak akan membuat-mu bahagia. Kamu akan menjadi orang yang berhasil menaiki tangga yang sangat tinggi hanya untuk menyadari bahwa tangga itu membawamu ke tempat yang salah.

Kesalahan-kesalahan kecil ini bukanlah salah kita. Menurut-ku, kesalahan-kesalahan ini terjadi karena kata “Resolusi tahun baru” menciptakan sebuah ekspektasi yang salah di kepala kita. Itulah kenapa menurutku kita harus membuang kata resolusi tahun baru dan menggantinya dengan kebiasaan tahun baru…


Kebiasaan Tahun Baru


John Grisham adalah seorang pengacara setengah baya yang mempunyai dua anak dan merasa frustasi dengan pekerjaannya. Ia merasa pekerjaannya sebagai pengacara terlalu memakan energi dan tidak memberinya banyak kepuasan. Alhasil, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan menjadi seorang penulis…

Namun dengan dua anak yang masih sangat muda dan biaya hidup Amerika yang tinggi, ia tidak mungkin keluar dari pekerjaannya dan langsung menjadi seorang penulis. Ia tahu seorang penulis bisa dibayar lebih sedikit daripada Pak Ogah satu bulannya. Jadi ia memutuskan untuk terus bekerja sebagai seorang pengacara sampai ia bisa mendapatkan cukup uang dari buku-bukunya. Ia lalu menuliskan resolusi tahun barunya, yaitu menjadi seorang penulis profesional dan melakukan sesuatu yang luar biasa:

Memulai kebiasaan baru untuk bangun setengah jam lebih pagi dan menulis satu halaman setiap harinya. Ya, jika dipikir-pikir, satu halaman memang bukanlah pencapaian yang luar biasa. Tetapi dalam waktu 4 tahun, John Grisham berhasil menulis 2 novel dan 1 dari 2 novel tersebut masuk ke daftar New York Times Bestseller List dan bertahan selama 47 minggu berturut-turut.

John menyadari bahwa menuliskan resolusi tahun baru saja tidak cukup, kamu juga harus memulai kebiasaan-kebiasaan baru yang akan membantumu mendekatkanmu ke tujuan hidupmu.

Berikut adalah sebuah sistem yang bisa kamu gunakan untuk mempraktikkan prinsip ini.

Mulai dengan gambaran kehidupan ideal-mu

Salah satu penulis favoritku, Ryan Holiday sering menganjurkan pembacanya untuk membayangkan kehidupan ideal mereka lima tahun ke depan. Menurutnya, melakukan latihan ini akan membantumu mendefinisikan kehidupan seperti apa yang ingin kamu bangun dan membantumu membuat tujuan-tujuan yang lebih relevan. Ambil waktu sekitar 20 menit dan mulai menulis.

Contohnya:

Kehidupan ideal-ku lima tahun ke depan adalah untuk hidup di Bali. Aku akan mempunyai rumah kecil di daerah Ubud. Jam kerja-ku sangatlah fleksibel sehingga aku bisa pergi berjalan-jalan menikmati keindahan Bali dan sesekali berselancar. Aku akan fokus untuk bekerja sebagai programer lepas waktu sehingga aku bisa mengendalikan gaji dan kesibukanku. Aku akan mempunyai dua anak yang pergi ke sekolah yang bagus. Aku akan mempunyai banyak waktu untuk membaca dan mempunyai waktu untuk pergi ke gym. Aku akan mencoba bermain gitar lagi dan bermain Live di kafe-kafe. Dan lain lain…


Evaluasi kualitas kehidupanmu saat ini

Di sebuah kertas kosong, buatlah tiga kolom.di kolom pertama tulislah semua aktivitas yang kamu lakukan setiap hari. Jangan tulis hal-hal kecil seperti sikat gigi, mandi atau boker. Fokus pada aktivitas besar seperti bekerja, menonton TV, atau bertemu teman (aktivitas yang paling memakan waktu).

Setelah kamu tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, tulis waktu yang kamu biasanya habiskan untuk melakukan aktivitas-aktivitas itu setiap minggunya di kolom kedua. Jika itu adalah sebuah acara besar atau aktivitas musiman seperti liburan puasa, tulis satu minggu satu tahun.

Di kolom terakhir, berikan setiap aktivitas itu sebuah nilai dari 1-10 berdasarkan berapa banyak kepuasan yang kamu dapatkan dari aktivitas-aktivitas itu. Kurang lebih kolom itu akan terlihat seperti ini.

