Quantcast
Tag

kehidupan

Browsing

Di akhir tahun kemarin, gue sempat menghadiri sebuah seminar di mana pendiri Orang Tua group, Bapak Hamid Djojonegoro menjadi pembicara utamanya. Di awal acara itu, dengan suara yang lantang, Bapak Hamid berkata, “Semakin besar bisnis lo, semakin besar masalah lo. Saat lo menyelesaikan sebuah masalah, lo akan menciptakan masalah lain…” Ia kemudian melanjutkan bahwa di kehidupan ini, masalah lo tidak akan pernah berakhir. Solusi dari sebuah masalah adalah sebuah masalah baru yang harus lo selesaikan di kemudian hari. Masalah tidak akan pernah hilang dari hidup lo katanya, mereka hanya akan berubah dan menjadi lebih baik… Waktu pertama kali mendengar kata-kata itu, gue ingin tertawa. Gue berpikir, “lo pasti bercanda, sepertinya, kehidupan tidak se-menyedihkan itu deh.” Tetapi setelah melihat kembali kehidupan gue dan memikirkan kata-kata itu lagi, gue menyadari ada kenyataan dibalik kata-kata itu. Kata-katanya membuat gue teringat akan peluncuran blog pertama gue… Masalah, Masalah, dan Masalah… Memulai blog ini adalah…

Dua minggu terakhir, gue telah menuliskan tentang pentingnya memiliki prioritas hidup dan bagaimana cara membedakan prioritas yang baik dan buruk. Nah, di esai ini gue ingin membagikan satu tips untuk menjaga prioritas-prioritas itu dan memastikan lo menggunakan waktu lo untuk hal-hal terpenting kehidupan. Tips itu adalah mengadopsi gaya hidup minimalisme… Menjaga Prioritas Hidup dan Minimalisme Pernahkah lo mengalami pengalaman ini: Lo berkata pada diri lo sendiri bahwa lo akan mengerjakan tugas lo selama tiga jam ke depan. Lo menyeruput kopi hitam yang ada di sebelah lo seperti seorang tauke besar lalu membuka laptop lo untuk bekerja. Tetapi sebelom lo sempat melakukan apa-apa atau mengetik satu huruf-pun, lo tiba-tiba menerima sebuah video lagu anak-anak lucu tentang bayi ikan hiu dari pacar lo. Penasaran, lo akhirnya menonton video itu sampai habis. Setelah selesai menonton video itu, lo berkata bahwa lo akan mulai bekerja dengan serius sekarang, tetapi beberapa detik kemudian, lo malah…

Demosthenes tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi pembicara terbaik di Athena, apalagi dalam sejarah. Ia terlahir sakit-sakitan dan ia memiliki kecacatan berbicara. Pada saat ia berumur tujuh tahun, ia kehilangan ayahnya. Dan di saat itulah kehidupannya menjadi semakin sulit. Harta warisan yang ditinggalkan untuknya- yang seharusnya digunakan untuk membayar sekolah dan guru lesnya- dicuri oleh penjaga yang dipercaya untuk mengasuh dan melindunginya. Mereka tidak mau membiayai uang sekolah dan guru les Demosthenes. Masih lemah dan sakit-sakitan, Demosthenes juga tidak bisa sukses menjadi tentara. Disinilah seorang anak yatim piatu, sakit-sakitan, sedikit aneh, dan tidak dipahami oleh orang lain hidup sebatang kara. Ia bukanlah seorang anak laki-laki yang lo pikir akan bisa menggerakkan sebuah negara hanya dengan kata-katanya. Lahir cacat, ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya menjaganya; hampir semua kesalahan yang bisa terjadi di hidup seorang anak jatuh ke Demosthenes. Semua ini jelas tidak adil. Kebanyakan dari kita, jika berada di posisi itu, mungkin…

