Quantcast
Love

Tips Melakukan Sebuah Perubahan Besar (Dan Menemukan Cinta)…

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Di post sebelumnya, kita sudah membahas tentang sebuah fenomena yang menyebabkan otak kita untuk menyabotase inisiatif-inisiatif dan perubahan-perubahan baru yang ingin kita lakukan pada diri kita sendiri.

Setiap kali kita ingin melakukan sebuah perubahan, otak kita memiliki kecenderungan untuk menciptakan berbagai alasan yang menyatakan mengapa perubahan itu bukanlah sebuah ide yang bagus. Kita kemudian membahas bagaimana alasan-alasan ini berakar dari ketakutan-ketakutan kita.

Gue mengakhiri post itu dengan mengatakan bahwa mencoba menggali asal-usul ketakutan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah untuk menjadi lebih besar dari ketakutan-ketakutan terhadap perubahan itu dan mencoba untuk mengalahkannya,

Nah, langkah pertama untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan lo adalah untuk menemukan alasan-alasan seperti apa yang sering lo gunakan pada diri lo sendiri. Saat kita merasa takut atau resah, kita biasanya mempunyai sebuah pola atau strategi yang biasanya kita gunakan untuk menyiasati perasaan tidak nyaman itu.

  1. Menyalahkan orang lain– Saat seseorang dengan pola ini dihadapkan dengan apa yang ia takutkan, ia biasanya akan menyalahkan seseorang atau sesuatu yang atas ketakutan yang ia rasakan.

    Contohnya, jika lo adalah seseorang yang memiliki pola ini dan lo ditugaskan untuk melakukan sebuah presentasi di kantor lo; lo akan merasa bahwa tugas ini bukanlah tugas yang penting dan jika presentasi ini gagal, lo akan berkata bahwa ini bukanlah salah lo. Lo akan mengatakan bahwa ini adalah salah si B karena ia tidak cukup melakukan riset atau bahkan si bos lo karena ia tidak memahami ketakutan lo terhadap presentasi. Akhirnya, karena merasa jengkel terhadap bos lo, lo memutuskan untuk menulis sebuah blog tentang bos lo yang idiot…

    Alasan-alasan dan proses menyalahkan orang lain ini sangatlah dangkal dan konyol dan mereka bisa mempengaruhi cara lo melihat segala sesuatu di dunia ini. Hal paling parah tentang pola ini adalah perasaan marah dan jengkel yang akan muncul setelah itu. Jika lo sering menggunakan pola ini untuk menetralisir ketakutan-ketakutan lo, lo biasanya akan mempunyai kepercayaan-kepercayaan negatif dan tidak nyata tentang orang lain.
     
  2. Apati dan menghindari masalah– Ini biasanya adalah strategi yang gue gunakan untuk menyiasati ketakutan gue. Pada dasarnya, orang-orang yang memilki pola ini akan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak peduli dengan perubahan-perubahan baru yang ingin ia ciptakan dan hal-hal itu tidaklah penting untuknya.

    Setelah gue putus dengan pacar gue yang pertama, gue berhasil meyakinkan diri gue bahwa gue tidak peduli dengan pikiran seorang wanita. Entah mereka menemukan gue menarik atau tidak, itu bukan urusan gue. Gue tidak peduli. Namun, selang beberapa bulan menjomblo, duduk sendirian di depan laptop gue menonton bokep dan menemukan teman-teman gue sudah bergonta-ganti pasangan, gue akhirnya mengakui bahwa gue tidak bisa hidup sendiri. Gue peduli dengan wanita, dan ya, gue harus mulai mencari jodoh. Pola ini biasanya tidak begitu berbahaya dalam aspek hubungan manusia karena pada dasarnya kita memang dipacu biologi kita untuk mencari pasangan dan beranak cucu.

    Apa yang berbahaya adalah saat strategi ini lo gunakan untuk menyiasati ketakutan-ketakutan dalam pekerjaan, keluarga, dan passion lo. Apati dan sifat menghindari masalah adalah apa yang menciptakan orang-orang malas dan pekerja kantoran yang tidak mempunyai inisiatif.
     
  3. Intelektualisasi– Ini adalah satu strategi menyiasati ketakutan paling populer di kalangan orang-orang yang mencintai pengembangan diri. Orang-orang yang memiliki pola seperti ini menghabiskan waktu mereka belajar bagaimana berkomunikasi lebih baik, terlihat percaya diri, dan bagaimana menjadi lebih sukses, alih-alih melakukan sesuatu untuk meningkatkan keahlian komunikasi, kepercayaan diri, dan meningkatkan kesuksesan mereka.

