Quantcast
Laugh

Tujuan Kehidupan Kita Adalah… Tidak Ada…

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sejak gue masih kecil dulu, gue sudah sering bertanya pada diri gue sendi “Apa sih tujuan hidup gue?” sambil menggosok-gosok dagu gue yang masih mulus.

Gue sadar bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan paling sulit sekaligus pertanyaan paling penting yang harus kita jawab sebagai manusia. Gue merasa tanpa menjawab pertanyaan itu, kehidupan akan terasa kosong dan membosankan.

Akan tetapi, saat gue mencoba untuk menjawab pertanyaan itu, gue mulai sadar bahwa pertanyaan itu bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah.

Ini bukan karena gue malas atau tidak bisa menemukan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan itu, tetapi masalah ini lebih disebabkan karena jawaban-jawaban yang gue pikir tepat ternyata berakhir… tidak tepat…

Waktu gue berumur lima tahun, gue pikir mempunyai mainan terbaru dan membuat Bokap Nyokap gue bahagia adalah tujuan kehidupan gue. Tetapi semakin gue bertambah dewasa, semakin gue sadar bahwa itu bukanlah tujuan kehidupan gue. Mempunyai mainan-mainan terbaru dan cinta orangtua gue memang membuat gue bahagia, tetapi kebahagiaan itu hanya bertahan sementara. Cepat atau lambat, gue menemukan kebahagiaan itu pelan-pelan pupus dan hilang.

Saat gue berumur empat belas tahun, gue pikir menjadi anak terpintar di kelas gue dan mendapatkan nilai ujian terbaik adalah tujuan kehidupan gue. Tetapi setelah mendapatkan rangking pertama dan membeli kacamata baru karena minus mata gue naik, gue sadar bahwa menjadi anak terpintar di kelas gue juga bukankah tujuan kehidupan gue.

Mendapatkan rangking satu dan dinobatkan sebagai anak paling printar di kelas gue memang membuat gue lebih bahagia. Tetapi lagi-lagi, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Gue sadar Magnus yang mendapatkan rangking 1 dan Magnus yang mendapatkan rangking 15 tidak jauh berbeda. Gue tidak merasa ada perubahan apa-apa yang terjadi di dalam diri gue, gue tidak merasa lebih bahagia atau merasa mendapatkan sebuah pencerahan.

Dan sekarang waktu gue berumur dua puluh empat tahun dan mengalami bagaimana rasanya bekerja di bisnis keluarga gue selama dua tahun, gue akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan paling penting itu…

Tujuan kehidupan itu.. tidak ada… Kita tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan, “Apa sih tujuan hidup gue?” Karena begitu lo pikir lo telah menemukan jawaban dari pertanyaan itu, jawaban itu sudah berubah.

Gue akan menceritakan satu cerita lagi untuk mengilustrasikan maksud gue.

Hipotesa Kebahagiaan

Sebagai seorang remaja berumur lima belas tahun, gue adalah anak yang pendiam dan pemalu. Rambut gue waktu itu masih lurus-lurus dan kacamata gue sangat tebal. Sementara anak-anak lain bermain sepak bola, bercanda, dan berpacaran dengan satu sama lain, gue akan duduk di meja gue, membaca komik atau menggambar Manga Jepang. Seperti yang bisa lo tebak, gue tidak mempunyai banyak teman.

Gue merasa iri dengan “anak-anak populer” yang bisa dengan mudah berbicara dengan siapapun dan membuat setiap wanita yang mereka temui “klepek-klepek.”

Tidak seperti gue yang terlihat seperti kucing Mesir yang sudah tidak makan tiga hari, orang-orang ini selalu terlihat bahagia dan percaya diri. Dan gue ingin bisa seperti itu. Gue pikir menjadi anak paling populer di sekolah dan mempunyai banyak teman akan membuat gue merasa bahagia. Gue pikir menjadi populer dan menemukan teman-teman sejati adalah tujuan hidup kita di dunia ini.

Jadi, waktu sebuah kesempatan muncul untuk bersekolah ke luar negeri, gue segera mengambil kesempatan itu. Gue berpikir dengan melakukan hal itu, gue bisa menciptakan pesona baru, seorang Magnus yang lebih keren, menarik, dan percaya diri. Di perjalanan gue menuju Singapura gue berjanji pada diri gue sendiri, gue akan menjadi anak paling keren di sekokah baru gue…

Sejak saat itu gue mulai membaca buku-buku yang berjanji akan membuat gue menjadi pribadi yang lebih menarik seperti “Bagaimana Memenangkan Sahabat dan Mempengaruhi Orang Lain atau Bagaimana Membuat Semua Orang Jatuh Cinta Kepadamu (gue sengenes itu). Gue memutuskan untuk mengganti gaya rambut gue, memensiunkan kacamata gue, dan mulai latihan angkat beban di gym.

