Quantcast
Tag

kehidupan

Browsing

Percaya tidak percaya, langkah pertama untuk memulai sebuah hubungan yang bahagia bukanlah memperias wajah lo, mendaftar ke sebuah gym, atau bahkan belajar menari diantara tiang seperti orang India. Percaya tidak percaya, langkah pertama memulai sebuah hubungan yang bahagia adalah belajar untuk menerima diri lo sendiri… Ya, gue yakin banyak dari kita pasti sudah pernah mendengar nasihat itu di satu waktu kehidupan kita. Entah itu dari guru agama kita, orangtua kita, atau bahkan dari teman kita yang sedang mabuk dan tiba-tiba menjadi bijak… Namun, setiap kali kita mendengar nasihat itu, gue yakin lo pasti akan bertanya pada diri lo sendiri. “Ya itu memang kedengarannya bagus sih… tapi sebenarnya apa sih artinya menerima diri sendiri?” Nasihat itu memang terdengar seperti nasihat-nasihat motivator botak berkacamata yang dulu sempat sering tampil di Metro TV… Nasihat-nasihat ambigu yang lebih mudah didengar daripada dipraktekkan… Well, itulah kenapa di post ini gue akan mencoba untuk menerangkan arti…

Oke, gue yakin setelah membaca post gue tentang 3 Rencana Kehidupan dan Eksperimen Hidup, lo kurang lebih sudah mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang karier masa depan lo. Namun gambaran-gambaran ini tidak cukup untuk menciptakan sebuah karier. Lo harus membuat pilihan yang tepat, dalam artian bukan pilihan yang 100% benar (karena pilihan seperti itu tidak ada), tetapi sebuah pilihan yang mantap. Sebuah pilihan yang lo percayai. Sebuah pilihan yang membuat hati lo tenang. Dan membuat pilihan seperti itu membutuhkan sebuah keahlian tersendiri. Sebuah keahlian yang akan kita bedah di post ini. Kenapa Kita Harus Membuat Pilihan? Saat kita masih kecil dulu, keinginan kita sepertinya tidak ada habisnya. Kita selalu menginginkan mainan baru, gadget baru, baju baru, atau dalam kasus tertentu, pacar baru. Dan anak-anak kecil biasanya bisa bertingkah seperti itu karena mereka masih belum tahu bahwa ada harga yang harus mereka bayar untuk mendapatkan sesuatu. Mereka hanya belum merasakannya. Mereka…

Menurut sebuah riset, kita akan menghabiskan paling tidak 90,000 jam dari waktu kita di dunia ini bekerja. Itu artinya ⅓ waktu kita di dunia ini akan habis bekerja… Inilah mengapa menentukan pekerjaan apa yang ingin kita lakukan di dunia ini sangatlah penting. Jika kita tidak menanggapi isu ini dengan serius, kehidupan kita akan menjadi jauh lebih menyedihkan daripada karakter-karakter protagonis di kebanyakan sinetron Indonesia. Dan dalam kasus ini, ibu tirimu adalah pekerjaanmu… Brrrr!! Nah masalahnya, saat lo mencoba untuk mencari pekerjaan ideal lo dan mulai menjelajahi pilihan-pilihan yang ada, berbagai pertanyaan mulai bermunculan di kepala lo. Apakah mengejar mimpi-mimpi gue akan membuat gue lebih bahagia? Apakah mimpi-mimpi ini hanya akan membuang-buang waktu gue? Menjadikan gue orang gagal yang hidup sendirian di sebuah gubug reyot dengan seekor kucing? Percaya tidak percaya hal ini adalah ketakutan umum yang dirasakan banyak anak muda di dunia ini. Bahkan Steve Jobs muda pun sempat merasakan…

