Quantcast
Tag

kebahagiaan

Browsing

Beberapa bulan yang lalu, kita telah membahas beberapa poin tentang berlatih dengan tujuan; sebuah konsep latihan yang biasanya digunakan oleh para ahli seperti atlet Kobe Bryant, musisi kelas dunia seperti the Beatles, dan bahkan pengusaha-pengusaha tersukses di dunia seperti Bill Gates.  Pada dasarnya, konsep berlatih dengan tujuan ini bisa dipecah menjadi beberapa poin berikut: Pecahkan keahlian yang ingin lo pelajari menjadi beberapa komponen kecil Dorong diri lo keluar dari zona nyaman lo Temukan apa yang menghambat perkembangan lo Carilah seorang ahli/mentor yang berpengalaman Kita sudah membahas poin-poin ini secara detail di post sebelumnya, dan jika lo belum membacanya, gue sangat menyarankan lo untuk membacanya sekarang. Nah, lewat bonus artikel ini, gue ingin membahas bagaimana lo bisa mempertahankan metode latihan ini dan menjadi seorang ahli. Karena seperti cerita Kobe Bryant di artikel gue sebelumnya, berlatih dengan tujuan tidaklah mudah. Latihan seperti ini sangatlah menyakitkan, sulit, dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Jika lo…

Salah satu obsesi terbesar gue waktu masih kecil dulu adalah mengganti Channel TV begitu melihat iklan di layar TV gue. Seperti kebanyakan anak kecil yang terobsesi dengan film kartun favoritnya, gue merasa bahwa iklan adalah sesuatu yang mengganggu, obstrusif, dan bahkan menjijikkan (Dag… Dig… Dug… Der… Daia! Dan tiba-tiba seorang pria berkacamata yang memiliki sebuah rambut berbentuk sabu lidi berwarna warni tiba-tiba muncul… Ugh) Jadi setiap kali gue melihat iklan (terutama iklan Daia), gue akan mengganti Channel TV gue dan mencari acara yang menarik lainnya. Walaupun taktik ini membantu gue untuk menghindari iklan-iklan yang konyol dan menggelikan, taktik ini juga menciptakan sebuah masalah lain, yaitu: Gue jadi melewatkan adegan terpenting di dalam film-film kartun yang gue tonton saat itu… Gue masih ingat waktu gue sedang menonton kartun Captain Tsubasa dulu. Saat itu Captain Tsubasa sedang berlari ke arah Goal lawan dan bersiap untuk melakukan tendangan Rajawali andalannya. Di depannya, dua…

Dua minggu terakhir, gue telah menuliskan tentang pentingnya memiliki prioritas hidup dan bagaimana cara membedakan prioritas yang baik dan buruk. Nah, di esai ini gue ingin membagikan satu tips untuk menjaga prioritas-prioritas itu dan memastikan lo menggunakan waktu lo untuk hal-hal terpenting kehidupan. Tips itu adalah mengadopsi gaya hidup minimalisme… Menjaga Prioritas Hidup dan Minimalisme Pernahkah lo mengalami pengalaman ini: Lo berkata pada diri lo sendiri bahwa lo akan mengerjakan tugas lo selama tiga jam ke depan. Lo menyeruput kopi hitam yang ada di sebelah lo seperti seorang tauke besar lalu membuka laptop lo untuk bekerja. Tetapi sebelom lo sempat melakukan apa-apa atau mengetik satu huruf-pun, lo tiba-tiba menerima sebuah video lagu anak-anak lucu tentang bayi ikan hiu dari pacar lo. Penasaran, lo akhirnya menonton video itu sampai habis. Setelah selesai menonton video itu, lo berkata bahwa lo akan mulai bekerja dengan serius sekarang, tetapi beberapa detik kemudian, lo malah…

Di post gue yang sebelumnya, gue telah menuliskan betapa pentingnya itu untuk mengetahui dan menghidupi nilai-nilai terpenting kehidupan lo, apalagi di abad 21 ini. Di sebuah zaman yang dipenuhi gangguan, opsi-opsi baru, dan kesibukan-kesibukan palsu; sangatlah mudah untuk menjadi seorang manusia galau yang menghabiskan hari-harinya tidak tahu harus melakukan apa dan mempertanyakan setiap pilihan-pilihan yang sudah mereka buat. Namun seperti segala pilihan di dunia ini, tidak semua nilai-nilai kehidupan yang ada di dunia ini adalah nilai-nilai kehidupan yang baik. Beberapa nilai-nilai kehidupan di dunia ini memang akan membuat masalah-masalah kita menjadi lebih baik dan mendewasakan kita. Namun, beberapa nilai kehidupan di dunia ini malah akan memperparah masalah-masalah kita dan hanya akan membuat kita stress dan menyanyikan lagu Manusia Bodoh karangan Ada Band sambil nangis Bombay. Kuncinya adalah untuk membedakan dan mengetahui nilai-nilai apa yang baik untuk kita, dan nilai-nilai apa yang kurang baik untuk kita. Dari situ, kebahagiaan dan kesuksesan…

Beberapa minggu yang lalu gue memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen kecil. Gue ingin mengetahui bagaimana gue menghabiskan waktu gue dalam satu bulan. Jadi setiap harinya, setelah gue selesai melakukan sesuatu, gue akan mencatat aktivitas itu di dalam sebuah buku. Disampingnya, gue akan menuliskan berapa banyak waktu yang gue habiskan untuk melakukan aktivitas itu dan seberapa memuaskan aktivitas itu dari skala 1 sampai 10. Setelah satu bulan, eksperimen kecil ini menunjukkan dimana dan kapan gue biasanya menyia-nyiakan waktu gue. Eksperimen ini juga menunjukkan hal apa yang paling penting di dalam kehidupan gue. Atau lebih tepatnya, hal apa yang sebenarnya paling penting untuk gue. Selama ini gue selalu merasa bahwa passion, hubungan, dan kebahagiaan adalah nilai-nilai paling penting di dalam kehidupan gue. Jadi gue pikir gue akan menghabiskan waktu gue untuk mengembangkan passion gue, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang gue cintai, dan mencari kedamaian. Namun setelah melakukan eksperimen kecil ini, gue baru…