    Intelektualisasi sebenarnya bukanlah sebuah pola yang berbahaya dan bahkan seringkali akan memberikan beberapa manfaat positif pada kehidupan lo: lo akan belajar berbagai macam hal tentang kehidupan dan pada akhirnya memberikan lo kebijaksanaan untuk melakukan tindakan yang tepat. Namun, ada banyak orang di dunia ni yang menggunakan intelektualisasi ini sebagai satu cara untuk menghindari ketakutan mereka. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang-orang pintar, karena semakin pintar seseorang, semakin mudah ia menemukan alasan-alasan kenapa ia harus belajar dan memahami sesuatu sebelum melakukan sesuatu.

    Ya, tentu pengetahuan-pengetahuan ini pasti akan membantu lo, tetapi pada akhirnya guru paling baik di dunia ini adalah pengalaman. Saat lo terus menghabiskan waktu lo untuk mempelajari sesuatu, lo akan mencapai satu titik dimana informasi-informasi itu tidak lagi bermanfaat buat lo. Lo akan merasa bingung karena lo tidak mempunyai cukup pengalaman untuk mencocokkan informasi-informasi itu dengan kenyataan.

Sebenarnya ada strategi-strategi lain yang orang gunakan untuk menyiasati ketakutan mereka, namun tiga strategi di atas adalah strategi-strategi utama yang kebanyakan orang gunakan untuk menghindari ketakutan mereka. Jika lo membaca tiga strategi itu lebih dalam, lo akan menemukan sebuah pola yang sama: tiga strategi itu membantu lo menghindari ketakutan lo dan lo berakhir mempercayai sesuatu yang tidak nyata.

Kunci untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan kita adalah untuk menyadari strategi-strategi yang otak kita gunakan untuk menghindari rasa takut kita dan mematahkannya sebelum otak kita berhasil meyakinkan kita bahwa apa yang akan kita lakukan itu salah.

Jadi berikut adalah beberapa cara untuk mematahkan strategi-strategi itu:

 

  1. Ambil waktu sejenak dan pikirkan apa yang paling lo takutkan di dunia ini. Apakah itu melakukan PDKT? Melakukan sebuah presentasi? Meminta kenaikan gaji? 
  2. Sekarang tulis strategi yang lo gunakan untuk menghindari ketakutan itu. Contohnya, “Menelepon gebetan itu apati” atau “Menembak cewek itu menyalahkan orang lain.” 
  3. Sekarang buatlah tujuan untuk diri lo sendiri. Contohnya, “Kontak setiap nomor telepon yang gue dapatkan, tidak penting seberapa tidak pedulinya gue.” tulis tujuan-tujuan itu.  
  4. Beri tahu seorang teman apa yang ingin lo lakukan dan minta bantuan teman lo untuk memastikan bahwa lo mencapai tujuan itu apapun yang terjadi. Poin terakhir itu sangat penting. Membagikan ketakutan lo dan mempunyai seseorang yang memastikan lo memenuhi tujuan yang ingin lo capai akan mempermudah proses ini.  


Lo Bukanlah Seorang Korban Kehidupan

Satu asumsi yang gue selalu pegang dalam hidup gue adalah ini: “Gue selalu bertanggung jawab atas segala situasi kehidupan gue.” Ya tentu, kalimat itu terdengar klise dan mungkin beberapa hal di dunia ini terjadi diluar keinginan lo. Akan tetapi, pada akhirnya, baik buruknya sebuah keadaan sangat tergantung dengan persepsi lo. Dengan persepsi yang tepat, sebuah masalah yang besar bisa menjadi sebuah kesempatan yang besar; sesuatu yang lo takutkan selama ini bisa menjadi sebuah kunci kesuksesan yang selama ini lo cari.

Tantang diri lo untuk menemukan kebaikan di dalam segala sesuatu di dunia ini. Orang-orang yang lo temui, masalah-masalah yang terjadi, dan ketakutan-ketakutan yang ada di dalam diri lo. Kebaikan itu ada di dalam mereka dan itu adalah tugas lo untuk menemukannya, bukan tugas mereka untuk menunjukkannya.

 

Jika lo menemukan post ini bermanfaat, lo bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan email lo dibawah ini. Dengan mencantumkan email lo dibawah ini, lo akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dari gue yang gue percayai akan merubah kehidupan lo, ebook terbaru gue Threesome: Tiga Kebenaran Tidak Nyaman Tentang Kehidupan, dan satu bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment