Quantcast
Tag

indonesian

Browsing

Tidakkah kamu menyukai satu bulan pertama hubungan cintamu? Semua terasa sempurna, semua kalimat yang pasanganmu utarakan berakhir dengan ‘sayang’ atau ‘Adinda,’ konflik adalah sebuah konsep yang sangat asing di pikiranmu dan pasanganmu. Semua terasa indah, dan pasanganmu terasa seperti seorang bidadari dari surga… Inilah kenapa orang-orang menyebut masa-masa ini sebagai honey moon period atau periode bulan madu. Namun, seperti yang kamu ketahui, masa-masa ini tidak akan bertahan lama. Happily ever after don’t exist. Cepat atau lambat, kamu akan menemukan madu itu berubah menjadi racun yang pelan-pelan mengikis intimasi dan kepercayaan hubunganmu. Hubungan mu yang tadinya terasa luar biasa sekarang terasa biasa-biasa saja, kata-kata sayangmu berubah menjadi benci, dan konflik mulai menjadi makanan sehari-hari. Apa yang terjadi? #### Salah satu penulis favoritku, Psikiater Dr. M. Scott Peck menyebut periode bulan madu itu sebagai efek samping perasaan jatuh cinta. Dua orang yang sedang jatuh cinta kehilangan batasan ego mereka dan mereka mulai…

Apakah kamu ingin tahu rahasia hubungan yang luar biasa? Well, kamu bukanlah orang pertama yang menanyakan pertanyaan itu. Di sekitar tahun 1990an seorang psikolog bernama John Gottman memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mengumpulkan puluhan pasangan ke sebuah Villa modis (yang aku rasa berada di daerah Bali) selama beberapa hari dan membiarkan mereka berlaku seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang liburan. Tanpa sepengetahuan pasangan-pasangan ini, Gottman dan teman-temannya memasang beberapa kamera rahasia di Villa tersebut. Dan tentunya, sebagai psikolog beretika dan bermoral tinggi, mereka tidak memasang kamera di kamar mandi dan kamar tidur. Setelah mengumpulkan semua data yang ada, Gottman dan teman-temannya mulai berusaha untuk mencari sebuah pola yang membedakan hubungan yang positif (hubungan yang harmonis) dan hubungan yang negatif (hubungan yang penuh pertengkaran dan konflik). Mereka melihat karakter pasangan-pasangan tersebut, jumlah kata “sayang” yang mereka gunakan dalam pembicaraan mereka, dan cara mereka menatap satu sama lain……

Almarhum Steve Jobs memiliki sebuah kebiasaan yang sangat buruk waktu ia menjabat sebagai CEO Apple: Ia sering membuat deadline ‘tidak mungkin’ yang membuat tim teknisinya tertekan, frustasi, dan hampir gila. Contohnya, di tahun 2005, ia memberikan tim teknisinya waktu dua minggu untuk menciptakan sebuah “visi untuk software” IPhone pertama Apple. Ia mengancam bahwa ia akan memberikan tugas ini ke orang lain jika mereka tidak bisa menyelesaikan tugas tersebut dalam tenggat waktu yang sudah ia tetapkan. Walaupun teknisi-teknisi itu mengutuki Steve Jobs seperti seorang rapper dan bekerja seperti orang kesetanan, mereka berhasil melakukan yang tidak mungkin. Mereka menciptakan desain software Iphone pertama dalam waktu dua minggu… Di bukunya 33 Strategies of War, Robert Greene menuliskan tentang sebuah fenomena yang disebut “death ground” – fenomena ini terjadi saat sebuah pasukan terdesak, tidak bisa lari, dan tidak punya pilihan lain selain memenangkan pertempuran. Pasukan-pasukan ini akan menjadi lebih kuat dan bahkan seringkali, tidak…