Minggu lalu kita sudah membahas bagaimana menemukan keunikan kita adalah kunci untuk menemukan pekerjaan impian lo. Kita juga membahas bagaimana menemukan pekerjaan impian lo adalah sebuah proses panjang yang terkadang mengharuskan kita untuk mengorbankan sesuatu. Nah pertanyaannya adalah, bagaimana kita mengaplikasikan prinsip-prinsip itu dan menemukan pekerjaan impian lo? Lo akan menemukan jawabannya di post ini. Kembali Ke Masa Lalu Lo Seperti yang sudah kita bahas minggu lalu, cara paling mudah untuk menemukan keunikan kita adalah dengan melihat kembali ke masa lalu dan mulai menggali ketertarikan masa kecil kita. Coba ingat-ingat aktivitas seperti apa yang membuat lo tidak keberatan untuk melakukannya berkali-kali, sebuah subjek yang mengaduk rasa penasaran lo, sesuatu yang membuat lo bersemangat hingga lo lupa diri dan ngompol di kelas. Keunikan ini sudah ada di dalam diri lo, jadi lo tidak perlu bingung untuk mencarinya kemana-mana lagi. Lo hanya perlu menggali masa lalu lo dan menemukan apa yang sudah…

Seperti yang sudah gue tulis minggu lalu, hidup itu pendek. Cepat atau lambat kematian akan mendatangi kita semua. Itulah kenapa kita harus menggunakan waktu kita di dunia ini dengan baik dan melakukan sesuatu yang berarti. Nah, pertanyaannya adalah apa itu artinya melakukan sesuatu yang berarti? Apakah itu berarti keluar dari pekerjaan kantor lo yang super membosankan dan mengikuti sebuah organisasi nil laba yang berusaha untuk menyelamatkan dunia? Apakah itu berarti belajar karate dan menciptakan kostum kelelawar untuk melawan kejahatan? Well, nggak juga. Jawaban dari pertanyaan itu jauh lebih sederhana dari dugaan lo. Melakukan sesuatu yang berarti bisa ditafsirkan sebagai menemukan sebuah pekerjaan yang berarti… Coba pikir sejenak. Kita akan menghabiskan ⅓ waktu kita di dunia ini bekerja. Dalam konteks ini, pekerjaan itu sendiri bisa berarti pekerjaan yang dibayar atau tidak dibayar seperti mengasuh anak atau memimpin sebuah organisasi sosial. Jika lo adalah seperti kebanyakan manusia di dunia ini, ini adalah…

Berita Kematian… Gue sedang makan siang, menikmati campuran dada ayam rebus, tumis bayam, dan nasi merah, saat salah satu staf gue tiba-tiba menggebrak pintu kantor gue dan masuk dengan tergesa-gesa. Wanita yang biasanya selalu tersenyum ramah itu terlihat panik dan ia seolah-olah telah menjadi satu atau dua tahun lebih tua. “Pak kamu nggak akan percaya apa yang baru aku dengar…” katanya sedikit terbata-bata. Bokap gue yang saat itu sedang menggigit ikan lele di sebelah gue langsung menjatuhkan ikan itu ke piringnya dan menatap staf gue dengan mata was-was. “Mmmenapa?” Tanya Bokap gue dengan mulut penuh. (Kenapa?) Wanita yang telah menjadi staf perusahaan keluarga kami selama hampir tujuh tahun itu menelan ludahnya lalu berkata “Febri mati Pak, digilas truk…” sahut staff gue setengah bergidik. Febri adalah salah satu staff perusahaan kami yang lain, dan di hari itu, ia meninggal ditabrak dan digilas sebuah truk. ### Gue tidak ingat apa yang terjadi…

Kita akan mendapatkan apa yang kita investasikan. Waktu yang kita investasikan akan kembali, dengan bunga. Jika anda berlatih gitar dengan sungguh-sungguh selama 15 menit setiap pagi, anda akan menjadi gitaris yang handal. Jika anda menghabiskan sedikit lebih banyak waktu anda untuk mengeluh atau merasa malu, tindakan itu akan menjadi bagian dari diri anda. Kata-kata yang anda tulis, orang-orang yang sering anda temui, artikel-artikel yang anda baca… Perbedaan antara siapa anda sekarang dan siapa anda lima tahun ke depan dipengaruhi oleh bagaimana anda menghabiskan waktu anda dalam kurun waktu tersebut. Kebiasaan yang kita tanamkan akan menjadi bagian dari pribadi kita. Hal-hal kecil yang terus diulangi terus menerus bukanlah hal yang kecil.  Bangun mimpi anda dengan kebiasaan-kebiasaan kecil (Dan hal itu juga sama dengan merk, organisasi, dan bisnis) Jika anda mendapati tips ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaru saya lebih cepat, subscribe ke box dibawah ini atau like Facebook saya.