Menonton TV-    5

Menulis Blog-   8

Membaca Buku-   9

Menonton Bokep- 3  (Dasar manusia menyedihkan!!!)

Dan lain-lain…

Akhirnya setelah kamu menyelesaikan kolom tersebut, perhatikan aktivitas-aktivitasmu dan lihat angka-angka yang kamu tulis. Aktivitas yang memakan banyak waktu seharusnya adalah aktivitas yang paling banyak memberikanmu paling banyak kepuasan. Aktivitas yang tidak memakan banyak waktu seharusnya memiliki angka yang kecil. Apa yang kita cari adalah ketidaksesuaian dalam dua hal itu.

Contohnya menonton TV dan bermain Instagram adalah dua aktivitas yang memakan terlalu banyak waktu tetapi tidak memberikan banyak kepuasan. Oleh karena itu penting bagi orang ini untuk mengurangi waktu yang ia habiskan untuk melakukan dua aktivitas tersebut dan mencari aktivitas yang lebih memuaskan.


Buat tujuan 1, 3, dan 5 tahunmu

Nah setelah mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan ideal dan bagaimana kamu menggunakan waktumu sehari-hari, hal ketiga yang harus kamu lakukan adalah memetakan tujuan 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahunmu.

Melakukan hal ini akan memastikan bahwa resolusi tahun barumu bukanlah sebuah tujuan tidak penting yang bersifat jangka pendek.

Dalam membuat tujuan-tujuan ini, ingat tiga poin penting dibawah ini:

Pastikan tujuan-tujuan lo bisa ditindaklanjuti. Tujuan seperti “merasa lebih bahagia” bukanlah sebuah tujuan yang bagus karena tujuan itu tidak bisa diukur dan kamu tidak akan tahu apakah kamu sudah mencapai tujuan itu atau belum.

Pastikan tujuanmu cukup realistik dengan kondisi kehidupanmu saat ini. Sebuah tujuan yang terlalu ambisius biasanya hanya akan menjadi angan-angan kosong.

Jangan mencoba untuk menggapai beberapa tujuan dalam secara bersamaan. Melakukan hal ini sama saja dengan bunuh diri mental karena fokusmu akan terpecah-pecah. Alih-alih, pilih 2-3 tujuan tahun ini, lalu raih tujuan itu satu per satu.

Setelah memahami semua itu, tulis 3-5 tujuan yang ingin kamu raih dalam satu tahun.

Bangun kebiasaan-kebiasaan kecil berdasarkan tujuan 1 tahunmu

Terakhir setelah menulis semua itu, buatlah kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa kamu lakukan setiap harinya untuk mendekatkanmu dengan tujuan-tujuan kehidupanmu.

Contohnya:

Tujuan 1: mengurangi 10 kilo
Lari mengitari rumah selama 20 menit setiap pagi (kecuali hari minggu)
Pergi ke gym minimal 3 kali satu minggu, melakukan 3 days Thor Fullbody Workout.

Tujuan 2: Mendapatkan seorang pacar
Berkenalan dengan seorang wanita di tinder 2 hari sekali
Mengikuti acara anak-anak muda di gereja

Tujuan 3: Menulis sebuah buku
Menulis 1 halaman setiap hari

Dengan menggunakan sistem ini, di tahun 2019 aku berhasil meningkatkan subscriber blogku sampai angka 2000, di tahun 2018 aku merasa lebih bahagia dengan pekerjaan dan pasanganku, di tahun 2017 aku berhasil menulis sebuah buku (walaupun buku itu ditolak oleh penerbit). Semoga sistem ini bisa membantumu seperti halnya sistem ini telah membuat kehidupanku menjadi lebih baik beberapa tahun terakhir.

(P.s. Sistem perencanaan ini telah aku tuangkan ke planner buatankan yang aku rilis Desember kemarin. Cek planner ini jika kamu tertarik untuk mulai membangun kehidupan yang lebih bermakna!)

 

Jika kamu menikmati artikel ini dan ingin mendapatkan post-post terbaruku lebih cepat, klik subscribe di bawah ini. Dengan melakukan itu, kamu juga akan mendapatkan Ebook gratis, rekomendasi buku di awal bulan, dan bonus artikel di akhir bulan. Jadi tunggu apa lagi?

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment