Quantcast
Tag

kebahagiaan

Browsing

Beberapa minggu yang lalu gue memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen kecil. Gue ingin mengetahui bagaimana gue menghabiskan waktu gue dalam satu bulan. Jadi setiap harinya, setelah gue selesai melakukan sesuatu, gue akan mencatat aktivitas itu di dalam sebuah buku. Disampingnya, gue akan menuliskan berapa banyak waktu yang gue habiskan untuk melakukan aktivitas itu dan seberapa memuaskan aktivitas itu dari skala 1 sampai 10. Setelah satu bulan, eksperimen kecil ini menunjukkan dimana dan kapan gue biasanya menyia-nyiakan waktu gue. Eksperimen ini juga menunjukkan hal apa yang paling penting di dalam kehidupan gue. Atau lebih tepatnya, hal apa yang sebenarnya paling penting untuk gue. Selama ini gue selalu merasa bahwa passion, hubungan, dan kebahagiaan adalah nilai-nilai paling penting di dalam kehidupan gue. Jadi gue pikir gue akan menghabiskan waktu gue untuk mengembangkan passion gue, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang gue cintai, dan mencari kedamaian. Namun setelah melakukan eksperimen kecil ini, gue baru…

Gue pernah mempunyai seorang teman yang bisa dibilang memiliki tampang yang cukup oke, hati yang baik, dan karier yang sangat mapan. Umurnya sudah mendekati 30 dan entah kenapa, setiap kali ia mendekati seseorang, usaha PDKT itu tidak pernah berhasil. Ia bukannya ditolak, tetapi ia selalu merasa tidak yakin bahwa wanita yang ia dekati adalah jodohnya. Selang beberapa bulan kemudian, biasanya wanita-wanita yang ia dekati akan mulai berpacaran dengan orang lain, sementara ia meratapi kejombloannya lagi. Ia selalu berkata bahwa ia memang menginginkan sebuah hubungan yang serius, sebuah hubungan yang akan berakhir ke sebuah pernikahan. Jadi ia tidak mau salah memilih. Ia berkata bahwa ia tidak mau menyesal di kemudian hari. Ia melihat proses pencarian jodoh seperti sebuah pernikahan, sebuah hubungan yang hanya bisa dipatahkan oleh maut… Gue yakin beberapa dari kita pasti pernah memiliki pengalaman yang sama. Kita menginginkan hubungan yang serius, jadi kita menjadi lebih berhati-hati untuk memilih jodoh…

Baru-baru ini, gue menonton sebuah film Disney yang berjudul The Wrinkle in Time bersama tunangan gue. Dan setelah 30 menit menonton film itu, gue menjadi semakin yakin bahwa sutradara itu pasti sedang menghisap ganja saat ia sedang membuat film tersebut. Bagaimana tidak? Dalam waktu 30 menit, gue melihat bunga-bunga yang bernyanyi riang seperti di film teletubies, makhluk yang terlihat seperti seledri terbang, dan Oprah Winfrey yang didandani seperti seorang Super Saiya… Film itu mengisahkan tentang pertualangan dua anak, Meg dan Charles Wallace, yang sedang mencari ayahnya yang menghilang ke dunia lain. Ayah dan ibu mereka adalah dua ilmuwan yang sedang meriset tentang konsep dunia di dalam dunia (mereka percaya bahwa ada beberapa dunia di dalam bumi ini, mereka hanya ada dalam waktu ‘berbeda’). Dan entah itu karena sebuah kecelakaan atau kebetulan, ayah mereka menemukan sebuah pintu ke dunia lain. Didorong oleh rasa penasaran yang akan membuat anak lima tahun malu,…

Sejak gue masih kecil dulu, gue sudah sering bertanya pada diri gue sendi “Apa sih tujuan hidup gue?” sambil menggosok-gosok dagu gue yang masih mulus. Gue sadar bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan paling sulit sekaligus pertanyaan paling penting yang harus kita jawab sebagai manusia. Gue merasa tanpa menjawab pertanyaan itu, kehidupan akan terasa kosong dan membosankan. Akan tetapi, saat gue mencoba untuk menjawab pertanyaan itu, gue mulai sadar bahwa pertanyaan itu bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah. Ini bukan karena gue malas atau tidak bisa menemukan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan itu, tetapi masalah ini lebih disebabkan karena jawaban-jawaban yang gue pikir tepat ternyata berakhir… tidak tepat… Waktu gue berumur lima tahun, gue pikir mempunyai mainan terbaru dan membuat Bokap Nyokap gue bahagia adalah tujuan kehidupan gue. Tetapi semakin gue bertambah dewasa, semakin gue sadar bahwa itu bukanlah tujuan kehidupan gue. Mempunyai mainan-mainan terbaru dan cinta orangtua gue memang membuat gue…

Kita semua pasti ingin menjadi lebih bahagia. Tanyalah pada seseorang kenapa ia menginginkan sesuatu beberapa kali, dan lo akan menemukan bahwa mereka menginginkan hal-hal tersebut karena mereka ingin lebih bahagia. Tidak bisa dipungkiri kebahagiaan adalah sebuah kebutuhan manusia yang paling penting dan hidup akan terasa seperti sebuah penyiksaan panjang tanpa kebahagiaan. Namun masalahnya, kebahagiaan adalah sesuatu yang subjektif, sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan dengan kata-kata. Dan selama ribuan tahun, para filsuf dan pemimpin agama di dunia ini telah mencoba untuk menjawab pertanyaan itu: Apa yang akan membuat manusia bahagia? Selama ribuan tahun, orang-orang pintar ini mengajari satu sama lain, berdebat, dan bekerjasama untuk mencoba menjawab pertanyaan itu. Namun, sayangnya mereka sepertinya tidak pernah menemukan satu jawaban baku untuk menjawab pertanyaan itu… sampai saat ini… Dengan berkembangnya teknologi X-ray dan berbagai inovasi canggih lainnya, kita akhirnya bisa melihat isi kepala manusia dan mulai memetakan isi pikiran dan perasaan kita.…