Setiap orang yang berhasil meraih mimpi mereka adalah orang-orang yang berhasil melewati apa yang para profesional sebut sebagai “lembah-lembah pergumulan.” Ini adalah satu periode di kehidupan pemimpi-pemimpi ini dimana kerja keras dan usaha mereka sepertinya terlihat sia-sia. Mungkin, seorang penulis novel telah mencoba untuk menjual draft novelnya ke ratusan penerbit, tetapi tidak ada satupun dari penerbit itu yang tertarik. Mungkin, seorang kakek-kakek berpakaian serba putih sedang mencoba untuk menawarkan resep ayam gorengnya ke ribuan restoran, hanya untuk ditolak secara mengenaskan. Momen lembah pergumulan ini adalah sebuah waktu yang sangat menantang bagi para pemimpi-pemimpi ini… Namun, jika ada satu waktu yang akan menentukan apakah seseorang akan berhasil atau gagal mencapai mimpi mereka, itu adalah momen ini. #### Waktu Kevin Hart memulai kariernya sebagai seorang pelawak, ia sempat berguru dengan seorang pelawak senior yang bernama Keith. Selama beberapa bulan, Keith tidak memberikan Kevin kesempatan untuk pergi ke depan panggung dan bahkan mengenalkannya…

Sekitar satu tahun yang lalu, aku dan pacarku sempat pergi ke Jakarta untuk menghadiri sebuah konser musik. Di perjalanan kami ke Semarang, kami tidak sengaja bertemu dengan salah satu nasabah pacarku. Pria itu adalah seorang pengusaha travo yang ternyata cukup terkenal di Semarang. Singkat cerita, aku pun berkenalan dengan pria itu dan mulai berbasa basi tentang cuaca yang tidak menentu, kondisi ekonomi tahun 2018, dan berbagai hal lain. Saat aku berencana untuk mengakhiri pembicaraan itu dan pergi tidur, pria itu mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Ia berkata kurang lebih seperti ini: “Kamu cuma akan hidup di dunia ini sekali. Jadi pastikan kamu melakukan apa yang kamu cintai, mengejar passion kamu, dan mengerjakan sesuatu yang menarik. Karena jika kamu tidak tertarik dengan pekerjaanmu, kamu tidak akan kalah bersaing dengan orang-orang yang mencintai pekerjaan mereka.” Hatiku ingin melompat dan meneriakkan “amin” saat aku mendengar kata-kata itu. Namun, logikaku…

Seorang biksu sedang berjalan menuju sebuah desa bersama seorang muridnya. Tiba-tiba, seorang pria tua berbaju rapi menghampirinya dan menanyakan: “Orang suci, bagaimana aku bisa menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Belajarlah untuk menysukuri apa yang kau punyai dan biarkan perasaan itu membahagiakan hatimu setiap hari…” Merasa puas, pria tua itu menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan biksu itu. Si biksu baru saja mau berjalan lagi saat tiba-tiba seorang anak muda datang menghampirinya. Ia bertanya: “Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi lebih bahagia?” Biksu itu tersenyum lalu berkata, “Jangan merasa puas dengan apa yang kau punyai dan biarkan ambisimu membawamu menuju kebahagiaan…” Saat anak muda itu merasa puas dan meninggalkan si biksu dan muridnya, si murid bertanya: “Guru kamu sepertinya tidak yakin apakah kita harus menyusukuri apa yang kita punyai atau meningkatkan ambisi kita untuk merasa bahagia… apa maksudmu?” “Mencari kebahagiaan adalah seperti melewati sebuah jembatan tanpa pegangan yang…

Waktu aku masih duduk di bangku SMP kelas 2 dulu, aku adalah seorang pemalu yang lebih suka mendengarkan lagu dari Discman Sony-ku daripada pertanyaan “apa kabar” orang lain. Suaraku pelan dan aku lebih sering bergumam daripada berbicara, jadi orang-orang seringkali tidak memahami kata-kataku. Dan seperti yang kalian duga, aku tidak mempunyai banyak teman dan tentunya, masih jomblo. Sementara anak-anak SMP lain menghabiskan malam minggu mereka bergonta-ganti pacar dan bereksperimen dengan seksualitas mereka, aku akan menghabiskan malam mingguku menggambar Manga. (Ya aku dulu suka menggambar). Orangtuaku yang tidak tahan dengan sifat pendiam-ku akhirnya mendorongku untuk lebih sering berkumpul dengan teman-teman sekelas dan mencari teman-teman baru, sehingga aku lebih bisa bergaul dengan orang lain. Tetapi, karena waktu itu aku tidak melihat teknik berkomunikasi dengan orang lain sebagai sesuatu yang penting, aku memutuskan untuk mendiamkan nasihat-nasihat itu. Terlebih lagi, berkenalan dengan orang baru dan memulai sebuah pembicaraan seringkali membuatku merasa tidak nyaman. Selang…