Tentu, setelah perubahan-perubahan itu gue mulai mempunyai lebih banyak teman. Gue berhasil naik kasta dan gue pikir gue berhasil mencapai tujuan gue untuk menjadi anak paling populer di sekolah.

Namun, setelah gue sadar bahwa gue telah mencapai tujuan gue untuk menjadi anak paling populer di kelas, gue menemukan sebuah kebenaran yang menakutkan:

Menjadi anak paling populer tidak membuat gue jauh lebih bahagia. Kekosongan dan kesepian yang gue rasakan sebagai anak penyendiri yang culun tidak benar-benar hilang. Mereka hanya menjadi lebih jarang muncul, tetapi saat perasaan-perasaan itu menunjukkan diri mereka sendiri, perasaan itu menjadi lebih parah dari sebelumnya. Menjadi anak paling populer tidak terasa jauh berbeda dari menjadi anak pemalu yang culun.

Paradoks Kebahagiaan 

Dan itulah saat dimana gue mengalami apa yang gue percayai dialami orang-orang tersukses di dunia setelah mereka berhasil mencapai semua tujuan mereka.

Kekosongan.

Oke, mungkin tidak dalam skala itu, tetapi gue bisa merasakannya.

Gue mulai merasa resah dan gue terus bertanya pada diri gue sendiri, untuk apa gue hidup di dunia ini kalau tidak ada yang bisa membuat gue merasa lebih bahagia. Bukankah gue telah mencapai salah satu mimpi gue? Kenapa gue tidak merasa lebih bahagia sekarang?

Itulah saat dimana gue akhirnya memahami apa yang para filsuf zaman dulu katakan saat mereka berbicara bahwa kebahagiaan bukan terletak di ujung tujuan kita, tetapi di perjalanan menuju tujuan itu.

Gue yakin banyak dari kita berpikir bahwa kita akan merasa bahagia setelah kita menjadi lebih terkenal, mempunyai ini itu, mencapai tujuan kita, atau bahkan, berhubungan dengan seseorang.

Namun, percaya tidak percaya, kebahagiaan tidak mungkin bisa lo temukan dengan mencapai hal-hal itu. Kebahagiaan ada di dalam proses mencapai tujuan-tujuan itu: kesadaran bahwa kita telah menjadi manusia yang lebih baik, orang-orang yang akan kita temui di tengah perjalanan, dan berbagai kecelakaan-kecelakaan lucu yang terjadi dalam perjalanan itu.

Dan Gilbert, seorang profesor Harvard sekaligus penulis buku terkenal tentang kebahagiaan, “Stumbling On Happiness” berhasil menyimpulkan fenomena ini dengan sempurna. Ia berargumen bahwa manusia tidak hanya mempunyai sistem pertahanan tubuh, tetapi juga sebuah sistem pertahanan psikologis. Setiap kali pikiran kita menderita sebuah trauma atau mengalami kebahagiaan yang melimpah, cepat atau lambat, pikiran kita akan beradaptasi terhadap pengalaman itu. Pikiran kita akan kembali menjadi normal (tidak sedih, tidak bahagia) dan kehidupan berlangsung seperti biasanya. Inilah kenapa korban gempa bisa tersenyum riang beberapa hari setelah mereka mengalami malapetaka yang menghancurkan dan memporak-porandakan kehidupan mereka. Inilah kenapa orang-orang yang akhirnya mencapai mimpi-mimpi mereka untuk menjadi penyanyi terkenal akhirnya malah mulai bereksperimen dengan narkoba untuk merasa bahagia.

Inilah kenapa kita manusia tidak pernah merasa puas dengan kehidupan. Inilah kenapa tujuan apapun yang kita capai tidak akan pernah membahagiakan kita. Otak kita memang terprogram untuk tidak pernah merasa puas.

Kesimpulannya?

Jadi kalo tidak ada apapun di dunia ini yang bisa membuat kita lebih bahagia dan pencapaian bukanlah jawabannya, apa yang harus kita lakukan?