Waktu gue kuliah di Singapura dulu, gue pernah ikut sebuah klub berpidato yang bernama Toastmaster. Dan waktu gue menjabat sebagai salah satu komite klub itu, kepala komite klub gue mencoba untuk melakukan sesuatu yang menarik, yaitu: menciptakan sebuah program mentorship untuk anggota-anggota baru. Saat seseorang baru mendaftar ke klub Toastmaster, ia akan diperkenalkan ke seorang mentor. Seseorang yang akan menemaninya berlatih, mengajarinya berbagai teknik berpidato, dan dalam kasus tertentu, mengisi kekosongan hati yang mereka rasakan dari waktu ke waktu (ada sekitar 3 atau 4 pasangan yang terlahir dari hubungan mentor-mentee ini, sesuatu yang fantastis menurut gue). Hubungan mentor-mentee ini membuahkan hasil yang luar biasa. Anggota-anggota baru yang biasanya merasa enggan untuk melakukan presentasi tiba-tiba menjadi lebih aktif. Setiap kali kita mengadakan event-event untuk menarik anggota baru, pendaftaran kita terus meningkat. Jumlah manusia-manusia jomblo di klub gue semakin berkurang (entah karena program mentorship atau karena bertambahnya anggota baru). Dan yang paling…

Gue sedang berada di kantor baru gue yang masih berumur enam bulan. Di depan gue, duduk partner bisnis gue. Setelah lima detik yang panjang, gue akhirnya berhasil mengatakan kata-kata itu… “Kayaknya kita mending berhenti melakukan semua ini deh…” kata gue dengan berat hati. Partner bisnis gue hanya menatap gue sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Beberapa hari setelah itu, kami memutuskan untuk mengecilkan bisnis kami dan selang beberapa bulan kemudian, kami memutuskan untuk menutup bisnis itu untuk selamanya… Sesuatu yang tidak pernah gue bayangkan akan gue lakukan enam bulan yang lalu… ### Itu adalah hari-hari terakhir gue di Fvour media, sebuah perusahaan digital marketing yang gue dirikan bersama teman gue.Seperti kebanyakan anak-anak muda yang terinspirasi oleh entrepreneur-entrepeneur cilik yang memulai berbagai bisnis berdasarkan passion mereka, kami terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Kami memutuskan untuk memulai sebuah Digital Marketing Agency di Semarang dan awalnya, kami berpikir bahwa bisnis kami akan sukses jaya.…

Nilai kita di dunia ini ditentukan oleh seberapa besar kontribusi kita ke dunia ini. Semakin banyak dan bermanfaat kontribusi yang lo berikan, semakin orang lain akan menghargai lo. Itu adalah hukum manusia yang tidak akan berubah dan bahkan akan menjadi semakin kuat di era digital ini. Jika hukum itu membuat lo terdengar seperti seorang pelacur, well… itu karena pada dasarnya kita semua adalah seorang pelacur. Kita hanya melacurkan diri kita dengan cara yang berbeda. Gue akan memberikan lo beberapa detik untuk menyerap kalimat itu baik-baik… Arti Kehidupan dan Kontribusi Seperti yang sudah gue tuliskan sebelumnya, lo bisa mengartikan kehidupan lo dengan cara apa saja. Pada dasarnya, arti kehidupan seorang manusia bertujuan untuk mendorong manusia itu untuk terus ber-inovasi dan menjadi lebih baik. Namun, ada satu aspek lain yang belum gue bahas di post itu, yaitu kualitas arti kehidupan yang kita ciptakan. Seperti segala hal di dunia ini, tidak semua arti…

Baru-baru ini, gue menonton sebuah film Disney yang berjudul The Wrinkle in Time bersama tunangan gue. Dan setelah 30 menit menonton film itu, gue menjadi semakin yakin bahwa sutradara itu pasti sedang menghisap ganja saat ia sedang membuat film tersebut. Bagaimana tidak? Dalam waktu 30 menit, gue melihat bunga-bunga yang bernyanyi riang seperti di film teletubies, makhluk yang terlihat seperti seledri terbang, dan Oprah Winfrey yang didandani seperti seorang Super Saiya… Film itu mengisahkan tentang pertualangan dua anak, Meg dan Charles Wallace, yang sedang mencari ayahnya yang menghilang ke dunia lain. Ayah dan ibu mereka adalah dua ilmuwan yang sedang meriset tentang konsep dunia di dalam dunia (mereka percaya bahwa ada beberapa dunia di dalam bumi ini, mereka hanya ada dalam waktu ‘berbeda’). Dan entah itu karena sebuah kecelakaan atau kebetulan, ayah mereka menemukan sebuah pintu ke dunia lain. Didorong oleh rasa penasaran yang akan membuat anak lima tahun malu,…

