Quantcast
Live

Cara Terbaik Mengurangi Penderitaanmu: Pilih Kebaikan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Aku memang bisa dibilang tidak pernah selalu cocok dengan Ayahku. Kami dulu sering bertengkar meributkan ini itu dan bila dijadikan sebuah film, aku yakin hubunganku dengan ayahku jauh lebih menarik dari 70% sinetron Indonesia. (Bukan karena hubungan kami separah itu, tetapi karena kebanyakan sinetron Indonesia memang sangatlah… parah…). Tapi aku harus mengakui, Ayahku adalah orang yang luar biasa.

Seperti kebanyakan pengusaha, Ayahku pandai berhitung dan mengatur risiko. Tetapi satu hal yang membedakan Ayahku dari ratusan pengusaha yang aku kenal adalah jiwa kemanusiaan Ayahku.

Aku masih ingat dulu waktu Ayahku baru pulih dari penyakitnya (waktu itu Ayahku baru sembuh dari sebuah penyakit sejenis Stroke yang hampir mengakhiri hidupnya), ia sering berjalan ke belakang rumahku untuk melatih pernafasan dan staminanya. Suatu pagi, saat ia sedang berjalan melewati sebuah sawah-sawah kosong dan melatih nafasnya, ia bertemu dengan seorang janda tua yang hidup sendirian. Suami wanita tua itu sudah meninggal karena sebuah penyakit parah dan entah karena alasan apa, anak-anaknya tidak ada yang mau menemani atau membantunya.

Wanita tua itu hidup di sebuah gubuk reyot dan ia terkadang harus rela tidak makan karena ia tidak punya cukup uang untuk membeli makanan. Setelah berbicara selama kurang lebih 15 menit, Ayahku menawarkan wanita tua itu sebuah pekerjaan sebagai tukang kebun di rumahku. Ayahku juga berkata bahwa ia akan membayar gaji bulan pertama wanita tua itu langsung jika ia memutuskan untuk menerima pekerjaan itu. Padahal, waktu itu, kami sudah memperkerjakan satu tukang kebun untuk merawat kebun rumah kami…

Waktu aku mendengar cerita itu, aku langsung protes. Aku ingin tahu kenapa Ayahku ingin memperkerjakan satu tukang kebun tua yang terlihat ringkih dan lemah itu saat kita sudah mempunyai satu tukang kebun yang masih muda dan kuat.

Mendengar pertanyaan itu, Ayahku hanya tersenyum. Ia kemudian hanya berkata bahwa wanita tua itu lebih membutuhkan pekerjaan ini daripada kita membutuhkan dia.

Keesokan harinya, seperti yang aku duga, kami memang tidak perlu seorang tukang kebun tambahan. Kebun rumah kami memang cukup besar, tetapi kami tidak membutuhkan dua tukang kebun untuk mengurusnya. Apalagi seorang tukang kebun tua berumur 60an tahun yang sangat kurus dan berwajah tirus…

Namun, saat aku berpapasan dengan wanita tua itu dan melihat wajahnya, aku menyadari bahwa Ayahku sudah melakukan sebuah tindakan yang tepat. Wajahnya yang terlihat tertekan kemarin terlihat lebih cerah, matanya yang hitam dan kosong mulai bersinar kembali, dan yang paling mengagetkan, ia mulai tersenyum!  Sesuatu yang aku pikir tidak akan bisa ia lakukan kemarin….

Tentu itu bukanlah satu-satunya kebaikan yang Ayahku lakukan di sepanjang hidupnya. Jika dikumpulkan, Ayahku mungkin sudah membantu puluhan atau bahkan ratusan orang di dunia ini. Namun, pertemuan Ayahku dengan wanita tua itu adalah satu kejadian yang paling berkesan di kepalaku. Aku belajar banyak tentang kebaikan hari itu: apa itu artinya untuk berbuat baik dan apa yang bisa terjadi kepada orang-orang yang menerima kebaikan. Dan di post pendek ini, aku ingin membagikan pelajaran itu…

Jangan Jadikan Kesulitan Alasan Untuk Tidak Berbuat Baik

Hidup di sebuah dunia yang “gelap” dan “tidak adil” ini, sangatlah mudah untuk terjebak dalam masalah-masalah yang bermunculan di kehidupan kita: diselingkuhi pacar dengan seseorang yang jauh lebih jelek darimu, ditabrak ambulans karena kamu melamun, uang jajanmu habis, kehabisan tisu toilet saat kamu ingin membersihkan pantat, menemukan foto “cantik” mu di Instagram tidak di like orang-orang, dan lain-lain…

Ya masalah-masalah ini memang menyedihkan dan mungkin tidak adil, tetapi jika dipikir-pikir, masalahmu tidaklah seunik itu. Masalah-masalah yang menimpamu sekarang mungkin juga menimpa jutaan manusia lain di dunia ini.