Jawabannya sebenarnya sangat sederhana: lakukan apa yang lo cintai, habiskan waktu bersama orang-orang yang lo cintai, tertawa lebih banyak, dan hiduplah!

Berhentilah mencemaskan apa tujuan kehidupan lo, karena mungkin tujuan kehidupan lo adalah apapun itu yang lo jadikan tujuan kehidupan lo saat itu. Mungkin kenyataan ini begitu menakutkan untuk kita. Kita dibesarkan dan diajari bahwa setiap manusia lahir dengan sebuah tujuan yang spesial. Namun psikologi tidak membuktikkan hal itu. Dan saat lo bisa menerima kenyataan ini, lo akan menjadi lebih bebas untuk mengejar keinginan lo. Lo akan menjadi lebih bahagia…

Namun sebelum mengakhiri esai ini, ada dua hal yang ingin gue jelaskan lebih lanjut.

Pertama, membuat tujuan hidup memang bukanlah segalanya. Kita sudah membahas bagaimana mencapai tujuan itu tidak akan membuat lo lebih bahagia, bahkan mungkin mencapai tujuan itu malah membuat lo merasa kosong. Namun, ini bukan berarti bahwa lo harus berhenti membuat tujuan hidup.

Tanpa tujuan, lo akan menjadi seorang pemalas yang tidak berguna. Kita harus membuat tujuan dalam hidup ini karena dalam perjalanan kita ke tujuan-tujuan itu, kita akan berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Dan saat kita menjadi manusia lebih baik, kita akan merasa lebih bahagia.

Oleh karena itu, nasihat terbaik untuk menjadi lebih bahagia adalah untuk membayangkan siapa yang ingin lo jadi di masa depan dan bergerak untuk menjadi orang itu. Mimpilah sebesar-besarnya dan lakukan sesuatu. Apapun! Melakukan sesuatu akan merubah bagaimana lo melihat proses pengembangan diri lo dan menginspirasi lo untuk terus maju dan menjadi lebih baik.

Lepaskan hasil yang lo pikir akan dapatkan dari tujuan itu; karena seperti yang sudah kita bahas di artikel ini, itu tidak penting. Imajinasi dan mimpi lo hanyalah sebuah alat untuk memotivasi lo untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tidak penting apakah lo mendapatkan sesuatu atau tidak.

Kedua, melakukan apa yang lo cintai dan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang lo cintai bukan berarti menghindari rasa sakit dan konfrontasi-konfrontasi yang menyakitkan. Karena seperti yang sudah gue bahas di post gue sebelumnya, sejak lo lahir di dunia ini, lo nggak mungkin bisa menghindari rasa sakit dan penderitaan. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita.

Untuk melakukan apa yang lo cintai berarti melakukan sesuatu yang sangat lo cintai hingga lo rela membayar harga untuk melakukan aktivitas itu. (Surprise! Melakukan sesuatu yang lo cintai tidaklah seindah itu. Lo bisa membaca post ini untuk memahami argumen gue tentang poin tersebut)

Menghabiskan waktu dengan orang-orang yang lo cintai berarti rela menghadapi konflik-konflik yang terjadi di dalam hubungan itu dan mampu menerima kelemahan orang-orang itu apa adanya. (Ingat lo bukan manusia yang sempurna juga!)

Kuncinya disini adalah mencintai tidak hanya sisi baik segala sesuatu tetapi juga sisi buruk segala sesuatu.

Dan saat lo bisa melakukan hal itu, gue bisa menjamin kehidupan lo akan menjadi lebih bahagia. Hidup akan jauh menjadi lebih baik… Bahkan jika pada akhirnya, lo tidak memenuhi tujuan-tujuan kehidupan lo…

 

Jika lo menemukan artikel ini bermanfaat dan ingin mendapatkan artikel-artikel terbaru gue lebih cepat, cantumkan Email lo dibawah ini dan klik subscribe. Dengan melakukan hal itu, lo akan mendapatkan Ebook tentang cinta, artikel bonus, dan rekomendasi buku setiap bulannya.




Magnus lives in Semarang, Indonesia. He is currently managing the family's business together with his dad and his elder brother. Magnus enjoys reading and recently he started writing his personal reflections.

1 Comment

  1. Ada 2 hal terbesar dalam hidup kita:
    1. Ketika kita dilahirkan
    2. Ketika kita menemukan alasan untuk apa kita dilahirkan
    Robert McCall (Denzel Washington) – The Equalizer Movie

Write A Comment