Gue pernah mempunyai seorang teman yang bisa dibilang memiliki tampang yang cukup oke, hati yang baik, dan karier yang sangat mapan. Umurnya sudah mendekati 30 dan entah kenapa, setiap kali ia mendekati seseorang, usaha PDKT itu tidak pernah berhasil. Ia bukannya ditolak, tetapi ia selalu merasa tidak yakin bahwa wanita yang ia dekati adalah jodohnya. Selang beberapa bulan kemudian, biasanya wanita-wanita yang ia dekati akan mulai berpacaran dengan orang lain, sementara ia meratapi kejombloannya lagi. Ia selalu berkata bahwa ia memang menginginkan sebuah hubungan yang serius, sebuah hubungan yang akan berakhir ke sebuah pernikahan. Jadi ia tidak mau salah memilih. Ia berkata bahwa ia tidak mau menyesal di kemudian hari. Ia melihat proses pencarian jodoh seperti sebuah pernikahan, sebuah hubungan yang hanya bisa dipatahkan oleh maut… Gue yakin beberapa dari kita pasti pernah memiliki pengalaman yang sama. Kita menginginkan hubungan yang serius, jadi kita menjadi lebih berhati-hati untuk memilih jodoh…

Baru-baru ini, gue menonton sebuah film Disney yang berjudul The Wrinkle in Time bersama tunangan gue. Dan setelah 30 menit menonton film itu, gue menjadi semakin yakin bahwa sutradara itu pasti sedang menghisap ganja saat ia sedang membuat film tersebut. Bagaimana tidak? Dalam waktu 30 menit, gue melihat bunga-bunga yang bernyanyi riang seperti di film teletubies, makhluk yang terlihat seperti seledri terbang, dan Oprah Winfrey yang didandani seperti seorang Super Saiya… Film itu mengisahkan tentang pertualangan dua anak, Meg dan Charles Wallace, yang sedang mencari ayahnya yang menghilang ke dunia lain. Ayah dan ibu mereka adalah dua ilmuwan yang sedang meriset tentang konsep dunia di dalam dunia (mereka percaya bahwa ada beberapa dunia di dalam bumi ini, mereka hanya ada dalam waktu ‘berbeda’). Dan entah itu karena sebuah kecelakaan atau kebetulan, ayah mereka menemukan sebuah pintu ke dunia lain. Didorong oleh rasa penasaran yang akan membuat anak lima tahun malu,…

Seringkali kita merasa bahwa penderitaan kita itu unik, lain dari yang lain, dan lebih berat daripada penderitaan orang lain. Namun, nyatanya, lo bukanlah satu-satunya orang yang mengalami penderitaan itu. Lo bukanlah satu-satunya. Baca…

Sejak gue masih kecil dulu, gue sudah sering bertanya pada diri gue sendi “Apa sih tujuan hidup gue?” sambil menggosok-gosok dagu gue yang masih mulus. Gue sadar bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan paling sulit sekaligus pertanyaan paling penting yang harus kita jawab sebagai manusia. Gue merasa tanpa menjawab pertanyaan itu, kehidupan akan terasa kosong dan membosankan. Akan tetapi, saat gue mencoba untuk menjawab pertanyaan itu, gue mulai sadar bahwa pertanyaan itu bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah. Ini bukan karena gue malas atau tidak bisa menemukan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan itu, tetapi masalah ini lebih disebabkan karena jawaban-jawaban yang gue pikir tepat ternyata berakhir… tidak tepat… Waktu gue berumur lima tahun, gue pikir mempunyai mainan terbaru dan membuat Bokap Nyokap gue bahagia adalah tujuan kehidupan gue. Tetapi semakin gue bertambah dewasa, semakin gue sadar bahwa itu bukanlah tujuan kehidupan gue. Mempunyai mainan-mainan terbaru dan cinta orangtua gue memang membuat gue…

Kita semua pasti ingin menjadi lebih bahagia. Tanyalah pada seseorang kenapa ia menginginkan sesuatu beberapa kali, dan lo akan menemukan bahwa mereka menginginkan hal-hal tersebut karena mereka ingin lebih bahagia. Tidak bisa dipungkiri kebahagiaan adalah sebuah kebutuhan manusia yang paling penting dan hidup akan terasa seperti sebuah penyiksaan panjang tanpa kebahagiaan. Namun masalahnya, kebahagiaan adalah sesuatu yang subjektif, sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan dengan kata-kata. Dan selama ribuan tahun, para filsuf dan pemimpin agama di dunia ini telah mencoba untuk menjawab pertanyaan itu: Apa yang akan membuat manusia bahagia? Selama ribuan tahun, orang-orang pintar ini mengajari satu sama lain, berdebat, dan bekerjasama untuk mencoba menjawab pertanyaan itu. Namun, sayangnya mereka sepertinya tidak pernah menemukan satu jawaban baku untuk menjawab pertanyaan itu… sampai saat ini… Dengan berkembangnya teknologi X-ray dan berbagai inovasi canggih lainnya, kita akhirnya bisa melihat isi kepala manusia dan mulai memetakan isi pikiran dan perasaan kita.…