Dan saat kamu memusatkan semua perhatianmu pada masalah-masalah yang terus menimpa kehidupanmu, masalah-masalah itu akan menjadi lebih besar dan terasa lebih berat daripada kenyataannya. Ketakutan dan kecemasanmu akan menjadi semakin menjadi-jadi, membuat film Anabelle 2 terlihat menggelikan dibandingkan masalah-masalah yang menimpa kehidupanmu. Kamu menjadi terjebak dalam kecemasan dan ketakutanmu sendiri.

Padahal, masalah-masalah itu bisa kamu rubah menjadi sebuah sumber kekuatan dengan mengalihkan perhatianmu dari dirimu sendiri ke orang lain. Alih-alih mengasihani dirimu sendiri kamu bisa bertanya: Jika aku tidak bisa memperbaiki keadaanku sendiri, bagaimana aku bisa membuat kehidupan orang lain lebh baik? Jika memang tidak ada satu hal pun yang bisa aku lakukan untuk menyelesaikan masalahku, bagaimana aku bisa menggunakan situasi ini untuk membantu orang lain? Bagaimana aku bisa menemukan kebaikan di dalam masalah ini? Jika bukan untukku, maka aku akan melakukan semua ini untuk keluargaku atau untuk orang lain yang menghadapi masalah yang sama. Kamu akan kaget seberapa cepat kesedihan dan kegalauanmu akan hilang setelah memikirkan hal-hal ini, karena sekarang kamu mempunyai sesuatu yang bisa kamu lakukan.

Membantu Orang Lain

Saat kita bisa memusatkan perhatian kita untuk membantu orang lain atau paling tidak menjadi contoh yang baik bagi orang-orang di sekitar kita, ketakutan dan masalah-masalah kita akan mengecil dan menghilang. Kita tidak lagi mempunyai waktu untuk menemani rasa takut atau sakit hati kita. Berjuang untuk kebaikan orang lain akan memberimu kekuatan.

Kepercayaan diri kita bisa hancur. Kesabaran kita ada batasnya. Tetapi keinginan kita untuk membantu orang lain? Tidak. Tidak ada penderitaan, keurangan, atau masalah yang bisa mengganggu keinginan kita untuk membantu orang lain. Kebaikan selalu adalah sebuah pilihan yang kita punyai. Itu adalah sebuah kekuatan yang tidak akan bisa diambil orang lain…

Saat Ayahku bertemu dengan wanita tua yang hidup sendirian di belakang rumahku, ia memiliki segala alasan untuk tidak membantu wanita tua itu. Ayahku baru saja dirawat di Singapura selama beberapa minggu dan biaya yang harus ia keluarkan untuk membayar rumah sakit tidaklah kecil. Menanggung kehidupan seorang wanita tua yang tidak ia kenal tidak akan tiba-tiba membuatnya jadi lebih kaya atau menyelesaikan semua masalah keuangannya. Tetapi Ayahku tetap memilih untuk mengulurkan tangannya pada wanita tua itu. Bukan karena ia mampu, bukan karena ia ingin menjadi terkenal, atau bermain Tuhan. Ia melakukan semua itu karena ia jugalah seorang manusia yang menginginkan kurang lebih hal yang sama: makan yang cukup, istirahat yang tenang, dan orang-orang yang memahami masalahnya…

Biarkan kesadaran bahwa kamu adalah satu bagian dari dunia yang luas ini memenuhi pikiranmu. Kita semua adalah manusia-manusia yang mencoba untuk hidup sebaik mungkin: bertahan hidup, menolong satu sama lain, dan mungkin dalam proses itu, membuat dunia ini sedikit lebih baik.

Berbuat baiklah pada orang-orang yang ada di sekitarmu untuk bertahan hidup dan menemukan kehidupan yang lebih baik, kontribusikan apa yang bisa kamu kontribusikan sebelum waktumu di dunia ini habis, dan bersyukurlah atas kesempatan itu. Bantulah orang lain. Jadilah kuat untuk mereka, dan hal itu akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat…

 

Jika kamu menemukan post ini bermanfaat, kamu bisa men subscribe ke blog ini dengan mencantumkan emailmu dibawah ini. Dengan mencantumkan emailmu dibawah ini, kamu akan mendapatkan 3 buku rekomendasi dariku yang aku percayai akan merubah kehidupanmu dan satu atau dua bonus artikel setiap bulannya. Jadi tunggu apa lagi?  

 

 

Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

Write A Comment