Anda hanya memiliki satu kesempatan untuk hidup di dunia ini. Jadi jangan segan-segan untuk mengejar mimpi-mimpi anda, jangan biarkan ketakutan membatasi hidup anda. Jangan tinggal di dalam sebuah pekerjaan yang membuat anda tidak bahagia hanya karena anda takut anda tidak akan mendapatkan pekerjaan lain. Jangan hidup dengan orang yang membuat hidup anda menderita karena anda takut hidup sendirian. Jangan menunggu sampai anda mempunyai cukup uang di tabungan anda untuk memulai sebuah proyek atau kehidupan yang anda impikan. Saya tidak berkata bahwa kita harus bertindak dengan sembrono dan mengharapkan keberuntungan, namun yang saya maksudkan disini adalah untuk berhenti menunggu dan mulai melakukan sesuatu. Mulai kejar mimpi anda sekarang- biarkan mimpi itu masuk ke dalam setiap pori-pori tubuh anda. Biarkan hal-hal yang tidak anda sukai hilang dari kehidupan anda. Saya baru-baru ini mendengar sebuah wawancara Joseph Campbell, seorang penulis mitologis dan dosen terkenal di Amerika. Di wawancara itu ia mengatakan sesuatu yang…

Terkadang aku sering lupa, dan harus terus mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tidak sedang berjalan ke suatu tempat. Momen ini bukanlah sebuah batu loncatan untuk mencapai tempat lain. Momen ini adalah destinasiku. Aku sudah disini. Aku tidak sedang berjalan ke momen yang lebih penting. Momen ini adalah momen paling penting. Hal ini mungkin adalah sesuatu yang kamu sudah ketahui, namun kita sering melupakannya. Kita tidak akan menyadarinya sampai kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa momen ini adalah momen paling penting. Dan bahkan setelah itupun, aku harus memaksa diriku sendiri, karena aku mempunyai kebiasaan untuk melewatkan momen ini untuk memikirkan momen-momen yang aku pikir lebih penting di masa depan. Mari kita lihat beberapa contoh: Kamu terjebak di kemacetan padahal kamu sudah berjanji akan menemui seseorang 10 menit yang lalu. Kamu terburu-buru untuk mencapai tempat itu. Namun momen ini, duduk di mobil sendirian, merasa marah, tidaklah lebih buruk dari momen lain di…

Mungkin anda tidak menyadarinya namun kehidupan yang penuh terlihat sangat berbeda dengan kehidupan yang sibuk. Kehidupan yang sibuk itu: Melelahkan Tidak efektif Dipenuhi stress Kacau Terpecah-pecah Membingungkan Kesibukan mengganggu kita dari apa yang paling penting di kehidupan kita, dan siapa yang kita pedulikan. Kesibukan akan membuat anda menumpuk stress, kehilangan cinta orang-orang terpenting di hidup anda, dan terbangun lelah, hanya untuk mengulangi kesibukan yang sama. Kehidupan yang penuh itu: Berarti Menarik Membuat kita bersemangat Terfokuskan Menyenangkan Damai Kehidupan yang penuh mengundang kita untuk fokus pada apa yang paling penting di kehidupan kita, dan menghabiskan waktu kita dengan orang-orang yang kita cintai. Sebuah kehidupan yang penuh bukanlah tentang melakukan semuanya, namun mengakhiri hari anda dengan kepuasan karena anda telah menghabiskan hari itu melakukan hal-hal terpenting kehidupan. Kesibukan hanya akan menghasilkan ketakutan, kecemasan, dan penyesalan. Kehidupan yang penuh akan membuat kita tersenyum dan bernafas lega. Kesuksesan sebuah hidup yang sibuk diukur dari…

Bayangkan anda berdiri di tengah gudang luas yang sudah di tinggalkan yang terletak di ujung kota. Gudang itu kosong kecuali sebuah kursi kayu yang telah berdiri di atas lantai yang berdebu. Anda melihat sekeliling. Hanya ada anda dan kursi itu dan berbagai puing-puing yang tersisa dari barang-barang berpuluh-puluh tahun yang lalu dan kesunyian kota itu. Misi anda adalah untuk mencoba mengangkat kursi itu. Namun hal ini menciptakan sebuah masalah bukan? Anda tidak bisa mencoba mengangkat kursi itu. Anda bisa mengangkatnya atau tidak, anda bisa atau tidak, anda berhasil atau anda gagal, namun anda tidak mencoba. Tidak mungkin untuk mencoba mengangkat kursi itu. Jadi alih-alih mencoba, anda mengangkat kursi itu dan tersenyum bangga. Berhasil. Tidak ada mencoba, anda hanya melakukannya. Anda tidak mencoba untuk mencapai tujuan anda, anda melakukan sesuatu dan anda menyelesaikan tugas itu dengan baik. Namun, anda pernah gagal sebelumnya, anda telah memutuskan untuk melakukan sesuatu dan anda tidak…