Anda tidak dilahirkan di dunia ini untuk melakukan satu hal saja sepanjang perjalanan hidup ini. Namun, ide bahwa kita semua dilahirkan dengan sebuah ‘passion’ yang unik telah tersebar ke masyarakat luas, apalagi di Internet, seolah-olah setiap orang memiliki sebuah pekerjaan yang sudah ditakdirkan- seolah-olah evolusi, atau apapun itu- telah berkonspirasi besar-besaran untuk menjadikan anda seorang penulis, guru yoga, atau astronot.   Tidak ada yang pasti di kehidupan ini. Tidak ada orang yang mempunyai nasib yang sudah ditentukan: tidak ada orang yang lahir dengan sebuah passion yang menunggu untuk ditemukan. Ada puluhan, atau bahkan ratusan hal yang bisa anda lakukan dengan hidup anda- pekerjaan yang bisa membuat anda bahagia atau bersemangat. Itulah mengapa “follow your passion” adalah sebuah nasihat yang sangat buruk. Apa yang lebih penting adalah untuk memikirkan pertanyaan ini: Apa misi saya? Banyak dari kita menjalani hidup ini bekerja, atau lebih parahnya lagi, membangun karir. Kita menjadi terbiasa dengan…

Barang-barang mewah hanya akan kita beli saat kita sudah berkecukupan. Jangan membeli tas Chanel saat anda hanya memiliki satu juta di tabungan anda. Sangat mudah untuk percaya bahwa kebaikan bekerja seperti itu. Kita harus merasa cukup, sebelum kita bisa memberikan kebaikan kita ke orang lain. Anda mungkin mempunyai hari yang buruk, anda kehujanan, dunia telah berubah, bos anda memecat anda, tabungan anda menipis, deadline proyek anda semakin dekat… Namun… Apakah segala kebutuhan kita harus terpenuhi sebelum kita bisa berbuat baik? Apakah kita harus mempunyai cukup uang, merasa positif dengan kondisi ekonomi dunia, dan merasa cukup dengan apa yang kita punyai sebelum kita bisa mengulurkan tangan kita ke orang-orang yang lebih membutuhkan? Namun, kebaikan tidak bekerja seperti itu, banyak orang mengartikannya terbalik. Berbuat baik adalah fondasi kehidupan. Memberikan waktu dan tenaga kita untuk membantu orang lain akan memberikan kita persepsi yang baru terhadap kebutuhan-kebutuhan kita. Hidup akan terasa lebih bahagia, kecemasan-kecemasan…

Anda hanya memiliki satu kesempatan untuk hidup di dunia ini. Jadi jangan segan-segan untuk mengejar mimpi-mimpi anda, jangan biarkan ketakutan membatasi hidup anda. Jangan tinggal di dalam sebuah pekerjaan yang membuat anda tidak bahagia hanya karena anda takut anda tidak akan mendapatkan pekerjaan lain. Jangan hidup dengan orang yang membuat hidup anda menderita karena anda takut hidup sendirian. Jangan menunggu sampai anda mempunyai cukup uang di tabungan anda untuk memulai sebuah proyek atau kehidupan yang anda impikan. Saya tidak berkata bahwa kita harus bertindak dengan sembrono dan mengharapkan keberuntungan, namun yang saya maksudkan disini adalah untuk berhenti menunggu dan mulai melakukan sesuatu. Mulai kejar mimpi anda sekarang- biarkan mimpi itu masuk ke dalam setiap pori-pori tubuh anda. Biarkan hal-hal yang tidak anda sukai hilang dari kehidupan anda. Saya baru-baru ini mendengar sebuah wawancara Joseph Campbell, seorang penulis mitologis dan dosen terkenal di Amerika. Di wawancara itu ia mengatakan sesuatu yang…