Kita bisa melakukan yang terbaik, mengintegrasikan ketertarikan dan pekerjaan kita, membangun keahlian di dalam bidang tersebut, dan berusaha untuk memenuhi sebuah kebutuhan nyata di dunia ini. Namun, kita tidak akan pernah bisa mengendalikan bagaimana dunia ini akan menilai hasil kerja kita. Kita bisa mengendalikan pikiran kita dengan benar, menanggapi sebuah masalah dengan positif, menyambut kesempatan dengan baik, dan masih saja gagal. Lantas apa yang harus kita lakukan dalam situasi ini? Well, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah untuk terus mencoba, karena tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menghentikan kita untuk terus mencoba dan memberikan yang terbaik. Beberapa masalah dan halangan memang terkadang tidak bisa diselesaikan. Kegagalan terkadang tidak bisa dihindari dan beberapa jalan terkadang memang tidak bisa dilewati. Namun, ini belum tentu adalah sesuatu yang buruk, karena kita bisa menggunakan situasi atau kegagalan itu sebagai kesempatan untuk menempa karakter kita- walaupun itu terkadang berarti belajar…

Waktu aku baru lulus kuliah dulu, satu hal yang paling sulit untuk aku lakukan adalah bangun pagi. Aku tidak menemukan alasan yang kuat untuk bangun lebih pagi selain melihat sinar matahari pagi dan toh, aku juga sering berpergian sampai malam, jadi bangun pagi adalah sesuatu yang menurutku hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Namun, itu semua berubah saat aku memutuskan untuk menjadi seorang blogger. Tiba-tiba aku menemukan bangun lebih pagi adalah satu-satunya cara aku bisa menemukan waktu untuk menulis dan bahkan menurutku, satu-satunya waktu untuk menulis. Begitu aku masuk kantor sekitar jam delapan pagi, aku hampir tidak memiliki waktu untuk melakukan hal lain sampai jam empat atau lima sore. Bahkan, di jam makan siang pun aku masih tidak bisa menemukan waktu untuk menulis: teleponku akan terus berbunyi, tamu tiba-tiba datang, dan tugas-tugas urgent lain tiba-tiba muncul. Begitu aku pulang dari kantor, otakku biasanya sudah tidak dalam kondisi prima untuk menulis dan…

Aku pernah menulis bahwa kebanyakan hal yang terjadi di kehidupan ini berada di luar kendali kita. Di mana kita akan lahir, siapa orang tua kita, bagaimana bentuk wajah kita; hal-hal ini sudah ditentukan sebelum kita lahir dan berada di luar kendali kita. Meratapi nasibmu karena kamu dilahirkan dengan wajah seperti Tukul Arwana tidak akan mengubah apa-apa. Tentu, hal ini juga berlaku untuk kebanyakan masalah dan malapetaka yang terjadi di kehidupan kita: bencana alam, krisis ekonomi, pemecatan massal, dan perubahan teknologi. Hampir segala sesuatu di dunia ini tidak akan bisa kita kendalikan, dan hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap kita terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan ini. Karena cara kita menyikapi keterbatasan dan bencana-bencana yang terjadi di kehidupan kita akan menentukan kesuksesan, atau bahkan kebahagian kita. Setelah membaca berbagai buku pengembangan diri dan membaca biografi pengusaha, pemimpin, dan penemu paling terkenal di dunia, gue menemukan bahwa cara…