Sejak gue masih kecil dulu, gue sudah sering bertanya pada diri gue sendi “Apa sih tujuan hidup gue?” sambil menggosok-gosok dagu gue yang masih mulus. Gue sadar bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan paling sulit sekaligus pertanyaan paling penting yang harus kita jawab sebagai manusia. Gue merasa tanpa menjawab pertanyaan itu, kehidupan akan terasa kosong dan membosankan. Akan tetapi, saat gue mencoba untuk menjawab pertanyaan itu, gue mulai sadar bahwa pertanyaan itu bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah. Ini bukan karena gue malas atau tidak bisa menemukan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan itu, tetapi masalah ini lebih disebabkan karena jawaban-jawaban yang gue pikir tepat ternyata berakhir… tidak tepat… Waktu gue berumur lima tahun, gue pikir mempunyai mainan terbaru dan membuat Bokap Nyokap gue bahagia adalah tujuan kehidupan gue. Tetapi semakin gue bertambah dewasa, semakin gue sadar bahwa itu bukanlah tujuan kehidupan gue. Mempunyai mainan-mainan terbaru dan cinta orangtua gue memang membuat gue…

Kita semua pasti ingin menjadi lebih bahagia. Tanyalah pada seseorang kenapa ia menginginkan sesuatu beberapa kali, dan lo akan menemukan bahwa mereka menginginkan hal-hal tersebut karena mereka ingin lebih bahagia. Tidak bisa dipungkiri kebahagiaan adalah sebuah kebutuhan manusia yang paling penting dan hidup akan terasa seperti sebuah penyiksaan panjang tanpa kebahagiaan. Namun masalahnya, kebahagiaan adalah sesuatu yang subjektif, sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan dengan kata-kata. Dan selama ribuan tahun, para filsuf dan pemimpin agama di dunia ini telah mencoba untuk menjawab pertanyaan itu: Apa yang akan membuat manusia bahagia? Selama ribuan tahun, orang-orang pintar ini mengajari satu sama lain, berdebat, dan bekerjasama untuk mencoba menjawab pertanyaan itu. Namun, sayangnya mereka sepertinya tidak pernah menemukan satu jawaban baku untuk menjawab pertanyaan itu… sampai saat ini… Dengan berkembangnya teknologi X-ray dan berbagai inovasi canggih lainnya, kita akhirnya bisa melihat isi kepala manusia dan mulai memetakan isi pikiran dan perasaan kita.…

Percaya tidak percaya, langkah pertama untuk memulai sebuah hubungan yang bahagia bukanlah memperias wajah lo, mendaftar ke sebuah gym, atau bahkan belajar menari diantara tiang seperti orang India. Percaya tidak percaya, langkah pertama memulai sebuah hubungan yang bahagia adalah belajar untuk menerima diri lo sendiri… Ya, gue yakin banyak dari kita pasti sudah pernah mendengar nasihat itu di satu waktu kehidupan kita. Entah itu dari guru agama kita, orangtua kita, atau bahkan dari teman kita yang sedang mabuk dan tiba-tiba menjadi bijak… Namun, setiap kali kita mendengar nasihat itu, gue yakin lo pasti akan bertanya pada diri lo sendiri. “Ya itu memang kedengarannya bagus sih… tapi sebenarnya apa sih artinya menerima diri sendiri?” Nasihat itu memang terdengar seperti nasihat-nasihat motivator botak berkacamata yang dulu sempat sering tampil di Metro TV… Nasihat-nasihat ambigu yang lebih mudah didengar daripada dipraktekkan… Well, itulah kenapa di post ini gue akan mencoba untuk menerangkan arti…